Metafisika Kaum Konfusius

confusius

METAFISIKA KAUM KONFUSIUS

Kongzi – Mengzi – Xunzi

I. Kongzi[1]

Riwayat hidup Kongzi

Konfusius merupakan sebutan latin untuk seseorang yang di Tionghoa lebih dikenal dengan nama Kong Fuzi atau Kongzi (Tuan Guru Kong)—dalam tulisan ini, selanjutnya digunakan sebutan Kongzi. Sosok yang sebenarnya bernama Kong Qiu ini menurut Fung Yu-Lan lahir pada tahun 551 SM di wilayah negara Lu yang sekarang berada di wilayah selatan provinsi Shantung di bagian timur Cina. Leluhurnya adalah anggota istana Sung dari dinasti Shang. Karena permasalahan politis, keluarga Kongzi kemudian pindah ke wilayah negara Lu.

Dalam kitab sejarah Shih Chi (selesai ditulis tahun 86 SM), Kongzi diceritakan sebagai pribadi yang mengalami kemiskinan pada masa mudanya dan masuk dalam pemerintahan Lu. Pada usia lima puluh, Kongzi sudah mencapai kedudukan tinggi dalam pemerintahan, tetapi kemudian harus mundur karena intrik politis dan menjalani pembuangan. Dia kemudian berkeliling dan akhirnya meninggal di wilayah Lu pada tahun 479 SM.

Enam Kitab

Ketika menjalani masa pembuangan, Kongzi menjelajah berbagai wilayah dan mengajar banyak orang. Dialah yang menurut Fung Yu-Lan menjadi guru privat pertama yang mengajar banyak orang. Tidak diketahui jumlah berapa jumlah murid Kongzi, tetapi jumlah puluhan ribu yang disebut tradisi, merupakan pernyataan yang terlalu dibesar-besarkan. Yang dapat dipastikan adalah besarnya pengaruh Kongzi sebagai guru privat pertama. Guru privat adalah guru yang mengajar dalam kapasitas pribadi tanpa mengatasnamakan lembaga pemerintahan. Fenomena guru privat kemudian berlanjut setelah terjadinya kemunduran dalam feodalisme Chou. Guru-guru privat muncul dari para aristokrat yang terlempar dari jabatannya dan guru-guru di rumah para aristokrat. Situasi mengharuskan mereka mencari penghasilan dengan mengajarkan keahlian atau dengan menjadi asisten ahli yang memahami seluk-beluk aneka ritual.

Sebagai bahan ajar, Konfusius menggunakan rangkaian kitab-kitab Yi, Shih, Shu, Li, Yue, Chun Chiu yang disebut Keenam Kitab Klasik (Liu Yi). Sementara orang berpendapat bahwa Kongzi adalah penulis Keenam Kitab Klasik. Yang lain melihat Kongzi sebagai pengarang kitab Chun Chiu dan komentator atau editor untuk kitab-kitab lain. Kedua pendapat ini menurut Fung Yu-Lan tidak tepat karena Kongzi bukanlah seorang penulis, komentator, atau editor Keenam Kitab Klasik. Keenam Kitab Klasik itu sudah ada sebelum Kongzi dan menjadi dasar acuan pendidikan bagi para aristokrat pada masa dinasti Chou. Sejauh yang dikatakan dalam Lun Yu, kumpulan perkataan Kongzi yang disusun murid-muridnya, Kongzi tidak bermaksud untuk menuliskan sesuatu untuk generasi mendatang. Lebih tepat kemudian menyebut Kongzi sebagai konservatif yang memegang teguh tradisi karena usahanya mengoreksi setiap penyimpangan dari praktek tradisional atau standar ritus dan musik.

Kongzi sebagai Guru

Kesadaran Kongzi tentang perannya sebagai seorang guru sangat dalam dan jelas. Dia merasa fungsi utamanya sebagai seorang guru adalah untuk meneruskan warisan kebudayaan kuno kepada murid-muridnya. Dalam ucapannya yang tercatat dalam kitab Lun Yu, Kongzi mengatakan bahwa ia adalah “seorang penyiar dan bukan seorang pencipta.” Sebagai penyiar, Kongzi bukanlah seorang guru biasa karena dia memberikan interpretasi tambahan yang berasal dari konsep moralitasnya sendiri. Salah satu contohnya adalah penjelasan Kongzi tentang masa berkabung seorang anak pada kematian orang tuanya selama tiga tahun. “Seorang anak tidak dapat lepas dari tangan kedua orang tuanya hingga usia tiga tahun,” kata Kongzi,”dan itulah sebabnya masa berkabung selama tiga tahun diikuti di seluruh dunia.” Melalui interpretasi ini Kongzi ingin memberikan pendasaran waktu berkabung seorang anak perlu disesuaikan dengan masa ketergantungan pada orang tuanya sebagai wujud terima kasih. Pada bagian lain, Kongzi memunculkan interpretasi lain, “Dalam kitab Shih, ada tiga ratus puisi; tetapi esensinya terdapat dalam satu kalimat, ‘Janganlah berpikiran buruk!’”

Semangat Kongzi untuk tidak hanya menyiarkan, tetapi menyiarkan dengan menghasilkan suatu interpretasi baru menjadikannya lebih unggul dari guru-guru privat lainnya. Semangat yang sama kemudian terus dipelihara oleh para pengikut Kongzi hingga menghasilkan Ketigabelas Kitab Klasik yang mengomentari namun tidak pernah menggantikan naskah-naskah asli. Proses  inilah yang membuat Fung Yu-Lan membuat Kongzi dapat dilihat sebagai pendiri sebuah sekolah baru.

Perbaikan Nama-Nama

Selain memberikan interpretasi baru pada Keenam Kitab Klasik, Kongzi juga memiliki gagasan mengenai masyarakat dan individu. Untuk memiliki masyarakat yang teratur, Kongzi mengusulkan aksi yang ia sebut sebagai perbaikan nama-nama. Suatu kali diceritakan bahwa Kongzi ditanya seorang bangsawan penguasa tentang prinsip pemerintahan. Dia menjawab,”Hendaknya penguasa menjadi seorang penguasa, menteri menjadi menteri, ayah menjadi seorang ayah, dan anak menjadi seorang anak.” Artinya, segala sesuatu dalam kenyataaan harus disesuaikan dengan implikasi yang melekat pada setiap nama yang mereka miliki atau dengan kata lain segala sesuatu harus sesuai degan esensi idealnya.

Penguasa, contohnya, memiliki “Jalan Penguasa” yang jika diwujudkan akan membuatnya menjadi penguasa sesungguhnya baik dalam nama dan kenyataan. Jika “Jalan Penguasa” tidak ditapaki, penguasa bukanlah penguasa bahkan bila dipandang rakyatnya sebagai penguasa. Setiap nama memiliki tanggung jawab masing-masing yang berbeda dalam suatu sistem hubungan sosial dan setiap individu diharapkan untuk bertanggung jawab sesuai dengan nama yang disandangnya.

