Balthasar: Manusia Sebagai Bahasa Tuhan

nenek

Manusia Sebagai Bahasa Tuhan

MAN AS THE LANGUAGE OF GOD

(Hans Urs von Balthasar)

 

“Praise and blame will pass away,

but the words of Shakespeare will not pass away.”

(Balthasar)

 

A.   Manusia, Bahasa Tuhan

Yesus Kristus adalah Sang Sabda. Ia adalah sabda dan bahasa itu sendiri. “Sabda dan Perkataan Tuhan” dalam kata dan perkataan manusia. Sebagai manusia fana (mortal / dapat mati), Ia menjadi bahasa dari Tuhan yang immortal (kekal-abadi). Bentuk dari Sabda-Nya membawa kepercayaan atau keyakinan itu sendiri. Dan, bahkan lebih dari itu, kata-kata dari “Puisi Termasyhur” adalah kesaksian itu sendiri. Kata-kata dari “Penyair Termasyhur” tidak dapat dipengaruhi oleh kritisisme filologis (berkaitan dengan ilmu [perkembangan] bahasa): kata-kata itu adalah kata-kata pada dirinya sendiri, dan merealisasikan apa yang kata-kata itu kehendaki, jadi tidak berfokus pada pujian maupun celaandari para ahli filologi. Pujian dan celaan akan pergi, tetapi kata-kata Shakespearetidak akan pernah musnah. Hal ini sama, bahkan lebih dengan Sabda Tuhan, Sabda-Nya dimuliakan melampaui segala sesuatu yang positif maupun yang negatif dari eksegesis (penafsiran teks) analitis maupun sistematis. Itu semua (eksegesis) akan pergi, namun Sabda akan tetap Ada.

Kristus itu memperhitungkan bahwa Sabda-Nya membawa lebihkepercayaan dan lebih efektif daripada semua mukjizat. Mukjizat merupakan sebuah pembuktian dan harus dimaknai bersama-sama dengan Sabda, tanpa Sabda mukjizat itu tak ada artinya, tak bermakna, tak ada pembuktian. Mukjizat itu menunjukkan sisi aktif dari Sabda, kenyataannya hanya Sabda sebagai Putra yang aktif. Sabda adalah kekuatan aksi (power of action). Seperti yang dikatakan Matius, ”Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ’Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.’”(Mat 8: 16-17). Mukjijat atau tanda yang terjadi di dunia tidak secara adekuat mewahyukan Ia yang di surga. Itu hanyalah terjemahan dari sesuatu yang ilahi sehingga dapat kita pahami.

Penderitaan dan kebangkitan-Nya identik dengan (Sabda) diri-Nya. ”Akulah kebangkitan dan hidup” (Bdk. Yoh 11: 25). Perkataan ini juga ingin mengungkapkan hal yang sama yang telah disampaikan oleh Matius bahwa Sabda-Nya akan selalu hidup, tidak akan pernah musnah (Bdk. Mat 24: 35 –”Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”). Ia mengubah kematian pada sebuah sabda, sabda-Nya sendiri, Sabda Tuhan.Sabda yang mengatasi kematian (menyembuhkan, menghidupkan orang mati) disejajarkan dengan Yesus yang dibangkitkan, mengalahkan kematian.

Di sini, Kuasa Tuhan disempurnakan. Tuhan tidak hanya berhenti pada Sabda Penciptaan. Dialog antara Tuhan dan manusia, Yahweh dan Zion, menjadi inkarnasi Sabda, sebuah Sabda tunggal yang merangkum semuanya dalam dirinya sendiri. Hal itu mengungkapkan dialog internal Tuhan, yang merepresentasikan afirmasi manusia akan Tuhan. Dan, dalam afirmasi itu setiap penolakan dihapus, tidak hanya secara simbolik, tetapi juga secara nyata (dalam penderitaan-Nya di atas Salib demi para pendosa).

