Bencana Wasior 2010 : Manusia, Bahasa, dan Bencana


diam

MANUSIA, BAHASA, DAN BENCANA

Di balik penyelamatan 33 penambang di Cile, kita bisa menarik pelajaran berharga bahwa manusia tidak hanya berhenti pada angka (statistik). Tampaknya, SBY perlu belajar banyak pada Presiden Cile.

Dalam penjelasan rapat kabinet (11 Oktober 2010), SBY menyatakan bahwa bencana Wasior itu “kecil” karena korbannya lebih sedikit dibandingkan dengan bencana-bencana lain yang terjadi di Indonesia, seperti Tsunami di Aceh. Hal ini merupakan sebuah “ungkapan santun” yang tidak etis dan menusuk hati Rakyat Indonesia. Tak patut seorang pemimpin mengungkapkan hal itu. Bencana yang satu (termasuk jumlah “korban” di dalamnya) tidak dapat dibanding-bandingkan dengan bencana yang lain. Setiap bencana adalah bencana. Tak ada yang lebih “kecil” atau yang lebih “besar” di hadapan korban. Bisa jadi, hati kita tumpul karena melihat “korban manusia” hanya sebagai angka dan statistik belaka. Inilah yang terjadi di dalam Kamp Konsentrasi. Mereka bukan lagi manusia, melainkan “angka” yang menempel pada baju mereka.

Manusia Bukanlah Atribut

Tampaknya bangsa ini perlu belajar mengenai bahasa. Seringkali kita tidak dapat membedakan antara mana yang “substansi”, dan mana yang “atribut” belaka; mana yang “subjek”, dan mana yang “predikat”. Seringkali subjek atau pribadi di negara ini hanya dipandang melalui kedudukan, status sosial, jabatan, dan uang yang melekat pada diri mereka. Akhirnya, yang dipandang bukan lagi “pribadi” (“manusia”-nya) melainkan “atribut” yang menempel; bukan “subjek” melainkan “predikat” yang menyertai (pebisnis, tokoh politik, presiden, pejabat publik, dlsb.).

Selain itu, dengan melupakan “bahasa” (yang diandaikan begitu saja), pada saat yang sama kita telah melupakan manusia itu sendiri. Ketika pilihan kata kurang tepat dan melukai jutaan orang, tak dapat dikatakan bahwa semua itu hanyalah sebuah spontanitas belaka. Jika memang itu alasannya, maka bangsa ini telah menderita penyakit “latah” yang akut. Sebuah penyakit yang menakutkan karena jangan-jangan manusia dapat dikatakan dengan “angka” dan digambarkan dengan “besar” dan “kecil” begitu saja secara semena-mena.

Manusia Citra Allah

Manusia itu berharga tidak terletak pada setiap atribut yang menempel di dalam diri orang tersebut. Manusia itu berharga karena ia “manusia”, ciptaan Allah yang baik adanya. Bahkan, di dalam Kitab Kejadian, manusia digambarkan sebagai “Citra Allah” – Gambaran Allah itu sendiri. (Saya membawa nama “Allah”, karena bangsa kita selama ini mengklaim diri sebagai bangsa yang beragama, yang percaya pada Allah.) Setiap tindakan (termasuk ucapan kita), tidak lain dan tidak bukan juga seharusnya mencerminkan tindakan Allah itu sendiri, di mana Ia adalah Kasih.

Mengasihi itu sederhana. Namun, seringkali kita yang membuatnya menjadi sulit dan menyakitkan. Bunda Teresa dari Calcutta menyampaikan bahwa kasih dapat dimulai dengan senyum. Membagikan senyum bagi sesama adalah sebuah bentuk kasih yang nyata dan sederhana. Jika kata-kata kita tidak memberi senyum pada yang lain – malah justru sebaliknya, hanya menyakitkan hati – baiklah kita merefleksikan diri kita sendiri, “Jangan-jangan bukan kasih yang kuungkapkan, melainkan hanyalah sebuah ‘pencitraan’ belaka bagi diriku sendiri – ingin dianggap peduli, namun sayangnya malah menyakitkan hati”.

Bahasa – Cerminan Bangsa Kita

Indonesia, yang terkenal sebagai sebuah bangsa yang menjunjung tinggi “sopan santun”, tampaknya kini perlu belajar “sopan santun” melalui bahasa. Karena bahasa juga merupakan salah satu cerminan bangsa kita. Bahasa tidak hanya sekadar sebuah “struktur formal material” yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Melainkan, mengikuti pemikiran Levinas, bahasa merupakan sebuah dimensi kehidupan, di mana penghargaan pada “yang lain” tersingkap. Kemanusiaan dijunjung tinggi di balik setiap kata (bahasa) yang terungkap. Harapannya, tak ada lagi aroganisme. Setiap kata yang terucap (termasuk berbagai keputusan dan kebijakan pemerintah) hendaknya dipilih dan dipikirkan terlebih dahulu secara matang demi kepentingan semua pihak, tanpa ada yang dikorbankan. Dengan kata lain, berhati-hatilah memilih “kata”, walaupun diucapkan dengan “nada” yang halus, belum tentu terdengar “merdu” di hati.

Inilah saatnya bagi kita sebagai bangsa, khususnya bagi para pemimpin, untuk belajar menghargai “manusia” melalui “bahasa”, yang juga terungkap pada seluruh struktur kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik, jujur, dan adil. Kami sudah terbiasa dengan janji, namun jangan jejali kami dengan kata-kata “santun” yang “menyakitkan”, tanpa ada janji akan mengobatinya.

Namun yang jelas, korban di Wasior kini tidak butuh kata “maaf”, melainkan mereka membutuhkan pertolongan konkret kita. Itulah ungkapan bahasa yang indah yang dibutuhkan mereka saat ini – Bahasa Kasih yang nyata. Jangan sampai terlambat dan menyesal di kemudian hari. “Belajarlah pada Cile!”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s