Tara McPherson: Reload – Kehidupan, Mobilitas, dan Web

web

Reload :

Kehidupan, Mobilitas, dan Web[1]

(Tara McPherson[2])

 

You can search for and play

any episode you want, any time you want

(Pseudo.com)

 

Konvergensi Media (Web-Televisi)

Selama masa kejayaan dotcom (1990-an), telah terjadi retorika konvergensi, di mana terjadi benturan antara internet dan televisi. Ada sebuah pandangan futuristik, di mana kedua-duanya (internet dan televisi) ingin dikolaborasi menjadi satu (dikonvergensi).

Pada akhir 1990-an, beberapa ”eksekutif” (para pengusaha media digital) telah mulai memperkenalkan apa yang mereka sebut ”lean back interactivity”, di mana lebih lanjut dideskripsikan sebagai sebuah interaktivitas minimal. Ini merupakan sebuah model yang dipromosikan sebagai sebuah peningkatan (kemajuan) untuk penyiaran (broadcast) konvensional. Model ini menawarkan pada konsumen sebuah deretan atau pameran ”click-and-buy-shopping”. Di sinilah kita dapat menemukan apa yang dimaksud dengan interaktivitas minimal, ”hanya tinggal klik, duduk bersandar di kursi, dan barang sampai di rumah”. Kita tak perlu lagi untuk pergi ke pasar atau mall untuk membeli sebuah barang. Kegiatan jual-beli itu kini bisa terjadi di ruang makan, ruang tidur, ruang tamu, bahkan di dalam mobil.

Perkembangan selanjutnya, diskursus terjadi seputar konvergensi web (internet) dan televisi. Beberapa orang berpendapat bahwa web merupakan sebuah bentuk yang lebih baik dari televisi. Namun, tetap saja bentuk televisi yang sederhana (simple)[3]memiliki sisi yang seringkali tidak dapat digantikan oleh web. Kemudian, muncullah ide untuk menggabungkan keduanya (web dan televisi). Jargon yang didengung-dengungkan oleh Rob Tercek (mantan wakil presiden Digital Media Columbia’s Tristar Television Group), “web adalah software yang familiar denganmu”. Penekanannya di sini bahwa ”mengontrol audience” adalah sebuah ide kuno yang sudah ketinggalan zaman. Saat ini yang lebih cocok adalah pandangan yang berpusat pada kepentingan konsumen (a consumer-centric point). Contohnya, seperti yang dikembangkan olehPseudo.com, sebuah perusahaan web yang memproduksi lebih dari 60 acara televisi dalam seminggu (yang disebarluaskan melalui internet), dan mempromosikan program mereka sebagai ”sebuah langkah logis dalam perkembangan media entertainment”. Mereka mencoba mendekonstruksi televisi untuk masuk dalam sebuah relung yang memungkinkan ”interaktivitasfokus, dan kedalaman, yang dijahit dalam minatgaya, dan rasa yang disesuaikan bagi setiap individu” (”What you want to watch when you want to watch it”). Kontrol sepenuhnya ada di tanganmu! (“You can search for and play any episode you want, any time you want” – Pseudo.com)

Point-Point Persoalan    

(1) Tara McPherson melihat bahwa konvergensi ini (mau tidak mau) memiliki relasi dengan kapital (perusahaan media). Melihat sejarahnya, kita bisa belajar pada radio. Radio pada awalnya merupakan sebuah gerakan akar rumput yang menjadi sarana demokrasi (bersuara dan mengungkapkan pendapat). Namun, setelah kurang lebih selama 30 tahun belakangan ini, di mana radio berada di bawah kontrol berbagai korporat, mulai tampaklah menurunnya fungsi atau tujuan awal radio tersebut sebagai sebuah media gerakan akar rumput. Semua kini lebih condong dan menomorsatukan kapital (modal) dan keuntungan besar. Lebih berfokus pada konsumen (consumers) bukan lagi pada kepentingan warga masyarakat (citizens). Lalu pertanyaan yang dapat diajukan, “Apakah hal yang sama akan terjadi pada konvergensi web dan televisi ini? Apakah mereka juga akan meninggalkan warga masyarakat dan memilih mementingkan konsumen?” Dan, di sinilah menjadi titik persoalannya, di mana konvergensi ini semata-mata dipandang sebagai bisnis (kapital) semata, tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat yang lebih luas. Dan, hadirnya kepentingan politik pun dapat dimungkinkan.

