Cinta – Mati

LARI[terinspirasi dari kuliah eskatologi]

I. Mukadimah

Pada pagi ini (Rabu, 22 April 2015), di kelas, kami membahas mengenai kematian dalam mata kuliah eskatologi (“akhir zaman” – istilah sederhananya). Dari sanalah saya mendapatkan insight untuk menulis tulisan pendek ini. Saya ingin memandang kematian dan cinta dalam satu keping mata uang dengan harapan pada akhirnya kita pun dapat mengatakan dengan lugas “Cinta – Mati” (bukan berarti [a] mencintai kematian, [b] cinta untuk mati, atau bahkan [c] cinta mati (dalam arti umum seperti yang kita dengarkan sehari-hari), [d] melainkan ingin lebih menyatakan bahwa Cinta dan Mati itu ada dalam satu “ruang” yang kurang lebih sama – jika tidak mau mengatakannya “identik”).

Pertama-tama,

Mari kita mulai dengan (ke)mati(an)

II. Mati

Mati sebagai kata bisa berfungsi dua jenis: Pertama, sebagai kata benda; dan yang Kedua, sebagai kata kerja. [1] Sebagai kata benda, mati tidak lebih dari sekadar obyek, yang ada di luar diri (self), bahkan bisa dikatakan hanya sebagai benda apa adanya (being-in-itself atau lebih tepatnya facticity dalam bahasa Sartre). Di sana kita akan kesulitan menemukan makna dari (ke)mati(an) itu sendiri karena tampak sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, solid, tertutup, dan tak tersentuh oleh (si)apa pun. “Mati ya Mati.. Cukup.. Tak kurang.. dan Tak lebih.. Terima saja apa adanya..!”.

 Sedangkan, [2] sebagai kata kerja, mati akan lebih hidup dan menemukan maknanya. Sebagai kata kerja, mati – mau tak mau – membutuhkan subyek untuk dapat “digunakan”. Subyek itu kita. “Ya.. kita.. kita yang telah, sedang, dan yang akan mati. Intinya, mati membutuhkan kita (manusia). Tanpa kita, mati tak bermakna apa pun. Mati akan mati dengan sendirinya.

II.1. Finis

 Memahami (ke)mati(an) melalui kata dapat dimulai dengan memahami kata Latin “Finis” (Gender: Maskulin; Deklinasi: Ketiga), yang memiliki arti sentral sebagai garis [ ____________ ] (yang kemudian juga dapat diartikan sebagai “akhir”, “batas”, “perbatasan”, dan “teritori”).

(Ke)mati(an) sebagai finis dapat dibayangkan dalam komposisi “Lomba Lari” di dalam stadion. Di sana, kita dapat menemukan paling tidak 3 arti :

[1] Garis Awal (Start)

[2] Garis Pembatas

[3] Garis Akhir (Finish)

II.1.A. Garis Awal (Start)

Sebagai garis awal (start), (ke)mati(an) mempersiapkan diri untuk “berangkat” ke kehidupan yang lain. Tapi sayangnya tidak “berangkat” semuanya, masih meninggalkan sesuatu, walaupun tidak dalam waktu yang lama, yaitu “jenazah”. Dari sini lahir ide tentang “jiwa”. Jiwa itu lahir dari pengalaman melihat jenazah – terutama jenazah orang-orang yang kita cintai. Di sana kita berpikir bahwa orang kesayangan yang sudah meninggal itu tetap hidup dalam forma yang lain, yang kita namakan “jiwa” (soul).

Selain itu, sebagai garis awal (start), (ke)mati(an) itu selalu datang dari luar. Ada “seseorang” yang “menggariskan”-nya – “dari sini – dari garis ini – kau boleh berlari dan ini sudah ditentukan” (kita benar-benar tak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa). (Ke)mati(an) itu musuh. “Aku benar-benar ingin berlari, eh.. dia malah datang dan menghentikanku dan memulai sebuah perjalanan ke kehidupan yang lain.”

Kita bahkan tak dapat mengatakan bahwa “bunuh diri” itu menyebabkan (ke)mati(an). (Ke)mati(an) tak dapat ditentukan oleh diri kita sendiri. Ia selalu datang dari luar. “Bunuh diri” itu hanyalah sebuah “panggilan”, yang kadang tidak bisa dijawab “tidak”. Dan (ke)mati(an) pun benar-benar datang dari luar. Akhirnya, kita pun dapat menyadari bahwa (ke)mati(an) adalah sebuah interupsi – kita tak dapat melawannya. (Ke)mati(an) ingin menunjukkan pada kita bahwa ada sesuatu yang “lebih” dari sekadar mati (namun itu semua tak dapat berasal dari inisiatif kita sendiri).

II.1.B. Garis Pembatas

Sebagai garis pembatas, (ke)mati(an) menunjukkan jalan atau jalur di mana aku harus “berlari”. Aku tak dapat seenaknya berlari di jalan atau di jalur yang lain, karena itu memang untuk yang lain. Jika itu yang aku lakukan, maka aku akan di-“diskualifikasi”.