Rasa Kemanusiaan dan Keadilan

Tentang keutamaan-keutamaan individual, Kongzi menekankan rasa kemanusiaan dan keadilan (yi). Rasa keadilan berarti situasi “yang seharusnya” terjadi. Setiap orang dalam masyarakat mempunyai hal-hal tertentu yang seharusnya ia kerjakan karena secara moral merupakan hal-hal yang benar untuk dikerjakan. Lebih jauh, Kongzi melawankan rasa keadilan dengan kata li (keuntungan). “Manusia ulung memahami yi, “kata Kongzi, “sedangkan manusia rendah memahami li.” Orang rendah mempertimbangkan dan bertindak berdasarkan pencarian keuntungan.

Sementara gagasan tentang rasa keadilan (yi) bersifat formal, gagasan tentang rasa kemanusiaan (jen) bersifat jauh lebih konkret. Jen merupakan esensi material kewajiban-kewajiban setiap orang yang secara singkat dirumuskan sebagai “mengasihi yang lain”. Konfusius mengatakan,”Rasa kemanusiaan terkandung dalam sikap mengasihi terhadap dalam mengasihi orrang lain.” Manusia yang benar-benar mengasihi yang lain adalah manusia yang dapat melaksanakan kewajibannya dalam masyarakat. Maka, Kongzi kadang-kadang menggunakan kata jen untuk menunjuk kombinasi seluruh keutamaan sehingga manusia jen bersinonim dengan manusia dengan keutamaan utuh.

    Chung dan Shu

Lun Yu menceritakan penjelasan Kongzi tentang manusia jen, “Manusia jen adalah orang yang karena berkeinginan untuk mempertahankan dirinya, maka ia mempertahankan orang lain, dan karena ingin mengembangkan dirinya, maka ia mengembangkan orang lain. Mampu menarik garis persamaan yang berpangkal dari dirinya dalam memperlakukan yang lain; itu bisa disebut sebagai jalan dalam mempraktikkan jen.” Dari penjelasan tersebut jelas bahwa praktik jen selalu berkait dengan sikap memerhatikan orang lain. Dengan kata lain penghayatan jen dapat dirumuskan melalui dua alternatif pernyataan. Pertama, “lakukan kepada orang lain sesuatu yang kamu sendiri ingin orang lain melakukannya untukmu.” Inilah aspek positif yang disebut Kongzi sebagai chung atau “tenggang rasa terhadap orang lain”. Kedua, “jangan lakukan kepada orang lain sesuatu yang kamu tidak ingin orang lain melakukannya padamu”. Pernyataan kedua adalah aspek negatif praktikjen yang disebut Kongzi sebagai shu atau “altruisme”. Prinsip ini kemudian dikenal oleh Kofusianis berikutnya sebagai “prinsip menerapkan metode ukur reflektif”; artinya, seseorang selalu menggunakan dirinya sendiri sebagai standar (takaran) dalam mengatur perilakunya. Kongzi yakin bahwa setiap orang mempunyai dalam dirinya “tolok ukur” dalam berperilaku dan dapat menggunakannya kapan pun.

Dalam Da Xue atau Pembelajaran Agung yang merupakan bagian dari kitab Li Chi, dikatakan, “Jangan menggunakan sesuatu yang tidak kamu sukai yang dimiliki atasanmu untuk memperlakukan bawahanmu. Jangan menggunakan sesirau yang kamu itdak sukai yang dimiliki bawahanmu dalam melayani atasanmu …” Sementara dalam kitab Chung Yun atau Ajaran Jalan Tengah, dikatakan,”…Layanilah ayahmu seperti halnya kamu ingin dilayani anakmu … Layanilah atasanmu seperti halnya kamu ingin dilayani oleh bawahanmu …” Ilustrasi dalam Pembelajaran Agung menekankan aspek negatif sedangkan yang diberikan dalam Ajaran Jalan Tengah menekankan aspek positif prinsip chung dan shu.

Mengenal Ming

Dari gagasan tentang rasa keadilan, para penganut Konfusianisme menurunkan gagasan tentang “berbuat tanpa pamrih”. Orang diminta untuk melakukan apa yang seharusnya dia lakukan semata karena secara moral hal itu baik. Nilai suatu perbuatan tidak terletak pada hasil tetapi pada nilai moral yang ada dalam pelaksanaan tindakan. Dalam kitab Lu Yun diceritakan bahwa Konfusius pernah ditertawakan seorang pertapa sebagai “orang yang tahu bahwa ia tidak akan berhasil, tetapi masih juga mencoba untuk melakukannya”. Hidup Kongzi menjadi contoh ajarannya. Hidup pada masa kekacauan perang, Kongzi seperti Socrates terus berkeliling dan berbicara dengan orang untuk mengusahakan perbaikan.

Kongzi berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasilnya ia serahkan kepada ming.Ming sering diterjemahkan sebagai takdir, nasib, atau keputusan. Bagi Kongzi, ini adalah Keputasan Alam Ketuhanan atau Kehendak Alam Ketuhanan; dengan kata lain mingdiartikan sebagai kekuatan yang mempunyai tujuan. Dalam perkembangan selanjutnya,ming diartikan hanya sekadar totalitas kondisi dan kekuatan yang ada di seluruh alam semesta. Agar aktivitas berhasil, perlu kerja sama dengan berbagai kondisi diperlukan; tetapi kerja sama ini sepenuhnya terletak di luar kendali kita. Maka, yang terbaik yang dapat dilakukan adalah mencoba untuk melaksanakan apa yang kita ketahui seharusnya kita lakukan, tanpa memikirkan apakah dalam prosesnya kita akan gagal atau berhasil. Mengenal ming berarti mengakui sifat dunia sebagaimana adanya yang tidak terelakkan dan juga bersikap tidak mengindahkan keberhasilan atau kegagalan seseorang yang bersifat lahiriah. Manusia yang mengenal ming menurut Kongzi akan terbebas dari keraguan, kecemasan, dan ketakutan.

Perkembangan Spiritual Kongzi

Tentang perkembangan spiritualnya, Kongzi berkata, “Pada usia lima belas tahun saya tetapkan hati saya pada ilmu, pada usia tiga puluh tahun saya dapat mengambil sikap, pada usia empat puluh tahun saya tidak mempunyai kebimbangan, pada usia lima puluh tahun saya mengetahui Keputusan Alam Ketuhanan, pada usia enam puluh tahun saya telah mematuhi keputusan, pada usia tujuh puluh tahun saya dapat mengikuti kehendak jiwa saya tanpa melampaui batas-batas (apa yang benar).” Ilmu yang dikejar Kongzi pada usia lima belas tahun berbeda dengan apa yang sekarang kita pahami sebagai ilmu karena ia menunjuk Dao yang berarti Jalan atau Kebenaran. Karena sikap bersandar pada li (ritual, upacara, dan perilaku baik), tahap mengambil sikap berarti memahami li sehingga dapat mempraktikkan perilaku yang layak.

Pernyataan bahwa pada usia empat puluh tahun ia tidak memiliki kebimbangan bermaksud menunjukkan bahwa ia menjadi orang bijaksana. Sampai usia itu, Kongzi barangkali hanya sadar akan nilai-nilai moral. Namun, pada usia lima puluh dan enam puluh tahun ia mengetahui Keputusan Alam Ketuhanan dan patuh kepadanya atau dengan kata lain ia menyadari nilai-nilai super moral. Nilai super moral yang dialami Kongzi tidak sama dengan yang dialami penganut Daoisme karena Daois meninggalkan sepenuhnya gagasan tentang Alam Ketuhanan yang berintelegensi dan bertujuan.

