DRIYARKARA : BUDAYA, SENI, DAN RELIGI

Image

Budaya, Seni, dan Religi[1] :

Sebuah Pemikiran N. Driyarkara, SJ 

 

1. Kebudayaan dan Kebebasan 

Kebebasan merupakan sebuah topik yang selalu hangat untuk didiskusikan. Banyak pertanyaan yang seringkali diajukan, (1) Bagaimana kita bisa menghapus bekas-bekas “zaman tirani” dalam bidang ini atau itu?, (2) Bagaimana kita bisa menghindari bahaya “ditirani” lagi dalam bidang ini atau itu?, dan (3) Bagaimana kita bisa mengusahakan perkembangan dalam alam kebebasan? Semua pertanyaan tersebut tentunya mencoba mengkritisi, “Apakah kita ini benar-benar sudah bebas?”

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di atas tentunya menuntut jawaban dari kita, sebagai satu bangsa. Jika dikaitkan dengan kebudayaan, lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya, “Apakah kebudayaan dapat menjawab persoalan (kebebasan) tersebut?” (1) Apakah ada hubungan antara kebudayaan dan kebebasan? (2) Prasyaratkah kebebasan itu ataukah hasil dari kebudayaan? (3) Atau, kebebasan itu merupakan sesuatu yang termuat dalam kebudayaan sebagai unsur?

Mencoba menjawab berbagai persoalan di atas, maka pada bagian ini akan dibahas mengenai dua hal, yaitu (1) Kebudayaan sebagai Proses Liberalisasi, dan (2) Kebudayaan sebagai Proses Hominisasi.

A.   Kebudayaan sebagai Proses Liberalisasi

A.1. Belajar dari Orang Lain

Berpikir tidak pernah merupakan berpikir sendiri. Kita selalu berpikir bersama. Sebab itu, dalam bidang seperti yang kita hadapi ini, yaitu kebudayaan, tentu kita juga harus mengkajinya dari pemikiran orang lain (pakar).

Kebudayaan memiliki sifat (1) kemasyarakatan, (2) jasmani dan rohani, (3) memerdekakan. Ketiga sifat kebudayaan itu dapat kita telusuri dari tiga pemikiran yang berbeda, (1) CHr. Dawson, (2) Prof. Dr. Ph. O.L., dan (3) Dr. Moh. Hatta.

(1) Dawson menyatakan bahwa apa yang disebut kultur atau kebudayaan itu adalah “seluruh kompleks institusi, adat istiadat, keyakinan, kejujuran, serta organisasi ekonomi yang merupakan warisan sosial dari suatu bangsa”. Sifat kemasyarakatan dari kebudayaan tampak sekali di sini.

(2) Sedangkan, menurut Prof. Dr. Ph. O.L., kebudayaan ialah “hasil usaha manusia yang sedapat mungkin mengolah atau mengikuti kosmos dan tata tertibnya, dalam mana termasuk manusia sendiri, sedemikian rupa sehingga manusia memperoleh penghidupan yang lebih harmonis dan yang lebih tinggi, baik di dalam lapangan kerohanian maupun di lapangan kebendaan”. Dalam pandangan ini, tampaklah manusia dengan pandangan kosmisnya. “Hasil usaha itu” (yaitu kebudayaan) menyebabkan penghidupan yang lebih harmonis dan lebih tinggi, baik dalam lapangan jasmani maupun rohani.

(3) Lain lagi dengan Hatta, baginya kebudayaan itu merupakan “Hasil buah perbuatan manusia, yang merombak dan membentuk alam sebagaimana adanya itu menjadi penghidupan yang lebih tinggi. Manusia yang masih biadab takluk semata-mata kepada alam; ia adalah bagian dari natur. Manusia yang adab merombak alam; ia adalah pembangun kultur. Kebudayaan atau kultur pada hakikatnya adalah penjelmaan dari cita yang menimbulkan (scheppend idee) dan kerja yang menimbulkan (scheppend arbeid). Barang-barang kultur dipupuk supaya subur tumbuhnya, untuk memberikan hidup yang lebih mulia kepada manusia.” Deskripsi ini lebih menunjuk kemungkinan sampai pada soal kemerdekaan manusia, di mana manusia dapat memperoleh “hidup yang lebih mulia” dan tidak hanya “takluk semata-mata kepada natur” (tidak bebas).

