WOODY ALLEN DAN SITUASI POLITIK 2014

WOODY ALLEN (BY DENISE ESPOSITO)

Mukadimah

Menikmati film-film Woody Allen sungguh memberi kesegaran tersendiri dalam memandang realitas hidup ini, termasuk memberi cermin bagi suasana Politik Indonesia di tahun 2014 ini. Pada artikel singkat ini, saya tertarik mengangkat 3 Film Woody Allen, yaitu “The Curse of the Jade Scorpion” (2001), “Melinda and Melinda” (2004), dan “Midnight in Paris” (2011). Dari ketiga film ini kemudian saya mencoba untuk membaca situasi perpolitikan kita saat ini secara umum.

[1] “The Curse of the Jade Scorpion” : Kata-Kata Sandi

Film ini sangat menarik, di mana diceritakan seorang “insurance investigator” profesional dan terpercaya bernama C.W. Briggs yang terkenal hebat di New York City pada tahun 1940. Ia dikenal dengan cara berpikirnya yang unik, yang selalu berusaha berpikir sebagai seorang kriminal sehingga ia tahu persis bagaimana menangani cela-cela keamanan yang dapat terjadi di kemudian hari. Dengan demikian, ia pun dapat memberi keamanan yang maksimal bagi para kliennya yang bernaung di bawah perusahaannya.

Film ini mulai menarik ketika C.W. bersama rekan-rekannya pergi ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Di sana, ia bertemu dengan Voltan (seorang pesulap, ahli hipnotis). Pada saat itu, Voltan meminta C.W. dan Betty Ann Fitzgerald (seorang rekan kerja yang ditaksirnya) untuk maju ke depan. Lalu dengan kata-kata sandi “Madagaskar” dan “Konstantinopel” mereka berhasil dihipnotis selama beberapa menit untuk menghibur para pengunjung di restoran tersebut.

Singkat cerita, setelah peristiwa hipnotis di restoran tersebut, Voltan berusaha mengelabuhi C.W. dengan cara menghipnotisnya melalui telepon. Dengan begitu, Voltan dapat meminta C.W. untuk mencuri barang-barang berharga para kliennya, karena C.W. tahu persis sistem keamanan mereka, yang merupakan orang-orang kaya di NYC. Dengan kejadian-kejadian itu, para klien pun mengajukan claim ke perusahaan di mana C.W. bernaung. Ia pun mulai kebingungan, “Bagaimana mungkin dengan sistem yang begitu ketat, masih saja terjadi pencurian?” Akhir cerita, C.W. pun sadar bahwa yang mencuri itu adalah dirinya sendiri, di bawah pengaruh hipnotis yang dilakukan oleh Voltan.

Melihat film ini, saya jadi teringat oleh kancah perpolitikan kita saat ini. “C.W.” bagi saya merupakan gambaran para politikus baik, benar, dan bersih di Indonesia ini. Mereka tak perlu ditakuti. Mereka benar-benar baik karena mau bekerja bagi bangsa dan negara kita yang tercinta ini. Mereka itu ADA dan NYATA, salah satu buktinya Kontras menerbitkan nama-nama “Caleg Bersih” yang ikut PILEG 2014 kemarin (walaupun belum resmi jadi anggota legislatif, namun mereka sudah dapat dikatakan sebagai “politikus”).

Di lain sisi, yang perlu ditakuti itu sebenarnya adalah “Voltan”. “Voltan” bagi saya adalah mereka yang dapat “menghipnotis” para politikus kita. Mungkin saja dengan kata-kata sandi, “Apel Malang”, “Apel Washington”, “Bos Besar”, “Uang Bensin”, “Nyam Nyam”, “Susu Kaleng”, “Luwak”, “Kiai”, “Pak Guru”, “Toyyib”, dan masih banyak lagi, dan “sandi-sandi” itulah yang perlu ditakuti, karena dapat menghipnotis para politikus kita. Bahkan, sekarang kata-kata sandi itu telah menjadi lebih panjang, mereka berusaha menuliskannya dalam “puisi”. Bahkan tak tanggung-tanggung, yang menulis adalah seorang Doktor bahkan lulusan universitas terkenal. Sekarang yang “dihipnotis” tak hanya “lawan politik”, melainkan juga untuk masyarakat luas, menjelek-jelekkan “lawan politik”.

