Teks (Buku) dan Visualisasi

book

Teks (Buku) dan Visualisasi : Sebuah Usaha Penyingkapan Makna

 [Hasil Pembacaan Teks  “Pada Mulanya Sebuah Buku” karya Melani Budianta]

 

”Saya memahami lewat kedua mata saya, penanda (kata[1])

memiliki realitas yang dapat ditangkap oleh indra.[2]

(Roland Bhartes)

  

A. Mukadimah

(Tulisan ini mencoba membaca teks “Pada Mulanya Sebuah Buku” dengan mencoba mencari makna di balik visualisasi teks[3] itu sendiri.)

Dunia adalah visual. Diri kita ini pun adalah visual. Eksistensi bertubuh merupakan bukti bahwa manusia itu visual (dapat dilihat). Tanpa tubuh-visual ini, tak ada manusia. Dengan begitu, modus eksistensi manusia adalah visual. Jadi, pada dasarnya manusia itu tak bisa lepas dari perangkap visualitas yang telah tertanam dalam dirinya sejak ia dilahirkan di dunia (inheren).

Dalam konteks studi visual culture, kita diajak untuk mengkritisi masyarakat modern abad 21 ini di tengah-tengah kompleksnya visualisasi kehidupan dunia ini. Studi ini tentunya merangkul dan berjalan beriringan dengan perkembangan studi lainnya guna meningkatkan penelitian akademis interdisiplin ilmu dengan fokus ”visual” yang spesifik. Paradigma baru dalam studi visual culture mempresentasikan sebuah pandangan yang lebih holistik dalam pendekatannya terhadap dunia-visual ini.[4]

Segala sesuatu adalah sebuah obyek potensial dari studi visual culture, termasuktextual objects.[5] Sebuah teks (karangan) pada dasarnya adalah visual. Teks dapat terbaca karena teks memiliki aspek visual yang dapat ditangkap oleh indra manusia (mata), misalnya kertas, tinta, dan tulisannya (huruf per huruf, kata per kata, kalimat per kalimat, dan paragraf per paragraf). Itu semua yang membuat teks menjadi “teks, terbaca dan terpahami, tidak lagi hanya sekadar ide di dalam benak, namun kini tampakdan nyata ada di hadapan manusia. Dengan begitu, visualisasi dapat pula dipahami sebagai bentuk cara ber-ADA sebuah teks.

“Pada Mulanya Sebuah Buku” karya Melani Budianta merupakan contoh konkret, di mana pengalaman pribadinya berjumpa dan berdialog dengan buku dibagikan secara “visual”. Pengalaman itu dihadirkan dan dihidupkan kembali dalam sebuah teks, kemudian teks itu sendiri menghadirkan sebuah realita baru yang mengajak pembaca untuk masuk ke dalam pengalaman sang penulis, dan pembaca itu sendiri akhirnya berjumpa dengan imaji dan dunia idenya sendiri—sebuah dunia baruTeks di sini berfungsi “memvisualisasi” sebuah pengalaman konkret masa lalu dalam bentuk yang baru, yang tampak dan hadir saat ini, di sini, dan untuk masa yang akan datang. Teksdengan begitu menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan kehidupan manusia dalam historisitasnya (masa lalu, sekarang, dan masa depan). Dari sanalah, kita dapat menemukan sesuatu yang berharga bagi kehidupan manusia. Kemudian, pertanyaan dasar yang dapat diajukan, “Ada apa di balik teks (buku)?”

Guna menemukan apa yang terdapat di balik teks (buku), pertama-tama kita perlu untuk ”membaca”. Membaca itu sendiri merupakan kerja menafsir, kata Gadamer (Truth and Methods, 1980). Dan, menafsir itu sendiri merupakan sebuah usaha menemukan makna—makna yang dihurufkan oleh pengarang dari peristiwa atau pengalaman kehidupannya yang diwujudkan dalam aksara. Di sini tampaklah bahwa proses baca-membaca yang merupakan kerja tafsir-menafsir hanya mungkin dilakukan lewat bahasa. [6]

