Campursari: Nyanyian Hibrida Jawa Postkolonial

piano

CAMPURSARI

Nyanyian Hibrida dari Jawa Postkolonial[1]

sewu kuto uwis tak liwati, sewu ati tak takoni

nanging kabeh podo rangerteni

lungamu neng endi

pirang tahun aku nggoleki

saperene durung biso nemoni[2]

(Sewu Kuto, Didi Kempot)

Pengantar: Kebudayaan dan Kekuasaan

Sepenggal lirik lagu Sewu Kuto yang dibawakan oleh Didi Kempot di atas, ingin menunjukkan sebuah contoh lagu campursari yang sangat terkenal. Campursari merupakan salah satu genre musik yang  dipandang sebagai kebudayaan popular (popular culture) di tengah-tengah masyarakat Jawa.

Sejarah kesenian Jawa, baik hasil tulisan para sarjana Barat ataupun karya ahli dari Jawa sendiri, cenderung terperosok dalam narasi tentang apa yang oleh Schechner disebut sebagai “normative expectation”. Schechner (1993) menunjukkan, tulisan-tulisan tentang wayang misalnya, lebih banyak berisi tulisan tentang wayang kulit purwa yang berkembang di istana; sedangkan, wayang kulit Rebo Legen, wayang kulit di desa, wayang Suluh, atau wayang-wayang modern yang berkembang saat ini, nyaris tidak bisa ditemukan.

Schechner berkeyakinan bahwa wayang kulit yang “normative expectation” merupakan hasil kolaborasi pemikiran dari para ahli barat (Belanda) dengan kraton. Sejak seputar paro pertengahan abad ke-19, menurut Schechner, para sarjana Belanda menentukan sebuah gaya (pewayangan) bagi para seniman istana Jawa yang kemudian disebarluaskan[3] oleh para dalang didikan sekolah yang dibuka pada 1923 di Surakarta dan 1925 di Yogyakarta. Gaya inilah yang oleh Schechner disebut sebagai normative expectation, dan kemudian oleh para sarjana barat maupun orang Jawa sendiri digunakan sebagai patokan untuk memahami dan menilai wayang kulit yang “sesungguhnya”.

Normative expectation dalam pemahaman Schechner di atas, oleh banyak orang diyakini sebagai inti dari kesenian Jawa, atau yang benar-benar Jawa, dari dahulu sampai sekarang, dari barat hingga timur. Seni ini, yang kemudian sering disebut sebagai seniadiluhung, dianggap sebagai “kesenian Jawa sesungguhnya” (berasal dari kraton).

Sejarah kesenian yang normative expectation itu cenderung menafikan jenis-jenis kesenian yang berkembang di luar jalur tersebut, lalu memberinya label sebagai seni rakyat, bukan kesenian Jawa atau bahkan tidak dianggap sebagai seni. Jenis kesenian yang berkembang di luar kraton baru bisa dimasukkan ke dalam kategori seni jika dipandang memiliki kualitas yang baik atau paling tidak sesuai kebutuhan. Melalui pembenahan berupa penghalusan, pendalaman, perumitan, dan lain sebagainya, kesenian semacam itu diambil alih oleh kraton dan mendapatkan status sebagai kesenian dengan nilai rohani yang wigati.

Konstruksi pengetahuan seperti di atas belakangan menghasilkan “esensialisme baru” di kalangan orang-orang yang lazim disebut, atau menyebut diri, sebagai “seniman”. Mereka menganggap kesenian Jawa adalah jenis kesenian yang murni, tradisional, mengutamakan mutu rohaniah, halus, dan asli. Akibatnya, tatkala proses global menyentuh wilayah itu, dan publik kesenian itu menyambut secara pragmatis, “kalangan seniman” tersebut menuduh bahwa dunia kesenian sedang mengalami proses komersialisasi, pendangkalan, mengikuti selera pasar, dan seterusnya. Sekali lagi, kesenian semacam itu (misalnya campursari) lalu dianggap sebagai kesenian Jawa yang tidak asli, berubah[4], atau bahkan bukan kesenian Jawa sama sekali.

