Ilmu-Ilmu Sosial

social
Ilmu-Ilmu Sosial 
(Sekilas Pandang)
I. Perbedaan konsepsi mengenai realitas sosial (ontologi) menurut Durkheim dan Weber

1)     Emile Durkheim

Realitas sosial bagi Durkheim, dipandang seperti obyek ilmu-ilmu alam (positivis empiris). Realitas sosial ini (a) harus didefinisikan secara terpisah dari kesadaran individu; (b) memberi pengaruh (“memaksa”) terhadap perilaku individu, tanpa tergantung apakah para individu tersebut menerima atau menolaknya; (c) mewujudkan keteraturan khas untuk setiap individu; (d) tidak dinyatakan dalam istilah psikologis[1]; (e) memberi “keuntungan” dengan mengajak para pengamat untuk melihat situasi sosial secara “apa adanya” (melampaui suka atau tidak suka); (f) dapat dikatakan juga bahwa realitas sosial ini hanya dapat “dibaca” dengan “single hermeneutic”. (g) Selain itu, Durkheim tidak pernah menjawab sejauh mana pentingnya realitas sosial tertentu dibandingkan dengan realitas sosial lainnya. (h) Dan, Durkheim tidak pernah menjelaskan (mengeksplisitkan) bahwa realitas sosial memiliki signifikansi kultural (tepat pada bagian ini pula, Durkheim berbeda dengan Weber).

2)     Max Weber

Menurut Weber, realitas sosial lebih bersifat internal – hasil proses pemaknaan manusia (sebagai makhluk kultural) – daripada bersifat eksternal. Baginya, realitas sosial itu (a) chaos, setiap gejala berdiri sendiri tanpa keterkaitan satu sama lain; (b) tidak terpisah dari kesadaran individu (justru individu memilih, menganalisis, dan menata hubungan antargejala dalam realitas sosial); (c) Dan,Webermenunjukkandenganjelas bahwa realitas sosial itu memiliki signifikansi kultural pada setiap individu yang memberi makna.

Realitas sosial (epistemologi) menurut Durkheim dan Weber[2]

Keterangan

Emile Durkheim

Max Weber

1.Fokus

The Observable & The Measurable” (realitas sosial yang telah digambarkan seperti di atas)

Makna Subyektif

2.Data Statistik Dipahami sebagai ekspresi standard dari realitas sosial yang sudah pasti. Dipahami sebagai makna-subyektif kompleks aktor.
3.Pengamat

“Pasif”                                                               (berada di luar realitas sosial                                                 dan tidak terlibat di dalamnya)

“Lebih Aktif”                                 (menentukan makna subyektif, menyeleksi, dan memilih mana realitas sosial yang lebih membawa signifikansi kultural lebih besar)

4.Psikologi Memisahkan “psikologi” dari penelitiannya, kecuali untuk “saran yang berguna”. Membangun “psikologi ideal” untuk memberikan makna teoritis terhadap keteraturan sosial.
5.Analisis Penyebab Menentukan penyebab suatu fakta sosial harus dicari di antara fakta-fakta sosial yang mendahuluinya dan bukan dari situasi-situasi kesadaran individu. Menentukan penyebab suatu fakta sosial pertama-tama harus menganalisa motivasi (kesadaran) yang ada di balik aktor (memberi referensi pada psikologi subyektif).
5.Metodologi Mengadaptasi model “ilmu alam” (positivis empiris).

Method of Understanding”                   (Metode Pemahaman)

6.Verifikasi Ketika percobaan tidak tersedia, maka satu-satunya jalan adalah dengan “perbandingan tidak langsung”, atau “metode komparatif”.

Imaginary Experiment”                        (Fokus pada eksperimen mental yang mencoba membangun sebuah peristiwa dengan memodifikasi “situasi-situasi” tertentu dengan membangun sebuah “abstraksi”.)    

