Agama Menjadi Tuhan (?)

disconnect

Agama Menjadi Tuhan (?)

Kekerasan atas nama agama adalah sebuah fenomena yang dapat kita temukan dari zaman ke zaman, dan dari berbagai agama di berbagai belahan dunia. Lalu, pertanyaannya, “Apa itu agama? Mengapa agama dapat memungkinkan adanya kekerasan? Apakah ada yang salah dengan agama?” Pertanyaan-pertanyaan inilah yang juga menggelisahkan hati banyak orang saat ini. Setelah berbagai macam bentuk perang dan teror atas nama agama, lalu apa lagi yang akan terjadi atas nama agama?

Agamaku Benar: Itu Cukup…?

“Apa itu agama?” Agama di sini dapat dikatakan sebagai sebuah sistem nilai yang terintegralisasi dalam diri manusia. Nilai-nilai agama seringkali memainkan peranan besar dalam cara bertindak manusia. Nilai-nilai yang diyakini ini tentunya diyakini pula kebenarannya. Namun, tepat di sinilah yang menjadi persoalan, ketika nilai-nilai yang diyakini kebenarannya ini telah tertutup rapat terhadap berbagai bentuk diskursus. Tak ada dialog. Tak ada kompromi. Tak ada pertanyaan, apalagi sanggahan. Apa yang terjadi pada agama, berarti juga sebuah cerminan atas apa yang sedang terjadi pada diri manusia. Jika agama mulai “tertutup”, pada saat yang sama, manusia menampakkan dirinya sebagai makhluk yang “asing”. Ia tak lagi menyadari hakikatnya, yaitu Ada-bersama-yang lain. Hanya ada kelompokku, tak lebih dan tak kurang. Singkatnya, yang Ada hanyalah “Agama”-ku.

Keyakinan bahwa “Agamaku Benar”, memang perlu diyakini karena jika tanpa ada keyakinan mengenai hal ini, untuk apa kita beragama. Namun, hal ini belum cukup. Yang terpenting di sini – tantangan bagi kita yang beriman (beragama) – apakah kita berani membuka diri (terbuka) terhadap kebenaran yang ada di luar diriku (agamaku). Keterbukaan pertama-tama bukan lagi dilihat sebagai sebuah realitas sosial dunia kita saat ini yang penuh dengan pluralitas. Melainkan, keterbukaan dilihat lebih dalam sebagai sebuah konsekuensi bagi kita yang beriman. Tanpa sebuah keterbukaan, kita tidak dapat beriman. “Bagaimana mungkin kita dapat percaya pada ‘sesuatu’ di luar diriku (yang pada akhirnya tertuju pada diri Allah itu sendiri) tanpa sebuah keterbukaan terlebih dahulu atas ‘sesuatu’ (di luar diriku) itu sendiri?” Jika dikaitkan dengan hidup beragama, “keterbukaan” pada dirinya sendiri merupakan suatu nilai yang inheren dalam hidup orang beriman – terbuka pada sesuatu yang ADA di luar dirinya (dan setidaknya itu diyakini sebagai sebuah kebenaran). Maka, tidak mengherankan dan tidak berlebihan jika keterbukaan itu pula yang dituntut pada diri setiap orang yang mengaku dirinya beragama (beriman) – termasuk berani menerima KEBENARAN yang ternyata juga mewahyukan diri di luar dirinya (agamanya).

Rasionalitas

Jika keyakinan itu tanpa melibatkan rasionalitas, pada saat itulah kejatuhan akan kita alami bersama. Tanpa rasionalitas, pintu masuk pada “kekerasan” dapat terbuka lebar. Hanya dengan memberi sedikit embel-embel agama, maka semuanya dapat dianggap “legal”. Hal-hal yang secara “make sense” sudah jelas-jelas tidak masuk akal dapat dilakukan dengan kesadaran penuh bahwa inilah “Kehendak Allah”. Maka, beragama tanpa rasionalitas (bukan berarti merasionalisasi semuanya), dapat memungkinan sebuah pintu lebar bagi kejatuhan – lahirnya kekerasan atas nama agama.

Lalu, “Adakah yang salah dengan agama?”Pada dasarnya semua agama itu baik. “Baik” dalam arti memberi suatu makna pada kehidupan (namun agama tidak bisa hanya direduksi pada hal ini semata – “makna” – karena agama juga melampaui “makna” itu sendiri). Makna di sini tentunya merupakan hasil hermeneutika, interpretasi, dan refleksi seseorang atau kelompok tertentu atas wahyu (Allah), kitab suci, dogma, ajaran, dan berbagai bentuk penghayatan keagamaan lainnya. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana hermeneutika, interpretasi, dan refleksi itu sendiri dilakukan. Lagi-lagi jika tanpa adanya rasionalitas, yang berarti juga mengandaikan tanpa adanya sebuah pengetahuan atau pengertian yang memadai mengenai berbagai hal yang dihadapi (wahyu, kitab suci, dogma, ajaran, dlsb.), maka kita dapat jatuh pada sebuah bentuk penghayatan emosional keagamaan belaka tanpa sebuah akal sehat.

Perlu diingat pula bahwa manusia-lah yang melakukan hermeneutika, interpretasi, dan refleksi atas wahyu (Allah), kitab suci, dogma, ajaran, dan berbagai bentuk penghayatan keagamaan lainnya. Maka, kita perlu juga memahami dan mengerti terlebih dahulu mengenai “manusia”. Hal ini penting karena manusia-lah yang menjadi subjek beragama (beriman). Sebagai subjek, ia memiliki juga berbagai macam hak, terutama hak hidup yang perlu dihormati. Tak ada yang dapat mengganggu-gugat mengenai hal ini, termasuk agama.

Agama menjadi Tuhan

Yang seringkali menjadi salah kaprah, agama dianggap berada di atas manusia. Seolah-olah agama terlepas dari manusia. Agama berada di angkasa raya, melayang-layang mengawasi manusia, dan memiliki hak penuh atas manusia. Agama-lah segala-galanya. Tuhan tak ada lagi. Yang ada hanya agama. Dan, ia-lah yang kini berkuasa atas manusia, bukan lagi Tuhan. Akhirnya, Tuhan hanya direduksi menjadi “agama”. Padahal pada kenyataannya, Tuhan melampaui agama. Pada saat itulah, “Agama menjadi Tuhan”. Lalu, “Apa yang dapat kita lakukan?” Tempatkan agama pada posisinya yang semula – “di antara hati nurani dan akal sehat kita”. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s