Campursari: “Jenis Musik (Hybrid) Baru”

Ada banyak kompleksitas dalam karya musik seni. Sesungguhnya, walau semua musik seni, sebagaimana halnya karya seni lainnya, mengandung sifat menghibur (penghiburan, menurut istilah Camus), tetapi tidak semua musik dan karya seni bersifat hiburan. Selalu ada bobot lebih di dalam bahasa pemaknaan yang terkandung pada karya seni yang tersirat dalam sifat-sifatnya yang merasuk kepada bahasa perenungan dan pengalaman kontemplatif dalam suatu sistem nilai yang jauh dari sekadar watak menghibur dan dunia hiburan semata. Maka, musik bukanlah sekadar nada dan irama yang merdu-merayu lewat telinga, tetapi mencakup juga seluruh substansi yang terkandung di dalam latar belakang sejarahnya.[5]

Dalam sejarahnya, campursari merupakan “jenis musik baru” yang berkembang secara luar biasa pada dekade 1980-an dan awal 1990-an. Pada masa kini perkembangan musik ini, dilihat dari jumlah penggemar, penyebaran dan produksi, jauh melebihi kemampuan hidup karawitan Jawa dan musik keroncong atau langgam yang menjadi “induk lokalnya”.Bahkan, campursari dapat dikatakan bertumbuh hampir sebanding dengan penyebaran musik pop Barat yang sarat modal dan teknologi. Perkembangan luar biasa campursari menjadikan induk lokalnya seolah-olah tenggelam olehnya. Hal ini menciptakan wacana tersendiri seputar persoalan identitas kesenian Jawa yang asli, nilai rohani, milik sendiri, modernitas, kemajuan dan sebagainya.

Secara sepintas-kilas, campursari terbangun dalam sejarah yang tidak berliku dan sederhana. Namun, percampuran musik yang secara kasat terdiri dari beberapa unsur dasar karawitan, keroncong atau langgam dan musik pop menjadi seperti sekarang ini, tidaklah mudah dan integratif. Niscaya ada begitu banyak suara yang tidak terdengar yang tidak selalu padu dalam percampuran musikal itu, tetapi sesungguhnya dia menjadi bagian yang tidak bisa begitu saja dianggap tidak ada. Dalam campursari berlangsung pertentangan kekuasaan yang menyertai percampuran (hybrid) musikal jenis musik baru tersebut. Dalam arti tertentu, adalah situs pertentangan kekuatan antara kelompok dominan beserta corak-corak siasat-siasat penentangan berupa: penanggulangan, pengelakan ataupun perlawanan diam-diam (resistensi) dari kaum subordinat.

Sebuah kondisi fundamental dari suatu genre adalah mempresentasikan speaking subjetdalam suatu kancah wacana yang majemuk (Bakhtin, 1937). Tidak ada dunia kebudayaan ataupun bahasa yang benar-benar integrated. Setiap upaya untuk menempatkan kesatuan abstrak semacam itu, niscaya adalah konstruk kekuasaan yang monologis. Sebuah kebudayaan merupakan dialog kreatif, yang secara konkrit terbuka, antara subsub kebudayaan, antara orang dalam dan orang luar, antara berbagai bagian. Dalam kaitan dengan resistensi, Fiske mengajukan istilah excoporation, yaitu suatu proses di mana kaum subordinat menciptakan kebudayaannya sendiri di luar sumber-sumber dan komoditi yang disediakan oleh sistem dominan. Bagi Fiske, tidak ada kebudayaan rakyat “asli” yang menyediakan alternatif, sehingga mereka akan menciptakan seni dari apa yang tersedia.

Orde “Ekonomi” Baru

Telah dibahas pada bagian terdahulu bahwa dalam sejarahnya, campursari merupakan “jenis musik baru” yang berkembang secara luar biasa pada dekade 1980-an dan awal 1990-an. Namun, sebenarnya jenis musik ini mulai muncul pada dekade 1960-an. Maka gambaran secara garis besar tentang keadaan sosial-ekonomi di seputar paro kedua dekade 1960-an hingga menjelang akhir abad 20 akan memberi kerangka pijakan bagi pemahaman atas genre musik campursari yang belakangan berkembang menjadi produk budaya yang mengagumkan.

Hill dan Mackie melukiskan, bahwa era 1990-an dalam banyak hal Indonesia sama sekali berbeda dari dekade 1960-an. Pada dekade 1960-an, ekonomi mengalami kekacauan hebat yang diantaranya ditandai oleh tingkat inflasi mencapai hampir 1.000 persen dan terjadi pula keruwetan dalam sistem birokrasi. Namun, dalam jangka kurang dari dua dekade, angka-angka dasar statistik terus menggambarkan langkah perubahan sosio-ekonomi secara mengesankan, ditandai dengan perubahan status Indonesia sebagai negara swasembada pangan[6] pada kurun 1985.