Dari ketiga pemikiran tokoh di atas, kita dapat menarik sebuah benang merah bahwa ada implikasi mengenai kebebasan manusia, di mana ketiganya secara tidak langsung mengungkapkan bahwa tujuan dari kultur adalah humanisme (penyempurnaan manusia).

A.2. Kebudayaan-Humanisme-Kebebasan

Kita mencari hubungan antara kebudayaan dan kebebasan. Dari beberapa pandangan para ahli tentang kebudayaan, tampak bahwa kebudayaan memuat soal kebebasan, sepanjang kebudayaan itu berarti penyempurnaan manusia atau humanisme.

Pada umumnya humanisme[2] adalah pandangan / sikap hidup yang mengakui bahwa manusia itu merupakan makhluk yang tersendiri secara spesifik, khusus (terhadap dunia dan sesamanya). Sesuai dengan konsep yang khas mengenai manusia itu, maka humanisme sebagai gerakan menganjurkan dan berusaha memajukan situasi yang lebih baik (bebas dari kesengsaraan, kekangan, dan paksaan alam). Dalam taraf yang lebih tinggi, humanisme juga berarti sebuah bentuk hidup yang tinggi, yang dibahagiakan dengan pengetahuan, teknik, kesenian, dan berbagai bentuk lain yang membuat hidup menjadi indah dan menyenangkan.

Mengingat corak-corak humanisme, maka tidak mengherankan jika ada hubungannya dengan kebudayaan. Humanisme hanya bisa dicapai dengan kebudayaan. Dapat kita nyatakan bahwa konkretnya humanisme adalah kultur. Mungkin dapat dikatakan bahwa situasi tertentu itu kita sebut human-isme, jika memandangnya dari pihak manusia. Sedangkan, jika kita meneropongnya lebih pada segi material-nya, maka kita sebut kebudayaan. Jadi, humanisme sama dengan keadaan kultural.

Kemudian, pertanyaan selanjutnya adalah “Di mana letak kebebasan dan kemerdekaan?(1) Untuk menerangkan hal ini kita harus melihat nilai-nilai yang ada di balik kebudayaan (mis. nilai vital, nilai keindahan, dan nilai moral / keagamaan). Hidup perlu untuk dirawat, dipertahankan, dan dikembangkan, di sinilah nilai vital (kehidupan) itu ditemukan. Tentunya hal ini juga membutuhkan barang-barang manusiawi (rumah, pakaian, makanan, minuman, dlsb.) yang diusahakan dengan kerja keras (membuat / menciptakannya). Di sanalah kebudayaan berperanan.

Akan tetapi, kita tidak dapat memisahkan nilai vital itu dengan nilai-nilai lainnya. Contohnya, orang tidak hanya sekadar membuat pakaian, sebisa mungkin pakaian itu menjadi begitu menarik, karena pakaian sekaligus juga merupakan hiasan. Dari sini, manusia memenuhi dorongan estetik (nilai keindahan)-nya. Dalam masyarakat yang lebih maju, dorongan estetik ini ditumbuhkan menjadi kehidupan berbagai macam kesenian (teater, opera, orkes, film, dlsb.)

Pelaksanaan nilai vital juga dihubungkan dengan nilai moral / keagamaan sebab kita bisa menyaksikan bahwa barang-barang yang dihasilkan itu tidak hanya untuk individu. Hasil-hasil itu juga untuk masyarakat, untuk hidup bersama agar setiap orang dapat hidup. Dan, di sanalah kita temukan cinta kasih. Dalam praktek, hal itu kerap kali berdasarkan motif keagamaan sehingga di situ moral dan keagamaan menjadi satu.