Kedudukan Konfusius dalam Sejarah Cina

Di Cina, Kongziselalu termashyur namun kedudukannya dalam sejarah telah mengalami perubahan yang sangat berarti dari satu periode ke periode lainnya. Dari sudut pandang kesejarahan, ia pertama dipandang sebagai seorang guru di antara banyak yang lain. Setelah kematiannya, ia secara berangsur-angsur dipandang sebagai sang guru. Pada abad kedua sebelum masehi, kedudukan Kongzi diangkat lebih tinggi dan banyak penganut Konfusianisme waktu itu melihatnya sebagai orang yang telah ditunjuk untuk memulai dinasti baru. Ia telah menjadi raja bukan karena mahkota tetapi karena pemikirannya terutama dalam Chun Chiu yang dibaca secara esoteris. Puncak kejayaan Kongzi terjadi pada masa dinasti Han yang membuat Konfusianisme berkembang sampai dapat disebut sebuah agama.

Sudah sejak permulaan abad pertama masehi, para penganut Konfusianisme yang lebih rasionalistis mulai memegang peranan sehingga Kongzi tidak lagi dipandang sebagai makhluk ilahi. Meski pada abad ke-19 teori keilahian Konfgzi muncul, teori ini tidak bertahan lama dan Konfgzi tetap dihormati sebagai sang Guru. Ketika RRC muncul, penghargaan kepada Kongzi turun dan sampai sekarang dihormati sebagai guru yang besar, namun bukanlah satu-satunya guru. Melihat pengakuan terhadap pengetahuan Kongzi dan usahanya untuk mempertahankan tradisi sekaligus membawa kebaruan, mungkin bukan merupakan sesuatu yang tidak masuk akal bahwa di masa-masa kemudian ia dipandang sebagai sang guru.

II. Mengzi[2]

Sekilas Riwayat Mengzi

Nama Mengzi adalah Meng Ke. Mengzi adalah gelar untuknya. Cheng Fuxin, sejarawan yang hidup pada abad ke-XIV, Mengzi hidup antara tahun 379 sampai 289 sM. Saat itu adalah zaman Peperangan  Antar  Negara (Zhanguo). Mengzi adalah penduduk negara Zhou dan berketurunan bangsawan Negara Lu.

Ayah Mengzi meninggal ketika ia masih kecil sehingga Mengzi diasuh ibunya. Keadaan keluarga yang miskin tidak membuat ibunya mengabaikan pendidikan Mengzi. Ibunya pernah memotong kain yang sedang ditenun untuk menunjukkan kepada Mengzi bahwa jika orang yang tidak tekun belajar itu umpama seperti kain yang dipotong itu. Ia tidak berguna. Sejak itu, Mengzi bertekun menjalani pendidikannya.

Mengzi dididik oleh murid-murid Zisi, cucu Kongzi. Mengzi mendapat ajaran Kongzi dari sumber dekat. Oleh karenanya,  Mengzi mengikuti ortodoksi Konfusius. Mengzi setia meneruskan ajaran Kongzi walaupun nantinya memberikan sumbangan yang murni. Mengzi akan mengembangkan ajaran Sekolah Ru pada arah yang lebih idealis.

Kebaikan Kodrat Manusia

Kongzi banyak berbicara mengenai ren. Dia juga membedakan yi dan li dengan jelas. Menurut Kongzi, manusia harus melakukan apa yang harus dilakukannya tanpa syarat dan menjadi dia yang seharusnya. Ini dilakukan tanpa memikirkan keuntungan pribadi. Artinya, seseorang manusia itu harus keluar dari dirinya dan merangkul sesama. Inilah esensi dari ren. Sayangnya, Kongzi tidak memberitahu mengapa orang harus melakukan semua itu. Persoalan yang timbul itu mau dijawab oleh Mengzi dengan memberikan satu teori yaitu teori kebaikan asali kodrat manusia.

Baik atau buruk kodrat manusia itu merupakan salah satu pembahasan yang sengit dan panjang dalam sejarah filsafat Tionghoa. Menurut Mengzi, pada zamannya ada tiga teori lain (selain dari teorinya) yang berbicara tentang kodrat manusia. Teori pertama mengatakan bahwa kodrat manusia itu tidak baik dan juga tidak buruk. Teori kedua mengatakan bahwa kodrat manusia dapat baik dan juga dapat buruk (ada unsur baik dan unsur buruk dalam kodrat manusia). Teori yang ketiga memandang ada orang yang mempunyai kodrat baik dan juga ada orang yang mempunyai kodrat yang buruk.

Teori Mengzi tentang kodrat manusia adalah bahwa dalam kodrat manusia ada beberapa unsur yang baik. Ada juga unsur yang pada dirinya tidak buruk dan tidak baik (netral) tetapi jika tidak dijaga akan membawa kepada perbuatan jahat. Ketika Mengzi mengatakan bahwa kodrat manusia itu baik, dia tidak bermaksud bahwa begitu lahir, orang akan menjadi seperti Konfusius.

Semua manusia dalam kodrat asalinya mempunyai empat awal yaitu renyili danzhi. Empat Awal ini ada dalam diri manusia sebagai embrio yang akan dan harus tumbuh dalam diri manusia yang membuatnya berbeda dengan hewan. Zhi yang membuat manusia mampu membedakan tindakan yang berakar pada nilai tindakan itu sendiri—tanpa pamrih. Pembedaan yang ditimbulkan zhi adalah (1) tindakan yang berakar pada kewajiban moral dan (2) tindakan yang berdasarkan keuntungan diri, tindakan penuh pamrih. Di dasar zhiyang mebuat manusia memiliki kemampuan-kemampuan seperti itu terdapat kodrat baik, dengan kodrat baik ini Mengzi membuat ajaran Kongzi didudukkan pada dasar kokoh.

Empat awal, jika berhasil dikembangkan sampai sempurna, akan menjadi empat jenis kebajikan tetap yang sangat ditekankan oleh Sekolah Ru. Mengzi mengatakn bahwa apa yang membedakan manusia dari burung dan hewan berkaki empat adalah empat awal,maka harus dikembangkan. Jika empat kebajikan mendapat hambatan dari luar, maka ia akan berkemabng dari dalam. Denganmengembangkan empat awal, manusia baru dapat menjadi manusia yang sesungguhnya.

Sekolah Ru dan Sekolah Mo: Perbedaan Dasar

Sekolah Ru mengajarkan kasih dengan perbedaan tingkat. Ren muncul dan berkembang secara alami dari dalam diri manusia. Sekolah Mo mengajarkan kasih tanpa perbedaan tingkat – jian aiJian ai ditambahkan dari luar pada diri manusia. Mengenai perbedaan itu, Meng Zi mengatakan bahwa kasih dengan perbedaan tingkat itu wajar seperti juga seseorang mengasihi anaknya lebih tinggi dari mengasihi anak tetangga. Jika semua kasih itu tidak ada perbedaan tingkat, Mengzi mengatakan bahwa ini akanmeniadakan ayah, seraya merujuk kepada ajaran Mo.

