Parpol Butuh “Sikap”

ambigu

PARPOL BUTUH “SIKAP”

Begitu banyaknya parpol di negeri ini hanya semakin membuat masyarakat bingung kehilangan arah. Yang merisaukan dan membingungkan pertama-tama bukan terletak pada “jumlah” parpol, melainkan pada “sikap” setiap parpol.

Parpol di Indonesia tampaknya tak punya sikap – kekanak-kanakan. Semua tampak sama saja. Lalu, Partai A dan Partai B, tidak ada bedanya. Mereka semua mengataasnamakan “rakyat”, membela “rakyat”, pro “rakyat”, dan intinya embel-embel “rakyat” adalah harga mati untuk sebuah propaganda parpol (yang sebenarnya hanya sebuah kamuflase belaka). Yang terjadi pada akhirnya, semua kebijakan dan keputusan hanya didasarkan pada “logika instrumental” saja – sejauh itu menguntungkan, menghasilkan uang, dan memperkuat kedudukan partai, itulah yang dipilih. Lalu, sikap setiap “parpol” menjadi tidak jelas. “’Rakyat’ atau kepentingan internal partai?” Itu pula yang menambah kebingungan masyarakat. Sikap parpol sendiri belum jelas, sudah bawa nama “rakyat”. Itu yang merisaukan.

Inilah yang tampak dalam fenomena parpol kita dewasa ini. Tidak seperti di Amerika, dengan 2 partai besar (Demokrat dan Republik), posisi keduanya jelas-jelas berbeda. Kebijakan dan sikap yang ditawarkan oleh kedua parpol tersebut “jelas” alias tidak hanya samar-samar berlindung di balik kata “rakyat” belaka. Dengan begitu, “rakyat” macam apa yang mereka perjuangkan pun menjadi jelas pula. Masyarakat tidak begitu dibingungkan. Mereka dapat melihat dengan jelas posisi keduanya. Mana yang lebih sesuai dengan aspirasi mereka, itulah partai yang mereka pilih. Berbeda jauh dengan di Indonesia, dengan banyaknya partai, bukan semakin jelas posisi dan sikap mereka, malah sebaliknya, semakin tidak dapat dibedakan, semakin tidak jelas. Tampaknya semua hanya aji mumpung, “mumpung kita dapat untung (uang, kekuasaan), maka mari kita gunakan sebaik-baiknya”.

Aji Mumpung

Mumpung kita bisa mendirikan partai, mumpung kita punya sokongan dana yang besar dari para saudagar, mumpung kita punya koalisi, mumpung kita punya kerabat dan sahabat, mumpung kita punya kekuasaan, mumpung kita punya para ahli dan aktivis, mumpung kita punya banyak anggota di parlemen, dan masih banyak “mumpung-mumpung” yang lain, dan tepat di situlah titik persoalannya. Hal itulah yang menyayat hati masyarakat melihat perilaku para elite parpol.

Saya membayangkan, jika ada parpol di Indonesia saat ini yang berani menyatakan diri, “Kami Partai Sosialis”; “Kami Partai Liberal”; “Kami Partai Kiri”; “Kami Partai Kanan”; “Kami Partai Sosialis-Liberal”; “Kami Partai Neo-Liberalisme”; “Kami Partai Neo-Sosialis”; dan lain sebagainya (walaupun itu semua perlu diperjelas juga). Didukung dengan road-map yang jelas, dengan disertai strategi kebijakan yang cukup terperinci secara menyeluruh, saya rasa partai-partai tersebut patut diancungi jempol. Menurut pendapat saya, hal itu lebih menunjukkan komitmen dan kesungguhan. Konsistensi diri parpol dapat lebih terukur dan dapat dinilai oleh publik dengan lebih cermat dan teliti. Jika melenceng sedikit saja dari road-map yang dicanangkan, mereka tidak dapat dipercaya lagi. Partai menjadi lebih jelas, profesional, dan mencerahkan masyarakat. Tidak hanya abu-abu. Sulit dibedakan dan tidak punya ciri khas. Jadi, ke-diri-an parpol pun dapat lebih diidentifikasi dengan jelas dan tepat. Tidak seperti sekarang ini.

Mau atau Tidak?

Pertanyaannya sekarang, bukan lagi mampu atau tidak, karena pada kenyataannya bangsa ini sudah dipenuhi dengan para kaum terpelajar dan cendekiawan (yang tidak sedikit pula dimiliki oleh parpol-parpol). Intinya, sudah banyak orang pintar di negeri ini yang mampu merencanakan, mencanangkan, dan mengimplementasikan harapan bangsa ini ke depannya. Hanya saja pertanyaannya sekarang, “mau atau tidak?” Jika tidak ada satu pun yang mau dan bertindak, janganlah menyesal di kemudian hari karena melihat sebenarnya kita saat ini sedang berjalan di tempat. Kita butuh kejelasan dalam melangkah. Tidak hanya melangkah di balik kata “rakyat”, namun kosong di dalamnya.

Perubahan bisa dimulai oleh parpol. Jika parpol saja sudah tidak jelas, “Bagaimana dengan parlemen dan eksekutif (yang de facto diisi juga oleh orang-orang parpol)?” Jadinya, semua tidak jelas, dan bangsa ini pun akhirnya menjadi tidak jelas pula. Bisa dikatakan, “Orang buta menuntun orang buta”. Lalu, mau dibawa ke mana bangsa ini?

Akhirnya kita hanya dapat berangan-angan, “Beranikah parpol bersikap?”

Dan sepertinya, hanya Tuhan yang tahu jawabannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s