(2) Humanisme (dalam hidup bersama) pada akhirnya juga menuntut penghormatan terhadap hak-hak asasi insani, dengan saling menghormati kebebasan manusia. Dalam konteks negara maka kekuasaan negara adalah untuk kepentingan warga negaranya. Pemerintah yang menekan humanisme adalah pemerintah yang inhuman. Negara tidak boleh menjadi diktator. Dengan begitu, negara diharapkan memungkinkan terjadinya berbagai usaha manusia (berkebudayaan).

(3) Dalam usaha manusia (memandang, mengubah, dan mengolah alam—berkebudayaan), manusia menempatkan dirinya terhadap alam sebagai subjek terhadap objek. Jadi, ia di situ bertindak dari dalam (from within, van binnenuit). Maka, di mana kebudayaan dimulai, di situ mulai tampak juga kemerdekaan manusia. Ia tampak sebagai subjek yang merdeka, bebas dari kekangan natur, dan bukan lagi bagian dari natur. Di sini manusia menjadi subjek yang bebas.

Dalam mengalami nilai estetik (keindahan), manusia juga tetap menjadi subjek. Sifat subjek di sini tampak lebih murni karena pengalaman estetik tidak ditujukan ke sesuatu. Di sini manusia tampak tanpa pamrih, tanpa interes (keinginan)[3].

Dari penjelasan di atas maka kita dapat menemukan bahwa kebudayaan merupakan proses dan gerak humanisme (penyempurnaan manusia) sekaligus liberalisasi (pembebasan).

B. Kebudayaan sebagai Proses Hominisasi

Pangkalan yang mudah untuk menerangkan kultur ialah kenyataan bahwa cara kita berada itu berupa “berada-di-dunia”. Hal ini tidak menunjuk tempat, seperti “ikan dalam air”. Lebih tepat manusia itu merealitas, mengada. Ia mengada dengan modus tertentu. Modus itu kita tunjuk dengan kata “di dunia”—mendunia / mundanisasi [mundus = dunia][4].

Dunia manusia diciptakan oleh manusia. Namun, yang perlu diingat hal ini tidak statis, bukan baju yang dikenakan. Seperti dikatakan, manusia itu selalu membuat dunianya. Jangan dibayangkan: dahulu manusia sudah ada, lantas membuat dunianya. Seperti keong, ia tidak berada lebih dahulu lantas menciptakan kulitnya, demikian pula manusia tidak berada lebih dahulu lantas menciptakan kulitnya. Berada dan menciptakan kulit itu merupakan kesatuan. Kulit selalu diciptakan selama hidup. Kalau tidak, maka akan menjadi belulang mati! Demikian juga dunia kita itu selalu kita jiwai. Jadi, ada kesatuan di sini antara manusia dan dunianya.

Yang perlu dicatat di sini ialah bahwa manusia hanya menjadi manusia dengan mundanisasi / mendunia. Bagi manusia, berada selalu berarti menjadi. Penjadian itu terlaksana dengan mendunia atau menduniakan material. Kita bisa juga berkata: memanusiakan material, termasuk dirinya sendiri. Sebab dengan mendunia itu, manusia membuat dunianya menjadi insani. Penduniaan ini tak pernah habis, selalu berupa proses yang tak berhenti. Manusia selalu dalam proses menjadi manusia. Ia selalu menjadi proses hominisasi. Hal ini terjadi dengan mundanisasi / mendunia.

Pendunian itu kita sebut pembudayaan sepanjang merupakan proses penjadian manusia (hominisasi), atau lebih tepatnya lagi, sepanjang dalam penduniaan itu manusia menghayati diri sendiri. Kebudayaan di sini tidak mungkin diterima seperti baju atau rumah. Kebudayaan yang ada hanya bisa kita terima jika kita masukkan ke dalam eksistensi kita (dalam proses ekstensi (“keluar dari diri”) – eksistensi (“menyatu dengan dunia luar”) – insistensi (menjadi diri sendiri, menjadi manusia, mencapai kemanusiaan) dan sebaliknya).