Selain itu, ada satu lagi ajaran yang berbeda antara Konfusianisme dan Mohisme. Ajaran itu adalah ajaran tentang ajaran kodrat asali. Sekolah mengajarkan bahwa renmuncul dan berkembang dari dalam diri manusia secara alami sedangkan Sekolah Mo mengajarkan jian ai ditambahkan dari luar diri manusia.

Filsafat Politik

Teori asal usul negara manurut Sekolah Mo adalah berbentuk utitlitarian.    Mengzi mengatakan bahwa yang membuat manusia itu manusia terletak pada relasi manusiawi yang ada dan pada prinsip-prinsip moral yang didirikan atas hubungan-hubungan manusiawi itu. Manusia hanya dapat mencapai kepenuhan dalam perkembangan diri dan mampu mengunngkapkan diri seutuhnya lewat hubungan dengan orang lain. Seperti Aristotles, Mengzi menganggap manusia sebagai hewan politik. Maka, manusia hanya dapat mengembangkan hubungan manusiawi seutuhnya dalam kaitan dengan negara dan masyarakat.

Negara adalah institusi moral, yang menjadi penguasa haruslah seorang penguasa moral. Maka, dalam teori politik Sekolah Ru, yang bisa menjadi Raja hanyalah “Orang-orang Bijak “ (The Sages). Takhta Raja itu selanjutnya diturunkan dari seorang “Orang Bijak” ke satu “Orang Bijak” yang lain dan seterusnya.

Rakyat mempunyai hak secara moral untuk melakukan revolusi jika seorang raja tidak memiliki ciri-ciri “Orang Bijak”. Pembunuhan Raja yang bukan “Orang Bijak” bukanlah dosa. Menurut Mengzi, jika seorang Raja tidak memiliki ciri-ciri “Orang Bijak”, dia sebenarnya tidak dianggap sebagai Raja tetapi hanya salah satu dari orang biasa. Ajaran Mengzi ini sangat berpengaruh dalam sejarah Tiongkok sampai denga tahun 1911 pada Revolusi yang mendirikan Republik Tiongkok.

Jika seorang Orang Bijak menjadi Raja, pemerintahan akan menjadi “Jalan Raja” (wangdao). Menurut Mengzi dan para Konfusianis seterusnya, ada dua jenis pemerintahan yaitu wangdao (Jalan Raja) dan badao (Jalan Kekerasan). Pemerintahan “Jalan Raja” adalah berdasarkan bimbingan dan ajaran moral. Pemerintahan Jalan Kekerasandidasarkan pada kekerasan dan pemaksaan. Dalam kosakata modern, pemerintahan “Jalan Raja” adalah yang bercirikan demokrasi sedangkan yang Jalan Kekerasan adalah yang berbentuk fasisme. Menjalankan pemerintahan “Jalan Raja”, menurut Mengzi, tidak berlawanan dengan kodrat manusia. “Jalan Raja” bukanlah sesuatu yang misterius dan juga sulit.

Mistisisme

Menurut Mengzi dan juga Konfusianis yang menganut ajaran Mengzi, alam semesta adalah Jagad Moral. Ketika Mengzi dan para muridnya berbicara tentang Langit, yang mereka maksud adalah Jagad Moral. Paham akan Jagad Moral itulah yang disebut Mengzi sebagai Paham Langit. Jika seseorang paham akan Paham Langit, dia bukan lagi warga masyarakat tetapi warga Langit. Mengzi juga membedakan kemuliaan langit dankemuliaan manusia. Kemuliaan Langit adalah semua yang ada dalam tatanan dunia nilai dan kemuliaan manusia adalah semua yang ada dalam dunia ini. Yang  menjadi keprihatinan seorang Warga Langit adalah kemuliaan langit.

Jika seseorang mengembangkan kodratnya dengan penuh, dia bukan hanya paham tentang Langit tetapi satu dengan Langit. Untuk memiliki kebajikan ren, dia haruslah mengembangkan hati tak tega-nya. Dan untuk mencapai ren, jalan yang paling tepat adalah dengan menghayati zhong shu. Dengan penghayatan ini, sikap egois secara bertahap akan berkurang. Jika sikap itu berkurang, dia akan merasakan bahwa dia tidak berbeda dengan orang lain, antara dia dengan Langit. Ini berarti dia telah satu dengan Langit dan juga dengan jagad raya. Manusia jadi satu secara utuh dengan alam semesta. Maka, dia paham arti “Segala sesuatu menjadi utuh dalam aku”. Kalimat ini dapat memperlihatkan unsur mistik dalam filsafat Konfusius aliran Mengzi.

Untuk memahami lebih lanjut mistik Mengzi, kita harus memahami hao ran zhi qi. Menurut Mengzi, hao ran zhi qi adalah “daya hidup, maha besar maha kuat, jika dalam kelurusan dipelihara maka tidak akan mendatangkan luka, memenuhi antara langit dan bumi. Itu adalah ‘semangat’, menjadi yi dan dao; tanpa itu manusia kelaparan.

Ada dua cara untuk menempa hao ran zhi qi. Yang pertama adalah tahu dao – memahami dao. Dao di sni meningkatkan taraf daya hidup batin. Yang kedua adalah jiyi – mengumpulkan daya yi yaitu sesuatu yang seharusnya dilakukan di ala mini oleh warga langit. Menjadi pasangan yi dan dao adalah apa yang dimaksudkan oleh Mengzi sebagai menyatukan kedua hal itu. Jika seseorang yang dapat tahu dao dan terus meneursmengumpulkan daya yi, maka hao ran zhi qi akan muncul ke permukaan dengan sendirinya. Jika ada pemaksaan walaupun sedikit, ini akan mengakibatkan kerusakan. Merawat hao ran zhi qi menurut Mengzi adalah seperti menanam gandum, biarkan di tumbuh dengan cara alami. Dalam ungkapan jiyi, Mengzi tidak menyebut ren tetapi sebenarnya ren adalah isi bagian dalam dan tampilan luar adalah yi. Seseorang yang terus-menerus menghayati yi, hao ran zhi qi akan muncul sendiri dari dalam hati.

Menurut Mengzi, hao ran zhi qi adalh hal yang dapat tumbuh dan dipelihara oleh setiap orang karena merupakan perkembangan utuh dari kodrat manusia dan kodrat semua mausia tidak sama. Setiap orang dapatmenjdi orang bijak asal saja dia mengembangkan kodrat asalinya sampai pada kepenuhan.

III. Xunzi[3]

Pribadi dan Latar Belakang

Xunzi semula bernama Kuang. Nama lain yang dipakai juga Xun Qing. Ia adalah warga negara Zhao, di sebelah Selatan Provinsi Shan Xi. Pada usia lima puluh tahun, Xunzi pergi ke Negara Qi. Dua murid Xunzi yang terkenal, yaitu Lizi dan Han Fei. Kedua orang ini  memiliki pengaruh besar atas sejarah Tiongkok. Li Si menjadi Perdana Menteri dari Kaisar Pertama Dinasti Qin. Han Fei menjadi tokoh utama dari Sekolah Legal yang memberikan pembenaran teoritis untuk penyatuan politk dan ideologis.

