Karl Rahner: Ekaristi

monstrance

EKARISTI[1]

Merenungkan kembali ekaristi – sebuah perayaan misteri iman yang penuh rahmat – yang kita rayakan secara rutin adalah sebuah hal yang baik. Seringkali kita menemukan sebuah kenyataan bahwa ada kemalasan, keengganan, kebosanan, atau bahkan ada sebuah paksaan dari dalam diri yang mengharuskan kita merayakan ekaristi. Singkatnya, kadang-kadang (tidak selalu) kita dapat merasakan bahwa kita merayakan ekaristi tidak dengan hati yang lapang, melainkan tertekan oleh sebuah “keharusan”. [Hal ini bukan berarti juga harus dialami setiap orang, bisa jadi ada juga yang tidak pernah mengalaminya sama sekali.] Tapi yang jelas di sini, saya akan berusaha merenungkan ekaristi bersama dengan Karl Rahner.

Tulisan ini akan dibagi menjadi 8 bagian, yaitu (1) Ekaristi dan Keseharian; (2) Ekaristi dan Persembahan Ilahi; (3) Ekaristi dan Pertumbuhan dalam Rahmat; (4) Ekaristi sebagai Sakramen Gereja; (5) Pemakluman Kematian Kristus; (6) Sakramen Kemanusiaan (Humanitas); (7) Sakramen Kesucian; (8) Batu Pijakan dan Pusat Kehidupan (Imami).

Mukadimah[2]

Sakramen Ekaristi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai satu dari tujuh sakramen yang ada dalam Gereja. Melainkan, Ekaristi perlu dipandang selalu melibatkan setiap individu dan membawanya dari waktu ke waktu untuk kembali masuk menjadi bagian dari komunitas Kristus. Inilah sakramen Gereja dalam arti yang sangat radikal. Justru melalui Perjamuan Tuhan yang sangat penting ini, pendirian Gereja dan pemahaman mengenai Yesus sebagai mediator keselamatan dinyatakan.

Melihat pentingnya dan betapa khususnya Ekaristi sebagai sakramen, maka perlu sedikit dibahas mengenai teologi alkitabiah. Istilah “Ekaristi” didasarkan pada Perjamuan Terakhir Yesus, terutama berdasarkan pada Luk 22:14-23 & 1 Kor 11:23-26. Di sana, menurut kata-kata-Nya sendiri, Yesus memberikan “Tubuh” dan “Darah”-Nya untuk dimakan dan diminum dalam rupa roti dan anggur. Isi dan makna tindakan ini juga terkait dengan ide kematian. Di sini, ide kematian merupakan sesuatu yang sangat penting. Yesus menerima penderitaan-Nya secara sadar dan menghubungkannya dengan isi pengajaran-Nya, khususnya di tengah-tengah Perjamuan Malam Terakhir. Selain itu, Perjamuan ini dipahami sebagai sebuah Perjamuan Makan Eskatologis yang merupakan sebuah bentuk antisipasi dari sukacita Perjamuan Final dan Definitif nantinya. Dengan begitu, Perjamuan bersama Yesus ini membentuk sebuah ide mengenai komunitas, di mana persatuan antara Yesus dan kawan-kawan-Nya dinyatakan dan menjadi dasar komunitas di antara mereka sendiri.

Menurut penggunaan Semit, “tubuh” menunjuk pada tubuh Yesus yang nyata. Yesus menjadi hamba Allah secara mutlak (Yes 42: 6; 49:8). Yesus mengalami kematian yang berdarah. Yesuslah hamba Allah yang menerima kekerasan dan kematian dalam ketaatan bebas. Dengan demikian, Ia menetapkan Perjanjian Baru. Identitas Ekaristi Gereja, Tubuh dan Darah Yesus didefinisikan cukup tepat dalam Surat Pertama kepada Jemaat di Korintus: Inilah Tubuh yang ditawarkan Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir. Inilah Tubuh Yesus yang disalibkan dan dengan memakannya maka kematian Yesus dinyatakan sebagai sebuah bentuk penyelamatan. Ini adalah Daging dan Darah yang ditinggikan, dengan memakannya, setiap individu dimasukkan ke dalam komunitas pneumatic Tubuh Yesus Kristus. Keabadian Sajian Gereja ini dihubungkan pula dengan perintah-Nya untuk selalu mengenang Dia, “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.” Dengan mandat-Nya untuk terus melakukan “ini”, ada sebuah jaminan bahwa realitas total Kristus selalu hadir dan berdampak di mana pun Perjamuan Tuhan dirayakan secara sah oleh para murid Yesus.