Akhirnya, kebudayaan itu hanya bisa menjadi kebudayaan kita jika dan sepanjang menjadi kulit kita. Jadi, kebudayaan yang ada itu kita buat lagi, kita “ciptakan” lagi, kita jadikan ekstensi kita dan lapangan eksistensi kita sehingga di situ insistensi “terjadi”. 

2. Kesenian dan Religi

Bagian ini tentu saja ingin mencari hubungan antara kesenian dan religi (agama). Akan tetapi, hubungan yang manakah? Soalnya demikian: kita mengatakan bahwa ada berbagai macam kesenian yang berdasarkan religi yang tertentu, misalnya kesenian Katolik, kesenian Islam, dan lain sebagainya. Betulkah pendapat tersebut? Dapatkah suatu religi atau agama yang tertentu menjelmakan kesenian yang khusus? Jika pendapat ini benar, di manakah atau bagaimanakah letak kebenarannya? Dan, pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan dikupas lebih lanjut dalam tulisan ini.

A.   Pengalaman Estetis dan Kesenian

(1) Kesenian melekat pada kehidupan kita. Dalam prasejarah bangsa manusia kita dapat menyaksikan bahwa kesenian mendahului cabang-cabang lain dari kebudayaan. Adanya arca-arca, lukisan-lukisan, puisi-puisi, dan nyanyian-nyanyian primitif di lingkungan suku-suku sederhana, sudah tampak kesenian di sana, yang menunjukkan ekspresi (penjelmaan) rasa indah (estetis). Dan, itu semua akhirnya ikut berkembang seiring perkembangan zaman. Namun, yang ingin ditunjukkan di sini adalah ”kesenian itu melekat pada kehidupan kita”. Di mana ada manusia, di situ juga ada kesenian.

(2) Karena antara dua itu ada hubungan yang begitu erat, maka dapat ditanyakan: Niscayakah adanya kesenian dalam hidup manusia? Niscayakah munculnya karya manusia yang kita sebut kesenian itu? (a) Awalnya, manusia ”berjumpa” dengan alam jasmani. Dan, hal itu niscaya. (b) Kemudian, ia mulai ”melihat dan merasakan” (mengalami, ada kesadaran di sini) berbagai macam objek atau peristiwa di hadapannya. Dan, pada saat itu pula manusia mengalami momen estetis (terpikat, terpesona, dan merasa senang). Dan, saat ini juga merupakan saat yang niscaya. (c) Kemudian, manusia terdorong untuk menjelmakan (memberi bentuk) pengalamannya itu karena manusia pada dasarnya tidak bisa tidak mengekspresikan dirinya (ide dan juga pengalaman estetisnya) dalam sebuah ”wujud”. Tanpa ekspresi tidak mungkin terjadi hubungan antarmanusia. Lihat saja ekonomi, politik, cinta, dan kesenian. Pendek kata, semua bidang kehidupan manusia memerlukan ekspresi. Manusia hanya dapat hidup dengan dan dalam mengekspresikan dirinya. Maka, dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa kesenian juga merupakan sesuatu yang niscaya dalam hidup manusia.

Dengan demikian, manusia mencoba memenuhi dorongannya ke kebahagiaan. Ia ingin terus menikmati saat estetis itu, ia ingin terus-menerus hidup dalam pelukan keindahan, ia ingin terus luluh dengan yang indah. Ia mencoba mempertahankannya. Namun, itu semua juga diberikan untuk sesama, agar bahagia bersama.

B.   Pengalaman Estetis, Kesenian, dan Religi

Pertanyaan dasarnya, ”Apakah religius tertentu dapat menimbulkan kesenian tertentu?” Lalu, yang perlu dilihat terlebih dahulu adalah apa yang disebut dengan pengalaman religi dan bagaimanakah hubungannya dengan pengalaman estetis.