(2) Selain itu, Tara McPherson juga mencoba berfokus pada investigasi mengenai webitu sendiri sebagai sebuah hypertext yang menyingkap sebuah teori sastra, di mana di balik web itu sendiri ada sebuah bahasa universal, kebudayaan yang sangat luas, yang menjadi sebuah media baru untuk berkomunikasi.

(3) Bila dikatakan bahwa web itu lebih baik dibandingkan televisi, apakah itu benar? Bisa jadi web dan televisi itu saling tergantung, terhubung, dan juga saling meniru.

(4) Kemudian, di sini Tara McPherson juga berusaha melihat hubungan (tatap muka) antara pengguna dan data digital. Dan, ia juga tertarik menyingkap lebih dalam mengenai pengalaman menggunakan web, di mana web sebagai sebuah mediatorantara manusia dan mesin, dan sebagai teknologi dari pengalaman.

(5) Webisiideologi, dan strategi korporat menjadi point-point krusial bagi Tara McPherson yang patut untuk dipikirkan. ”Pola relasi macam apa yang terjadi? Dan, sejauh mana web itu sendiri dapat berdiri sendiri tanpa ada ketergantungan atas isi,ideologi, dan strategi korporat?”

Untuk menjawab point-point persoalan tersebut, Tara McPherson mencoba untuk menjelaskannya dengan metode yang dinamakannya sebagai Fenomenologi Websurfing. Setiap persoalan tidak dijawabnya satu per satu melainkan mencoba untuk menggambarkan semua persoalan dengan melihat apa yang terjadi dalam pengalaman ber-websurfing.

Fenomenologi Websurfing

”Pilihan (choice), kehadiran (presence),  gerakan / aksi (movement), dan kemungkinan (possibility)” merupakan istilah-istilah yang dapat mendeskripsikan modalitas (metode-metode) eksperensial websurfing. Tara McPherson berpendapat bahwa fenomenologi websurfing berfokus pada kemampuan untuk menghubungkan tiga struktur (karakteristik) sensasi yang disebutnya sebagai (1) volitional mobility, (2) the scan-and-search, dan (3) transformation.

A. Volitional Mobility (Mobilitas Kehendak)

(1) Studi mengenai televisi pada tahun 1980-an lebih menekankan pada distingsi antara televisi dan bioskop (film). Jane Feuer telah mengobservasi dan menemukan bahwa ternyata kedua-duanya (televisi dan bioskop) merupakan sebuah bentuk, ideologi, dan praktek industri itu sendiri. (2) Jane Feuer mengungkapkan bahwa secaraontologis, televisi merupakan representasi kontinyu kehidupan, di mana kekuasaandipandang sebagai sebuah ideologi yang digunakan dalam mempromosikan diri dan sebagai manifestasi korporat. Jadi, di sini kita dapat pula mengatakan bahwa ternyataideologi kini telah menyamar menjadi dasar ontologi (penyebab ’ADA’-nya televisi).

Begitu pula dengan web yang berkembang saat ini. Ketika kita berusaha merefleksikan kehidupaan di hadapan internet, kita dapat menemukan bahwa kehidupan itu berada di antara kita sebagai sebuah dimensi utama dari pengalaman kita berelasi dengan internet—sebuah medium yang juga mempromosikan dirinya sendiri sebagai medium aktual yang esensial (up-to-the-minute).

Ketika saya berusaha untuk mengeksplorasi web, saya mengikuti cursor, sebuah tanda yang nyata dan berwujud yang menggambarkan secara tidak langsung gerakan(aksi)-ku secara pribadi. Aksi ini membentuk sebuah sense kehidupanketer-segera-an, dan kekinian. Ketika saya ingin melihat berita secara instan, saya tidak perlu lagi menunggu siaran ”Dunia Dalam Berita” pkl. 21.00 WIB di TVRI. Hanya tinggalclick, berita yang diinginkan muncul, dan kepuasaan dapat diperoleh saat itu juga. Di sini kita dapat menemukan sebuah kehidupan yang memikat, namun itu semua hanyalah sebuah ilusi kehidupan (ditunjukkan oleh cursor itu sendiri). Di sini, web memposisikan para pengguna (surfer) dalam sebuah kehadiran yang imajiner.