Pada saat yang sama pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib hadir pula dalam setiap Perayaan Ekaristi yang kita rayakan. Di sanalah Tubuh dan Darah Kristus selalu hadir kembali sebagai korban nyata yang menebus kita semua, satu untuk selamanya. Satu korban yang selalu hadir dalam sejarah. Oleh karena itu, inkarnasi, kebangkitan, dan kemuliaan Yesus juga hadir di sana.

Melalui Ekaristi, ditawarkan pula sebuah anugerah “relasi”. Melalui Tubuh dan Darah-Nya, “relasi” yang paling intens ingin dinyatakan dan ditawarkan kepada kita. Partisipasi ini tidak hanya bersifat pribadi semata, melainkan juga memiliki aspek komunitas, di mana kita juga ikut terlibat aktif di dalamnya. Melalui Ekaristi, Yesus yang penuh kasih, taat kepada Bapa, penuh belas kasih, mengampuni, dan penuh kesabaran dapat pula kita temukan. Dengan begitu, Perjamuan Tuhan juga memiliki aspek sosial dan eklesiologis, bahwa dalam Ekaristi, keselamatan tidak dapat dibatalkan; Allah untuk semua orang hadir, nyata, dan tampak di dunia ini. Ekaristi di sini juga ingin menunjukkan bahwa komunitas orang yang percaya diharapkan menjadi model dan tanda akan kehadiran rahmat dan keselamatan Allah. Selain itu, Ekaristi juga merupakan aktualisasi sepenuhnya mengenai hakekat Gereja. Kristus hadir dalam Gereja, Kristus hadir dalam Ekaristi, dan dengan begitu ingin menunjukkan pula bahwa Kristus hadir dalam ruang dan waktu – dalam sejarah umat manusia. Ekaristi menjadi tanda, manifestasi, dan aktualisasi paling nyata dari Gereja yang mewujudkan kesatuan akhir semua orang dalam Roh – suatu kesatuan yang telah didirikan oleh Allah sendiri dalam kasih karunia.

1.              Ekaristi dan Keseharian

Di dalam Ekaristi, anamnesis sakramental salib Kristus selalu terjadi dan hadir di sana. Dengan begitu, ingin ditunjukkan pula bahwa hidup kita ini ditopang oleh sikap taat dan cinta seorang Anak Manusia di atas kayu salib. Di mana pun, salib ini menopang kita. Bila manusia percaya, memiliki iman dan harapan, dengan begitu ia juga menyatakan sisi eksistensial dalam hidupnya, yaitu Salib Kristus.

Kita menerima dalam komuni, Tubuh dan Darah Kristus yang sesungguhnya. Hal ini ingin menunjukkan sebuah kesatuan dalam Kristus – sebuah fakta sakramen. Kesatuan spiritual dalam Kristus ini memberi “kedalaman abadi” sebagai sebuah anugerah Tuhan. Dengan menerima Tubuh dan Darah Kristus, sebuah jalan keselamatan dinyatakan bagi kita. Selain itu, Tubuh dan Darah Kristus juga merupakan sebuah anugerah dalam totalitas kehidupan manusia. Dengan begitu, Ekaristi juga membawa konsekuensi bagi kita untuk menunjukkan “anugerah” itu di dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai orang Kristiani.

Kita menerima roti para peziarah (dalam istilah Perjanjian Lama – Kel 12:11) dan menerimanya. Ini juga berarti bahwa kita masuk dalam rutinitas kita – dalam peziarahan hidup kita sehari-hari; kita menerima-Nya bahkan saat kita lemah, letih, hina, dan tertekan, namun tetap percaya bahwa kehidupan kita akan tetap terpelihara.

