Papua, Narasi Yang Terlupakan

 

SAMSUNG CSC

 

Setahun terakhir ini, pemberitaan di media-media massa tidak luput dari beberapa peristiwa yang berkaitan dengan Papua. Mulai dari penembakan terhadap para pelajar di Paniai yang terjadi pada 7-8 Desember 2014. Meninggalnya dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT), Dokter Dhanny Elya Tangke di Distrik Weime, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, pada 13 Mei 2015; Peristiwa Tolikara pada 17 Juli 2015; Penangkapan para aktivis (termasuk para Rohaniwan Katolik) dalam unjuk rasa HAM di Jayapura pada 8 Oktober 2015; Meninggalnya 56 anak akibat penyakit misterius di Distrik Mbuwa, Kabupaten Nduga, Papua (hal ini dinyatakan oleh kepala distrik, Erias Gwijangga, pada 25 November 2015); unjuk rasa mahasiswa Papua di Bundaran Hotel Indonesia pada 1 Desember 2015, yang berujung pada pembubaran dan penangkapan oleh pihak berwajib; hingga mundurnya Setya Novanto sebagai ketua DPR (16 Desember 2015), yang berkaitan dengan terungkapnya kasus skandal rekamannya dengan seorang pengusaha yang mencoba me-lobby CEO Freeport mengenai perpanjangan kontrak di Papua dan pembagian sahamnya.

Narasi

Sebagai narasi, beberapa peristiwa ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Selama setahun ini (tentunya banyak hal yang terjadi di Papua), namun peristiwa-peristiwa di atas tentunya menjadi contoh bahwa ada sebuah narasi yang terlupakan.

Inti dari sebuah narasi adalah adanya hubungan antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Jika benang merah tak ditemukan, maka setiap peristiwa itu akan berdiri sendiri dan tak dapat dikatakan sebagai sebuah narasi. Mungkin hanya sebagai sebuah informasi, yang memberikan begitu banyak data namun “kosong” tanpa makna. Akibatnya, persoalan tak pernah terselesaikan secara menyeluruh, melainkan selalu terkotak-kotak pada kasus-kasus tertentu saja (yang kadang itu pun mengambang dan tak jelas akan berlabuh ke mana). Pada akhirnya, Papua hanya akan berjalan di tempat.

Jika Papua dipandang sebagai sebuah narasi, harapannya, kita dapat menemukan “benang merah”, yaitu inti persoalan yang dihadapi Papua dan semoga menjadi sebuah solusi alternatif bagi Papua. Sehingga dari sana, narasi yang baik mengenai Papua dapat dibangun dan dikembangkan setahap demi setahap.

 “Adil dan Beradab”

Ketika kita memandang kembali rangkaian peristiwa di atas, ada sebuah “benang merah” yang tampaknya terlupakan. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk menemukannya kembali. Tanpa “benang merah” ini, maka tak akan ada sebuah narasi tentang Papua.

Saya moncoba mencari “benang merah” ini bersama-sama dengan Driyarkara (seorang Filsuf Indonesia), yang menyatakan bahwa Sila Pancasila yang paling penting adalah Sila yang kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Jika manusianya tidak adil dan tidak beradab, maka pengejawantahan Sila yang pertama – “Ketuhanan Yang Maha Esa” – akan sangat berbahaya. Hal ini dikarenakan pengamalan Sila yang pertama ini akan sangat tergantung oleh manusianya, tidak pertama-tama oleh Tuhan itu sendiri. Ya, kita percaya bahwa Tuhan itu Esa, namun jika mengatasnamakan ke-Esa-an Tuhan, lalu kita dapat melakukan apa saja, terutama hal-hal yang buruk (tidak adil dan tidak beradab), hal itu akan sangat berbahaya. Sila Pertama pada akhirnya dapat menjadi slogan belaka tanpa pengejawantahan yang tepat. Begitu pula dengan pengejawantahan Sila Ketiga, Keempat, dan yang Kelima; semua itu tergantung dari pengejawantahan Sila Kedua, “Apakah kita sudah adil dan beradab?”

Begitu pula ketika memandang Papua. Pertanyaan yang kurang lebih sama bisa kita ajukan, “Apakah kita (khususnya pemerintah) sudah ‘adil dan beradab’ terhadap Papua?” Jika jawabannya masih jauh dari ideal, jangan harap segala persoalan di Papua dapat diselesaikan dengan baik. “Keadilan dan keberadaban” inilah yang dituntut dan yang diingini oleh Papua. Peristiwa-peristiwa yang disebut di bagian awal tulisan ini, secara tidak langsung telah menunjukkan bahwa yang terjadi di Papua akhir-akhir ini adalah buah dari “ketidakadilan” dan “ketidakberadaban” yang telah dipelihara oleh bangsa ini berpuluh-puluh tahun lamanya di tanah Papua.