II. “Sementara ilmuwan mengkaji hakikat, penyebab, dan akibat dari realitas dan proses realitas partikular, filosof berurusan dengan kajian atas hakikat realitas yang ada secara general”

(Peter Winch)

a. Intinya : Peter Winch ingin mengungkapkan bahwa “ilmuwan” dan “filosof” memiliki ranah atau kawasan yang berbeda. Winch di sini justru ingin mengungkapkan bahwa tak ada persaingan antara sains dan filsafat. Pertanyaannya bukan “Siapa (ilmuwan atau filosof) yang berhak meneliti realitas?”; melainkan, “Dalam kawasan mana saja sains dan filsafat mendekati realitas?” (Sains – dalam kawasan partikular; Filsafat – dalam kawasan general). Sains mencoba memahami dunia eksternal dengan pendekatan empirisnya (dan menemukan penemuan-penemuan baru). Sedangkan, filsafat lebih mencoba memahami konsep “eksternalitas” itu sendiri (elusidasi konsep). Di sini, bahasa dipandang sebagai medium filsafat untuk memahami realitas. Jika terjadi ketidakjelasan pada realitas, itu bukan salah realitas, melainkan kekacauan bahasa dalam filsafat. Selain itu, Winch juga mencoba “mempertemukan” sains dan filsafat dengan menunjukkan bahwa “Ketika kita mencari data, sebenarnya sudah ada konsep dalam diri kita. Dan, ketika kita meng-konsep-kan sesuatu, sebelumnya sudah ada data dalam diri kita (conceptual and empirical enquiries – bdk. Gerard Delanty & Piet Strydom, 2003, hlm.156-157).”

b. Contoh konkret mengenai perbedaan kajian atas “realitas” yang dilakukan ilmuwan sosial dan yang dilakukan filosof : “Kedamaian Sosial” (latar belakang konflik di Indonesia)[3]

a)  Ilmuwan Sosial akan mencoba meneliti kedamaian sosial dengan melihat (a) Aman–tidaknya situasi di suatu daerah; (b) Apakah masyarakat dapat beraktivitas tanpa rasa takut?; (c) Bagaimana perlakuan pemerintah mengusahakan kedamaian?; (d) Apakah ada jaminan, kepastian, dan kepercayaan di antara pelbagai kelompok masyarakat?; Dan, (e) Apakah ada diskriminasi terhadap kelompok tertentu?”

b)  Sedangkan, Filosof pertama-tama akan mempertanyakan, “Apa yang dimaksud dengan kedamaian sosial, rasa aman, rasa takut, jaminan, kepastian, kepercayaan, dan diskriminasi itu sendiri?”. Lalu, “Siapa itu pemerintah dan masyarakat?”. Jika data-data statistik diperoleh oleh para ilmuwan sosial (sesuai pertanyaan point a), lalu “Semua itu mengungkapkan apa (dalam konteks ‘general’)?”. Inilah tugas seorang filosof – memperjelas dan mempertajam seluruh konsep dan data yang diperoleh. [Jika pertanyaan-pertanyaan ini pun terjawab, hal ini pun sangat berguna bagi para ilmuwan sosial untuk memperdalam kajiannya (mengenai Kedamaian Sosial – misalnya, dengan menambah variabel-variabel yang belum tersentuh sebelum dan sesudah penelitian)].

III. Kaitan antara “indikator” dan “konsep” dalam kinerja ilmu-ilmu sosial

(a) Pertama-tama yang perlu diungkap di sini adalah realitas sosial. Bagi ilmu-ilmu sosial, fokus utama kajian mereka – tak lain dan tak bukan – adalah realitas sosial. Ketika mereka menemukan pelbagai macam realitas sosial, maka tugas mereka (para ilmuwan sosial) adalah menemukan hubungan antara realitas sosial yang satu dengan realitas sosial yang lain. Hubungan antar-realitas-sosial inilah yang diabstraksi menjadi sebuah konsep. Konsep tersebut belum dapat diukur karena baru berupa “definisi konseptual” yang menyebutkan atau mengidentifikasikan realitas sosial. Untuk dapat diukur, maka perlu indikator.[4] (b) Selain itu, konsep (yang bisa saja “semena-mena”),seringkali “disajikan begitu saja” oleh para filosof di hadapan para ilmuwan sosial. Di sini, indikator menjadi sangat penting bagi para ilmuwan sosial untuk menguji konsep yang telah “tersaji” itu. Mereka menyentuh indikator karena percaya bahwa das Ding an sich (dalam konsep) tak terpahami dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain, ilmu-ilmu sosial selalu bergerak antara noumenon (das Ding an sich) dan fenomenon (realitas sosial).