Selain itu, yang krusial di sini adalah adanya kapitalisasi website yang secara historis telah mengikat kehidupan; dan kehidupan yang demikian itu dipandang sebagai sebuah pemberian, sebuah elemen yang esensial. Kehidupan semacam ini sungguh berbeda. Kehidupan yang didasari oleh volition (kehendak hati yang bebas) dan mobilitas, yang menciptakan kehidupan yang berlandaskan ”permintaan” (tuntutan). Tidak seperti televisi, seluruh acara / pertunjukkan telah dihadirkan ”sebelum kita” (pemirsa dipaksa untuk mengikuti urutan siaran yang ditawarkan), sedangkan web membentuk sebuahsense kausalitas dalam relasinya dengan kehidupan, di mana kita dapat menentukan (mengontrol) seluruh aksi (movement) sesuai dengan kehendak kita. Pilihan kita, mungkin kebutuhan kita untuk tahu, tampaknya mendorong kita untuk bergerak melalui ruang dan waktu[4] dalam web. Hal ini mengimplikasikan transformasi, kita berhadapan dengan kemungkinan perubahan, perbedaan, kebaruan, dan kekinian. Di sini, mobilitas kehendak (vilitional) lebih merupakan daya gerak (momentum) daripada momen (peristiwa).

Sense of movement (gerakan) melalui waktu juga dapat ditemukan di dalam web.Misalnya, dalam website MSNBC. Kita menemukan sebuah halaman mengenai ”Mengenang John F. Kennedy (JFK)”. Di sana kita bisa melihat kembali foto-fotonya, kita bisa memperbesar atau memperkecilnya. Dalam situs itu, kita juga dapat melihat geografi wilayah Texas, kita dapat melihat bentuk permukaan tanahnya, perpustakaan, dan juga wilayah-wilayah yang berumput. Saya bisa memilih apa yang saya kehendaki dengan sebuah click dan menggerakkan mouseSense akan ruang dan mobilitasdengan sangat kuat, wajar, dan juga tentunya perasaan-perasaan kita digerakkan oleh kehendakku sendiri.

Selain itu, saya pun dapat berada di dua tempat dalam dua waktu yang berbeda secara bersamaan. Saya bisa berada di sana (Dallas) dan berada di sini (Indonesia), pada tahun itu (1963) dan pada tahun ini (2008) secara bersamaan. Web-lah yang memungkinkan itu semua. Michael Nash berkata, “temporalitas terhubung padatubuh kita melalui komputer dan mengajak kita bergabung dalam ruang digitalmelalui dinamika kehadiran yang terkoneksi.” Dan, Microsoft bertanya, ”Kemana kita akan pergi hari ini?”

[Lalu, apakah ilusi kehidupan dalam sebuah kehadiran yang imajiner itu dapat dikatakan sebagai sebuah kehidupan? Jika, kita melihat sebuah berita, dan kejadian dalam berita itu sungguh-sungguh nyata, apakah hal tersebut masih dikatakan sebagai imajiner? Dalam hal apa?]

B. ”The scan-and-search”

The scan-and-search, bagi para ahli teoritis, berawal dari glance-or-gaze (lirikan mata / pandangan sekilas), yang merupakan sebuah keterlibatan penting dan utama. Dan, the scan-and-search itu sendiri berbicara mengenai ketakutan akan kehilangan” (missing) pengalaman berikutnya atau kehilangan bagian dari data selanjutnya. “Ketakutan akan kehilangan” sesuatu ini dalam dunia televisi ditunjukkan oleh sikap pemirsa yang tetap setia pada satu channel (stasiun TV) karena tidak ingin melewatkan cerita tayangan (film atau sinetron). Sedangkan, dalam dunia web, ketakutan seperti itu mendorong kita untuk “berada di mana saja”, “menuju pada bagian berikutnya”, dan masuk dalam apa yang kita rasakan sebagai ruang yang dapat dikendalikan, yang menjawab setiap kehendak kita.

Di sini, kita membangun sebuah bangunan sebagaimana kita bergerak melalui web, lewat bookmarks dan location bars, dan membentuk jalan yang unik melalui database dan arsip (history)—yang menyimpan semua data website yang pernah kita kunjungi. Ini bukan hanya sekadar menjelajah channel, melainkan itu semua terasa seperti kita sedang mengawinkan ruang dan waktu, menghubungkan penelitian dan hiburandalam pola-pola mobilitas yang sama. Dengan begitu, hal ini memungkinkan pula penciptaan sebuah mobilitas melampaui data. Jadi, the scan-and-search terasa lebihaktif daripada sekadar melirik atau memandang sekilas.

[Jika the scan-and-search itu menunjukkan kehendak kita, dan hal itu juga menunjukkan sebuah “ketakutan akan kehilangan”. Lalu, pertanyaannya, apakah kehendak manusia pada dasarnya dilandasi oleh rasa takut itu? Bukankah kehendak itu dapat dilatarbelakangi oleh berbagai macam dorongan, seperti rasa bahagia, dlsb?]

