Perjumpaan

PERJUMPAAN

Kanker Payudara

Saya belajar menghargai sebuah “perjumpaan”, ketika saya tahu bahwa Tante saya – sudah seperti Ibu saya sendiri, seorang Tante yang paling dekat dengan saya, karena waktu kecil saya diasuh olehnya – terkena Kanker Payudara.

Saya masih ingat ketika masa-masa kemoterapi dimulai. Rambutnya mulai rontok, sering muntah-muntah, berat badannya turun drastis, bahkan kulitnya terbakar (gosong) di beberapa bagian tubuhnya.

Satu hal yang paling membekas buat saya jika mengingat Tante saya itu, yaitu keinginannya untuk sembuh. Ketika saya tanya, “Kenapa Tante begitu kuat ingin sembuh?” (sebuah pertanyaan bodoh dari keponakan kesayangannya ini). Dia pun menjawab dengan lembut dan sambil tersenyum, “Tante masih ingin ketemu keponakan-keponakan Tante” (dia memilih untuk tidak menikah, dan keponakan-keponakannya dianggap sebagai anak-anaknya sendiri). Menurutnya, keponakan-keponakannya adalah kekuatannya untuk tetap bertahan hidup.

Singkat cerita, sekitar 2-3 tahun ia tetap rutin kontrol ke dokter dan minum obat hingga dokter menyatakan bahwa kankernya benar-benar sudah hilang – dinyatakan sembuh, walaupun dengan banyak pantangan yang harus dihindari. Perjuangannya tak sia-sia.

Semenjak dia mulai merasa lebih baik (walaupun ketika itu dia masih harus minum obat rutin), dia semakin sering mengunjungi keponakan-keponakannya di Solo, Jakarta, maupun di Sidoarjo. Memang benar apa yang dia katakan, dia masih ingin ketemu keponakan-keponakannya. Rasanya setiap moment perjumpaan baginya, merupakan sebuah moment yang sungguh berharga, walaupun itu hanya 1-2 jam. Dia benar-benar mensyukuri setiap moment perjumpaan dengan orang-orang di sekitarnya. Dia mulai benar-benar menghargai apa arti sebuah perjumpaan. Setiap waktu, semenit bahkan sedetik, tampaknya begitu istimewa baginya. Hal itu pula yang membuat saya semakin terkesan dan belajar banyak darinya. Semenjak itu pula, saya mulai menghargai setiap perjumpaan dengannya. Pengalaman sharing – cerita banyak hal yang kadang tidak penting, mulai dari gosip artis bahkan sampai hal-hal yang serius, misalnya tentang masa depan saya dan impian-impian Tante ke depannya – menjadi sebuah pengalaman yang sungguh berarti buat saya. Sebuah pengalaman yang begitu berharga, bahkan tak dapat dibeli oleh apapun.

Begitu banyak perjumpaan, begitu banyak cerita di sana. Saya benar-benar mulai belajar apa artinya sebuah “perjumpaan”. Tante saya secara tidak langsung telah mengajari saya tentang hal itu – “perjumpaan”. Semenjak itu, saya berusaha benar-benar menghargai orang-orang yang saya jumpai. Saya berusaha untuk men-silent HP ketika bertemu orang lain, makan, atau kesempatan-kesempatan lain, di mana saya bersama dengan orang lain. Bagi saya, “perjumpaan” itu “mahal” – priceless – dan Tante saya yang mengajarinya.

Leukemia

Pada tahun 2011, saya shock ketika mendengar bahwa Tante saya terkena Leukemia. Keadaannya tiba-tiba drop begitu cepat. “Setelah kanker payudara, sekarang leukemia.” Saya sempat marah pada Tuhan, “Tuhan, apa kurang… Kanker Payudara yang dideritanya selama beberapa tahun belakangan ini? Mengapa sekarang harus leukemia? Dan mengapa harus Tante saya?” dst… dst… Begitu banyak pertanyaan yang saya ajukan ke Tuhan. Dan pertanyaan-pertanyaan itu tetaplah menjadi sebuah pertanyaan terbuka dengan jawaban-jawaban terbuka pula. Tuhan tampaknya diam seribu bahasa. “Aku dianggap sepi,” pikirku saat itu.

Soekarno-Hatta

Saya tak pernah mengira bahwa “perjumpaan” terakhir dengannya terjadi di Soekarno-Hatta ketika saya harus pergi jauh darinya. Saya masih ingat wajahnya yang sedih, dengan kedua tangannya menempel di kaca, sambil memandang saya masuk ke ruang tunggu. Saya tau persis karena saya sempat menoleh sebentar ke arahnya saat itu – itu pun hanya beberapa detik saja. Itu terakhir kalinya saya memandangnya. Saya sangat marah karena dia pernah berjanji untuk menunggu saya pulang, namun ketika saya pulang, saya hanya bertemu dengan nisannya.

Semenjak saat itu, saya lagi-lagi berjanji, saya akan selalu menghargai setiap “perjumpaan” dengan siapa pun dan di mana pun itu. Saya tidak mau mengulangi peristiwa di Soekarno-Hatta itu, sungguh menyakitkan buat saya – sebuah janji yang harus kutunggu hingga akhir hayatku. Tante berjanji akan menunggu saya pulang, dan ternyata ia menunggu saya hingga saya pulang ke Rumah Bapa. Saya percaya bahwa dia pun sudah mempersiapkan tempat buat saya di “sana”, persis seperti waktu saya masih kecil – dia membersihkan tempat tidurku bahkan mencuci pakaian-pakaianku. Setiap kali saya ingin membantu, dia bilang, “Sudah sana.. main saja..”.

“Nanti aku ingin bermain-main lagi di ‘sana’ bersamamu, Tante. Kau tak perlu lagi membersihkan tempat tidurku atau mencuci pakaianku. Aku hanya ingin berjumpa lagi denganmu – perjumpaan itu lebih penting buatku.”

Di Kota Abadi

Awal Januari di Tahun 2016

Lima tahun setelah kepergianmu

(lebih tepatnya kepergianku)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s