Perubahan yang tidak kalah dramatiknya juga terjadi di dunia sosial-budaya. Menurut Mackie, pertumbuhan ekonomi mendorong terjadinya lonjakan secara luar biasa jumlah kelas menengah perkotaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah negeri ini. Mall dan pasar swalayan bertumbuh secara pesat bahkan hingga kota-kota setingkat kabuapaten, dan modal-modal swasta juga bertumbuh pesat hingga melahirkan banyak konglomerat di sekitar dekade 1980-an.

Ledakan pertumbuhan ekonomi, langsung atau tidak langsung, juga berdampak pada sektor kebudayaan. Barbara Hatley mencatat bahwa, perkembangan budaya yang terjadi pada masa Orde Baru meliputi berbagai aspek, seperti bentuk-bentuk ekspresi kreatif tradisional dan musik populer. Hibridasi (percampuran) atas bentuk-bentuk budaya tradisional menjadi salah satu alternatif bagi pembentukan ekspresi budaya nasional.

Contoh hibridasi yang dapat kita temukan adalah campursari, yang pertama kali dipopulerkan oleh Manthous dengan memasukkan keyboard ke dalam orkestrasi gamelan pada sekitar akhir dekade 1980-an melalui kelompok gamelan “Maju Lancar”. Kemudian secara pesat masuk unsur-unsur baru seperti langgam Jawa (keroncong) serta akhirnya dangdut. Pada dekade 2000-an telah dikenal bentuk-bentuk campursari yang merupakan campuran gamelan dan keroncong (misalnya Kena Goda dari Nurhana), campuran gamelan dan dangdut, serta campuran keroncong dan dangdut (congdut, populer dari lagu-lagu Didi Kempot).[7]

Campursari dan Ideologi

Campursari bukan semata-mata  musik hasil percampuran (ricikan) dua tradisi yang berbeda. Dalam kerangka pandang kebudayaan popular seperti yang dikemukakan oleh Fiske, alat musik “Barat”(seperti: keyboard, electric guitar, dan drum set) yang dimainkan bersama-sama dengan jenis alat musik tradisional (seperti: kendang, saron, gender, dan gong), merupakan sebuah peristiwa adopsi ideologi melalui penggunaan komoditi (alat musik) itu. Setiap komoditi memproduksi ideologi dari sistem yang memproduksinya. Ideologi ini bekerja menghasilkan kesadaran palsu pada kaum subordinat dalam wilayah kebudayaan, termasuk juga dalam lapangan ekonomi, sehingga menjadikan sistem kapitalis tampak begitu alami, nyata dan seolah tiada lagi pilihan lain. Percampuran permainan alat musik dari tradisi barat ke dalam musik Jawa, dalam kerangka ini, lalu bermakna sebagai penempatan diri sebagai subyek yang terlibat, dan bahkan memberi ekspresi material atas ideologi itu.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, corak ideologi seperti apa yang direproduksi oleh komoditi alat musik “barat” dalam gejala campursari? Penggunaan alat musik “barat” (mis: keyboard) bukan semata-mata untuk pertimbangan musikal, yaitu untuk memperoleh warna bunyi tertentu yang hanya bisa dihasilkan alat-alat tersebut. Instrumen-instrumen itu (dari tradisi “barat”) digunakan untuk memainkan lagu-lagu bernada pentatonik dan yang kemudian menerbitkan genre musik campursari. Jadi, penggunaan alat musik barat justru lebih menyangkut persoalan identitas. Menggunakan alat musik itu dalam komposisi musik yang disajikan, akan berarti menjadi bagian dari masyarakat modern yang tidak kuno.

“Modernisasi”, “pembangunan”, dan semacamnya, memang menjadi jargon utama dalam wacana birokrasi maupun publik di Indonesia sejak pemerintahan Orde Baru. Sejak dasa warsa 70-an, modal asing leluasa masuk Indonesia didukung dengan berbagai kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi. Akhirnya, pada akhir dasa warsa 80-an, kondisi ekonomi nasional mengalami perubahan yang berdampak, salah satunya, pada tumbuhnya kebudayaan populer yang tidak lagi berpusar di Jakarta. Tak heran, dari sini terjadi modernisasi yang sesungguhnya (nyata) memberikan tempat kepada orang-orang pinggiran.