(Ke)mati(an) menunjukkan batas-batas di mana aku harus dengan rendah hati menerimanya. “Inilah batas hidupmu.. dan kau harus menghidupi hidup yang lain.. Inilah (ke)mati(an)..!!” Hal ini menunjukkan bahwa “aku Ada untuk mati” (Heidegger), bahkan St. Fransiskus Asisi menyebut (ke)mati(an) sebagai “saudari”, seseorang yang begitu dekat dengan kita, saudari kita sendiri, yang menemani perjalanan hidup kita, yang mencintai kita apa adanya, bahkan ia yang berani menyerahkan hidupnya bagi kita – itulah (ke)mati(an).

II.1.C. Garis Akhir (Finish)

Pada point ini, saya mau minta maaf karena di sini kita membutuhkan iman untuk memahaminya. Sebagai “garis akhir”, (ke)mati(an) akhirnya penuh dengan pertanyaan, termasuk “Mengapa hanya ada kekosongan di sini?” (Ke)mati(an) pada tahap ini menjadi begitu ambigu. Hal itu juga menunjukkan keambiguan dalam hidup. Ada ikatan misterius antara hidup dan kematian. “Apakah (ke)mati(an) pada akhirnya hanya ingin menunjukkan kefanaan hidup ini yang tak layak tuk dihidupi? Karena pada akhirnya kita pun akan mati, jadi untuk apa kita hidup?” Hanya dengan iman kita dapat menjawabnya. Tanpa iman, hidup dan mati pada akhirnya sama-sama fananya – tak ada artinya.

Salib sudah menunjukkan keambiguan itu – antara hidup dan mati. Salib biasa disebut sebagai “pohon kehidupan” (tree of life), karena pada (ke)mati(an) itu ada kehidupan (bukan sesudah atau bahkan sebelumnya). Dalam kata lain, di dalam “rasa sakit” (mati disalib) itu sendiri, di sana kita menemukan “hidup” (bukan setelah rasa sakit itu hilang [atau bahkan setelah rasa sakit itu pergi] baru kita dapat menemukan hidup, melainkan justru di dalam ‘kesakitan’ itu sendiri kita menemukan hidup – bukan berarti juga “masokis”, mencari-cari rasa sakit untuk dinikmati.. bukan.. sekali lagi bukan.. lagi-lagi jangan lupa, di sini kita butuh iman).

(Ke)mati(an) selalu berada antara pertanyaan dan jawaban.

 Kemudian pertanyaan selanjutnya,

“Apa fungsinya (ke)mati(an) sebagai ‘garis akhir’?”

 Ia ingin bicara mengenai sebuah perjalanan dari hidup menuju ke kepenuhan hidup.

III. Cinta

 Lalu bagaimana dengan “Cinta”?

[Saya akan memaparkan dengan menggunakan penjelasan yang sama dengan (ke)mati(an) untuk menunjukkan bahwa Cinta dan Mati itu benar-benar berada dalam satu keping mata uang]

Cinta sebagai kata bisa berfungsi dua jenis: Pertama, sebagai kata benda; dan yang Kedua, sebagai kata kerja. [1] Sebagai kata benda, cinta tidak lebih dari sekadar obyek, yang ada di luar diri (self), bahkan bisa dikatakan hanya sebagai benda apa adanya (being-in-itself atau lebih tepatnya facticity dalam bahasa Sartre). Di sana kita akan kesulitan menemukan makna dari (men)cinta(i) itu sendiri karena tampak sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, solid, tertutup, dan tak tersentuh oleh (si)apa pun. “Cinta ya Cinta.. Cukup.. Tak kurang.. dan Tak lebih.. Terima saja apa adanya..!”.

Sedangkan, [2] sebagai kata kerja, cinta akan lebih hidup dan menemukan maknanya. Sebagai kata kerja, cinta – mau tak mau – membutuhkan subyek untuk dapat “digunakan”. Subyek itu kita. “Ya.. kita.. kita yang telah, sedang, dan yang akan (men)cinta(i). Intinya, cinta membutuhkan kita (manusia). Tanpa kita, cinta tak bermakna apa pun. Cinta akan mati dengan sendirinya.

II.1. Finis

Memahami (men)cinta(i) melalui kata dapat dimulai dengan memahami kata Latin “Finis” (Gender: Maskulin; Deklinasi: Ketiga), yang memiliki arti sentral sebagai garis [ ____________ ] (yang kemudian juga dapat diartikan sebagai “akhir”, “batas”, “perbatasan”, dan “teritori”).

(Men)cinta(i) sebagai finis dapat dibayangkan dalam komposisi “Lomba Lari” di dalam stadion. Di sana, kita dapat menemukan paling tidak 3 arti :

[1] Garis Awal (Start)

[2] Garis Pembatas

[3] Garis Akhir (Finish)

II.1.A. Garis Awal (Start)

Sebagai garis awal (start), (men)cinta(i) mempersiapkan diri untuk “berangkat” ke kehidupan yang lain. Tapi sayangnya tidak “berangkat” semuanya, masih meninggalkan sesuatu, walaupun tidak dalam waktu yang lama, yaitu “diri sendiri” – kadang kita merasa kehilangan diri kita sendiri ketika kita mencintai, rasanya tak ada lagi “Aku”, yang ada hanya “Kamu”.