Pada akhirnya, saya berkesimpulan “hipnotis” pada dirinya sendiri adalah netral, ia adalah sebuah ilmu ketrampilan yang dapat dipelajari oleh setiap orang. Yang menjadi tantangan adalah “Bagaimana menggunakannya dengan baik?” Begitu juga dengan kata-kata sandi (termasuk puisi) dalam perpolitikan kita dewasa ini. “Silakan Anda membuat ‘kata-kata sandi’ sebanyak-banyaknya (termasuk puisi), tak masalah bagi kami. Namun yang perlu diingat, sekali anda (para politikus) menggunakannya hanya sekadar untuk kepentingan pribadi dan golongan, dan bukan untuk kepentingan masyarakat luas, pada saatnya nanti anda akan ‘terhipnotis’ sendiri oleh kata-kata sandi Anda yang Anda ciptakan, dan akhirnya kehilangan kesadaran. Dari sana, muncullah para penegak hukum dan masyarakat luas (yang sudah tak bodoh lagi) tuk membangunkan dan menyadarkan Anda kembali (dan mungkin tulisan ini juga merupakan salah satu caranya).”

[2] “Melinda and Melinda” : Tragis atau Bahagia (?)

Kali ini, dengan “Melinda and Melinda” Woody Allen mencoba untuk melakukan double interpretasi atas sebuah realitas kehidupan. Dalam satu peristiwa, Woody Allen menggarisbawahi adanya kemajemukan interpretasi yang mungkin akan terjadi, paling tidak dua kemungkinan: bisa berakhir “tragis” (sad ending) mungkin juga “bahagia” (happy ending).

Pada film ini, Woody Allen mengangkat kisah Melinda, seorang wanita yang penuh dengan problematika kehidupan. Melinda merupakan sebuah karakter imajinatif yang diperbincangkan oleh 4 penulis yang sedang ngobrol-ngobrol santai di sebuah restauran sambil makan malam bersama.

Dalam versi tragis (sad ending), Melinda berpisah dengan suaminya, ia kehilangan hak asuh anaknya, ia tampak tak berpengharapan, ia lalu tinggal dalam sebuah apartemen milik seorang sahabatnya, ia digambarkan di bawah ketergantungan pil dan alkohol. Dan yang lebih menyedihkan lagi, ketika ia jatuh cinta pada seorang pianis “Ellis Moonsong”, di mana harapan tampaknya mulai terbit, ternyata sang pujaan hati ini berselingkuh dengan seorang sahabatnya. Penderitaan Melinda pun benar-benar komplit. Tak tersisa apa pun.

Dalam versi “happy ending”-nya, singkat cerita Melinda yang sedang kacau balau setelah berpisah dari sang suami dan kehilangan hak asuh anaknya, datang ke apartemen Susan dan Hobie. Pada saat itu mereka sedang mengadakan makan malam bersama dengan para sahabatnya. Akhirnya, mereka pun mendengarkan sharing kisah pengalaman sedih Melinda dan berusaha menghiburnya. Susan pun mengambil inisiatif tuk menghibur Melinda dengan berperan menjadi cupid. Setelah itu, cerita pun berlanjut, di mana Hobie lama-kelamaan tertarik dengan Melinda. Namun, di luar itu semua, Melinda perlahan-lahan tampak memiliki semangat hidup, berpengharapan, dan mulai menghidupi kehidupannya lagi dengan normal.

Dari film ini, saya jadi tertarik mengamati hasil penghitungan cepat lembaga-lembaga survei di Indonesia atas pemilu caleg kemarin. Yang menarik bukan hasil “hitung cepat”-nya, melainkan reaksi partai-partai politik, “Mau dilihat dari sisi ‘tragis’ atau ‘bahagia’..?” Ada beberapa partai yang sungguh bahagia karena diluar dugaan mereka dapat meraup suara yang cukup besar. Namun, ada pula yang “menangis” bahwa ternyata jauh di bawah target yang ditentukan sebelumnya. Jadi, “Mau melihat ‘Melinda’ dari sisi ‘sad ending’-nya atau ‘happy ending’-nya? Sejauh ini, tidak pasti! Namun yang jelas, masih ada harapan dengan adanya koalisi, yang dimungkinkan dalam perpolitikan Indonesia.” Lalu, “Bagaimana ‘ending’-nya?” Kita tunggu saja “tanggal main”-nya nanti.