Dalam satu kata (sabda) ada dua saksi yang berbicara (Yoh 8: 17 –”…kesaksian dua orang adalah sah…”)—Tuhan dan manusia, Bapa dan Putra—dan agar dapat dimengerti maka kita harus mendengar dan melihatnya secara stereoskopis (dilihat dengan tiga dimensi: Bapa, Putra, dan manusia).”Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya.” (Yoh 5 : 37-38). Dan ketika dua saksi itu ”…telah menyelesaikan kesaksian mereka, maka binatang yang muncul dari jurang maut, akan memerangi mereka dan mengalahkan serta membunuh mereka. Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani (alegori) disebut Sodom dan Mesir” (Why 11: 7-8) yang menurut para ahli filologi untukmemberi makan”Tetapi tiga setengah hari kemudian masuklah roh kehidupan dari Allah ke dalam mereka, sehingga mereka bangkit dan semua orang yang melihat mereka menjadi sangat takut. Dan orang-orang itu mendengar suatu suara yang nyaring dari sorga berkata kepada mereka: ”Naiklah ke mari!” Lalu naiklah mereka ke langit, diselubungi awan, disaksikan oleh musuh-musuh mereka” (Why 11: 11-12).

Sabda Tuhan, pada saat yang sama adalah sabda terakhir manusia dan dunia, mati dan dibangkitkan. Ia ditolak dan dibunuh. Dan, Ia bangkit dari kematian. Tidak ada pendekatan metode filologis untuk perspektif Ilahi-Insani ini, hanya iman yang dapat meraihnya. Banyak cara dipakai Sang Sabda untuk dapat dipahami manusia. Banyak pula cara yang Ia tawarkan pada manusia untuk memahami-Nya. Perjumpaan dengan-Nya tidak harus dari mata ke mata, tetapi dalam iman. Seseorang dapat menggambarkan (mendeskripsikan) bahasa yang digunakan oleh sebuah puisi termasyhur dengan merasakan (menemukan makna)-nya. Sedangkan dalam iman (tidak ada cara lain), kita dapat menangkapnafas Ilahi-Insani dari Sabda ini. Injil bukanlah sebuah koleksi tulisan yang dikumpulkan (dikompilasi) dengan teliti dari ”perkataan-perkataan” (logia). Menurut Max Picard, ”Di dalam Injil, Sabda bergerak selalu dari pembicara (speaker) pada obyek, kembali lagi kepada pembicara, dan kembali lagi kepada obyek. Hal itu seolah-olah ada penghalang-penghalang antara kata-kata individu karena struktur vertikal ini; seseorang selalu melewati suatu penghalang untuk menuju pada kata berikutnya.” Kata-kata (sabda) tidak dapat dibaca secara horizontal agar dapat dipahami; kata-kata itu merujuk secara vertikal pada kedalaman hidup Logos yang hidup. Maka, perumpamaan-perumpamaan tidak membuat sebuah sistem kebenaran sendiri, karena kebenaran eksternal tidak dapat dibagi dalam jalan ini. Itu semua mengalir keluar dari pusat Ilahi yang sama.

Penting untuk memandang bahwa manusia sebagai ciptaan yang bersifat spiritual sekaligus jasmani, merupakan Sabda Allah, dan memiliki kuasa menjawab. Elemen ini (spiritual sekaligus jasmani) juga menjadi elemen penting dalam kata-kata (sabda) dan keber-Ada-an Kristus. Ia adalah perkataan Tuhan, yang mengalami dirinya sendiri, dengan demikian, memiliki kuasa untukmenjawab. Dalam Sabda Ilahi-Insani, manusia akan selalu menyadari bahwa bukan dia, melainkan Tuhan yang berbicara; manusia dengan seluruh pengetahuannya yg mistis, tidak pernah dapat meraih ide kebangkitan atas kematian. Kristus adalah sabda terakhir (the last word[1]).

Perubahan bentuk sabda menjadi daging akhirnya menjadi nyata. Sabda turun secara vertikal dari tempat yang tertinggi masuk ke dalam kesia-siaan yang terakhir dari kekosongan waktu dan kematian tanpa harapan. Sabda ini tidak mengubah kematian secara puitis (tidak berhenti hanya pada kata-kata), danbermain di sekitar kematian; melainkan Ia juga menembus ke dasar ”kematian yang tak berbentuk” dan ”kesunyian kematian yang tak terkatakan” pada Sabtu Suci. Ia melewati waktu dalam genggaman-Nya dengan menguasai the inner time structure.