2.              Ekaristi dan Persembahan Ilahi

Semua ini diawali dari pengorbanan Allah-Manusia (God-man) di atas salib. Di sana, Yesus, dalam kemuliaan-Nya sebagai pribadi yang Ilahi sekaligus Manusiawi (divine-human person), menyerahkan diri-Nya kepada Bapa Yang Abadi, berkomitmen dengan penyerahan diri yang total, dan dengan cinta-Nya yang absolut. Inilah sebuah contoh persembahan diri yang ideal. Ada sebuah pengorbanan diri yang melibatkan ketaatan yang sepenuhnya, kesetiaan yang absolut, yang mengambil bagian dalam Salib (dan selalu hadir di dalam Ekaristi). Inilah korban Gereja, yang ikut serta dengan penuh kasih dalam korban Kristus, yang berhimpun untuk memuji dan memuliakan keagungan Ilahi dari Allah yang tak-terpahami. Sebagai seorang imam, seluruh hidup kita merupakan bagian dari Ekaristi, sebuah persembahan bagi Allah.

3.              Ekaristi dan Pertumbuhan dalam Rahmat

Ekaristi adalah sakramen yang membuat kita bertumbuh dan berkembang di dalam rahmat, jika kita menerimanya secara tulus dan sungguh-sungguh – sejauh kita dapat – dalam iman, harapan, dan kasih. Namun, kita hanya dapat bertumbuh dan berkembang dalam rahmat, jika kita pertama-tama bertumbuh dan berkembang dalam hidup, dalam situasi real iman, dalam pengharapan, dan dalam penyangkalan diri yang tunduk dalam Kehendak Allah.

4.              Ekaristi sebagai Sakramen Gereja

Ekaristi sebagai Sakramen Gereja tidak hanya dimengerti bahwa Gereja selalu merayakannya sebagai sebuah bentuk pelayanan (peribadatan) yang ambil bagian dalam komunitas yang suci. Melainkan juga, perlu dipahami di sini bahwa Gereja dalam sakramen Ekaristi juga menyatakan (merealisasi) dirinya, yaitu melaksanakan ekspresi sakramental, menjadi tanda yang efektif dan menghadirkan kekudusan dan kesatuannya dalam kasih persaudaraan dan perutusannya.

Berbicara mengenai Sakramen Gereja, maka di sini kita perlu juga berbicara mengenai Gereja itu sendiri, khususnya Gereja Lokal. Gereja Lokal tidak hanya sebuah area administratif, sebuah provinsi dari Gereja, melainkan dalam sense teologis yang mendalam – dalam terminologi Paulus – adalah Gereja itu sendiri. Dan, Ekaristi juga merupakan sarana yang paling dalam dan final untuk menyatakan Gereja secara keseluruhan.

Korban ekaristi juga secara natural (kodrati) berasal dari sumber cinta dan tidak hanya berhenti pada persoalan institusional dan administratif belaka. Maka, keimaman dalam Perjanjian Baru juga harus ditopang oleh cinta kasih pada sesama. Jika hal itu sangat esensial dalam kesatuan Gereja, maka kita pun diajak untuk mencintai dan mengasihi antara satu dengan yang lain, kita satu tubuh karena kita saling berbagi dalam roti yang sama. Dan di sini, Ekaristi  menjadi sumber yang sangat penting bagi bentuk (pola) cinta kasih kita kepada sesama secara konkret. Inilah yang perlu diperhatikan juga dalam misi imami kita.

5.              Pemakluman Kematian Kristus

Ekaristi sebagai sakramen juga menyatakan kematian Kristus. “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1 Kor 11: 26). Kita menerima Tubuh-Nya yang dibagikan bagi kita, dan minum Darah-Nya yang dicurahkan bagi kita. Sakramen Ekaristi juga ingin mengajak kita untuk mengatakan “Ya” pada Salib Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan begitu, kematian Kristus dalam hidup kita sehari-hari dinyatakan kembali.

Sakramen ini juga ingin menyatakan 3 buah bentuk kerendahan hati :

  1. Mau terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus       menjadi nyata di dalam tubuh kita yang fana ini ( Bdk. 2 Kor 4: 11),
  1. Menyerahkan seluruh hidup kita kepada kehendak Bapa (Bdk. Yes 53: 7), dan
  2. Pergi ke luar (perkemahan) dan berani menanggung kehinaan-Nya (Bdk. Ibr 13:13).