B. Teks: Bahasa dan Manusia

Teks (buku) merupakan sebuah media komunikasi. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena sebuah teks, melibatkan bahasa dan maksud-maksud yang hendak disampaikan oleh pihak penulis kepada pembaca. “Untuk mengatakan apakah manusia itu, kita harus berangkat dari bahasa. Tak ada fakta yang begitu universal dan yang begitu mengandung makna ’manusiawi’, selain bahasa.[7]

Bahasa pertama-tama adalah bahasa yang diterima, ”kata-kata yang ditujukan kepadaku”. Bahasalah yang menjadi pembawa visi dunia dan segala hal. Ini berarti bahwa makna dunia dan segala sesuatu di sekitarnya dibuka oleh bahasa. Bahasa memungkinkan manusia bergerak di dalam dunia ini dan mengaktualisasi makna eksistensinya. Bahasa juga mengkristalisasikan pemahaman praktis tentang dunia. Bahasa membantu aktualisasi dan pembentukan kesadaran. Melalui bahasa yang memberikan nama segala sesuatu dan segala objek, dunia menampakkan sosoknya sebagai dunia manusiawi dan dunia yang kita kenal. Bahasa mengkristalisasikan kebijaksanaan yang terkumpul dari satu generasi ke generasi lainnya.[8] Melani pun merasakan hal yang sama ketika mengingat perjumpaannya dengan sang ayah, seorang pendongeng ulung.

Masa kecil saya diisi oleh cerita-cerita lisan yang beraneka warna: dari cerita anak-anak klasik, legenda dan mitos sampai kisah jadi-jadian yang datang dari bisik-bisik pembantu rumah tangga. Ayah pendongeng ulung di keluarga. Pengalaman kocak di masa kecil, anekdot atau penggalan cerita silat atau wayang, kisah petualangan dari film dan tontonan teater adalah variasi menunya. Dalam bahasa Melayu pasar bercampur kosakata Jawa, Belanda, dan Inggris, ia menghadirkan Sun Go Kong, Anuman, Tiga Musketeer, Ali Baba, Sinbad dan tokoh-tokoh Seribu Satu Malam, Charlie Chaplin, dan Professor Linglung tokoh komedi karangannya sendiri.[9]

Pengalaman konkret Melani di atas menggugurkan pendapat bahwa subjek yang berpikir adalah pikiran murni, tanpa subjek yang berbicara. Sang Ayah yang dikenalnya ternyata pendongeng ulung—subjek yang berbicara. Tepat di sinilah Merleau-Ponty mengkritik cogito Descartes, di mana pikiran manusia dianggap dapat berbicara dalam interioritas kesadaran tanpa membutuhkan bahasa. Tak ada pikiran tanpa bahasa. Dari sinilah tampak bahwa manusia (yang berpikir) membutuhkan bahasa. Bahasa sebagai sarana pewahyuan persona (pribadi).[10]

C. Makna : Kenikmatan Utama Membaca

Dari teks ataupun pembaca, proses mendapatkan makna merupakan salah satu kenikmatan membaca yang utama. Pemaknaan tak bisa dilepaskan dari pembacanya, terbukti dari pemaknaan baru yang terus menerus didapatkan orang dari zaman ke zaman, atas teks-teks yang sama. Itu pula sebabnya, sebuah teks yang sama akan selalu memberi peluang pemaknaan baru ketika kita baca kembali dalam selang waktu yang berbeda. [11]

Seorang pemikir Prancis, Roland Barthes, menunjukkan bahwa keasyikan membaca buku-buku dibangkitkan dari kemampuan teks merangsang kreativitas pembacanya untuk menciptakan teks-teks baru di kepalanya, termasuk ketika ia membayangkan, menafsirkan, mengisi yang tak tertulis di situ. Maka, buku—melalui margin dan ruang-ruang senyap di antara teks—menawarkan undangan untuk menulis dan memproduksi makna atas teks yang dibaca.[12]

C.1. Buku: “Suprahistoris”  