Campursari merupakan salah satu kebudayaan populer yang berkembang di luar pusat sebagai akibat tidak langsung dari pertumbuhan ekonomi beserta rangkaian ideologisnya dan menjadikan para pendukung tradisi lokal sebagai pasar primordial. Campursari hidup dan dihidupi bukan di pusat-pusat orientasi kebudayaan Jawa masa lalu, yaitu dua kraton dan kepangeran di Solo dan Jogja, ataupun Jakarta sebagai pusat Indonesia modern. Musik ini justru mulai dikembangkan dan akhirnya bertumbuh menjadi industri hiburan di daerah-daerah yang secara tradisional dianggap sebagai pinggiran.

Campursari: Seni Hybrid yang “Adiluhung”

Sistem ekonomi pasar dengan ideologi kapitalismenya, di Jawa menerbitkan beraneka produk budaya (cultural product) baru yang bersifat hybrid. Campursari merupakan salah satu kebudayaan populer di Jawa masa kini yang lahir dari persilangan antara sisa-sisa tradisi lama, sistem ekonomi pasar yang komersial dan kapilalistik serta ambisi-ambisi mobilitas sosial kelas menengah baru dalam struktur sosial kontemporer. Unsur-unsur tradisi Jawa lama yang sakral dan diagungkan dibungkus dalam kemasan-kemasan instant dan cita rasa baru untuk memperoleh keuntungan ekonomis serta simbol-simbol derajad sosial tinggi, yang sekaligus di dalamnya melibatkan pertentangan dan intrikasi idiologi yang rumit, tidak konsisten dan terpotong-potong.

Campursari, bagi para pelakunya adalah seni adiluhung yang harus dipertahankan dan dikembangkan, sebagaimana halnya seni Jawa lainnya seperti wayang kulit, karawitan, dan tari klasik. Penting untuk diketahui bahwa perbincangan mengenai sejarah adiluhung dari masa lalu (Jawa) Indonesia toh memiliki jejak langkah pada masa kolonial, terutama pada awal abad ke-20 di Hindia Belanda. Di satu sisi, ada para pendukung kebijakan pendidikan (gaya Barat) sebagai usaha memajukan bangsa ini. Namun, di pihak lain ada yang menjadi penentang, yang berpandangan bahwa kebijakan itu akan menghilangkan eksotisme suatu massa rakyat di tanah jajahan.

Gejala hibriditas antara tradisi, modernitas, dan politik identitas keluarga dan individu orang Jawa dapat tampak pada peristiwa perkawinan dengan pertunjukkan campursari yang diadakan di berbagai daerah pinggiran (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Pada peristiwa ini,tradisi ditunjukkan dengan berbagai ritual Jawa yang rumit dan dianggap begitu sakral dan religius. Hal ini dilatarbelakangi dengan ungkapan Jawa “ratu sahari” (raja sehari) bagi pasangan pengantin, sehingga sebuah peristiwa perkawinan dibayangkan sebagai sebuah peristiwa pertemuan agung di istana sebuah kerajaan. Selain itu, untuk menandakan bahwa akan ada sebuah pesta besar, tuan rumah biasanya akan memperdengarkan bunyi-bunyian seantero kampung bahkan kampung-kampung tetangga dengan peralatan sound-system (modern) yang disewanya. Bunyi-bunyian ini untuk menandakan akan adanya sebuah pesta besar. Hal ini menunjukkan sebuah modernitas. Pada masa-masa yang lalu, bunyi-bunyian itu adalah suara gamelan. Namun, sekarang telah tergantikan dengan peralatan yang lebih modern. Dengan begitu, jenis lagu yang dibawakan pun berubah, tidak lagi klenengan, melainkan campursari.