B.1. Religi dan Simbol

Pada dasarnya manusia terikat oleh darah dan dagingnya. Berdasarkan kejasmaniannya ia hanya dapat mengerti Tuhan dalam simbol. Simbol jangan disamakan dengan arca atau lukisan, meskipun tentu saja dapat diekspresikan menjadi arca dan lukisan. Sebelum diekspresikan menjadi bentuk yang tertentu, pengertian manusia tentang Tuhan sudah berupa simbol. Beginilah hubungan antara simbol yang disimbolkan: yang disimbolkan ditangkap dalam simbol, tetapi simbol tidak pernah merupakan representasi yang cukup. Untuk jelasnya misalnya, misalnya cincin kawin! Cincin itu merupakan simbol cinta. Namun, cinta tidak pernah selesai dengan hanya memberi cincin saja karena itu hanya simbol. Jadi, dalam simbol itu manusia menangkap, tetapi juga tidak menangkap. Manusia mencapai tetapi juga tidak mencapai.

Dalam religi manusia akan selalu berusaha untuk lebih mencapai, lebih merohanikan diri, dan lebih mendekati Tuhan. Akan tetapi, ikatan simbol tetaplah ada. Diwujudkan dengan simbol atau tidak, terlihat dengan mata atau tidak, simbol tetaplah ada. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa jika Tuhan berkenan untuk mewahyukan dan mengaruniakan diri kepada manusia, maka hal itu harus juga terjadi dengan dan dalam simbol, yakni simbol yang dikehendaki Tuhan sendiri supaya dapat diterima oleh manusia.

Manusia berjumpa dengan Tuhan dalam simbol. Namun, tetap saja ia tak akan pernah puas dengan simbol. Berhadapan dengan simbol manusia bersatu dengan yang disimbolkan, tetapi juga jauh daripadanya, jadi ia tetap merindu. Kepuasan dan kebahagiaan yang dialami dalam religi hanyalah dialami sekadar (in so far as) dan karena manusia ”menerobos” simbol.

B.2. Dari Estetis ke Religi

Pertanyaan pertama yang dapat diajukan adalah ”Apa perbedaan pengalaman estetis dengan pengalaman religi?” (a) Pengalaman estetis manusia itu tidak ”menerobos” simbol, sedangkan (b) pengalaman religi manusia itu ”menerobos” simbol.

Dalam pengalaman estetis (misalnya saat yang sangat mesra dan mendalam), manusia merasakan sesuatu yang tidak terhingga. ”Sesuatu” itu tidak bisa dikatakan. Bagaimanapun juga, akhirnya toh ada penerobosan simbol karena sebenarnya manusia mencari ”yang tak terhingga”. Manusia mencari yang mutlak. Apakah itu? Untuk sementara masih kabur. Namun, di sinilah terjadi transito pengalaman estetis ke pengalaman religi. Manusia (religi) akan menyadari bahwa segala-galanya di dunia ini memang bersifat simbolis dan bahwa sebenarnya segala-galanya Yang Tak Terhingga, Yang Mutlak, dan berupa Keindahan yang sejati itu hanyalah Tuhan.

Pengalaman estetis akhirnya bermuara pada pengalaman religi: rasa terharu berubah menjadi doa; penyerahan diri dalam keindahan, yang toh hanya berupa simbol, menjadi penyerahan diri kepada sumber yang tidak terhingga dari semua keindahan. Jadi, dalam pengalaman religi termuat pula pengalaman estetis. Dan, inilah yang menjadi awal petunjuk hubungan antara kesenian dan religi.

Namun, pengalaman religi (sebagai tiap-tiap pengalaman manusia tidak mungkin dipertahankan terus-menerus. Manusia terpaksa melepaskannya, tetapi ia sebenarnya tidak mau melepaskannya. Maka, manusia mencari bentuk yang lain, yaitu alam estetis. Di sanalah rasa ketinggian religi sama sekali tidak dilepaskan, tetapi juga tidak diminta ketegangan seperti dalam religi.  