Buku akan selalu menghantar kita pada kehidupan. Nietzsche berasumsi bahwa kehidupan bukan hanya lebih penting daripada ilmu sejarah, tapi juga memiliki kekuatan yang lebih menentukan daripada pengetahuan kita. Jika demikian, penelitian sejarah harus mengabdi pada kehidupan. Artinya, studi sejarah harus menghasilkan kebahagiaan manusia. Selain itu, Nietzsche juga menjelaskan mengenai “suprahistoris” (übergeschichtlich), yang berarti bahwa masa silam bisa mengajarkan sesuatu bagi masa kini, bahkan menjadi nubuat bagi masa depan. Dengan kata lain, ada makna-makna yang melampaui perubahan sejarah.[13]

Secara keseluruhan tulisan Melani Budianta ini (Pada Mulanya Sebuah Buku) ingin menunjukkan unsur-unsur “suprahistoris” dari pengalaman perjumpaannya dengan buku. Hal ini dapat dengan jelas kita temukan dalam tulisannya.

Bau buku tua yang khas, bunyi halaman kertas yang dibalik dengan tangan, huruf-huruf yang menari-nari di atas kertas kekuningan bersama alunan suara kakak yang lembut, dan ilustrasi klasik yang cantik mengantar mimpi-mimpi masa kecil.

Ada berbagai jenis proses mengalami buku yang terjalin di acara sebelum tidur itu. Pertama, menyaksikan keajaiban cerita yang muncul dari baris-baris hitam di atas halaman buku-buku. Kedua, merasakan keakraban sensori dengan unsur-unsur kebendaan buku itu sendiri, rabaan permukaan kertasnya, sosok tampilan, dan aromanya yang khas. Ketiga, mengalami fungsi sosial buku tersebut, ketika ia menjalin keakraban emosional dan komunikasi antara yang membaca dan yang mendengarkan, dalam suasana yang menyenangkan dan rileks.[14]

Pengalaman masa kecilnya ketika didongengi oleh sang kakak sebelum tidur merupakan sebuah pengalaman yang begitu berkesan bagi Melani (berjumpa dengan buku)—itulah sejarah. Dari sejarah hidupnya itu, Melani menemukan sesuatu bagi kehidupan saat ini, bahwa ternyata ada berbagai jenis proses mengalami buku yang terjalin di acara sebelum tidur itu (menyaksikan keajaiban cerita, merasakan keakraban sensori, dan juga mengalami fungsi sosial buku tersebut). Dan, apa yang ditemukan Melani itu tidak hanya berhenti pada masa kini, melainkan juga menjadi sebuah nubuat bagi masa depan bahwa “buku pun dapat memberi arti yang mendalam bagi kehidupan” (Melani telah merasakannya dan melalui tulisannya tersebut  ia ingin membagikannya).  Dari sini, kebahagiaan ditemukan (“menyenangkan” dan membuat “rileks”), dan dengan sendirinya “suprahistoris” terungkap.

C.2. Buku dan Peradaban

Peradaban dapat dibangun melalui buku. Dari abad ke abad, dongeng dan cerita sudah mengisi hidup manusia dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Kemampuan manusia untuk membayangkan dunia di luar dirinya, serta menghayati perasaan dan pikiran orang lain, tidak bisa tidak menjadi dasar pengembangan akal budinya. DongengBawang Merah, Bawang Putih, cerita sejarah, sampai narasi besar dalam teori maupun strategi ekonomi, militer dan politik, semua mengandung alur, tokoh dan latar, unsur-unsur dasar sebuah cerita. Kisah-kisah besar dan kecil menggerakkan sejarah peradaban manusia. Melalui buku, kemanusiaan diabadikan.[15]

Menurut Driyarkara, peradaban manusia dapat ditempuh dalam tiga matra proses humanisasi, yaitu (1) tematisasi (penghayatan hidup yang diberi makna atau nilai), (2)universalisasi (kesadaran manusia yang dihayati bahwa nilai-nilai atau pemberian makna [tematisasi] juga berharga bagi sesamanya), (3) teorisasi (proses pemberian bingkai pengertian yang lebih mendalam, sistematis, dan dinamis pada tematisasi dan universalisasi).[16] Ketiga proses tersebut dapat ditemukan dalam sebuah buku (teks atau karangan). Bahkan, buku itu sendiri yang menjadi objek tematisasi, universalisasi, dan teorisasi. Melani menuliskannya demikian:

Pernah mendengar cerita seperti ini? Teringat salah satu film kungfu? Sebuah cerita silat Kho Ping Hoo? Perburuan buku yang menyimpan misteri kehidupan, atau rahasia alam hidup dan mati—sudah menjadi motif klasik berbagai kisah dunia. Kisah-kisah itu penuh dengan petualangan para pahlawan yang siap mempertaruhkan nyawa demi buku-buku. Legenda Kera Sakti, yang menceritakan perjalanan seorang pendeta Buddha, dengan tiga orang pengawal ajaibnya, tak kurang dan tak lebih adalah kisah perjalanan dan petualangan abadi untuk menemukan ”kitab suci kehidupan”. [17]

Penjelasan Melani di atas menunjukkan dengan jelas bahwa ”di dalam buku, proses tematisasiuniversalisasi, dan teorisasi dapat ditemukan”. (1) Tematisasi dimulai ketika ”perburuan buku” diperjuangkan dengan sungguh karena yakin bahwa dalam buku itu ada misteri kehidupan. (2) Kemudian, Universalisasi dilanjutkan dengan membawa motif bahwa melalui buku (kitab), ”rahasia kehidupan” dapat dipahami, berguna, dan bermanfaat bagi manusia, tidak hanya sebagai pribadi melainkan juga sebagai seluruh umat manusia—kolektif. (3) Dan  akhirnya, Teorisasi dapat ditemukan bahwa ternyata kisah-kisah (dunia) pada akhirnya adalah kisah perjalanan dan petualangan abadi untuk menemukan ”kitab suci kehidupan”.

Namun sayangnya, proses ”memanusiakan manusia” ini juga mengalami kejatuhan ketika ”darah dan air-mata masih juga sering terkucur dalam pertentangan penafsiran ’rahasia kehidupan’, ketika pengikut satu kitab tak bisa menerima keberadaan pengikut kitab lainnya.”[18] Hal ini, menurut Melani, sering terjadi di tengah-tengah kehidupan kita yang dibesarkan dalam agama yang berbasis kitab-kitab suci.[19] Dan di sinilah, pandangan Levinas menjadi relevan, di mana kita diajak untuk menghargai ”Yang Lain” sebagai ”Yang Lain”, di mana ”Yang Lain” itu menjadi sebuah undangan bagi kita untuk berbuat baik. Hal ini tidak hanya sekadar berhenti pada tataran kognitif belaka melainkan sampai pada realisasinya di kehidupan sehari-hari, dan itu pun berarti harus tampak-nyata di depan mata, tervisualisasikan dengan jelas. Dan tepat di sanalah, kita dapat menemukan bahwa buku menjadi ”nyata” dalam peradaban—menyingkap rahasia kehidupan—jika terealisasikan (tervisualisasikan) dalam hidup sehari-hari.

C.3. Dunia Cerita dan Pengetahuan

Jembatan yang membawa saya ke dunia pengetahuan, ternyata tak lebih tak kurang adalah dunia cerita.[20] Tabir antara dunia pengetahuan dan dunia cerita terkuak, dan saya mulai belajar dengan haus. Pelajaran sejarah menjadi hidup dan menarik. Sebaliknya imajinasi saya membantu untuk memahami fenomena alam dan tumbuhan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sejak itu tidak ada masalah lagi dengan sekolah.[21]

Apa yang diungkapkan oleh Melani di atas merupakan sebuah gumpalan pengalaman yang dialaminya mulai kelas 4 sekolah dasar.

Untunglah datang seorang dewi penyelamat. Ibu guru kelas empat, cantik, ramah, dan sangat senang bercerita. Cerita-ceritanya tidak hanya disampaikan sebagai selingan pelajaran, seperti guru-guru sebelumnya, tapi menjiwai setiap substansi pelajaran itu sendiri. Saya masih teringat pertama kali belajar tentang pecahan. Ibu Guru bercerita tentang seorang janda miskin beranak empat, dan satu kue bulat untuk makan hari itu. Tentu Ibu Guru tak lupa menggambar bulatan kue itu di papantulis. Bagaimana caranya membagi kue yang satu itu secara adil kepada keempat anaknya? Selebihnya adalah pelajaran tentang pecahan biasa.[22]