Pada pesta perkawinan, identitas lebih ditunjukkan dengan penampilan grup campursari. Pakaian para pemain musik yang menggunakan “blangkon Rambo[8]” dipadukan dengan celana panjang biasa—bukan jarik—lebih ingin menunjukkan sebuah “identitas baru”, di mana terjadi perpaduan antara budaya Jawa (blangkon) dan modernitas (celana panjang)[9]. Selain itu, dalam perayaan perkawinan nyanyian-nyanyian campursari biasanya disajikan secara berselang-seling di antara pidato-pidato, ritus-ritus wajib yang sakral, kesibukan menyajikan makanan, serta riuhnya obrolan para tamu. Dari sini tampaklah bahwa “identitas baru” ini menunjukkan kefleksibelannya berhadapan dengan berbagai situasi. Ia tidak membutuhkan berbagai macam “aturan ketat” seperti di kraton.

Penutup

Sejarah kesenian Jawa hampir berisi mengenai sejarah tentang kesenian istana. Istilah “adiluhung” adalah pemujaan  yang acap kali menjadi ukuran tentang kualitas dari sebuah produk budaya untuk bisa disebut kesenian, sehingga berakibat menyingkirkan jenis-jenis kesenian lain. Kesenian Jawa dianggap harus memiliki ciri halus, rumit, tradisional, asli yang umumnya hanya ada pada kesenian istana. Kesenian yang tidak memiliki ciri-ciri tersebut tidak dianggap sebagai kesenian, atau cukup dengan sebutan kesenian rakyat dan kadang tidak harus dianggap sebagai bagian dari sejarah.

Menurut Djaduk, seniman tradisional telah terlalu lama dininabobokan atas nama kesenian “adiluhung” sehingga tidak mau mengembangkan pola pikir dan bergerak maju.[10]Dengan campursari, kita dapat menemukan sebuah pengharapan baru, di mana sebuah gerak maju telah dimulai. Budaya populer-Jawa-masa kini lahir dari saling silang antara kapitalisme global, sisa-sisa tradisi lama, dan politik identitas keluarga atau individu orang Jawa. Sebuah gerakan maju bagi para subordinat dalam berkesenian. Seni tak lagi menjadi monopoli “penguasa” (kraton) melainkan milik setiap orang. Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana gerak maju ini tidak hanya merupakan sebuah perpaduan asal-asalan antara budaya tradisional dan modernitas yang dangkal dan tak bermakna.

Menurut Suka Hardjana (2003), di dalam kebudayaan yang ”maju”, secara umum berkembanglah pemahaman ilmiah, bahwa musik adalah rekayasa komposisi bunyi. Dengan berbagai aturan di dalamnya: adanya bentuk (form), kerangka dasar (struktur), nada-nada dengan parameter kepastian tinggi-rendah suara atau sound pitch yang selalu dapat diulang dan dipindahsuarakan (transposisi) dalam ketepatan ukuran yang sama, ritme (irama), melodi (lagu), dan organisasi suara-suara nada (harmoni) dalam berbagai suasana dan watak bunyi)[11]. Selain itu, gerak maju ini pun perlu untuk memperhatikan tradisi dan nilai-nilai luhur yang patut untuk dilestarikan.

Dalam tradisi perayaan perkawinan, campursari digunakan tidak hanya sebagai bebunyian penghibur dan pengisi waktu kosong melainkan lebih menunjukkan arena relasi kekuasaan antara kekuatan dominant dengan kaum subordinat. Tanda-tanda istana yang hadir dalam perayaan itu dibayangkan menandai ikatan pada keagungan masa lalu, keaslian, tradisionalitas, ke-Jawa-an. Pada saat yang sama, campursari ditampilkan untuk menegaskan penanda identitas lain (modernitas). Perayaan perkawinan dan campursari lalu menjadi arena di mana identitas-identitas individu dan keluarga Jawa masa kini menjadi jelas. Tanda-tanda kekuatan dominan masa lalu dihadirkan untuk sebagian dijadikan acuan; tetapi pada saat yang sama secara diam-diam dimanfaatkan untuk mengakui keberadaan identitas baru yang dikehendakinya. Akhirnya, kita dapat mengatakan,memahami campursari, memahami kehidupan.

***

Daftar Pustaka

 

Hardjana, Suka. Musik: Antara Kritik dan Apresiasi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2004.

Susanto, Budi (ed.).  Identitas dan Postkolonialitas di Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. 2003.

———————. Politik dan Postkolonialitas di Indonesia. Yogyakarta: Kanisius 2003.