Selain itu, sebagai garis awal (start), (men)cinta(i) itu selalu datang dari luar. Ada “seseorang” yang “menggariskan”-nya – “dari sini – dari garis ini – kau boleh berlari dan ini sudah ditentukan” (kita benar-benar tak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa). (Men)cinta(i) itu musuh. “Aku benar-benar ingin berlari, eh.. dia malah datang dan menghentikanku dan memulai sebuah perjalanan ke kehidupan yang lain.”

Kita bahkan tak dapat mengatakan bahwa “jatuh cinta” itu menyebabkan cinta. (Men)cinta(i) tak dapat ditentukan oleh diri kita sendiri. Ia selalu datang dari luar. “Jatuh cinta” itu hanyalah sebuah “panggilan”, yang kadang tidak bisa dijawab “tidak”. Dan (men)cinta(i) pun benar-benar datang dari luar. Akhirnya, kita pun dapat menyadari bahwa (men)cinta(i) adalah sebuah interupsi – kita tak dapat melawannya. (Men)cinta(i) ingin menunjukkan pada kita bahwa ada sesuatu yang “lebih” dari sekadar cinta (namun itu semua tak dapat berasal dari inisiatif kita sendiri) – yang kadang tak terkatakan.

II.1.B. Garis Pembatas

Sebagai garis pembatas, (men)cinta(i) menunjukkan jalan atau jalur di mana aku harus “berlari”. Aku tak dapat seenaknya berlari di jalan atau di jalur yang lain, karena itu memang untuk yang lain. Jika itu yang aku lakukan, maka aku akan di-“diskualifikasi”.

(Men)cinta(i) menunjukkan batas-batas di mana aku harus dengan rendah hati menerimanya. “Inilah batas hidupmu.. dan kau harus menghidupi hidup yang lain.. Inilah (men)cinta(i)..!!” Hal ini menunjukkan bahwa “aku Ada untuk cinta” (mungkin Heidegger akan mengatakannya seperti itu), bahkan St. Fransiskus Asisi mungkin akan menyebut (men)cinta(i) sebagai “saudari”, seseorang yang begitu dekat dengan kita, saudari kita sendiri, yang menemani perjalanan hidup kita, yang mencintai kita apa adanya, bahkan ia yang berani menyerahkan hidupnya bagi kita – itulah (men)cinta(i).

II.1.C. Garis Akhir (Finish)

Pada point ini, saya mau minta maaf karena di sini kita membutuhkan iman untuk memahaminya. Sebagai “garis akhir”, (men)cinta(i) akhirnya penuh dengan pertanyaan, termasuk “Mengapa hanya ada kekosongan di sini?” (Men)cinta(i) pada tahap ini menjadi begitu ambigu. Hal itu juga menunjukkan keambiguan dalam hidup. Ada ikatan misterius antara hidup dan (men)cinta(i). “Apakah (men)cinta(i) pada akhirnya hanya ingin menunjukkan kefanaan hidup ini yang tak layak tuk dihidupi? Karena pada akhirnya kita pun akan mati, jadi untuk apa kita mencintai?” Hanya dengan iman kita dapat menjawabnya. Tanpa iman, hidup dan cinta pada akhirnya sama-sama fananya – tak ada artinya.

Salib sudah menunjukkan keambiguan itu – antara hidup dan cinta. Salib biasa disebut sebagai “pohon kehidupan” (tree of life), karena pada (ke)mati(an) itu ada kehidupan dan cinta (bukan sesudah atau bahkan sebelumnya). Dalam kata lain, di dalam “rasa sakit” (mati disalib) itu sendiri, di sana kita menemukan “hidup” dan “cinta” (bukan setelah rasa sakit itu hilang [atau bahkan setelah rasa sakit itu pergi] baru kita dapat menemukan hidup dan cinta, melainkan justru di dalam ‘kesakitan’ itu sendiri kita menemukan hidup dan cinta – bukan berarti juga “masokis”, mencari-cari rasa sakit untuk dinikmati.. bukan.. sekali lagi bukan.. lagi-lagi jangan lupa, di sini kita butuh iman).

(Men)cinta(i) selalu berada antara pertanyaan dan jawaban.

Kemudian pertanyaan selanjutnya,

“Apa fungsinya (men)cinta(i) sebagai ‘garis akhir’?”

Ia ingin bicara mengenai sebuah perjalanan dari hidup menuju ke kepenuhan hidup.

***

Dan

pada akhirnya,

Cinta dan (Ke)mati(an)

..saling bertemu..

[seperti Romeo dan Juliet]

dan kita pun sadar

bahwa mereka berada dalam

satu keping mata uang

yang tak dapat dipisahkan

 “Cinta – Mati”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s