Selain itu, “Melinda and Melinda” juga persis dapat diterapkan pada para caleg kita yang terhormat itu. Beberapa di antara mereka yang jelas-jelas tak terpilih, sudah ada yang pergi ke “orang pintar”, merampas kotak suara, meminta mengembalikan barang-barang yang sudah diberikan selama kampanye (yang artinya mempermalukan diri sendiri), bahkan ada yang menggantung diri. Tampaknya mereka lebih memilih “sad ending”, walaupun ketika kampanye mereka tampak begitu “bahagia” (happy). Kita tak dapat menghakimi mereka. Mungkin mereka juga merupakan korban dari permainan politik yang tak sebersih yang mereka bayangkan. Sebenarnya mereka orang-orang baik yang benar-benar polos dan tak tahu bahwa politik itu juga butuh perhitungan, tak sekadar bermain judi dan menaruh taruhan di atas meja. “Melinda… oh Melinda… tak seharusnya kau memilih akhir yang tragis bagi hidupmu…”

[3] “Midnight in Paris” : Romantisme Masa Lalu

Film yang satu ini mengajak kita tuk memandang dan mengevaluasi “masa lalu” dengan cermat dan kritis. Film ini mengisahkan mengenai seorang screenwriter Hollywood (Gil Pender) yang sedang berlibur bersama keluarga tunangannya (Inez) di Paris. Pada saat yang sama, Gil sedang disibukkan tuk menyelesaikan novel pertamanya yang berkisah mengenai seorang pria yang bekerja di sebuah toko nostalgia.

Pada suatu malam Gil mabuk karena sudah minum terlalu banyak alkohol dan ia tersesat di jalanan kota Paris. Tak disangka pada tengah malam, ada sebuah mobil antik tahun 1920an (seperti Peugeot Type 176) yang lewat di depannya. Seseorang dari dalam mobil itu mengajaknya tuk menghadiri pesta Jean Cocteau (seorang novelis, artis, penulis puisi, dan juga filmmaker yang berkebangsaan Prancis). Selain itu, Gil pun bertemu dengan Cole Porter (seorang komposer Amerika), Alice B. Toklas (seorang artis avant-garde kelahiran California, dengan ide-idenya yang tak-biasa dan eksperimental), Josephin Baker (seorang penari, artis, penyanyi, aktivis HAM, dan juga seorang mata-mata yang dilahirkan di St. Louis, Missouri, US), Zelda Fitzgerald (seorang novelis, penulis cerita pendek dan puisi, dan juga penari, yang menekuni genre modernisme yang dibalut dengan perjuangan feminisme pada zamannya), F. Scott Fitzgerald (Suami Zelda Fitzgerald, yang juga seorang novelis, penulis cerita pendek dan puisi), Ernest Hemingway “muda” (seorang peraih nobel literatur pada tahun 1954), Gertrude Stein (seorang penulis dan penyair modern, kelahiran Amerika yang akhirnya menetap di Paris pada tahun 1903), dan juga Pablo Picasso (seorang pelukis Spanyol, yang masuk dalam golongan pelukis “Cubism”).

Singkat cerita, Gil akhirnya pun sadar bahwa pada setiap tengah malam ia dapat kembali ke masa tahun 1920an, yang merupakan masa-masa emas baginya. Sebuah hal yang sungguh membahagiakan baginya. Seiring perjalanan waktu, Gil pun jatuh cinta pada Adriana (mistress dari Pablo Picasso, yang dikisahkan dalam film ini). Namun sayang, Adriana menganggap bahwa masa-masa emas itu bukan pada tahun 1920an, melainkan pada era 1890an. Dan tak disangka-sangka, pada suatu malam mereka berdua pun berkesempatan tuk kembali ke era 1890an itu, Belle Époque. Adriana dan Gil bertemu dengan Henri de Toulouse-Lautrec, Paul Gauguin, dan juga Edgar Degas (mereka adalah para pelukis berkebangsaan Perancis pada era 1890an). Dan ternyata, para pelukis ini berpendapat bahwa era mereka itu merupakan “Era yang ‘kosong’, tak ada karya besar yang dihasilkan”, dan mereka lebih mengagumi era Renaissance Eropa(Sekitar abad ke 14-17, yang terkenal dengan “humanisme”-nya, yang didasarkan pada “Studia Humanitatis”, yang menekankan pada 5 karakteristiknya, yaitu puisi, grammar, sejarah, filsafat moral, dan retorika). Walaupun Adriana dan Gil tampak “kaget” dengan pendapat mereka, namun akhirnya Adriana memutuskan tuk tetap berada di era itu (1890an) dan tak ingin kembali ke era 1920an, di mana ia hidup. Gil pun tampak begitu sedih. Akhirnya, Gil pun kembali ke abad-21, di mana ia hidup, dan berusaha kembali “menemukan” hidupnya.