C. Transformation

Web / internet pada dirinya sendiri sudah merupakan sebuah bentuk transformasi[5]. Janet Murray memberi catatan bahwa transformasi di sini adalah sebuah karakteristik “kenikmatan” dari wilayah digital itu sendiri.

Budaya komputer memperkenalkan sebuah level baru personalisasi dan sense of choicedalam relasinya dengan transformasi. Contohnya, YM (Yahoo Messenger), sebuah media ber-chatting ria, sebuah ruang untuk berbincang-bincang secara langsung (live), kapan pun, dan di mana saja. Kehadiran YM itu sudah menunjukkan sebuah bentuk transformasi, sebuah bentuk komunikasi baru, di mana komunikasi dapat dilakukan via internet (komputer) secara langsung, seperti telepon. Tepat di sanalah terbentuk sebuah ruang transformatif, di mana bentuk relasi personal dan pilihan-pilihan baru tersedia. Menurut Amelie Hastie, “wilayah inilah yang dikonsumsi oleh pikiran dan mata sebagai ruang imajiner dari kemungkinan dan perubahan.” Hal ini tentunya tidak dapat lepas dari bentuk aktual data digital, kemampuan program, fragmentasi, dan rekombinasi yang secara intrinsik terdapat dalam medium itu sendiri (komputer-internet).

Data digital dapat diubah dan subjek dapat dimanipulasi. Melalui bahasa HTML, semua itu dimungkinkan. Background, fitur, dan berbagai variasi web dapat ditambah, dikurangi, maupun diperbarui hanya dengan bahasa-bahasa simbol. Kode-kode dihapus dan disusun kembali. Akhirnya, bentuk baru tampak.

Namun, catatannya di sini lebih pada mengkritisi bahwa ’janji-janji transformasi’ itu seringkali hanyalah sebuah status ilusi. Susan Willis berkata bahwa segala sesuatu mungkin bertransformasi tetapi tidak ada perubahan. Ia mendeskripsikannya dengan mainan, ”mainan itu bertransformasi untuk konsumsi” dan berasal dari pesona sebuah ”kerinduan utopia untuk perubahan”; lalu kemudian, mainan itu sendiri-lah yang mengatur dan mengontrol. Demikian juga dengan web / internet, ia bertransformasidan pada saat itu juga ia mengatur dan mengontrol, dan perubahan pada dasarnya tidak ada.

[Berbicara mengenai realitas dan subjek yang dapat dimanipulasi. Kita dapat mengkritisi lebih lanjut. Apakah ada realitas di dalam web / internet (komputer secara keseluruhan)? Karena pada kenyataannya, ketika kita melihat gambar, foto, atau video, itu semua hanyalah sebuah rangkaian dari beribu-ribu bahkan berjuta-juta angka yang berbasis 2 (0 atau 1). Jadi, apa yang kita lihat itu pada ahirnya hanyalah angka.Apakah ini yang dimaksud dengan transformasi itu sendiri?]

Neo-Fordism[6]

Para ahli berusaha meneliti implikasi ideologis dari relasi-relasi aktual yang terjadi dalam relasi antara manusia dan web. Dalam struktur korporat, bentuk-bentuk teknologi dan model-model pengalaman, web dan televisi, makin berinteraksi dalam pola-pola yang saling menguntungkan dan mendukung institusi-institusi dalam proses privatisasi (Margaret Morse). Eric Alliez dan Michel Feher mengkarakterisasi ekonomi neo-Fordist sebagai sebuah pergantian tempat dari pabrik-pabrik industri besar menuju pada era kapitalisme fleksibel.

Jarak antara ruang dan waktu produksi menjadi sebuah bagian yang sentral dalam model kapitalisme awal. Namun, saat ini, itu semua telah digantikan oleh sebuah konfigurasi ruang-waktu, di mana jarak antara ruang dan waktu kini menjadi kabur. Hal ini yang mendorong sebuah jaringan kerja yang sangat luas untuk sirkulasi informasi yang produktif, dan membuat manusia dan teknologi (mesin) dapat saling menggantikan. Hal ini sepadan dengan peralihan dalam mesin kapitalis sosial (tenaga manusia digantikan oleh mesin-mesin produksi). Namun, manusia tetaplah berperanan. Hanya bedanya kini, manusia tidak lagi dipaksa, melainkan diikutsertakan untuk masuk dalam dunia kapital (modal), dan hal itulah yang membuat mereka merasa ikut bertanggungjawab untuk keberhasilan korporasi.