Di sini, kita juga dapat melihat bahwa sakramen Ekaristi juga merupakan sebuah anamnesis yang penting dan eksistensial mengenai Penderitaan Kristus. Selain itu, Ekaristi juga mengajak kita untuk selalu siap-sedia, berani, dan memiliki kekuatan untuk menanggung penderitaan dan dapat menerimanya dengan tenang dan obyektif sebagai sebuah pengorbanan yang telah menjadi bagian dalam panggilan hidup kita sebagai seorang Kristiani.

6.              Sakramen Kemanusiaan (Humanitas)

Sakramen Ekaristi juga merupakan sakramen kemanusiaan. Kita menerima Tubuh Tuhan. Tubuh, bermakna transfigurasi, Tubuh yang Bangkit. Tubuh tetaplah merupakan sesuatu yang dimiliki bumi ini. Bahkan Tuhan tidak dapat mengoyak suatu bagian dari material di bumi ini tanpa adanya koneksi internal dengan lingkungan sebelumnya.

Kejasmanian ini merupakan tanda dari kemanusiawian kita: “tubuh” dalam sense biblis berarti material, duniawi, penderitaan, manusia yang sekarat / mati; keseluruhan manusia.Lalu, jika Yesus berbicara mengenai “tubuh” (Mat 26:26), yang Ia berikan kepada kita, itu berarti keseluruhan diri-Nya, dalam arti yang konkret. Dan, melalui cara ini (menerima tubuh-Nya), kebertubuhan kita menjadi sakramen rahmat Ilahi. Ini berarti juga bahwa rahmat Ilahi itu juga mempengaruhi kebertubuhan kita dengan menjaga, mentransfigurasi, menyempurnakan, dan menegaskan kodrat kemanusiaan dari eksistensi manusiawi yang kita miliki. Dengan begitu, secara lebih sempit dapat dikatakan bahwa Sakramen Ekaristi merupakan Sakramen Kemanusiaan (Manusiawi), yang memberikan rahmat Kristus yang menyembuhkan, mentransfigurasi, menegaskan, menyempurnakan eksistensi manusiawi kita, menjaga, menguduskan dan memastikan bahwa semuanya berada dalam rahmat-Nya.

7.              Sakramen Kesucian

Sakramen Ekaristi juga merupakan Sakramen Kesucian, “obat dari keabadian” (medicine of immortality) (Ignatius dari Antiokhia), janji dari kemuliaan yang akan datang, tanda akan “ramalan” kemuliaan abadi, antisipasi di bawah tanda sakramental, yang pada suatu hari akan berakhir pada : Ekaristi Kehidupan Abadi.

8.              Batu Pijakan dan Pusat Kehidupan (Imami)

Ekaristi merupakan pusat dari eksistensi kehidupan (imami), di mana manusia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah yang absolut dengan seluruh kekuatannya yang berasal dari cintanya, di mana seorang Kristiani benar-benar digenggam dan dipegang dalam Salib Kristus. Kita pun dapat berkata bahwa ekaristi merupakan sakramen hidup (imami) kita. Lalu, pertanyaannya bagi kita : “Apakah hidup kita (yang selalu merayakan Ekaristi) benar-benar menjadi tanda yang berbuah bagi diri kita sendiri dan sesama?” Paulus mengatakan bahwa seluruh hidup orang kristiani merupakan liturgi dan ibadahnya. Ini merupakan ekspresi yang sesungguhnya, yang menunjukkan kehidupan imami kita, dan dengan begitu kita tahu untuk apa kita merayakan ekaristi.


[1] Bdk. Rahner, Karl, 1973, “Eucharist” dalam Priesthood, New York: The Seabury Press, hlm. 208-215.

[2] Bdk. Rahner, Karl, 1978/1994, “Remarks on the Christian Life: The Sacramental Life: Eucharist” dalam Foundation of Christian Faith: An Introduction to the Idea of Christianity, New York: Crossroad, hlm. 424-427.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s