Xunzi (Hsun Tzu) adalah antitesis dari Mengzi. Mengzi sering diyakini mewakili “sayap kiri” dari konfusianisme, sedangkan Xunzi mewakili “sayap kanan” Konfusianisme. Pendapat ini memang terlalu menggeneralisasi meskipun dalam beberapa hal ada benarnya. Di satu sisi, Mengzi mewakili “sayap kiri” konfusianisme karena menekankan kebebasan individual. Tetapi, disisi lain, Mengzi mewakili sayap kanan karena menekankan nilai-nilai supermoral dan dekat dengan agama. Xunzi sendiri mewakili “sayap kanan” karena menekankan kontrol sosial. Tetapi, ia mewakili ”sayap kiri” ketika menekankan ajaran naturalisme dan bertentangan dengan gagasan yang berbau agama.

Kedudukan dan Teori Kodrat Manusia

Xunzi dikenal dengan baik karena teorinya tentang kodrat buruk manusia. Teori ini langsung berlawanan dengan teori tentang kebaikan manusia dari Mengzi. Sepintas, nampaknya Xunzi memandang rendah kodrat manusia. Sesungguhnya tidak demikian. Filsafat Xunzi adalah sebuah filsafat budaya. Tesis dasarnya adalah bahwa segala yang baik dan bernilai berasal dari upaya manusia. Tepat pada titik inilah manusia sebagai bagian alam semesta berhadapan dengan langit dan bumi memiliki peran yang sederajat. Xunzi mengatakan:” langit mempunyai empat musim, Bumi memiliki sumber daya, dan manusia memiliki kuasa mengatur atau membentuk suatu budaya”.

Xunzi berpendapat bahwa daya alam semesta sendiri terdiri dari: (1)langit, (2)bumi dan (3)manusia. Tiap unsur memiliki peranan dan tanggungjawab masing-masing. Misalnya saja, bintang-bintang berputar pada orbitnya, bulan dan bintang memancarkan sinar, empat musim berganti, yin dan yang terus berubah, angin dan hujan menyebar luas, semua makhluk memperoleh keselarasan hidup. Itulah peran dan tanggungjawab langit dan bumi. Peran dan tanggujawab manusia adalah mempergunakan segala sesuatu yang disediakan langit dan bumi untuk membangun budaya manusia.

Xunzi mengatakan, ”Jika kita mengesampingkan apa yang mampu kita lakukan dan hanya berpikir tentang langit, kita akan gagal memahami kodrat ciptaan”.  Xunzi pada dasarnya ingin mengatakan bahwa jika manusai gagal melihat semua yang dapat dilakukan, mereka bisa lupa akan peran dan tanggungjawabnya. Ketika manusia tetap saja menggagas Langit, manusia akan bermain peran sebagai Langit. Hal ini dianggap sebagai pengingkaran atas kemampuan untuk membentuk Tiga Daya. Pengingkaran yang masih disertai keinginan terhadap Tiga Daya disebut sebagai penyesatan.

Tesis Xunzi adalah kodrat manusia buruk, segala yang baik dalam dirinya merupakan buah upaya manusia (wei wo). Kodrat manusia pada mulanya adalah bahan mentah yang kasar. Supaya berkembang dan halus, diperlukan upaya kultural. Tanpa kodrat, tidak ada sesuatu yang dapat ditambahkan oleh upaya. Tanpa upaya, kodrat tidak bisa menjadi indah dari dirinya sendiri.

Walaupun berkebalikan dengan teori Mengzi, Xunzi sepakat dengan Mengzi bahwa setiap orang dapat menjadi Shengren (The Sage, Manusia Utama). Namun, di antara sesuatu yang tampak sama ini terdapat perbedaan besar. Menurut teori Mengzi, ren, yi, li, zhi yang dikenal sebagai Empat Awalan adalah daya-daya bawaan yang jika dikembangkan akan mencapai kepenuhan sehingga manusia dapat menjadi shengren. Sedangkan, Xunzi berpendapat bukan manusia yang membawa kebaikan pada dirinya. Dalam artikel Zing E, Xunzi berupaya membuktikan bahwa manusia lahir dengan hasrat bawaan untuk mencari keuntungan diri dan kenikmatan sensual. Akan tetapi, Xunzi juga menegaskan bahwa kecuali awal buruk manusia juga mempunyai daya kecerdasan yang bisa membuat manusia bergerak ke arah kebaikan. Xunzi mengatakan bahwa setiap orang memiliki kemapuan untuk mengetahui hakekat ren, yi, fa, zheng, karena itu mampu merealisasikan ren, yi, fa, dan zheng dalam hidup mereka.

Awal dari Kebajikan

Bagaimana manusia dapat menjadi baik secara moral? Ketika setiap orang lahir dengan kodrat sifat yang buruk, dari mana awal dari kebaikan? Untuk menjawab pertanyaan ini, Xunzi menawarkan dua jawaban.

Pertama, Xunzi menegaskan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa sesamanya atau tanpa suatu sistem sosial tertentu. Alasannya, hidup yang baik mengandaikan seseorang membutuhkan bekerjasama dan dukungan yang terus menerus. Xunzi mengatakan bahwa manusia tidak mungkin memiliki berbagai keterampilan sekaligus. Maka mereka saling melayani satu sama lain agar terhindar dari kemiskinan. Manusia juga selalu ada dalam keterbatasan untuk mengatasi makhluk lain—misalnya, sapi dan kuda—maka mereka perlu bersekutu, tidak seperti makhluk lain yang tidak bisa bersekutu.

Suatu sistem kemasyarakatan memerlukan patokan-patokan yang mengatur tindakan manusia. Patokan-patokan itu adalah li. Sehubugan dari mana asal li, Xunzi mengatakan, ”Dari mana li berawal? Manusia lahir dengan hasrat, manusia tidak akan diam tanpa upaya sebelum berhasil memenuhi hasratnya. Jika upaya pemenuhan hasrat dilakukan tanpa ukuran dan batasan akan terjadi perpecahan. Perpecahan akan menyebabkan pertikaian. Pertikaian akan mengakibatkan kekacauan. Kekacauan berarti kemiskinan. Raja-raja jaman dahulu menetapkan li karena mereka membenci kekacauan. Semua itu dimaksudkan agar mengatur hasrat manusia.

Xunzi juga mengatakan, ”Hal yang sama diminati dan dibenci manusia. Yang berminat banyak namun yang diminati sedikit, maka diperebutkan. Dunia tidak seideal yang dipikirkan. Manusia harus hidup bersama agar dalam hidup bersama tidak terjadi pertikaian, pada saat memenuhi hasrat dirinya, setiap orang harus menerima batas-batas tertentu. Peran li adalah menentukan batas itu. Ada li, baru bisa ada moralitas. Menghormati li dan memraktikannya adalah kebajikan, melawan li berarti melawan moralitas.” Jalan pembuktian pertama Xunzi mengenai asal usul kebaikan manusia ini sepenuhnya bersifat utilitarianistik, mirip dengan gagasan Mozi.

