Mencintai “Yang-Tak-Tercintai”

YEN MUNG RUPA

(Terinspirasi oleh Mat 25: 31-40 dan Jacques Derrida)

I. Mukadimah

Permenungan ini tiba-tiba muncul ketika mendengarkan dan membaca kembali teks Injil Matius 25, 31-40, yang berkisah tentang “penghakiman terakhir”. Ketika mendengar “penghakiman” rasanya telinga saya agak “panas”, soalnya akhir-akhir ini yang saya lihat, saya baca, dan saya dengar lebih banyak mengenai oknum “hakim” yang jauh dari ideal (mungkin ia juga salah satu bagian “yang-tak-tercintai” yang butuh juga tuk “dicintai”). Sebenarnya kata “hakim” itu sendiri erat kaitannya dengan kata “bijaksana” dan “benar”, dimana diharapkan setiap hakim dapat memutuskan segala perkara dengan “bijaksana”dan “benar”, namun oknum hakim ini tampaknya jauh dari idealisme ini.

Lalu muncul pertanyaan dalam hati saya,

“Apakah benar-benar ada Hakim yang baik, bijaksana, dan benar itu?”

Lalu hal itu pun terjawab, dalam Matius 25: 31-40,di sana saya menemukan sosok “Seseorang Hakim yang benar-benar baik, bijaksana,dan benar” – seorang Hakim yang berada di “Penghakiman Terakhir”. Dan pada saat yang sama, saya menemukan pengharapan di sana.

Mat 25: 31-40

Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: “Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?” 

 Dan Raja itu akan menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

II. “Yang-Tak-Tercintai”

 Dalam teks Markus 25: 37-39 digambarkan dengan sangat jelas bahwa orang-orang yang berada di sebelah kanan-Nya bertanya:

“Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?” 

Dengan kata lain mereka ingin berkata,

“Tuhan.. Kau adalah yang Tak-Tampak,Tak-Terlihat, bahkan Tak-Tercintai.. Bagaimana mungkin kami dapat mencintai-Mu.. bagaimana mungkin kami dapat memberi-Mu makan, minum, tumpangan, pakaian, bahkan mengunjungi-Mu di penjara..? Sepertinya itu tidak mungkin Tuhan.. Sangat Tidak Mungkin..!”

 Pertanyaan selanjutnya,

“Apakah pertanyaan mereka itu salah..?”

Malah sebaliknya, pertanyaan mereka itu “benar”, original, dan apa adanya,

bagaikan pertanyaan seorang anak kecil yang penuh dengan rasa ingin tahu,

“Iya.. Bagaimana mungkin..?”

Secara singkat, pada point ini kita telah menemukan bahwa memang ada Yang-Tak-Tercintai, yaitu Tuhan itu sendiri; karena Ia memang benar-benar Tak-Tampak dan Tak-Terlihat. Selain itu, Ia juga “Tak-Tercintai” karena Ia melebihi segala sesuatu yang ada di dunia ini. Begitu besar-Nya Ia hingga benar-benar “Tak-Tercintai” oleh kita yang benar-benar hina ini. [Dengan kata lain, bagaimana mungkin Ia “Yang-Absolut” dapat-tercintai oleh kita yang “Kontingen”.]

Lalu, “Bagaimana bisa kita mencintai-Nya?”

III. “Yang-Tak-Tercintai” Tercintai 

Kemudian Tuhan (Sang Raja) pun menjawab pertanyaan mereka,

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”(Mat 25: 40)

Dari jawaban ini, pertanyaan kita pun kini terjawab (“Bagaimana bisa kita mencintai-Nya?”) bahwa ternyata (a) Ia “Yang-Tak-Tercintai”itu kini “Tercintai”; (b) Ia“Yang-Tak-Tampak” itu kini “Tampak”; (c) Ia “Yang-Tak-Terlihat” itu kini “Terlihat”, dalam diri “salah seorang dari saudara-Nya yang paling hina ini”.