Secara singkat dan sederhana dapat diungkapkan bahwa :

Konsep (yang metafisis) itu tampak dalam gejala-gejala (indikator)”.

 b. Contohnya:

Berbicara mengenai pendidikan. Filsafat akan menganalisis dan menyajikan begitu banyak teori (filsafat) pendidikan, dengan pelbagai argumennya yang variatif. Selain konsep “pendidikan” itu sendiri, filsafat juga akan menjelaskan dengan panjang-lebar dan mendetail mengenai konsep lain yang lebih spesifik, misalnya belajar dan prestasi (Apa itu belajar?; Apa itu prestasi?; Apa kaitannya?). Namun, bagi para ilmuwan sosial, hal ini belum memuaskan. “Jika anda berbicara mengenai pendidikan, khususnya belajar dan prestasi (termasuk kaitannya), lalu apa indikator-nya bahwa konsep andaini benar-benar ‘berbicara’ mengenai realitas sosial yang terjadi di masyarakat?” Di sini, ilmuwan sosial akan menyajikan indikator-nya, seperti “Total jam belajar selama sehari, sepekan, dan sebulan setiap mahasiswa” (berkaitan dengan konsep belajar); dan akan mencari data “Indeks Prestasi mahasiswa” (berkaitan dengan konsep prestasi). Lalu, akan menganalisa data-data yang diperoleh dan mencari hubungannya. Baru, di situlah konsep dapat dikatakan teruji (tampak dalam gejala / indikator – hal ini menunjukkan bahwa konsep selalu menggejala). Di sinilah pentingnya peran ilmu-ilmu sosial, di mana ia selalu bersentuhan langsung dengan indikator(gejala) – realitas sosial.

IV. Tujuan Metodologis “Positivisme Empirik”

Tujuan utama “positivisme empirik” adalah mencari keteraturan dari sebuah fenomena (realitas sosial)[5]. Keteraturan itu “ditemukan” dalam “data yang pasti (statistik)”. Jadi, metodologi “positivisme empirik” sebaiknya digunakan dalam penelitian yang membutuhkan obyek penelitian dengan data-data yang pasti dan akurat (statistik). Dalam hal ini, asumsinya : Data (statistik)-lah yang dapat menguji fenomena sosial (layaknya pengujian ilmu alam). Ekstremnya, sebuah teori (konsep) yang tidak dapat diverifikasi atau difalsifikasi oleh pengalaman empirik–yang biasanya melalui data statistik–tidak dianggap sahih. Bahkan, sebuah pernyataan tanpa dukungan analisa data (statistik) tidak bisa disebut “ilmiah”.[6]

Contohnya : Pemerintah setiap tahunnya melakukan penelitian mengenai tingkat kemiskinan di Indonesia. Fokus utamanya pertama-tama adalah mencari data (jumlah) orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Tahun 2009, menurut Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), jumlah orang miskin di Indonesia sebesar 33,7 juta orang; 2008 – 34,96 juta orang; 2007 – 37,17 juta orang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dari tahun ke tahun jumlah penduduk miskin di Indonesia terus menurun.[7]

V. Tujuan Metodologis “Hermeneutik”

Tujuan utama metodologi “hermeneutik” adalah mencari makna di balik suatu realitas (sosial) dengan cara meng-interpretasi-kan-nya. Maka, prinsip metodologis “hermeneutik” sebaiknya digunakan dalam penelitian yang mencoba mencari makna atau uraian penjelasan fenomenologis eksistensial di balik realitas sosial yang diperoleh di lapangan. Di sini, asumsinya : (a) Data (statistik atau apa pun juga) “tidak berbicara apa-apa” mengenai realitas sosial jika tidak di-interpretasi-kan lebih jauh dan mendalam. “Tanpa ‘hermeneutik’, data tinggallah menjadi data.” (b) Selain itu, yang lebih penting, menurut Thompson, realitas sosial tidak sekadar domain obyek yang dapat diamati. Ia juga domain subyek yang sebagian dibangun secara konstan dalam rutinitas kehidupan sehari-hari dengan melakukan proses pemahaman terhadap dirinya, orang lain, serta menafsirkan tindakan, ucapan, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya.[8]

Contohnya : Pemerintah telah memperoleh data statistik mengenai jumlah orang miskin di Indonesia (dari tahun 2007-2009). Lalu, penelitian “hermeneutik” di sini dapat berfokus pada pertanyaan-pertanyaan: (a) Apakah penurunan jumlah orang miskin ini juga merupakan dampak dari kebijakan ekonomi tertentu? (b) Standarisasi kategori miskin itu sendiri berdasarkan kriteria macam apa? (c) Apakah penurunan jumlah orang miskin di Indonesia ini juga dampak positif dari globalisasi? (d) Lalu, penurunan jumlah orang miskin itu sendiri “berbicara” apa bagi Indonesia (bahkan, bagi setiap penduduk Indonesia)? Di sinilah ranah atau kawasan prinsip metodologis “hermeneutik” berperanan. Ia berusaha “membuka selubung” dan “melihat di balik selubung” realitas sosial itu sendiri. *

REFERENSI

Sumber Utama

Delanty, Gerard dan Piet Strydom (ed.). 2003. Philosophies of Social Science: The Classic and Contemporary Readings. Maidenhead: Open University Press.

