Nietzsche: Twilight of Idols

nietzsche

Twilight of Idols

(“Reason” in Philosophy § 1)

 

-I-

Kamu bertanya padaku mengenai idiosyncrasie (ciri khas paling unik – berkonotasi negatif) manakah yang paling khas dalam diri para filsuf? Misalnya, itu bisa kita temukan dalam (1) kurangnya rasa historis, (2) kebencian mereka kepada kemenjadian (yang menjadi), sifat (3) “egypticisme”mereka. Mereka pikir mereka melakukan penghormatan ketika men-dehistorisasi sebuah subjek di bawah kategori sub specie aeternitas – saat mereka mengubah subjek menjadi mummi. Apa pun yang ditelaah oleh para filsuf selama ribuan tahun sebenarnya tidak lain adalah ide-mummi [jaring laba-laba yang keluar dari perutnya sendiri – padahal laba-laba itu be Jaring laba-rada di satu sudut ruangan]: tidak ada satu hal riil pun yang bisa lolos dari tangan mereka hidup-hidup. Mereka membunuh, tuan-tuan pemuja nosi-nosi abstrak ini, mereka menetralisir apa saja yang mereka puja, menyedot kehidupan apa saja yang mereka puja. Yang namanya kematian, perubahan, usia tua, demikian juga dengan prokreasi dan pertumbuhan, bagi pikiran mereka adalah keberatan-keberatan – bahkan sanggahan-sanggahan.

Yang ada tidak menjadi; yang menjadi, ia tidak ada…

(Pandangan yang menganggap bahwa realitas itu statis dan tidak berubah)

Dan toh mesti begitu, mereka percaya, dengan susah payah hampir putus asa, pada yang Ada. Namun, karena mereka tidak bisa menangkapnya, mereka berusaha mencari penjelasan untuk menerangkan apa yang lolos dari tangkapan mereka. “Pasti ada yang namanya penampakan, pasti ada tipu-tipuan sehingga kita tidak bisa mempersepsi yang Ada: di manakah dia yang menipu kita ini?”

 

-II-

“Kita telah menemukannya”, mereka berteriak dengan gembira, “dia itu adalah indera-indera!” Indera-indera ini, sangat immoral (Bagi para filsuf, immoral tidak bsa diterima, yang bisa diterima adalah adanya penilainan moral (baik-buruk) jadi  hal ini tidak bias diterima) dari sudut pandang yang lain, artinya kita harus membebaskan diri dari penipuan indera, penipuan kemenjadian, sejarah, kebohongan! Sejarah hanyalah kepercayaan (foi/glauben) pada indera-indera, kepercayaan pada kebohongan.

Moralitas dari kisah ini : katakan tidak kepada semua saja yang mempercayakan dirikepada indera-indera, (katakan tidak) kepada umat manusia; mereka semua hanyalah rakyat jelata. Mari, jadilah filsuf! Mari, jadilah mummi! Mari tampilkan (monotono-theisme) dengan wajah penggali kuburan. Dan yang paling penting dari semua itu, jangan bicara sedikit pun tentang tubuh – idée fixe (konsep fiksatif) indera-indera, yang dirusak bentuknya oleh semua kesalahan logika, ditolak, bahkan dianggap tidak mungkin, meski sebenarnya tidak sopan untuk berpikiran seolah-olah itu riil. 

 

Dalam Paragraf ini, Nietzsche sesungguhnya ingin mengkritik para filsuf dengan menunjukkan idiosyncrasie (ciri khas paling unik – berkonotasi negatif) dalam diri para filsuf, antara lain : (1) kurangnya rasa historis, (2) kebencian mereka kepada kemenjadian (yang menjadi), dan (3) sifat “egypticisme”mereka.

(1) Para filsuf ini tidak percaya pada apa ”yang tampak”. Indera, bagi mereka (filsuf), menipu. Percaya pada indera bagi mereka sama saja dengan percaya pada kebohongan. Yang perlu dipercaya adalah “Ada” (‘das Ding an sich’ / Idea / Hinterwelt (dunia bayang-bayang) – segala sesuatu yang berada di balik penampakan, di balik indera). Jika filsuf itu melihat meja atau kursi, dia akan bertanya “Apakah itu benar-benar meja dan kursi? Pasti ada sesuatu di balik itu semua.” Menurut Kant, ada ‘das Ding an sich’; Bagi Platon, ada sebuah Idea; [atau Roh Absolut bagi Hegel]. Para filsuf ini begitu percaya akan “Ada”. Namun sayangnya, mereka tidak bisa menangkapnya, dan malah berusaha memberi penjelasan mengenai “Ada”. Menurut Nietzsche, para filsuf (para metafisika tradisional) – berusaha memalsukan dunia dengan meng-ADA-kan sesuatu. Bagi para filsuf, realitas itu seolah-olah terwakilkan dalam Idea, bahkan Idea itu sendiri dipandang lebih kekal, lebih sempurna, daripada realitas itu sendiri.

(2) Kemudian, apa yang mereka percaya itu, mereka fix-kan. Realitas dibunuh (dilepaskan) dari sejarah dan diabadikan (dikekalkan) sebagai sebuah mummi.  Nosi-nosi abstrak itu dipuja dan dipuji. Inilah egypticisme mereka. Mereka berusaha mencari kepastian – sebuah dogmatisme yang diwartakan ke mana-mana.

(3) Selain itu, mereka tidak percaya kepada kemenjadian (yang menjadi). Bagi mereka, semua sudah jadi. Tak ada lagi perubahan dan pertumbuhan. Statis, tidak bergerak. ”…Yang ada tidak menjadi; yang menjadi, ia tidak ada…”

Point-point itulah yang dikritik Nietzsche. Nietzsche justru (1) percaya pada apa yang tampak seada-adanya dan apa adanya; (2) percaya pada kemenjadian; dan (3) tidak mem-fix-kan sesuatu.

