DISKRESI IGNATIAN SEBAGAI SEBUAH JARAK ESTETIS

SONY DSC

(Antara Sapardi Djoko Damono dan St. Ignatius Loyola) 

Menulis Sastra (Antara News, 5 Desember 2015 – Ed. Suryanto)

sapardi

Penyair Sapardi Djoko Damono mengaku tak pernah menulis saat dirinya sedang dalam keadaan emosi yang tidak stabil, misalnya saat jatuh cinta, saat patah hati, saat sangat marah, sangat sedih atau bahkan sangat rindu.

“Kalau saudara sedang sangat marah, misalnya, maka itu tidak akan jadi. Saya saat menulis puisi Dongeng Marsinah itu dalam keadaan sangat marah makanya itu butuh waktu sampai tiga tahun untuk menyelesaikannya, bahkan sampai sekarang pun kalau saya membaca lagi puisi itu, saya masih marah dan ingin memperbaikinya,” kata Sapardi dalam workshop Festival Pembaca Indonesia 2015 di Jakarta pada Sabtu, 5 Desember 2015.

Peraih Penghargaan untuk Pencapaian Seumur Hidup dalam Sastra dan Pemikiran Budaya dari Akademi Jakarta itu yakin, orang yang sedang emosi tinggi atau marah tak akan bisa menulis puisi dengan baik.

“Kalau emosi tinggi jangan nulis, nanti puisinya tanda pentung semua, siapa yang bisa baca? Tenangkan dulu perasaannya. Ajak bicara emosinya, ‘hei, saya mau nulis dulu, kamu menyingkir dulu’, jadi harus ada jarak antara penyair dan apa yang akan disyairkan. Namanya jarak estetis,” kata Guru Besar Pensiun (professor emeritus) Universitas Indonesia (UI) itu.

Diskresi Ignatian

ignatius

Begitu pula yang diajarkan Santo Ignatius Loyola dalam hal diskresi (memilih) dalam hidup sehari-hari – mulai dari yang sederhana hingga hal-hal yang sangat penting mengenai hidup. Jangan pernah memilih saat diri kita sedang dalam keadaan emosi yang tidak stabil, misalnya saat jatuh cinta, saat patah hati, saat sangat marah, sangat sedih atau bahkan sangat rindu.

“Kalau emosi sedang tinggi jangan memilih, nanti pilihannya tanda tanya semua, siapa yang bisa paham? Tenangkan dulu perasaannya. Ajak bicara emosinya, ‘hei, saya mau milih dulu, kamu menyingkir dulu’, jadi harus ada jarak antara seseorang dengan hal yang akan dipilih. Namanya jarak estetis,” kata Ignatius Loyola (professor abadi) Serikat Jesus (SJ) itu.

Kadangkala kita sudah mengambil “jarak estetis” itu untuk memilih, namun kita bisa tetap salah, apalagi tidak.

__________

Mau memilih…

Diam.. renungkan.. pikirkan.. dan rasakan..

Biarkan Tuhan yang bicara..

Selamat Mengambil “Jarak Estetis”..

Selamat Memilih..

Selamat Berdiskresi..

_________________________________________________________________

P.S :

  1. Sapardi menulis puisi sejak tahun 1957, pertama kali menerbitkan “Duka-Mu” (1969) yang diikuti dua kumpulan sajak tipis pada 1974, “Mata Pisau” dan “Akuarium”. “Perahu Kertas” dan “Sihir Hujan” masing-masing mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan Anugerah Puisi Putera, Malaysia pada 1983. Selain puisi, Sapardi juga menulis cerpen dan novel seperti “Membunuh Orang Gila”, “Trilogi Soekram”, dan “Hujan Bulan Juni”. Buku-buku esainya yang mutakhir adalah “Tirani Demokrasi”, Slamet Rahardjo”, “Sebuah Esai, Mengapa Ksatria Memerlukan Punakawan?,” serta “Alih Wahana”.
  1. Ignatius Loyola menulis buku Latihan Rohani, yang mengubah jutaan orang di dunia, mulai sekitar tahun 1522 (di Manresa, Spayol) hingga sekitar tahun 1535 (di Paris, Perancis). Edisi cetak yang pertama terbit pada tahun 1548. Buku ini mengajarkan bahwa untuk mencapai kehidupan rohani yang baik, kita butuh latihan, seperti latihan jasmani. Yang dimaksud dengan kata latihan rohani adalah setiap cara (a) memeriksa hati, (b) meditasi, (c) kontemplasi, (d) doa lisan dan batin, serta segala kegiatan rohani lainnya. Sebagaimana gerak jalan, jarak dekat atau jarak jauh, dan lari-lari disebut latihan jasmani, begitu pula latihan rohani setiap cara mempersiapkan jiwa dan menyediakan hati untuk melepaskan diri dari segala rasa-lekat tak teratur, dan selepasnya dari itu, lalu mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup nyata guna keselamatan jiwa. (Bdk. LR 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s