KORUPSI ITU PERSOALAN RUANG DAN WAKTU

jam

“Korupsi” adalah salah satu kata terpopuler yang setiap hari disuguhi oleh media-media di Indonesia. Kadangkala kita sampai bosan mendengar kata itu. Begitu banyak pejabat publik dan para politikus yang tersangkut di dalamnya. Namun kali ini, saya tertarik untuk memandangnya dari sisi “Ruang” dan “Waktu”.

Korupsi dan Moralisme Pribadi (?)

Seringkali korupsi disangkutpautkan dengan moralisme seseorang. Jika seseorang itu korupsi, berarti ia tak bermoral. Itu salah satu cara paling cepat dan mudah tuk menghakimi seorang koruptor. Namun, ini juga yang menjadi kendala.

Benar, bahwa korupsi menunjukkan “kualitas” moral seorang pribadi. Namun, jika korupsi hanya disangkutpautkan dengan moralisme pribadi seseorang, maka kita hanya akan berjalan di tempat. Akhirnya, pemberantasan korupsi tak lebih hanya sebagai alat menghakimi nilai-nilai moral pribadi seseorang.

Jika korupsi dianggap menjadi penyakit nasional yang sudah menjalar sampai di tingkat RT / RW, ini berarti bahwa ada sesuatu yang salah dengan sistem bernegara kita. Ini masalah serius. Ini mengenai “Moral Bangsa”. Jika suatu bangsa “membenarkan” secara sistematis praktek korupsi (baik disadari maupun tidak), maka apa yang dapat dibanggakan lagi dari sebuah bangsa. Korupsi adalah sebuah penyakit kronis, yang dapat membunuh sebuah bangsa perlahan-lahan namun pasti.

Korupsi dan “Ruang”

Korupsi pada dasarnya selalu bersifat politis. Selalu ada kepentingan-kepentingan “pribadi” yang bermain (penyuap dan yang disuap). Namun sayangnya, justru kepentingan bersama (publik) yang sengaja dilupakan. Hal ini sejalan dengan pemikiran Hobbes yang menjelaskan bahwa korupsi merupakan sebuah bentuk disintegrasi sebuah tubuh politik. Ketika korupsi itu terjadi (tak soal diketahui publik atau tidak), pada saat itu juga para pelaku korupsi memisahkan diri dari masyarakat. Mereka menyalahgunakan kepentingan publik untuk kepentingan pribadi (Mark Philp, 1997).

Di sini tampak jelas bahwa ada masalah dalam pemahaman “Ruang”. Mana “Ruang Publik”, mana “Ruang Pribadi (private)” semakin tak jelas. Hal ini juga semakin diperparah dengan dunia sosial media dewasa ini, di mana ruang pribadi dan ruang publik bercampurbaur menjadi satu.

Korupsi dan “Waktu”

Korupsi yang terjadi di Indonesia sungguh menarik. Salah satunya adalah korupsi yang dilakukan para oknum pimpinan daerah. Ternyata mereka ini sudah berusaha melakukan “korupsi” sejak awal pemilukada. Mereka mengeluarkan biaya kampanye yang kadang sangat tidak rasional. Orang awam saja bisa paham, “Dengan gaji tak seberapa, bagaimana mungkin meraka dapat ‘untung’ dalam satu periode kepemimpinan mereka; bahkan untuk ‘balik modal’ saja sudah tidak masuk akal.”

Melalui fenomena ini, kita bisa katakan bahwa ada asumsi “waktu” di balik benak mereka. Dalam bahasa Yunani, waktu dapat dibedakan menjadi dua, (1) kronos, waktu yang dapat diukur dengan jam, menit, dan detik untuk menjelaskan rentetan-rentetan peristiwa yang terjadi secara kronologis, dan (2) kairos, dipahami lebih sebagai sebuah “momen”, “kesempatan”, dan sesuatu yang “luhur” (supreme). Singkatnya, kronos lebih pada aspek kuantitatif, sedangkan kairos lebih pada aspek kualitatif.

“Waktu” bagi para oknum pimpinan daerah ini hanyalah sekadar kronos yang digunakan sebagai obyek instrumentalis. Salah satu hal yang dapat digunakan untuk menguntungkan diri sendiri. Dengan menjadi kepala daerah, mereka memiliki “waktu” (periode kepemimpinan – kuantitatif) di mana di dalamnya ada “kuasa”. Dengan begitu mereka bisa dengan leluasa mengatur semua hal di bawah kekuasaan mereka, yang tentunya dengan waktu yang terbatas. Maka, tak ada jalan lain. Untuk mengembalikan “modal” dan mengambil “sedikit untung” dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, salah satu jalan pintas adalah korupsi. Namun sayang, mereka tak melihat bahwa “waktu” adalah momen dan kesempatan (kairos) tuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik dan luhur.

Korupsi Kognitif

Mungkin kita jarang mendengar istilah ini – “Korupsi Kognitif”. Namun, mungkin ini yang menjadi akar pembenaran dari segala bentuk “korupsi” yang terjadi di negara kita ini. Hobbes mengajukan istilah “Korupsi Kognitif” untuk merujuk pula pada keputusan-keputusan atau opini-opini yang menentukan kepentingan bersama, namun seringkali  ditunggangi oleh self-interest. Lalu hal ini pula yang akhirnya seringkali yang menjadi “pembenaran” para koruptor atas tindakan korupsinya. Singkatnya, ada kesalahan logis (bahkan “penyakit kronis”) dalam berpikir, termasuk dalam memahami “Ruang dan Waktu” yang hanya ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan pribadi. Ada sebuah egoisme (bahkan narsisisme) akut dalam pemikiran.

Profesionalitas

Akhirnya, untuk menyelamatkan bangsa ini dari kejatuhan, salah satu solusinya adalah bagaimana mengajarkan pada generasi penerus kita untuk memahami “Ruang” dan “Waktu” lebih baik lagi.

Memahami bahwa kita ini hidup di dalam sejarah. Itu berarti berada dalam ruang dan waktu. Membangun sejarah yang baik, berarti memanfaatkan ruang dan waktu secara baik dan benar pula. Dalam kosa kata ilmu manajemen, itu berarti “profesionalitas”, baik secara pribadi maupun secara struktural sebagai bangsa. Tantangannya sekarang adalah bagaimana secara struktural kita bisa membangun “profesionalitas” itu dari tingkat yang paling bawah dan dapat diresapi oleh setiap pribadi sebagai satu bangsa. Hal ini sudah mendesak. “Jalan Politik” adalah salah satu alternatifnya, karena dari sana permasalahan itu muncul dan dari sana pula dapat muncul berbagai solusi yang dapat mengubah wajah bangsa ini.

“Politik”, kata Paus Fransiskus, “adalah salah satu bentuk paling tinggi dari cinta kasih (la carità) karena ia melayani untuk kepentingan bersama (il bene comune).” Hal itu hanya dapat tercapai dengan profesionalitas dalam menghargai dan memahami dengan baik dan benar setiap “Ruang” dan “Waktu”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s