Salah Seorang” bukan 10, 100, atau bahkan 1000 orang.

“Satu orang saja itu cukup! Untuk mencintai Ia ‘Yang-Tak-Tercintai’, merasakan dan melihat Ia ‘Yang-Tak-Tampak’ dan ‘Yang-Tak-Terlihat’. Intinya, mencintai salah seorang yang paling hina! Itu cukup!”

Dan “salah seorang” dari abad ini yang telah melakukannya untuk “salah seorang yang paling hina ini” adalah Bunda Teresa. Ia yang benar-benar mencoba untuk mewujudkannya, mencintai Ia “Yang-Tak-Tercintai” dengan melakukan hal-hal kecil dengan hati yang besar.

IV. Mencintai “Yang-Tak-Tercintai”

 Mengikuti pemikiran Derrida mengenai différance dan dekonstruksi (yang tidak akan dipaparkan dalam tulisan ini), maka kita pun dapat berusaha memahami lebih jauh lagi mengenai “Mencintai Yang-Tak-Tercintai”.

“Yang-Tak-Tercintai” dan “Yang-Tercintai” bukanlah dua hal yang saling bertentangan secara total.“Pengalaman Mencintai” (sejalan dengan pemikiran Derrida), pertama-tama merupakan sesuatu “YangTakMungkin”, karena “Cinta yang Sejati” adalah “Cinta yang dapat mencintai Yang-Tak-Tercintai”. Jika sesuatu (seseorang) itu merupakan “Sesuatu (Seseorang) Yang-Tercintai”, kita tak membutuhkan “Cinta”, melainkan cukup menerimanya saja dengan hati yang terbuka. Dengan kata lain jika “Yang-Tercintai” itu mengetuk pintu hati kita, kita buka “Pintu Hati” itu dan dengan sendirinya ia “Yang-Tercintai” itu akan masuk dengan mudah. Di situ kita tak butuh “Cinta”.

Kita membutuhkan “Cinta” ketika kita benar-benar berada di hadapan “Yang-Tak-Tercintai”. Di situ kita membutuhkan “Cinta” – “Cinta yang Sejati”.

Namun pada saat yang sama, Ia “Yang-Tak-Tercintai” itu juga tetap membutuhkan sesuatu “YangTercintai”. Keduanya tak dapat dipisahkan begitu saja.

Untuk lebih jelas melihat hubungan antara “Yang-Tak-Tercintai” dan “Yang-Tercintai”, kita dapat melihatnya dengan cara sebagai berikut :

“Mencintai” itu harus selalu keluar dari lingkaran pertukaran (skema ekonomi). Jika saya mencintai hanya untuk memperoleh “cinta” dari “Yang-Lain”, hal itu belum dapat dikatakan“mencintai” (dengan cinta yang sejati). Hal itu hanya sekadar sebuah peristiwa “jual-beli” belaka. “Aku mencintaimu, itu berarti kau pun harus mencintaiku.”

Jika saya benar-benar ingin mencintai, (a) “Yang-Lain” harus tidak tahu bahwa saya mencintainya. Jika “Yang-Lain” tahu, pada saat itu juga saya memperoleh suatu imbalan yang setara – cinta saya diketahui oleh “Yang-Lain”, atau bahkan saya akan memperoleh cinta yang sama – sebuah imbalan (skema ekonomi). Pada saat yang sama, (b) saya juga harus tidak tahu bahwa diri saya sendiri sedang mencintai. Jika saya tahu dan berkata pada diri saya sendiri, “Ini saya, saya sedang mencintai”, pada saat itu juga saya berterima kasih, memuji, dan menyanjung diri saya sendiri bahwa saya dapat memberikan sesuatu pada “Yang-Lain” – yaitu “Cinta” (di sini lagi-lagi saya “jatuh”). Jika demikian, maka cinta saya terkait lagi dengan “skema ekonomi”. Dengan begitu, tak ada lagi yang namanya “cinta” dan“mencintai”?

