OBAMA SEORANG PENYAIR

Obama Seorang Penyair 

Di tengah-tengah pertemuan negara-negara G7 di Jepang (26-27 Mei 2016), Obama menyempatkan diri untuk mengunjungi Hiroshima. Hal ini merupakan salah satu hal yang cukup menarik dan tak boleh dilewatkan begitu saja. Ia berbicara di sana sebagai seorang kepala negara yang 71 tahun silam telah menjatuhkan bom atom di kota itu. Pidatonya di Hiroshima Peace Memorial, bagi saya cukup berkesan. Saya berani mengatakan “Obama adalah seorang penyair”. Dari pidatonya itu, kita dapat belajar bagaimana kata-kata puitis pun dapat membantu kita tuk berdamai dengan sejarah masa lalu, bahkan yang paling sulit sekalipun. Marilah kita amati kata-kata yang ia gunakan.

Kematian jatuh dari langit

“Tujuh puluh satu tahun yang lalu, di sebuah pagi yang cerah tak berawan, kematian jatuh dari langit dan dunia telah diubah. Pancaran sinar dan sebuah tembok api menghancurkan kota dan mendemonstrasikan bahwa makhluk hidup memiliki alat-alat yang dapat menghancurkan dirinya sendiri.”

obama-hiroshima

Sebuah mukadimah yang sangat menarik dan indah tuk sebuah peristiwa yang sangat mengerikan. Pada hari itu (6 Agustus 1945), bom atom dijatuhkan di kota Hiroshima. Ratusan ribu orang menjadi korbannya. Kota yang hidup menjadi “kota mati” seketika.

“Mengapa kita datang ke tempat ini, ke Hiroshima?” sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang kepala negara, yang 71 tahun silam negaranya datang bersama bom atom. Pertanyaan ini tidak mudah, namun itu yang diucapkan oleh Obama. Baginya, datang ke Hiroshima pada 27 Mei 2016 merupakan sebuah cara untuk mengingat kembali “sebuah kekuatan yang mengerikan” telah digunakan di masa lalu, “yang-tak-begitu-jauh” dari saat ini.

“Kami datang tuk berkabung atas kematian lebih dari 100.000 orang Jepang, laki-laki, perempuan dan anak-anak, ribuan orang Korea, dan selusin orang-orang Amerika yang dipenjara. Jiwa-jiwa mereka berbicara kepada kita. Mereka meminta kepada kita tuk melihat ke dalam batin […].”

Siapa Kita (?)

 Obama pun mengajak untuk melihat kembali siapa kita dan akan menjadi apa kita. Lalu ia mulai berbicara mengenai “genealogi perang” yang dirangkai dengan indah.

“Nenek moyang-nenek moyang kita telah belajar bagaimana membuat mata pisau dari batu api dan tombak dari kayu (dan) menggunakan alat-alat ini tidak hanya untuk berburu namun juga untuk melawan sesamanya (kind). Dalam setiap benua, sejarah peradaban dipenuhi dengan perang, apakah digerakkan oleh kelangkaan gandum atau lapar akan emas, yang dipaksakan oleh kegairahan nasionalis atau semangat keagamaan. Kerajaan-kerajaan telah bangkit dan jatuh. Orang-orang telah dijajah dan dibebaskan. Dan pada setiap titik waktu, orang-orang yang tak berdosa telah menderita, kematian tak terhitung (lagi), nama-nama mereka dilupakan oleh waktu.”

Dari genealogi ini, Obama beranjak tuk fokus ke Perang Dunia dan menggam-barkan kebrutalan perang ini. Baginya, perang ini telah ditandai oleh “awan jamur yang naik hingga ke langit”, yang berakhir di Hiroshima dan Nagasaki. Selain tiu, ia menggambarkan Hiroshima dan Nagasaki sebagai kota yang menyumbangkan pada dunia, sebuah gambaran kota yang agung dan seni yang mengagumkan. Namun pada saat yang sama, dunia pun dipenuhi oleh perang dan insting dasar tuk mendominasi dan menguasai, yang seringkali menimbulkan banyak konflik.

Lalu, “Siapakah kita? Dan akan menjadi apa kita?” Bagi Obama, manusia pasca perang dunia telah ditandai oleh “awan jamur” yang kita lihat di Hiroshima dan Nagasaki. Namun yang perlu diperhatikan, kita telah diberi kapasitas bukan tuk menghancurkan. Setiap pemikiran, imajinasi, bahasa, dan kemampuan kita diciptakan untuk menjadi bagian dari alam, tidak hanya tunduk pada kehendak kita semata, dan mencari-cari pembenaran tuk menjustifikasi kekerasan yang kita inginkan. Melainkan kita diharapkan menjadi jalan bagi cinta kasih, damai dan kebenaran. Di sini, Obama menggarisbawahi peran agama, di mana setiap agama memperjuangkan itu semua.