Dari kisah yang menarik ini, kita bisa belajar bahwa kita seringkali membanding-bandingkan “saat ini” dan “masa lalu”, namun kadang kurang bijaksana (cermat dan teliti). Seringkali kita memandang “masa lalu” merupakan masa keemasan. Namun, dari film ini Woody Allen ingin menunjukkan bahwa “masa lalu” pun tak merasa “puas” dengan dirinya sendiri.

Yang lucunya dalam politik kita saat ini, begitu banyak partai yang selalu membawa-bawa romantisme masa lalu yang kadang tidak relevan, mulai dari “Sek penak jamanku toh?”, “Jenderal Soedirman” dengan kudanya, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk masa lalu yang dibawa dalam ruang politik kita saat ini. Bagi saya, yang menjadi soal itu bukan terletak pada “masa lalu” itu sendiri. Kecemasan saya lebih pada soal bahwa “Mereka memanipulasi ‘masa lalu’ tuk sekadar memperoleh kuasa saat ini.” Dan yang lebih parah lagi, berusaha memanipulasi “kekerasan” dan “dosa-dosa” masa lalu dan menjadikannya tampak begitu “suci” dan menjustifikasinya dengan situasi politik pada saat itu. Dengan demikian, seolah-olah orang-orang yang bertanggungjawab atas “dosa-dosa” itu tak tahu apa-apa dan memposisikan diri bahwa mereka adalah korban dari situasi politik pada saat itu.

Jika kita ingin sedikit saja belajar pada “Midnight in Paris”, jangan sampai kita tertipu pada “masa lalu”. Masa lalu (sejarah) itu memang penting, namun bukan tuk dikagumi semata, melainkan “dipelajari” dan “dikritisi”.

Penjelasan saya sederhana saja (melihat situasi politik dewasa ini), “Jika anda punya masalah berat di negara ini, jadilah politikus. Jika nanti anda diserang akibat ‘dosa-dosa’ di masa lalu yang anda buat, dengan mudah anda dapat mengatakan, ‘Maaf.. itu hanya serangan politis saja..!’ Dan anda secara pribadi pun dapat lepas dari tanggungjawab yang seharusnya anda pikul.” Akhirnya pesan saya kepada kita semua yang masih punya akal sehat, “Jangan mau dibodohi oleh para politikus model seperti ini..! Mereka mempermainkan ‘masa lalu’ yang dianggapnya sudah berlalu, namun lupa bahwa masih tersisa ‘tanggungjawab’ pada saat ini.”

Akhirul Kata

Dari ketiga film Woody Allen ini kita diingatkan kembali bahwa dalam politik, kita seharusnya (1) tak bermain-main dengan “Kata Sandi”, (2) “Berani Tuk Memilih” (Happy or Sad Ending), dan (3) jangan terlalu bangga atas “Masa Lalu”. Mari kita belajar menghargai politik itu sebagai sarana “memanusiakan manusia” – sebuah sarana yang suci, di mana kebaikan bersama (bonum commune) dapat diusahakan dan diwujudkan di tengah-tengah kehidupan kita sehari-hari. Tak perlu lagi yang namanya “tipu muslihat” yang hanya membawa kita pada akhir cerita yang “tragis” dan yang selalu terbelenggu oleh “masa lalu”.

“Politik itu akhir-akhir ini bagaikan ‘Komedi Nyata’, yang tampil sehari-hari dengan akhir yang terbuka dan cenderung mengenang dan mengulang ‘Masa Lalu’ tanpa kekritisan.”

 _______________________________________

Kredit Foto : Woody Allen (By. Denise Esposito) dalam http://www.deniseesposito.deviantart.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s