Di balik cerita ada pengetahuan. Selain esensi cerita [23] itu sendiri, Melani juga ingin menekankan mengenai metodologi. Berdasarkan pengalaman Melani, pengetahuan dapat ditransferkan dengan cara yang efisien melalui medium cerita yang dapat membangkitkan imajinasi. Imajinasi ini tervisualisasikan di dalam diri manusia sehingga memudahkan untuk menangkap dan memahami sesuatu, khususnya ilmu pengetahuan. Inilah yang ingin disampaikan oleh Melani. Dan pada saat yang sama, ia juga ingin mengkritik metode lazim yang digunakan selama ini dalam proses belajar-mengajar di berbagai sekolah, yang cenderung memberi teori-teori kering tanpa ada nuansa ”kehidupan” di sana. Melani menemukan bahwa ternyata cerita dapat menjadi salah satu solusinya karena cerita juga mempunyai fungsi terapis, yakni membangkitkan rasa keterlibatan[24] (menghidupkan). Teori-teori yang ada di dalam buku (teks) dapat dihidupkan kembali (divisualisasikan) melalui cerita, dan pesan (ilmu pengetahuan) pun akhirnya dapat tersampaikan dengan baik dan lebih mudah dipahami.

C.4. Interaksi Personal Bersama Buku

Buku memberi ruang kebebasan bagi manusia. Interaksi dengan buku dapat dikontrol penuh oleh manusia.

Kita bisa menutupnya jika merasa mengantuk atau bosan, melompati halaman-halamannya, atau kalau penasaran, mengintip akhir buku. Kita bisa menunda proses membaca, menyimpan kenikmatan itu untuk lain waktu, atau langsung melahapnya sampai habis. Kemungkinan untuk menunda dan berhenti memberi peluang untuk mengolah atau menggeluti isinya.[25]

Kita dapat menunda atau mempercepat klimaks. Lalu, menjadi pertanyaan selanjutnya, ”Apakah medium lain (mis. Internet) tidak mungkin memberi kenikmatan semacam itu?” Tentu dengan suara lantang kita dapat mengatakan bahwa medium lain (seperti Internet) pun dapat memberi kenikmatan yang tidak jauh berbeda. ”Lalu, apa keunggulan buku?” Melani menjelaskan bahwa kenikmatan membaca (seperti yang sudah dijelaskan di atas) telah dikawinkan pula dengan materi fisik buku itu sendiri, ”Daya tarik buku secara fisik dan daya tarik buku karena isi yang dikandungnya, adalah dua hal yang tak terpisahkan.[26]” Inilah keunggulan buku.

”Tanda tangan di atas buku, oleh pemiliknya, pengarangnya, atau orang yang memberikan buku itu sebagai hadiah, memberikan nuansa kepemilikan pribadi yang intim terhadap buku.”[27] Dengan sifatnya yang portable, buku bisa menemani pembaca di ranah yang pribadi: di dekat bantal menjelang tidur, di atas sofa sambil mendengarkan musik, maupun di ranah publik yang ingar-bingar: untuk mengisi waktu sambil tergoncang-goncang di atas kereta api atau angkot, atau menunggu di ruang praktik dokter gigi.[28]

Dengan demikian interaksi personal dengan buku tak dapat digantikan oleh lainnya (mis. Internet). Kekhasan ini tentunya menjadikan buku mendapat ruang yang sangat pribadi, yang dalam konteks peradaban modern dianggap sah, sopan, dan diterima. Orang lain dapat mengerti walaupun kadang sedikit geli, jika tiba-tiba kita terkikik atau mengusap air mata.[29] Justru, hal itu semakin jelas meneguhkan bahwa interaksi personal bersama buku tidak hanya bersifat artifisial (permukaan) belaka, melainkan juga dapat masuk lebih ”dalam” (merasuk) dan menggugah hati.

C.5. Teks: Cermin Kehidupan

”Seorang nenek mengawali hari yang riang untuk menyiapkan oleh-oleh buat cucu yang akan dikunjunginya di sebuah kota metropolitan. Semua persiapan, perpisahan manis dengan tetangga, perjalanan santai di kereta, berakhir di ujung senja yang lengang di kota yang bising, ketika sang Nenek menyadari alamat sang cucu tidak ada padanya.”