Pembuktian kedua, Xunzi menunjukkan perbedaan antara yang alami dengan buatan manusia. Manusia menjadi manusia bukan karena dia memiliki dua kaki dan tidak berbulu, melainkan karena dia mampu membeda-bedakan. Burung dan binatang berkaki empat ada yang menjadi bapak dan anak tetapi tidak ada kasih sayang di antaranya. Maka dari itu, di dalam dunia manusia tidak bisa tanpa unsur-unsur yang membedakan. Li adalah unsur pembeda terbesar dalam masyarakat.

Dalam konfusianisme, li adalah gagasan yang sangat komprehensif atau menyeluruh. Li dapat diterjemahkan sebagai upacara, ritual, aturan tindakan dalam masyarakat. Dalam arti yang ketiga, li berperan sebagai pengatur. Li dapat membuat manusia menjadi halus. Dalam arti ini, li meluhurkan dan memurnikan rasa dan emosi manusia.

Teori Upacara (li) dan Musik (yue)

Bagi konfusianis, upacara yang paling penting adalah upacara kematian dan persembahan.Banyak juga muatan takhayul dan mitologis dalam upacara-upacara seperti itu. Oleh karena itu, Sekolah Ru membuat penjelasan baru atas upacara-upacara tersebut dan memasukan gagasan baru. Semua itu bisa ditemukan pada Kitab Xunzi dan Li Ji.

Dari kumpulan Kanon Sekolah Ru, ada dua kitab yang khusus berbicara tentang li. Yang pertama adalah Yi Li—kitab ritual dan tata upacara. Yang kedua adalah kitab Li Ji—penjelasan tentang kitab Yi Li yang dibuat Sekolah Ru. Diyakini hampir sebagian bab Li Jiditulis oleh para pengikut Xunzi.

Dalam pikiran kita, selalu ada dua aspek, yaitu intelektualitas dan emosi. Saat orang yang dicintai meninggal secara rasional manusia tahu bahwa orang yang mati berarti memang sudah mati. Tidak ada alasan untuk percaya akan jiwa tidak mati. Jika hanya berdasarkan akal, maka tidak perlu adanya upacara arwah. Namun, dari sisi hati manusia, ketika orang yang dikasihinya meninggal orang tetap berharap orang yang meninggal dapat hidup kembali. Mereka berharap adanya jiwa yang terus hidup di dunia lain. Kalau orang bertindak mengikuti angan-angan semacam itu, maka bisa menjadi takhayul yang menolak putusan akal budi. Oleh karena itu, pengetahuan penting. Namun, manusia tidak bisa begitu saja tergantung pada pengetahuan. Mereka juga perlu pemuasan rasa. Dalam puisi, misalnya, kita memperoleh kepuasan rasa namun sekaligus tidak menghambat kemajuan ilmu pengetahuan.

Saat mengambil sikap terhadap yang meninggal, tidak mungkin orang tidak mempertimbangkan dua sisi kesadaran manusia—akal dan rasa. Namun, Sekolah Ru membersihkan dari tahayul dan mitologi. Semua unsur religi di dalamnya dibuat menjadi puisi. Oleh karena itu, semua ritus konfusianisme bukan naskah agama melainkan murni puisi.

Dalam artikel Lin Lun, Xunzi masih mengatakan bahwa upacara kematian membuat jelas arti hidup dan mati. Upacara kematian bertujuan mengantar yang wafat dengan duka dan hormat, dengan demikian menyempurnakan perjalanan manusia. Kelahiran merupakan awal manusia dan kematian adalah akhir manusia. Orang yang merawat orang tuanya hanya pada saat hidup dan tidak lagi merawatnya setelah meninggal hanya menghormati orang tua saat hidup dan mengabaikan setelah mereka meninggal.Sikap semacam ini mengkhianati jalan kemanusiaan dan sekaligus menyangkal nurani mereka.

Xunzi juga mengatakan bahwa upacara korban merupakan ungkapan kerinduan afeksi manusia. Upacara itu menampilkan kesetian, kepercayaan, kasih, dan penghormatan yang paling tinggi. Di dalamnya tampillah penyempurnaan tata krama dan kehalusan budi perketi. Manusia Utama (shengren) melihat itu sebagai kegiatan manusiawi. Arti dari upacara kematian dan persembahan sepenuhnya adalah puisi, bukan kegiatan agama. Dalam bab yang berjudul Tian Lun, Xunzi juga menjelaskan bahwa upacara permohonan dan peramalan untuk membuat putusan besar sebenarnya dialakukan hanya sebagai ungkapan dari kerisauan hati.

Xunzi juga menuliskan Yue Lun yang menjelaskan bahwa manusia tidak dapat tidak gembira. Kegembiraan tidak bisa tanpa bentuk. Jika bentuk itu tidak sesuai dengan patokan kebenaran, maka pasti akan terjadi kekacauan. Raj-Bijak-Zaman-Dahulu benci kekacauan karena kekacauan membuat nada-nada ya dan song sebagai patokan kebenaran. Bagi Xunzi, musik adalah alat pembentukan moralitas.

Teori Logika

Dalam kitab Xunzi ada bab berjudul Zheng Ming—Pelurusan Nama. Zheng Mingsebenarnya dicetuskan oleh Kongzi. Kongzi mengatakan,”Penguasan harus bersikap sebagai penguasa, bawahan harus bersikap sebagai bawahan, ayah harus bersikap sebagai ayah begitu pula anak bersikap sebagai anak.” Kongzi menaruh pelurusan nama pada lingkaran moral. Namun, Xunzi yang hidup pada masa Sekolah Nama meletakkan Pelurusan Nama tetap mempunyai warna moral dan sekaligus lebih dipenuhi minat terhadap logika.

Dalam Pelurusan Nama, Xunzi terlebih dahulu menguraikan epistemologinya yang mirip dengan sekolah Mo yang kemudian. Xunzi menulis bahwa sesuatu yang dalam diri manusia yang membuat dia tahu adalah pemahaman. Saat pemahamanan terkait dengan benda-benda di luar dirinya, ia disebut pengetahuan. Daya yang dimiliki manusia untuk mengenal sesuatu disebut tahu, kemampuan untuk mengenal sesuatu tersebut dalam hubungan dengan objek-objek di luar dirinya disebut kebijaksanaan, yaitu zhishi.

Xunzi membagi daya pengenalan itu atas dua bagian. Pertama, indra kodrati(tian gong, misalnya mata dan telinga). Yang kedua adalah hati. Indra kodrati menyerap kesan dan kesadaran menafsirkan kesan itu dan mengartikannya. Hati mengumpulkan pemahaman. Kumpulan pemahaman ini pada telinga menghasilkan pengetahuan akan suara. Kesadaran mengumpulkan pemahaman namun tidak dapat mengungkapkannya. Kesadaran ”hanya” memberi arti atas bentuk dan indra mengungkapkannya.

Sehubungan dengan asal-usul nama dan kegunaannya, Xunzi mengatakan,”Nama diciptakan untuk menunjukkan realita, di satu pihak untuk membedakan yang sama dengan yang berbeda. Asal-usul nama sebagian adalah moral dan sebagian adalah logika.”