“Cinta” itu harus tidak diketahui baik oleh “sang pencinta”, maupun oleh “yang dicintai”. Maka, dalam “mencintai” tidak ada yang mengatakan, “saya mencintai” dan “saya dicintai”. Ketika katakata itu terucap, maka tak ada lagi “cinta-mencintai”. Cinta itu menjadi mungkin hanya ketika cinta itu tampak sebagai sesuatu “YangTakTercintai”. Namun, jika kita menyerah dan tidak pernah lagi mengungkapkan cinta dan berusaha mencintai, kita juga tidak akan pernah memberikan cinta yang “sesungguhnya” – tanpa syarat dan berada di luar “skema ekonomi”.

Jadi, peristiwa mencintai – sejalan dengan pemikiran Derrida – merupakan peristiwa yang penuh dengan risiko. Mengungkapkan cinta dan berusaha mencintai berarti mengambil risiko melakukan sesuatu yang serentak membatalkannya. Kita memerlukan keberanian di sana. Ketika mengusahakan terwujudnya “cinta” tuk “Yang-Tak-Tercintai” (Tuhan), ketika itu juga kita harus tetap mencintai mereka “Yang-Tercintai” (“salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini”).

Risikonya:

“Mungkin aku akan berhenti pada ‘Mencintai Yang-Tercintai’, namun tanpa itu, aku tak akan pernah dapat ‘Mencintai Yang-Tak-Tercintai’.”

V.  Penutup : Aporia Yang Membahagiakan

Maka, hubungan antara “Yang-Tak-Tercintai” dan “Yang-Tercintai” ini pun tak dapat dipisahkan secara total. “Yang-Tak-Mungkin” itu sendiri tetap membutuhkan sesuatu “Yang-Mungkin”. “Yang-Tak-Tercintai” itu sendiri tetap membutuhkan sesuatu “Yang-Tercintai”. “Yang-Tak-Tampak” itu sendiri tetap membutuhkan sesuatu “Yang-Tampak”. “Yang-Tak-Terlihat” itu sendiri tetap membutuhkan sesuatu “Yang-Terlihat”.

Akhirnya, “Yang-Tercintai” itu dapat mengantar kita pada “YangTakTercintai”. Di sanalah, sebuah perjalanan yang tak akan pernah berakhir itu muncul, ada sesuatu “YangTakTerputuskan” (undecidable) dan pada saat yang sama lahir pula aporia (jalan buntu) yang membahagiakan. “Jalan buntu itu membahagiakan” karena pada akhirnya kita dapat “Mencintai” (walaupun “tak benar-benar mencintai dengan cinta yang sejati” – karena itu adalah proyek seumur hidup yang harus terus dihidupi). Namun paling tidak :

“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25: 40); dan Aku berkata kepadamu, ‘Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu’ (Mat 5: 44); dan ‘Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu’ (Mat 5: 39).”

“Mencintai Ia Yang-Tak-Tercintai.. melalui Cinta akan Ia Yang-Tercintai.. dan tetap mencintai dengan segala risikonya.. hingga akhirnya Ia pun berkata: ‘..ia telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya..'(Bdk. Luk 10: 42).”

“Syukur kepada Allah!”

_______________________________________

P.S: Ket. Foto 

YEN MUNG RUPA

Yen mung rupa sing gawe atimu tresna, banjur kepiye anggonmu tresna marang Gusti sing tanpa rupa.”
“Kalau hanya rupa (wajah) yang membuat hatimu (jatuh) cinta, terus bagaimana kamu dapat mencintai Tuhan yang tanpa rupa.”
“..dan Ia pun telah mengambil RUPA seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia..” (Bdk.Fil. 2: 7)
-amdg-
amrih mulya dalem gusti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s