Inilah yang disebut oleh Putu Wijaya sebagai sebuah teks yang efektif. Menurut Putu,teks disebut efektif, jika teks itu mampu menyentuh atau bahkan mengusik pembacanya, justru bukan yang menentramkan.[30] Lalu, ”Apakah yang dilakukan sang Nenek itu sia-sia belaka?” Di sanalah ironi dan absurditas terekam jelas. Mengusik dan menggugat. Memiliki akhir yang tak terselesaikan. Kesimpulan yang tak tersebutkan. Ada gugatan-gugatan yang bertubi-tubi. Bahkan sebuah pertanyaan besar yang tak terjawab. Itu semua yang menghantar kita masuk dan menyelaminya. Akhirnya, teks itu sendiri yang akan membawa kita menemukan kembali kehidupan kita yang penuh tanda tanya. Di sini, teks menjadi cermin kehidupan—kehidupan yang selalu mengusik dalam usaha mengungkap makna.

 

D. Interlude: Teks dan Interaksi Visual

(Setelah menyelami dunia makna dalam teks, marilah kita melihat kembali interaksi yang terjadi di dalamnya. Dalam point ini, saya akan beranjak dari interaksi visual dan kemudian berusaha menemukan pola interaksi tersebut dalam teks secara singkat.)

Interaksi visual sebuah citra atau penggambaran (images) selalu berhubungan dengan dua macam partisipan, yaitu (1) Representasi partisipan (orang, tempat, dan barang-barang yang dilukiskan dalam citra atau penggambaran), (2) Interaktif partisipan(seseorang yang berkomunikasi dengan ”yang lain” melalui citra-citra, misalnya seniman, produser, penonton, dlsb.). Dari sini muncul pula tiga macam relasi, yaitu (1) relasi antara representasi partisipan, (2) relasi antara interaktif dan representasi partisipan, dan (3) relasi antara interaktif partisipan[31].

Dalam membaca teks ”Pada Mulanya Sebuah Buku” karya Melani Budianta, ”interaksi visual” pun terjadi; dua macam partisipan dan ketiga pola relasi di atas juga dapat kita temukan. (1) Representasi partisipan dapat ditemukan dalam setiap kata, kalimat, dan paragraf (images) yang mencoba menjelaskan dan menggambarkan pemikiran sang penulis (Melani). (2) Interaktif partisipan dapat ditemukan dalam diri penulis (Melani) dan setiap pembaca. Dan dari sinilah, ketiga pola relasi dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Relasi antara representasi partisipan: relasi ini dapat kita temukan dalam hubungan setiap kata, kalimat, dan paragraf dalam tulisan atau karangan Melani, yang membangun sebuah ide atau cerita yang menyeluruh mengenai pengalamannya berjumpa dengan buku. (2) Relasi antara interaktif dan representasi partisipan:relasi ini dapat dibangun dari dialog antara (a) penulis dengan teks (tulisan)-nya(Melani berhadapan dengan pengalaman dan ide-idenya mengenai buku dan berusaha dituangkannya dalam sebuah tulisan), dan (b) pembaca dengan teks yang dibaca(setiap pembaca berhadapan dengan teks karangan Melani dan di sanalah interaksi mulai terjadi[32]), (3) Relasi antara interaktif partisipan: sebuah dialog antara pembaca dan penulis dalam sebuah konteks tertentu[33] (melalui tulisan Melani [Pada Mulanya Sebuah Buku], pembaca secara tidak langsung berinteraksi dengan sang penulis melalui teks tersebut[34]).