Sehubungan dengan fungsi logika, Xunzi berkata ”Nama diberikan kepada segala sesuatu, nama diberikan kepada pada obyekNama yang sama diberikan kepada obyek sama dan nama yang lain diberikan pada obyek yang lain.” Xunzi juga membedakan dua sebutan, yaitu sebutan (1)umum dan (2)pengelompokan. Sebutan umum merupakan hasil dari proses sintetik dari nalar kita. Sedang, sebutan pengelompokan merupakan hasil dari proses analitis. Nama lahir dari suatu kesepakatan bersama untuk menyebut benda aktual tertentu.

Kesalahan Sekolah-Sekolah Lain

Xunzi berpendapat bahwa argumentasi Sekolah Nama (Mingjia) dan Sekolah Mo diletakkan atas logika yang berat sebelah, karena itu memuat kesalahan. Xunzi mengelompokan mereka atas tiga kelompok pembuat kesalahan. Kelompok pertama, disebut sebagai dengan mengacaukan nama. Kedalam kelompok ini masuk juga pengikut Sekolah Mo yang menyatakan bahwa membunuh perampok bukanlah membunuh manusia. Pandangan ini merupakan kekacauan karena dari dalam, perampok itu membawa kemanusiaannya dan dari luar pun dia membawa keperampokannya.

Kelompok kedua disebut mengacaukan nama dengan kenyataan. Yang termasuk kelompok ini adalah kelompok yang berpandangan gunung dan lembah sama tinggi. Ungkapan ini adalah ungkapan Hui Shi. Realita adalah keberadaan konkrit dan otonom. Nama adalah abstrak dan bersifat umum. Jika orang menolak hukum universal dengan pengecualian satu benda partikular, akibatnya terjadi pengacauan nama oleh satu keberadaan nyata.

Kelompok ketiga, mengacaukan kenyataan dengan nama. Yang termasuk kelompok ini adalah kaum Mohis. Contoh pernyataan mereka misalnya, sapi dan kuda bukanlah kuda. Jika orang mengamati nama sapi-kuda, orang akan mendapati bahwa nama itu tidak sebanding dengan nama kuda. Tetapi, dalam kenyataannya nama itu adalah sungguh kuda.

Xunzi mengatakan bahwa kekacauan terjadi karena dewasa ini tidak ada Raja Bijak. Seandainya ada Raja Bijak dia akam memakai kuasa politiknya untuk menyatukan hati dan budi manusia serta menuntut orang jalan kebenaran hidup yang tidak ada dan tidak perlu diperbantahkan. Dengan ungkapan itu, Xunzi memantulkan kekacauan zamannya. Zaman itu adalah zaman ketika orang mendambakan dengan sangat suatu kesatuan politis yang bisa membuat kekacauan ini berakhir.

IV. Metafisika Kaum Konfusianis[4]

Pada bab ini, Fung Yu-Lan membatasi pada teori-teori metafisika dan etika yang ditemukan dalam “Apendiks”, dan dalam bab yang berjudul Chung Yung. “Apendiks” di sini merupakan bagian dari Yi Ching atau Buku Tentang Perubahan. Sementara itu, Chung Yung atau Doctrine of the Mean atau Ajaran Jalan Tengah merupakan salah satu bab yang terdapat dalam Li Chi Buku tentang Ritus. “Apendiks” dan Chung Yung menunjukkan fase terakhir dalam perkembangan metafisika dalam Konfusianisme Kuno.

Prinsip tentang Segala Sesuatu

Dao merupakan gagasan terpenting mengenai metafisika yang terdapat baik dalam “Appendiks” maupun Daoisme. Namun, pengertian mengenai dao dalam “Apendiks” dan Daoisme tidak sama. Menurut Daoisme, dao adalah sesuatu yang tak bernama, bahkan tidak dapat diberi nama. Namun, menurut penulis “Apendiks”, dao merupakan sesuatu yang dapat diberi nama. Maka, sangat mungkin dibicarakan.

Untuk membedakan dua konsep dao itu, Fung Yu-Lan menunjuk dao pada Daoisme sebagai Dao, dan dao pada “Apendiks” sebagai dao. Dao dalam Daoisme merupakan kesatuan yang darinya muncul segala perubahan yang terdapat dalam alam semesta. Sebaliknya, dao dalam “Apendiks” merupakan suatu prinsip yang mengatur perbedaan kategori dari segala sesuatu yang terdapat di alam semesta. Dao dalam arti ini mirip dengan konsep universalia di Barat. Dalam “Apendiks”, dao berarti sesuatu yang menjadikan sesuatu sebagai apa yang sudah seharusnya. Ada banyak dao semacam itu. Misalnya, dao kemaharajaan, dao kebapakan dan keanakan.

Dao: Produksi Segala Sesuatu

Di samping dao yang bersifat khusus, juga terdapat Dao kesatuan yang bersifat umum yang mengatur produksi segala sesuatu. “Apendiks III” menyebutkan: “Satu Yangdan satu Yin: dalam hal ini disebut Dao. Yang muncul kemudian darinya adalah kebajikan, dengan demikian, apa yang dilengkapi kebajikan adalah watak manusia.

Ketika sesuatu dihasilkan, maka harus ada sesuatu yang mampu menghasilkannya, juga harus ada sesuatu yang menjadi bahan yang darinya sesuatu dibuat. Yang adalah unsur aktif dan bersifat kuat, sedangkan yin adalah unsur pasif bersifat patuh. Sesuatu kadangkala bisa menjadi yang atau yin, sesuai dengan hubungannya dengan sesuatu yang lain. Misalnya, seorang laki-laki merupakan yangdalam hubungannya dengan istri, tetapi menjadi yin dalam hubungannya dengan ayah.

Ada dua jenis pernyataan dalam “Apendiks” yang perlu mendapat perhatian. Yang pertama, pernyataan-pernyataan tentang alam semesta dan segala sesuatu yang konkret di dalamnya. Kedua, pernyataan-pernyataan tentang simbol-simbol abstrak yi.

“Appendiks III” menyebutkan, “Penciptaan merupakan kebajikan tertinggi dari Langit. Menghasilkan dan menghasilkan kembali merupakan fungsi yi’. Di sini, muncul dua pernyataan. Pernyataan awal berhubungan dengan alam semesta, sedangkan yang disebut kemudian berhubungan dengan yi. Namun, pada waktu yang bersamaan, kedua pernyataan itu dapat saling dipertukarkan.

Dao: Tranformasi Segala Sesuatu

Yi bisa berarti transformasi dan perubahan. “Appendiks” menegaskan bahwa segala sesuatu di alam raya ini berada dalam proses perubahan. “Tidak ada tempat yang datar tanpa adanya onggokan, dan tidak ada kepergian tanpa kepulangan”. Kalimat itu ditafsirkan bahwa alam semesta berada dalam proses perubahan. Yi adalah dao yang tedapat pada proses tranformasi segala sesuatu.

Berbicara mengenai kesempurnaan, suatu proses mestinya terjadi pada tempat yang benar, cara yang benar, dan waktu yang benar, agar sampai pada kesempurnaan. Kebenaran biasanya ditandai dengan kata cheng (benar, tepat) dan chung (tengah, pusat, pertengahan). Chung dapat berarti sangat banyak ataupun sangat sedikit. Kecenderungan manusia secara alamiah adalah mengambil lebih banyak. Karena itu, baik “Appendiks” maupun Laozi memandang perbuatan yang berlebihan sebagai sebuah kejahatan yang besar.