Dalam jaringan ekonomi baru, siapa saja (”orang biasa”) dapat memasukkan databaseuntuk Amazon.com (dan berbagai web lainnya) dengan memosting secara bebas ulasan berbagai macam buku, film, dan video game. Hal ini sangat membantu para pemilik modal karena orang-orang yang memostingkan ulasannya tak menerima kompensasi apa pun dari hasil kerja kerasnya. Hal ini menggambarkan dengan jelas bagaimana korporasi itu mengikutsertakan siapa saja dalam dunia mereka dan dari sanalah mereka memperoleh keuntungan.

[Secara tidak langsung orang lain digunakan sebagai para pekerja yang tak mendapatkan upah. Bukankah ini model perbudakan modern? Namun, yang menjadi persoalan di sini adalah orang-orang yang ’dipekerjakan’ itu sendiri merasa tidak dirugikan malah merasa memperoleh penghargaan karena dapat menyumbangkan sesuatu bagi dunia. Lalu, yang terjadi kedua belah pihak tidak merasa dirugikan. Jadi, di sini yang terjadi adalah sebuah relasi yang bersifat mutualisme. Dan, yang menjadi persoalan selanjutnya adalah pola relasi macam ini seringkali tidak disadari dan dianggap biasa saja.]

Penutup

Kembali pada point-point persoalan yang telah dipaparkan di awal tulisan ini, penulis ingin mencoba membahasakan ulang yang disampaikan oleh Tara McPherson berkaitan dengan persoalan-persoalan tersebut. (1) Kepentingan kapital seringkali menjadi alasan utama di balik kemajuan teknologi (internet), sedangkan  kepentingan masyarakat (citizens) dinomorduakan; (2) Web / internet itu sendiri merupakan sebuah bahasa universal (mis. HTML) yang memungkinkan setiap orang di belahan dunia manapun dapat menggunakan dan mengembangkannya; (3) Web dikatakan lebih baik dari televisi tidak sepenuhnya benar karena web pun masih meniru dan membutuhkan format / bentuk (acara) televisi (berusaha meniru televisi); (4)Hubungan manusia dan teknologi dalam web itu sendiri melahirkan sebuah bentuk kehidupan baru (kehidupan ilusi / imajiner); di mana kehendak, pilihan, kehadiran, perasaan, aksi, kemungkinan, dan mobilitas”berbicara” pula di sana; (5) Bisa dikatakan, di satu sisi pola relasi (user – corporate) yang tampak adalah pola relasi tuan-budak, namun di sisi lain tampak sebagai sebuah bentuk relasi mutualisme. Dan, web itu sendiri tak akan pernah bisa berdiri sendiri (independent) 100 % tanpa pengaruh isi, ideologi, dan kapital para pengusaha (media). Jadi, ketika kita melihat sebuah pesan masuk ke dalam kotak inbox email kita, pada saat itulah kompleksitas dunia (digital) hadir di tengah-tengah kita.*

”…Web ternyata tak sesederhana yang tampil di layar komputer kita…”

 


[1] Tara McPherson, 2002, “Reload: Liveness, Mobility, and The Web” dalam Visual Culture Reader (ed. Nicholas Mirzoeff),   : Routledge, 459 – 470.

[2] Tara McPherson adalah seorang Professor dan Kepala Divisi Critical Studies di  (University of Southern California  (Fakultas Cinema-Televisi), di mana ia mengajar mengenai televisi, media baru, dan budaya populer saat ini. Sebelum itu, ia mengajar mengenai Film dan Studi Media di MIT (Massachusetts Institute of Technology).

[3] Tepat di sinilah kelebihan dari televisi dibandingkan web.

[4] “Ruang dan waktu” adalah alasan ontologis bagi GLOBALISASI. ”Ruang dan waktu” inilah yang ’dipadatkan’ dan merubah cara berpikir, berkehendak, merasa, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia (manusia). (Penjelasan DR. Herry-Priyono dalam kuliah ”Pancasila dan Globalisasi”, STF Driyarkara, Rabu, 19 November 2008.)

[5] Transformasi di sini dapat dipikirkan sebagai suatu wadah (tempat) bagi web itu sendiri, yang memotivasi secara luas berbagai macam bentuk narasi maupun non-narasi

[6] Fordism adalah filsafat ekonomi yang menyebarluaskan kemakmuran dan keuntungan sebesar-besarnya yang memberikan pula gaji yang besar bagi para pegawainya dan memperkenankan juga para pekerjanya untuk membeli hasil produksi yang mereka hasilkan sendiri. (contohnya: usaha mobil Henry Ford – 1863 – 1947). Istilah Fordism ini diperkenalkan oleh A. Gramsci (1967).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s