 

Sumber Internet

Amori,Sjifa. “Mengapresiasi Nilai Intelektual Tradisional” dalam http: //jurnalnasional . com/?med  =tambahan&sec=OASE%20 BUDAYA&rbrk=&id=37950&detail= OASE%20BUDAYA, diakses  pada Jumat, 28 Maret 2008, pkl. 17.50 WIB.

http://septianka.web.ugm.ac.id, diakses pada Rabu, 27 Februari 2008, pkl. 20.34  WIB.

http://www.mail-achive.com/ ossei@ ahoogroups.com/ sg 126 html, diakses pada Senin, 3 Maret 2008, pkl. 17.25 WIB.

http://id.wikipedia.org/wiki/Campursari, diakses pada Senin 3 Maret 2008,

pkl. 17.40 WIB.

Tamba, Arie MP. “Bunyi” dalam http://jurnalnasional.com/? Med = tambahan & sec = OASE%20 BUDAYA&rbrk=&id=38071&detail=OASE%20BUDAYA, diakses pada Jumat, 28 Maret 2008, pkl. 17.55 WIB. 


[1] Disarikan dari Budi Setiono, “Campursari: Nyanyian Hibrida dari Jawa Postkolonial” dalam Budi Susanto, SJ, (ed.),  Identitas dan Postkolonialitas di Indonesia, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hal. 193-234.

[2] http://septianka.web.ugm.ac.id, diakses pada Rabu, 27 Februari 2008, pkl. 20.34 WIB.

[3] Secara sosiologis, tradisi pada dasarnya adalah survival system atau cara bertahan hidup untuk melanggengkan kestabilan system nilai yang dianggap benar dan dapat melindungi suatu kelompok masyarakat atau (suku) bangsa tertentu. Tradisi menjadi sangat berharga dan mutlak keberadaannya, ketika ia pada suatu tatanan tertentu menjadi ciri karakteristik yang khas untuk menandai adanya (eksisten) suatu kelompok masyarakat tertentu. (Suka Hardjana, “Gamelan Jawa dalam Budaya Kontemporer” dalam Musik: Antara Kritik dan Apresiasi, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004, hal. 510.

[4] Kesadaran atas perubahan yang terjadi di masyarakat, lebih banyak menimbulkan kreativitas baru dalam menciptakan karya seni yang mempunyai nilai-nilai sesuai dengan apa yang terjadi pada konteks persoalan keadaan sosial yang ada di sekelilingnya. (Syamsul Barry, “Radikalisme Dalam Seni: Seni pada Aksi Unjuk Rasa Turun Jalan” dalam Budi Susanto, SJ, (ed.),  Politik dan Postkolonialitas di Indonesia, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hal. 311.)

[5] Suka Hardjana, “Sejarah Musik di Atas Pentas” dalam Musik: Antara Kritik dan Apresiasi, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004, hal. 491-492.

[6] Menurut Faisal Basri dalam sebuah dialog di salah satu TV Swasta mengatakan bahwa kita (Indonesia pada masa Pak Harto) tidak swasembada pangan, melainkan hanya swasembada beras dan itupun hanya berlangsung kira-kira 2-3 tahun saja. (http://www.mail-achive.com/ ossei@ ahoogroups.com/ sg 126 html, diakses pada Senin, 3 Maret 2008, pkl. 17.25 WIB)

[7] Bdk. http://id.wikipedia.org/wiki/Campursari,diakses pada Senin 3 Maret 2008, pkl. 17.40 WIB.

[8] Blangkon yang pada bagian belakangnya dibiarkan tergerai panjang di antara pundak, sehingga mirip ikat kepala tokoh film “Rambo”.

[9] Campursari dalam dirinya sendiri sudah menunjukkan sebuah “identitas baru” dengan penggunaan alat-alat musik modern yang berpadu dengan gamelan, langgam, atau keroncong..

[10] Bdk. Sjifa Amori, “Mengapresiasi Nilai Intelektual Tradisional” dalam http: //jurnalnasional.com/? med =tambahan&sec=OASE%20 BUDAYA&rbrk=&id=37950&detail= OASE%20BUDAYA, diakses pada 28 Maret 2008, pkl. 17.50 WIB.

[11] Arie MP Tamba, “Bunyi” dalam http://jurnalnasional.com/? med=tambahan&sec=OASE%20 BUDAYA&rbrk=&id=38071&detail=OASE%20BUDAYA, diakses pada 28 Maret 2008, pkl. 17.55 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s