Sumber Sekunder

Hardiman, F. Budi. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Herry-Priyono, B. dan Christina M. Udiani. 2002. Anthony Giddens: Suatu Pengantar. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Lukes, Steven. 1985. Emile Durkheim: His Life and Work A Historical and Critical Study. Stanford: Stanford University Press.

Soekanto, Soerjono. 2003. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Wibowo, I. dan B. Herry-Priyono (ed.). 2006. Sesudah Filsafat: Esai-Esai untuk Franz Magnis-Suseno. Yogyakarta: Kanisius.

Internet

Elqorni, Ahmad. 2009. “Metodologi Penelitan Kualitatif dan Hermeneutika” dalam  http://elqorni. wordpress.com/2009/10/09/metodologi-penelitian-kualitatif-dan-hermeneutika/

Giyanto. 2009. “Melawan Positivisme” dalam Jurnal Kebebasan : Akal dan Kehendak (Vol. III, Edisi No.70, 22 Maret 2009) dalam  http://akaldankehendak.com/?p=440, diakses pada Kamis, 17 Desember 2009, Pkl. 09.46 WIB.

Nugroho, Bambang Wahyu. “Konsep, Variabel, dan Indikator” dalam http://mpshi.wordpress.com/ kuliah/kuliah-4-konsep-dan-variabel/, diakses pada Kamis, 17 Desember 2009, Pkl. 07.28 WIB.

Prianti, Martina dan Uji Agung Santosa. 2009. “Tahun ini Orang Miskin di Indonesia 33,7 Juta Orang” dalam http://www.kontan.co.id/, diakses pada Kamis, 17 Desember 2009, Pkl. 10.02 WIB.

Smelser, Neil. 1976. Comparative Methods in the Social Sciences (Bab 3) dalam http://poli.haifa.ac.il/ ~levi/durkheim.html, diakses pada Rabu, 16 Desember 2009, pkl. 19.24 WIB.

Suharto, Edi. “Modal Kedamaian Sosial dan Resolusi Konflik: Perspektif Pekerjaan Sosial” dalam  http://www.policy.hu/ suharto/modul_a/makindo_20.htm, diakses Kamis, 17 Desember 2009, pkl. 24.46 WIB.


[1] Neil Smelser, 1976, Comparative Methods in the Social Sciences (Bab 3) dalam http://poli.haifa.ac.il/~levi/durkheim.html, diakses pada Rabu, 16 Desember 2009, pkl. 19.24 WIB.

[2] Ibid.

[3] Edi Suharto, “Modal Kedamaian Sosial dan Resolusi Konflik: Perspektif Pekerjaan Sosial” dalam  http://www.policy.hu/ suharto/modul_a/makindo_20.htm, diakses Kamis, 17 Desember 2009, pkl. 24.46 WIB.

[4] Bambang Wahyu Nugroho, “Konsep, Variabel, dan Indikator” dalam http://mpshi.wordpress.com/kuliah/kuliah-4-konsep-dan-variabel/, diakses pada Kamis, 17 Desember 2009, Pkl. 07.28 WIB.

[5] Giyanto, 2009, “Melawan Positivisme” dalam Jurnal Kebebasan : Akal dan Kehendak (Vol. III, Edisi No.70, 22 Maret 2009) dalam  http://akaldankehendak.com/?p=440, diakses pada Kamis, 17 Desember 2009, Pkl. 09.46 WIB.

[6] Ibid.

[7] Martina Prianti dan Uji Agung Santosa, 2009, “Tahun ini Orang Miskin di Indonesia 33,7 Juta Orang” dalam http://www.kontan.co.id/, diakses pada Kamis, 17 Desember 2009, Pkl. 10.02 WIB.

[8] Ahmad Elqorni, 2009, “Metodologi Penelitan Kualitatif dan Hermeneutika” dalam  http://elqorni.wordpress.com/ 2009/10/09/metodologi-penelitian-kualitatif-dan-hermeneutika/, diakses pada Kamis, 17 Desember 2009, Pkl. 11.07 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s