(1)  Percaya pada apa yang tampak seada-adanya dan apa adanya : (a) di siniNietzsche ingin menunjukkan bahwa itulah sebuah realitas – realitas yang kompleks, khaos, dan campur-aduk – yang perlu diterima apa-adanya. Para filsuf yang berusaha mati-matian menolak “apa yang tampak” dan berusaha menemukan sebuah konsep eksak, yang kekal dan sempurna (Idea Platonisian atau das Ding an sich Kantian), bagi Nietzsche dilihat sebagai wujud keinginan mati-matian orang-gagal yang merasa menemukan kebenarannya. Bagi Nietzsche, hal ini dianggap menyederhanakan dan mematikan kekayaan realitas-yang-selalu-plural. Bagi, Nietzsche ide-ultim Hinterwelt yang menjadi asal-usul dan penopang dunia senyatanya itu tidak ada. Itu semua bagi Nietzsche hanyalah qualitas occulta,kualitas tersembunyi di balik sesuatu, yang diciptakan si pemikir untuk menghindari kesemrawutan dan campur-aduk-nya realitas yang senyatanya. Sebaliknya, itu semua hanyalah mengatakan tentang kebutuhan psikologis sang filsuf itu sendiri – tak berani menghadapi kenyataan (realitas). (b) Dengan percaya pada yang tampak, percaya pada indera, itu juga berarti percaya pada tubuh. Bagi Nietzsche, tubuh adalah rasio. Di dalam tubuhlah kehendak dan pemikiran menjadi satu. Di dalam kehendak ada pemikiran. Di dalam pemikiran ada kehendak. Pemikiran tidak pernah bersifat eksterior. Tidak hanya keluar dari otak, melainkan dari kebertubuhan manusia – dari  darah dan dagingnya (darah bagi Nietzsche adalah roh – hal ini ingin menunjukkan bahwa tidak adanya dualisme antara tubuh dan roh). Dengan begitu, tubuh adalah pemikiran dan tidak ada pemikiran yang tidak bertubuh. Hal ini cukup jelas menentang pemikiran para filsuf yang sama sekali tidak mau berbicara mengenai tubuh.

(2)  Percaya pada kemenjadian : Di sini Nietzsche tampak sekali dipengaruhi oleh Heraklitos. Kemenjadian di sini perlu dipahami pula dalam konteks kontradiksi. Kedua-duanya (kemenjadian dan kontradiksi) tidak bisa dipisahkan begitu saja. Ke-menjadi-an yang dipikirkan lebih merupakan gerak internal yang secara niscaya selalu ada dalam realitas yang adalah kontradiksi. Bagi Heraklitos, “segala sesuatunya selalu menyingkapkan lawan-nya dari dirinya sendiri [A sekaligus non-A]. Realitas itu kontradiksi.” Namun, kontradiksi itulah – adanya ke-saling-berlawanan – yang membuat realitas bergerak, mengalir, dan hidup. Yang dicari di sini adalah realitas terdalam dari alam semesta. Bukan hanya perdebatan Ada(Being) atau Menjadi (Becoming), bukan juga Ada (Being) dan Tiada (Nothing).Melainkan kaitan antara Menjadi dan Ada dalam realitas. Yang namanya substansi (mis: Api) tidak pernah bersifat pejal-mampat, karena ia selalu bertransformasi, bergerak, diatur oleh sebuah prinsip gerakan dari dalam [Meski,substansi berubah, namun tetap ada semacam identitas yang bertahan (mis:sungai dan kita)]. Manusia yang kuat adalah manusia yang menerima gerakan dalam realitas itu apa adanya; berani menerima bahwa realitas selalu berubah, selalu lolos dari cengkraman, dan tak dapat direduksi menjadi Idea-Idea (konsep-konsep) tertentu yang justru memiskinkan realitas.      

(3)  Maka dari itu, Nietzsche tidak berusaha mem-fix-kan realitas : Dengan adanyaIdea-fixed, bagi Nietzsche itu merupakan pemalsuan dunia dengan meng-Ada-kan sesuatu, ini menunjukkan sebuah posisi metafisis yang suka mereka-reka. Para filsuf itu telah menciptakan berhalanya sendiri, sebuah Idea-fixed yang dimumikan, dan kemudian dipuja dan dipuji tiada henti. Yang pada akhirnya, hanya menunjukkan sebuah kepalsuan dan berusaha lari dari realitas seada-adanya. Realitas adalah kontradiksi, ambiguitas, khaos, dan campur-aduk antara yang baik dan yang jahat – yang positif dan yang negatif.

Jadi,  dapat disimpulkan di sini, bagi Nietzsche, para filsuf yang tidak percaya pada apa yang tampak seada-adanya, benci pada kemenjadian, dan berusaha mem-fix-kan realitas, sebenarnya menghilangkan atau mematikan sebagian-dari-diri-sendirinya yang tidak selaras dengan kebenaran yang ia bayangkan bahwa ternyata hidup ini merupakan campuran antara kebenaran dan kekeliruan, ada ambiguitas, kontradiksi, dan khaos. Mereka tidak berani menghadapi itu semua dan berusaha lari dari kenyataan. Bagi Nietzsche, hidup ini harus diafirmasi (ya-tidak sekaligus), meskipun ternyata hidup itu mengandung kebenaran sekaligus kesalahan (dan ia yakin bahwa kekeliruan adalah bagian tak terpisahkan dari kebenaran). 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s