B.3. Kesenian dan Religi

Pada bagian ini marilah kita kembali pada pertanyaan dasar, ”Apakah religius tertentu dapat menimbulkan kesenian tertentu?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita memperhatikan beberapa catatan berikut: (1) Keyakinan (agama / religi) tertentu merupakan ”disposisi tertentu”. (2) Ketika orang berbicara mengenai kesenian suatu religi tertentu (mis. Katolik), yang dipikir hanya themata (objek-objek) dari religi tersebut (Katolik), seperti peristiwa-peristiwa dan Kitab Suci. (3) Namun, themata itu bisa saja dilukiskan oleh seniman yang bukan religi bersangkutan (non-Katolik). (4) Selain itu, themata Katolik juga belumlah menjamin bahwa hasil seninya juga bercap Katolik. ”Lalu, bagaimana?” (5) Yang lebih penting ialah disposisi dari religi yang bersangkutan (Katolik) dari yang mengalami keindahan (subjek). Sebab berdasarkan disposisi itu, seseorang dapat melihat realitas dengan cara tertentu (secara Katolik) dan akan melihat arti-arti tertentu pula (secara Katolik).

Untuk lebih mudah memahami, marilah kita menggunakan sebuah contoh. Ada sebuah lagu Rohani (Katolik), yang temanya ”kerinduan” (penantian). (1) Lagu ini tentunya dapat dinikmati tidak hanya oleh orang-orang Katolik. Hal ini mungkin karena dalam karya seni tersebut memuat unsur manusiawi yang umum (kerinduan pada Tuhan). (2) Walaupun dapat dinikmati oleh orang yang bukan Katolik, pengalaman orang Katolik dan yang non-Katolik dalam mendengarkan lagu itu tidak sama. Untuk menjelaskan hal ini, marilah kita berusaha melihat arti.

Bagi orang Katolik, kerinduan itu berarti Kristus (yang pada kenyataannya dapat dikembangkan sesuai konteks kehidupan masing-masing orang Katolik). Kesatuan itu kelak menjadi kebahagiaan sepenuhnya. Namun di sisi lain, mereka pun percaya bahwa mereka telah dipersatukan oleh Kristus sejak mereka dibaptis (saat ini dan di sini). Jadi, apa yang sudah diharapkan sudah dimiliki, tetapi masih dalam benih, masih harus dikembangkan dalam hidup ini. Sudah dimiliki, tetapi juga belum sepenuhnya; sudah terjamin, tapi masih penuh dengan bahaya; sudah dekat, tapi juga masih jauh. Itulah sebab dan situasi kerinduan orang Katolik terhadap Tuhan. Namun, hal ini (”kerinduan / penantian”) tentunya memiliki arti yang berbeda dengan mereka yang non-Katolik. Kerinduan dapat diartikan berbeda. Jadi, tampaklah kiranya bahwa bagi orang Katolik ada pengalaman estetis yang khusus Katolik, justru karena kesadarannya sebagai Katolik.

Jadi, jawaban atas pertanyaan dasar sebelumnya—Apakah religius tertentu dapat menimbulkan kesenian tertentu?—adalah ”Ya”, jika religi yang bersangkutan itu membawa pandangan yang khusus. Namun, di sini bukan berarti juga bahwa ”cap” religi itu harus selalu tampak (Katolik, Islam, Buddha, Hindu, Kristen, dlsb.). Pandangan itu (religi) kerap kali cukup tersirat dalam yang tersurat. Tak perlu selalu ditunjukkan (”Hati-hati malah bisa menjadi fanatik atau gila agama!”). Bisa saja hanya melukiskan aspek umum dari pandangannya yang diterima oleh orang (religi) lain. Dan, tak perlu juga setiap seniman  harus selalu menyadari agama (religi)-nya ketika berkarya (Tidak perlu selalu bertanya, ”Bagaimanakah saya sekarang menempatkan cap religi saya sebagai seorang Katolik, Islam, dlsb.?”). Namun, jika ia menghayati pandangan (religi)-nya dengan baik, maka hasil karya (kesenian)-nya pun dapat ”dibaca” oleh orang lain, bahkan penganut agama lain bahwa karyanya memuat unsur religi (tertentu).