E. Penutup: Masa Depan Buku?

Rangkaian pembahasan, pemaparan, dan penjelasan dalam tulisan ini akhirnya dapat dikatakan bermuara pada sebuah usaha menguraikan makna teks (buku). Dari sanalah kita dapat menemukan bahwa ternyata buku adalah jendela dunia. Setiap kali membukanya, tambahlah bentangan cakrawala kita. Dia juga guru dan teman dialog, yang dengan suka rela kita mengikuti arahannya, ketika dengan perasaan membelalak, kita kagum akan kedalaman hikmatnya. Dia juga kaki, yang karena proses peletakan watak sebagai hasil interaksi dengannya, membuat kita tak gamang menjalani kembara kehidupan. Buku adalah teman ngobrol, sepanjang peziarahan hidup kita.[35]

Setelah panjang lebar berbicara mengenai buku (teks). Pertanyaan kritis yang dapat diajukan, “Akankah buku bertahan di masa depan?” Salah satu guncangan terhadap masa depan buku konon datang dari revolusi teknologi. Bahkan, saat ini telah berkembang pesat teknologi digital yang dapat menciptakan buku elektronik. Tak perlu lagi ada perpustakaan besar yang dibangun dengan kekuatan yang mampu menahan ribuan ton buku. Cukup rak-rak CD dan sejumlah terminal komputer.[36]

Akan tetapi bagaimanapun juga, pengalaman sensori membalik dan menyentuh buku-buku, meraba tulisan, kertas dan ilustrasinya, masih merupakan kebutuhan yang belum akan berakhir dalam waktu lama. Seperti halnya piano yang tidak punah dengan munculnya organ, buku-buku kertas tidak akan serta merta hilang dengan datangnya buku elektronik.[37] Dengan begitu, tampak jelas di sini bahwa sisi visual sebuah buku merupakan sebuah kekuatan tersendiri yang mampu menangkis dan menahan serangan digitalisasi yang berkembang saat ini. Dan, melalui sisi itulah buku masih memiliki harapan di masa depan.*

DAFTAR PUSTAKA

 

Hardiman, F. Budi. 2007. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia.

Hidayat, Komaruddin & Putut Widjanarko (ed.). 2008. Reinventing Indonesia. Jakarta: Jababeka.

Jaworski, Adam dan Nikolas Coupland (ed.). 2006. The Discourse Reader. New York: Routledge.

Mahyuddin, Ikramullah (penerjemah). 2007. Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol, dan Representasi (karya Roland Bhartes). Yogyakarta: Jalasutra.

Piliang, Yasraf Amir. 2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Sastrapratedja, M. 2007. Filsafat Manusia (Diktat). Jakarta: STF Driyarkara.

Sularto, St., dkk (ed.) 2004. Bukuku Kakiku. Jakarta: Gramedia.

Sutrisno, Mudji. 2006. Drijarkara: Filsuf yang Mengubah Indonesia. Yogyakarta: Galang Press.

Tjahjadi, Simon Petrus L. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius.

 

Sumber Internet

University of Wisconsin-Madison. 2007. “Visual Culture” dalam http://www.visualculture.wisc.edu/whatisvisualculture.htm, diakses pada 29 Oktober 2008, pkl. 22.58 WIB.

http://www.bearbookstore.com/, diakses pada 24 Oktober 2008, pkl. 09.54 WIB.


[1] Bdk. Anika Lemaire, seorang penulis yang mengupas pemikiran-pemikiran Lacan secara komprehensif di dalam bukunya, “Jacques Lacan”, menjelaskan bahwa di dalam bahasa, semua kata itu juga merupakan penanda (signifier) yang berfungsi untuk menjelaskan bentuk atau ekspresi. (Yasraf Amir Piliang, 2003, Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna, Yogyakarta: Jalasutra, hlm. 204 & 258.)

[2] Bdk. Ikramullah Mahyuddin (penerjemah), 2007, Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol, dan Representasi (karya Roland Bhartes)Yogyakarta: Jalasutra, hlm. 307.

[3] Visualisasi teks itu terdapat dalam setiap huruf , kata, dan paragraf yang merangkai sebuah karangan (pengalaman penulis) yang terdapat dalam teks tersebut (“Pada Mulanya Sebuah Buku”). Pada tulisan ini, lebih berfokus pada kalimat atau paragraf yang ditulis oleh Melani dan berusaha menemukan maknanya.

[4] Bdk. University of Wisconsin-Madison, 2007, “Visual Culture” dalam http://www.visualculture.wisc.edu/whatis- visualculture.htm, diakses pada 29 Oktober 2008, pkl. 22.58 WIB.

[5] Ibid.