“Appendiks” sependapat dengan Laozi bahwa agar berhasil, seseorang harus berhati-hati supaya tidak terlalu sukses; dan agar bisa terhindar dari kehilangan sesuatu, maka seseorang harus melengkapinya dengan sesuatu yang bertentangan dengannya. Ketika manusia berada di tengah manusia yang tertib, maka ia tidak akan lupa pada kekacauan. “Appendiks” juga sepakat dengan Laozi bahwa kerendahan hati dan kesederhanaan merupakan kebajikan luhur.

Jalan Tengah dan Harmoni

Pemikiran mengenai Chung dikembangkan dalam Chung YungChung sama dengan pemikiran Aristoteles mengenai ‘golden mean’ atau Jalan Tengah. Makna chungsesungguhnya adalah tidak terlalu banyak atau tidak terlalu sedikit: pas. Waktu adalah faktor penting dalam pemikiran tentang adanya sesuatu yang pas. Karena itu, kaum konfusianis sering menggunakan kata shih (tepat pada waktunya) yang berkonjugasi dengan kata chung. Di antara orang-orang bijaksana, Kongzi adalah orang yang paling tepat waktu.

Chung Yung mengatakan, “Keadaan tanpa terpengaruh oleh kesenangan atau kemarahan, kedudukan atau kegembiraan, digambarkan sebagai keadaan chung.” Namun, keadaan dapat menguasai diri digambarkan sebagai keadaan ho (harmoni). Chung adalah fondasi utama bagi dunia. Ho adalah jalan raya yang luas bagi dunia. Segera setelah ditetapkan chung dan ho, saat itu Langit dan Bumi menempati posisi yang selayaknya, dan semua makhluk akan terpelihara. Bila berbagai perasaan itu tidak muncul sama sekali, maka pikiran tidak akan bergerak terlalu jauh atau surut terlalu dekat. Inilah keadaan paling pas.

Harmoni adalah merekonsiliasikan perbedaan ke dalam kesatuan yang serasi. Harmoni bisa diilustrasikan dengan masakan. Air, cuka, acar, garam, dan prem, digunakan untuk memasak ikan. Dari bahan-bahan ini akan dihasilkan rasa baru yang berbeda, baik dari rasa cuka maupun rasa acar. Di pihak lain, keseragaman atau identitas bisa dipersamakan dengan usaha untuk membubui air dengan air atau membatasi kemerduan musik pada suatu not. Ho, yaitu harmoni, merupakan sesuatu yang bukannya tidak dapat digandengkan dengan perbedaan. Namun sebaliknya, harmoni bisa dihasilkan ketika hal-hal yang berbeda dibentuk dalam satu kesatuan. Tetapi, agar mencapai harmoni, masing-masing yang berbeda harus hadir dalam proporsinya yang tepat, itulah chung. Dengan demikian, fungsi chung adalah untuk mencapai harmoni. Harmoni tidak hanya terbatas pada masyarakat manusia, tetapi meliputi juga alam semesta, yang disebut dengan Harmoni Tertinggi.

Yang Umum dan Yang Biasa

Salah satu konsep penting dalam Chung Yung  adalah mengenai yang umum dan yang biasa. Konsep ini diungkapkan lewat kata yung. Makan dan minum adalah aktivitas manusia yang umum dan biasa. Namun, makan dan minum sedemikian penting sehingga tak seorangpun yang mampu untuk tidak makan dan minum. Kedudukan makan dan minum sama penting antara hubungan antara manusia dengan kebajikan moral. Yang demikian ini merupakan jalan atau Dao. Budaya spiritual dan instruksi moral merupakan pengembangan dari jalan ini.

Budaya spiritual berfungsi memberikan kepada orang suatu pemahaman bahwa mereka semuanya benar-benar mengikuti jalan, sehingga dengan demikian menyebabkan mereka sadar tentang apa yang mereka perbuat. Selanjutnya, meskipun semua orang didorong semaksimal mungkin mengikuti ”Jalan”, namun tidak semuanya dapat mengikutinya hingga mencapai kesempurnaan. Dengan demikian, walaupun semua orang—bahkan dalam segala sifatnya yang awam dan dungu—mengikuti jalan semaksimal mungkin, namun pengembangan spiritual masih tetap dibutuhkan untuk membawa mereka kepada pencerahan dan kesempurnaan.

Pencerahan dan Kesempurnaan

Dalam Chung Yung, kesempurnaan digambarkan sebagai ch’eng (ketulusan, kesungguhan) dan berkaitan dengan pencerahan. Chung Yung mengatakan: ”Kualitasch’eng sebenarnya tidak tergantung pada kesempurnaan diri seseorang. Karena dengan jalan tersebut seseorang dapat menyempurnakan segala sesuatu yang lain. Kesempurnaan terletak pada pada kualitas jen (rasa kemanusiaan).”

Berkaitan dengan pemyempurnaan diri seseorang, harus diingat bahwa hal demikian juga terdapat pada orang lain. Ia tidak dapat menyempurnakan dirinya bila mengabaikan kesempurnaan yang lain. Justru relasi dengan manusia lain menyempurnakan manusia. Ini berarti kembali pada tradisi Konfusius dan Menzius. Menyempurnakan diri berarti mengembangkan sepenuhnya apa yang telah ia terima dari Langit. Membantu yang lain berarti mengubah dan memelihara berbagai urusan Langit dan Bumi. Dengan memahami sepenuhnya arti penting dari berbagai hal ini, maka seseorang dimungkinkan untuk membentuk trinitas dengan Langit dan Bumi. Pemahaman macam inilah yang disebut dengan pencerahan, dan pembentukan trinitas disebut kesempurnaan.

Bagaimana mencapai trinitas? Apakah diperlukan hal-hal luar biasa? Jawabannya tidak. Yang dibutuhkan adalah melakukan hal-hal umum dan biasa serta melakukannya secara ”pas”. Dengan melaksanakan hal-hal itu, seseorang dapat mencapai kesatuan lahir dan batin, yaitu kesatuan antara Langit, Bumi, dan Manusia. Dengan cara ini, manusia bisa sampai pada keduniaan lain, sekaligus tidak kehilangan keduniawian ini.

Penganut Konfusianisme menyatukan manusia dengan alam semesta. Ini berbeda dengan metode Daoisme, yang lewat negasi pengetahuan mengembangkan jiwa di atas berbagai perbedaan yang biasa antara “yang ini” dengan “yang lain”. Di sini, metode kaum konfusianis melalui kasih mengembangkan jiwa di atas berbagai perbedaan yang lazim antara diri dengan segala sesuatu yang lain.


[1] Disarikan dari Fung Yu-Lan, A Short History of Chinese Philosophy, New York: Free Press, 1966, hlm. 38—48.

[2] Disarikan dari Fung Yu-Lan, A Short History of Chinese Philosophy, New York: Free Press, 1966, hlm. 68—79.

[3] Disarikan dari Fung Yu-Lan, A Short History of Chinese Philosophy, New York: Free Press, 1966, hlm. 143—154.

[4] Disarikan dari Fung Yu-Lan, A Short History of Chinese Philosophy, New York: Free Press, 1966, hlm. 166—177.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s