Kesimpulan

Dari tulisan ini kita dapat menemukan bahwa ternyata ”Budaya, Seni, dan Religi” memiliki kaitan antara yang satu dengan yang lain.

A. Kebudayaan dan Kebebasan

(1) Karena manusia itu berupa interioritas, maka ia adalah subjek. (2) Berdiri sebagai subjek, berarti bebas dan merdeka. (3) Di sini humanisme berperanan, di mana mulai ada pengakuan bahwa manusia itu ”unik” (spesifik, khusus) terhadap dunia dan sesamanya. (4) Kemudian, muncullah suatu usaha memajukan situasi (taraf hidup) yang lebih baik (bebas dari kesengsaraan, kekangan, dan paksaan alam). (5) Dan, humanisme ini berakar pada hominisasi, ”penjadian manusia” (mens-wording), yang berarti juga lahirnya kebebasan (vrij-wording).

Dengan mundanisasi, manusia membudaya, dengan dan dalam membudaya, manusia melaksanakan eksistensinya. Dengan dan dalam eksistensi itu, manusia mencapai interiositas.

B. Pengalaman Estetis, Kesenian, dan Religi

(1) Melalui simbol, pengalaman estetis dan religi dapat dipertemukan. Dalam pengalaman estetis manusia manusia menjadi ”lepas” dari kejasmanian, ia menjadi rindu akan alam yang tidak terlihat, ia seakan-akan diangkat dari keadaan duniawinya (melalui berbagai simbol). Di sinilah, saat-saat pertemuan dengan pengalaman religi dapat terjadi. (2) Namun, kemudian pengalaman religi itu pun tak dapat dipertahankan terus-menerus, dan ia akan kembali pada pengalaman estetis. (3) Kemudian, pengalaman estetis ini pun terungkap dalam berkesenian (themata) dalam karya manusia-manusia religi, yang menunjukkan disposisi kepercayaan (religi) tertentu. (4) Dan pada akhirnya, hal ini (cap-cap religi) tak selalu harus ditampakkan pada suatu karya seni, melainkan dengan sendiri hal itu akan tampak ketika sang subjek (seniman) itu menghayati kepercayaannya dengan baik.

Sumber:

Sudiarja, A. (Penyunting), 2006, Karya Lengkap Driyarkara: Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya, Jakarta: Gramedia, hlm. 705 – 766.


[1] Disarikan dari A. Sudiarja, (Penyunting), 2006, Karya Lengkap Driyarkara: Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya, Jakarta: Gramedia, hlm. 705 – 766.

[2] Dalam sejarahnya, pernah terjadi bahwa konsep humanisme itu mengandung unsur-unsur yang menentang agama (Gereja Katolik), misalnya penyangkalan transendensi manusia, hidup kekal, dlsb. Dari pihak Gereja pun ada kesalahan karena adanya anggapan bahwa sikap yang dianjurkan humanisme itu dengan sendirinya tentu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, pandangan dan sikap yang tidak secara eksplisit mengakui Tuhan waktu itu sudah dianggap menyangkal Tuhan. Dan, dapat ditambahkan pula bahwa pada waktu itu, belum ada penghargaan yang sewajarnya terhadap apa yang disebut dunia profan.

[3] Sifat bebas dalam nilai estetik inilah yang menyebabkan seniman tidak bisa dikekang, dipaksa oleh politik.

[4] Jika suatu zat menjadi kristal, maka bisa kita katakan bahwa zat itu “mengkristal”. Di situ, zat itu tampak kepada kita dan tampak dalam bentuk atau modus kristal, sebagai kristalisasi. Demikian juga manusia itu tampak sebagai mundanisasi [mundus = dunia].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s