PARTAI PUN IKUT MUDIK

BUS WAR

Kisah perjalanan (peziarahan) dalam berbagai agama memiliki nilai spiritualnya masing-masing yang begitu mendalam. Contohnya, ketika Bangsa Israel kembali dari pengasingan (perbudakan) di Mesir tuk kembali ke “Tanah Terjanji” – tanah leluhurnya – perjalanan ini adalah sebuah perjalanan panjang selama 40 tahun. Sebuah perjalanan, di mana Tuhan menampilkan diri sebagai seorang yang penuh kasih sayang, mengajari berbagai macam hal, dan tentunya yang lebih penting menyertai dalam suka-duka perjalanan selama 40 tahun – yang sampai sekarang terus dikenang sebagai peristiwa Paskah (dalam Perjanjian Lama).

Peristiwa “Paskah” – perjalanan (peziarahan) itu – ditemukan kembali dalam Perjanjian Baru, di mana Sang Mesias sebelum “pulang” ke Rumah Bapa harus melakukan peziarahan yang penuh dengan luka dan duka menuju Bukit Golgota, yang pada akhirnya mati di atas kayu salib. Sebuah perjalanan yang dipenuhi oleh berbagai “kepentingan”. (1) Di sana ada “kepentingan politik” dari kaum agamawan – yang menghakiminya sebagai “Penghujat Allah” yang patut dihukum mati dan takut jika Ia akhirnya diikuti banyak orang (yang tak lain dan tak bukan adalah umat mereka sendiri), walaupun sebenarnya Ia tak ingin membentuk sebuah agama baru dan diikuti banyak orang. (Intinya Ia hanya ingin melakukan perubahan dari dalam, di mana agama pada saat itu hanya sekadar menjadi ritual dan aturan kaku yang mengekang para pengikutnya. Ia pikir, “Agama harus lebih dari itu – menjadi cara hdup yang membebaskan dan dipenuhi oleh Hukum Kasih dan bukan sekadar aturan-aturan yang mengekang”.) (2) Di sana kita temukan pula “kepentingan politik” dari para pemimpin Negara – Herodes dan Pilatus – yang tak ingin dijauhi oleh rakyat karena menentang keinginan para pemimpin agama. Maka singkatnya, “Perjalanan Pulang” Sang Mesias – yang memanggul salib itu –tampaknya begitu sarat dengan intrik-intrik politik berbagai pihak.

Tampaknya sejarah pun berulang. Kini – di Indonesia – “Perjalanan Pulang” kebanyakan orang tuk merayakan “Hari Raya” tak luput pula dari intrik-intrik politik yang menungganginya. Kita dapat melihat dengan jelas bahwa begitu banyak partai politik yang kini berduyun-duyun mengadakan “Mudik Gratis” dengan memberikan Bus yang ditempeli atribut partai, bahkan dengar-dengar ada yang menyeragamkan para pemudik dengan kaos beratribut partai – bahkan kalau tak salah ada gambar calon presiden yang begitu PEDE-nya di kaos itu. Inilah sebuah kisah nyata “Partai ikut Mudik”.

Yang menjadi persoalan (a) pertama-tama bukanlah “Apakah partai tak boleh ikut membantu masyarakat tuk menyemarakkan ‘peristiwa penting’ ini…?” Jawabannya, “Boleh-boleh saja… bahkan kalau boleh saya mengatakan, ‘Hukumnya wajib’… partai itu khan juga dari rakyat dan untuk rakyat… paling tidak rakyat pun dapat merasakan manfaatnya secara nyata (yang selama ini terkesan hanya slogan!).” (b) Lalu persoalannya di mana, “Persoalannya adalah pada atribut…?” Lalu mungkin anda dapat berpikir, “Bukankah itu wajar…?” “Baiklah… itu wajar…” Namun, pertanyaan saya mungkin lebih dalam, “Apakah perlu atribut itu, bahkan harus sampai menggunakan ‘kaos seragam’ yang gambarnya kadang bikin malu…?” Saya pikir, “Jika partai ingin membantu para masyarakat dengan menyediakan Bus-Bus Gratis yang nyaman, tanpa atribut pun… masyarakat akan tahu… partai-partai mana saja yang benar-benar ingin membantu dan partai-partai mana saja yang sekadar mencari nama atau sekadar pencitraan belaka.” Mengapa saya berani mengatakan seperti itu, “Karena rakyat sudah pintar…! Tanpa atribut pun, rakyat akan tahu bahwa Partai A atau Partai B, yang benar-benar memikirkan rakyatnya.” Jadi pesan saya, “Tanpa atribut pun, sebenarnya Partai bisa membantu rakyatnya untuk ‘Mudik’ – merayakan kemenangan ini – dan dikenang tuk Pemilu ke depan.”

Jangan lupa (ini sekadar imajinasi saya) tanpa atribut pun sebenarnya wartawan pun bisa tahu dari mana “Bus-Bus Gratis” ini berasal. Lalu dalam laporannya di meja-meja redaksi akan muncul dengan sendirinya sebuah judul indah, “Partai A (atau B) ingin benar-benar membantu para pemudik, dengan tak memakai atribut apa pun”. Dengan ini saja, “Partai anda akan mendapatkan simpati!” Jadi, “Jangan sampai keinginan para peziarah yang tulus dan sakral tuk kembali ke kampung halaman tuk merayakan ‘Hari Raya’ ditunggangi kepentingan-kepentingan politik – dengan mencantumkan berbagai atribut kepartaian – karena bagi mereka ‘memanggul partai’ tuk kembali ke rumah selama berjam-jam itu sudah cukup melelahkan. Dan jangan kaget jika pada pemilu berikutnya mereka juga lelah memilih partai anda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s