Revolusi Moral

 Perkembangan teknologi, bagi Obama, patut disertai oleh perkembangan sumber daya manusia. Tanpa hal itu, teknologi hanya akan menjadi malapetaka. Hiroshima dan Nagasaki telah menjadi bukti nyata. Obama pun menyatakan bahwa revolusi ilmu pengetahuan memerlukan pula sebuah revolusi moral.

Di sini yang menarik, Obama mencoba menjelaskan revolusi moral bukan dengan sebuah deskripsi, penjelasan atau pemaparan, melainkan ia memilih tuk menarasikannya.

“Itulah mengapa kita datang ke tempat ini. Kita berdiri di sini, di tengah-tengah kota ini dan memaksa diri kita sendiri tuk berimajinasi saat bom itu jatuh. Kita memaksa diri kita sendiri tuk merasakan ketakutan anak-anak yang bingung dengan apa yang mereka lihat. Kita mendengarkan tangisan sunyi. Kita mengingat semua anak-anak yang tak berdosa terbunuh […].

Kata-kata tak dapat memberikan suara pada penderitaan seperti itu. Namun kita memiliki sebuah tanggungjawab bersama untuk melihat secara langsung ke dalam mata sejarah dan bertanya apa yang harus kita lakukan secara berbeda tuk menahan penderitaan seperti itu lagi.

[…] Namun memori mengenai pagi, 6 Agustus, 1945, harus tak pernah pudar. Memori itu yang mengizinkan kita tuk melawan kepuasan akan diri sendiri. Itulah bahan bakar (bagi) imajinasi moral kita. Hal itu mengizinkan kita untuk berubah.

[…] Tuk mendefinisikan negara-negara kita, bukan dengan kapasitas untuk menghancurkan melainkan dengan apa yang bisa kita bangun. Dan mungkin, di atas semua itu, kita harus reimajinasi hubungan kita antara satu dengan yang lain sebagai anggota satu umat manusia.

[…] Kita dapat belajar. Kita dapat memilih. Kita dapat menceritakan kepada anak-anak kita sebuah cerita yang berbeda, sesuatu yang menggambarkan kemanusiaan […].”

Selain itu, Obama juga mengajak untuk mengingat kembali orang-orang yang kita cintai, senyum pertama anak-anak kita di pagi hari, sentuhan lembut pasangan di meja dapur, dan juga pelukan hangat orangtua. Obama menggambarkan peristiwa ini pula yang terjadi di Hiroshima, 71 tahun silam.

Lalu Obama pun mengajak kita untuk belajar dari Hiroshima, bahwa mereka yang meninggal sama seperti kita. Orang-orang biasa yang tidak ingin perang lagi, lebih suka perkembangan ilmu pengetahuan difokuskan pada peningkatan mutu kehidupan dan bukan justru untuk menghancurkannya. Dan harapannya, pilihan-pilihan para pemimpin negara semoga mencerminkan kebijaksaan sederhana ini.

       “Dunia telah selamanya berubah di sini, namun hari ini anak-anak kota ini (Hiroshima) akan pergi melalui hari-hari mereka dalam damai. Betapa berharganya hal itu. […] Itu adalah sebuah masa depan yang dapat kita pilih, sebuah masa depan di mana Hiroshima dan Nagasaki dikenali bukan sebagai fajar dari peperangan atomik, melainkan sebagai awal dari sebuah kebangkitan moral.”

Indah (?)

Dengan keindahan kata-kata yang kita temukan dalam pidato Obama, kita tak dapat menyimpulkan bahwa kebrutalan, kekejaman, pembunuhan, penindasan, dan masih banyak lagi hal-hal buruk lainnya yang terjadi dalam perang adalah indah. Melainkan sebaliknya, semua itu jauh dari kata indah. Begitu juga dengan masa lalu bangsa ini, yang masih dipenuhi oleh masa-masa kelam, seperti Peristiwa 65 dan Mei 98. Tak ada keindahan sama sekali di sana.

Namun belajar pada Obama, sebuah jalan estetis (keindahan) bisa digunakan sebagai sebuah cara tuk berdamai (mengakui dengan sadar) kekelaman di masa lalu dan mencoba tuk melihat secercah harapan tuk melangkah lebih baik lagi di masa depan. Selain itu, Obama secara tidak langsung melakukan otokritik bagi “dirinya” (negaranya) sendiri, dalam melihat peran Amerika di dalam perang-perang dewasa ini.

Dan bagi Indonesia, bukan saatnya tuk kembali ke Orde Baru (Orba). Tak perlu lagi kita membakar buku, melarang diskusi dan merencanakan mendirikan “kantor-kantor pertahanan” di daerah-daerah, yang semua itu terkesan jauh dari akal sehat dan tampak begitu reaktif. Melainkan sebaliknya, jika kita ingin berdamai dengan masa lalu, kita bisa mencontoh “Obama sebagai seorang penyair” (dengan jalan estetisnya) dan bukan Orba (dengan jalan represifnya). Akhirnya, semoga negara ini pun dapat menjadi lebih “puitis” ke depannya, yang membawa “keindahan” yang lebih nyata bagi rakyatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s