[6] Bdk. Mudji Sutrisno, 2008, ”Membaca Wajah-Wajah Kebudayaan” dalam Reinventing Indonesia (ed. Komaruddin Hidayat & Putut Widjanarko)Jakarta: Jababeka, hlm. 363.

[7] Bdk. M. Sastrapratedja, 2007, Filsafat Manusia (Diktat), Jakarta: STF Driyarkara, hlm. 40.

[8] Bdk. M. Sastrapratedja, 2007, Filsafat Manusia (Diktat), Jakarta: STF Driyarkara, hlm. 40.

[9] Melani Budianta, 2004, “Pada Mulanya Sebuah Buku” dalam Bukuku Kakiku (ed. St. Sularto, dkk), Jakarta: Gramedia, hlm. 153-154.

[10] Bdk. M. Sastrapratedja, 2007, hlm. 40.

[11] Melani Budianta, 2004, hlm. 165.

[12] Ibid.

[13] Bdk. F. Budi Hardiman, 2007, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, hlm. 266.

[14] Melani Budianta, 2004, “Pada Mulanya Sebuah Buku” dalam Bukuku Kakiku  (ed. St. Sularto, dkk), Jakarta: Gramedia, hlm. 156-157.

[15] Melani Budianta, 2004, hlm. 153.

[16] Bdk. Mudji Sutrisno, 2006, Drijarkara: Filsuf yang Mengubah Indonesia, Yogyakarta: Galang Press, hlm. 64.

[17] Melani Budianta, 2004, “Pada Mulanya Sebuah Buku” dalam Bukuku Kakiku  (ed. St. Sularto, dkk), Jakarta: Gramedia, hlm. 150.

[18] Melani Budianta, 2004, hlm. 150.

[19] Ibid.

[20] Melani Budianta, 2004, “Pada Mulanya Sebuah Buku” dalam Bukuku Kakiku  (ed. St. Sularto, dkk), Jakarta: Gramedia, hlm. 154.

[21] Melani Budianta, 2004, hlm. 155.

[22] Melani Budianta, 2004, hlm. 154-155.

[23] Esensi cerita yang dimaksud di sini adalah “setiap cerita memuat sebuah pesan (apakah itu mengenai baik-buruk, benar-salah, atau bahkan melampaui itu semua), di sana selalu ada pengetahuan yang ingin disampaikan kepada para pendengar atau pembaca”.

[24] Bdk. Simon Petrus L. Tjahjadi, 2004, Petualangan Intelektual, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 80.

[25] Melani Budianta, 2004, hlm. 163.

[26] Melani Budianta, 2004, hlm. 162.

[27] Ibid..

[28] Melani Budianta, 2004, hlm. 163.

[29] Ibid.

[30] Melani Budianta, 2004, hlm. 166.

[31] Bdk. Gunther Kress dan Theo Van Leeuwen, 2006, “Visual Interaction” dalam The Discourse Reader (ed. Adam Jaworski dan Nikolas Coupland), New York: Routledge, hlm. 362.

[32] Penekanannya (fokus) lebih pada interaksi pembaca dengan teks (tanpa memperhitungkan si penulis). Pada relasi antara interaktif dan representasi partisipan ini, teks bukan hanya sekadar sarana / medium melainkan lebih sebagai “sesama” yang terlibat dalam relasi.

[33] Tepat di situlah, dapat kita temukan sebuah jarak antara konteks penulis (writers) dan konteks pembaca (readers) karena penulis absent dari locus of reception. (Bdk. Gunther Kress dan Theo Van Leeuwen, 2006, “Visual Interaction” dalam The Discourse Reader (ed. Adam Jaworski dan Nikolas Coupland), New York: Routledge, hlm. 364.)

[34] Berbeda dengan relasi antara interaktif dan representasi partisipan, di sini penulis ikut terlibat (diperhitungkan), sedangkan teks hanya sebagai sarana / medium relasi.

[35] Bdk. http://www.bearbookstore.com/, diakses pada 24 Oktober 2008, pkl. 09.54 WIB.

[36] Melani Budianta, 2004, “Pada Mulanya Sebuah Buku” dalam Bukuku Kakiku  (ed. St. Sularto, dkk), Jakarta: Gramedia, hlm. 168.

[37] Melani Budianta, 2004, hlm. 169.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s