Namun di sini pun perlu berhati-hati, jangan sampai segala konsep “keadilan” dan “keberadaban” ini datangnya dari Jakarta. Secara pribadi, saya pun merasa tidak berhak untuk mendefinisikannya. Biarlah orang-orang Papua yang bicara tentang apa yang “adil” dan apa yang “beradab” bagi mereka. Sekarang waktunya bagi kita untuk mendengarkan Papua secara menyeluruh. Tak hanya para politikus dan tokoh-tokoh Papua saja yang harus didengarkan, melainkan semua. Jangan sampai kepentingan sebagian orang Papua saja yang diakomodasi dan yang lain terlupakan, terutama kaum perempuan dan anak-anak di Papua – mereka pun perlu didengarkan. Kaum perempuan dan anak-anak memiliki narasinya yang khas. Mereka pun patut diperhi-tungkan.

Dari Hati ke Hati

Jika kita sebagai bangsa benar-benar ingin secara serius mencintai Papua, ajaklah bicara orang-orang Papua dari hati ke hati, tidak hanya sebuah dialog formal dengan berbagai macam “gincu” di sana-sini, dan juga tentunya bukan dengan bahasa kekerasan yang selama ini digunakan. Inilah saatnya bagi Bangsa Indonesia, untuk mau mendengarkan sebuah narasi tentang Papua dari tanah Papua. Biarkan mereka bernarasi mengenai tanah Papua yang mereka cintai. Indonesia selama ini tampaknya secara tidak sadar melupakan Papua.

Narasi Jakarta

Akhir-akhir ini, kekayaan alam Papua menjadi pemberitaan di mana-mana. Tiba-tiba muncul sebuah “narasi besar” di media-media nasional. “Konon” terjadi sebuah percakapan di sebuah Mall di Jakarta mengenai bisnis tambang di Papua, di mana seorang pimpinan dewan kehormatan (SN) bersama seorang pebisnis (MR) berusaha melobi CEO perusahaan tambang yang beroperasi di Papua (MS). Dalam pertemuan itu bahkan ada pembicaraan mengenai “jatah” saham 20%, yang akan dibagikan ke Presiden (11%) dan Wapres (9%). Jika ini yang benar-benar terjadi, maka benarlah bahwa selama ini narasi Papua selalu berasal dari Jakarta dan bukan dari tanah Papua. Lagi-lagi Papua terlupakan!

Narasi Budaya

“Apakah kita pun sadar bahwa tanah bagi orang Papua adalah seorang Ibu?” Dan yang lebih mengenaskan lagi bahwa ternyata ada perusahaan tambang yang beroperasi tepat pada bagian dari “Kepala Ibu”. Lalu pertanyaannya, “Apakah kita hanya akan tinggal diam membiarkan orang lain terus-menerus membedah dan merusak ‘Kepala Ibu’ kita sendiri?” Sebagai seorang anak, hal ini jelas tidak mungkin bisa diterima. Ini adalah bagian dari narasi, yang seringkali terlupakan. Ada narasi budaya pula di sana, tak hanya sekadar aspek sosial-politik-ekonomi semata. Tampaknya, justru narasi inilah (budaya) yang patut dikembangkan. Papua kaya akan kebudayaan. “Jalan Budaya” menjadi salah satu jalan penting tuk membangun Papua, terutama tata nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun. Keharmonisan hubungan antarmanusia dan alam yang dijunjung tinggi dan dihidupi sehari-hari menjadi kunci penting bagi sebuah narasi bagi Papua. Dari sana barulah narasi-narasi sosial, politik dan ekonomi dibangun dan dikembangkan, dan bukan justru sebaliknya.

Narasi Papua

Akhirnya, yang menjadi tantangan kita untuk dapat membangun sebuah narasi tentang Papua, kita membutuhkan pertama-tama, “keadilan dan keberadaban” di tanah Papua. Kedua, biarlah orang-orang Papua sendiri yang berbicara dan bernarasi mengenai tanah Papua yang mereka cintai. Kita patut mendengarkannya dengan saksama. Menghargai mereka tanpa perlu terlebih dahulu menjatuhkan penilaian. Dan yang ketiga, jangan biarkan setiap pembicaraan mengenai Papua hanya terjadi di Jakarta. Pembicaraan mengenai Papua harus “dimulai” dan “berakhir” di Papua!

Jika ketiganya dapat benar-benar terjadi, paling tidak Papua tak lagi menjadi sebuah narasi yang terlupakan, melainkan justru dapat menjadi sebuah “Narasi Besar” bagi bangsa ini.

[Akhir Desember 2015]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s