Manusia dalam Perjanjian Lama terbentang melampaui keterbatasannya masuk ke dalam sebuah rangkaian sejarah-keseluruhan. Dalam bintang-bintang yang tak terhitung banyaknya, Abraham melihat masa depan, betapa banyaknya keturunannya nanti (Bdk. Kej 15: 5). Ia diberi tanah masa depan, di mana ia dan keturunannya akan hidup—Kanaan (Bdk. Kej 17: 5). Ia bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita (Bdk. Yoh 8: 56). Namun, manusia Perjanjian Baru, hidup dan mati bersama Kristus (Bdk. Rom 6: 4; Kol 2: 12). Kehidupan sejati datang sebagai  masa depan yang menyampaikan ”masa lalu yang penuh dosa telah terlewati dan kini hadir sebuah ruang yang kekal.” Isi dari waktu historis masa lampau dan masa depan dilihat dari sudut pandang penciptaan yang akan selalu diukur oleh waktu penyelamatan Kristus dan Sabda-Nya yang substansialIlahi-insani, menderita, dan bangkit. 

Perjalanan turun sabda menjadi daging identik dengan daging yang terpenuhi sabda kekal Allah: perjalanan naik daging dalam kuasa sabda ilahi. Tubuh dari Sang Putra yang mati, dibangkitkan oleh kekuatan sabda ilahi Sang Bapa. Ia sendiri adalah Allah, dan dalam kemanusiaan-Nya, Ia bergantung pada Allah. Ketergantungan ini menyediakan sebuah jalan bagi kehidupan kekal melampaui waktu dan kesia-siaan belaka.

Perkataan-Nya yang temporal (terbatas), dikatakan atau dihidupi, selalu merupakan ”sabda kehidupan kekal” (Bdk. Yoh 6: 68) yang menyuarakan kebenaran abadi. Bahasa ini mengungkapkan keseluruhan yang tak pernah dapat dikatakan dalam sekali. Bagaimanapun juga, keseluruhan ikut serta di dalamnya. Yang dapat menyatukan adalah kesetiaan (akan misi Bapa) yang tak berubah. Itu sudah cukup. Hal ini dapat dikatakan sebagai iman, harapan, dan kasih. Hal itu membebaskan kita dari kejatuhan yang penuh dosa. Dengan itu,tanah asing (ingat tanah yang dijanjikan Allah pada Abraham – Kej 17: 5) menjadi sebuah rumah dalam dua arti (arah): surga di dunia dan dunia di surga.

 

B. Perjalanan Melalui Waktu

Sabda Tuhan berjalan melalui waktu. Segala sesuatu dalam perjalan-Nya merupakan sabda dan wahyu Bapa, tetapi juga wahyu akan kebenaran atas keberadaan manusia. Tuhan berharap menunjukkan diri-Nya sendiri dalam hidup ini, tetapi Tuhan ingin menyatakan diri-Nya sebagai Sabda Kekal bagi manusia melalui jalan ini (menjadi manusia), bukan sekadar kebetulan (insidental), melainkan lebih-lebih, menunjukkannya sebagai sebuah jawaban akan ”Manusia di hadapan Tuhan dan dalam Tuhan”.

Hidup manusia terbentuk dalam waktu: ia ditabur dan bertunas, menjadi anak kecil dan dewasa. Ia tidak dapat menjadi kedua-duanya dalam waktu yang bersamaan. Kodrat ini berjalan melalui perubahan dari waktu ke waktu yang merupakan akibat dari sebuah hukum misterius: di mana dalam setiap tahap ia menjadi manusia yang utuh dan komplit dalam pikiran kreatif Allah.

Setiap tahap perkembangan (usia) memiliki karakteristiknya masing-masing dan mengeksklusi (mengasingkan) yang satu dengan yang lain. Anak kecil dan pemuda seringkali dianggap sebagai manusia yang belum utuh (sempurna). Ia dianggap masih merealisasikan setengah ”kedewasaan” (kesempurnaan)-nya. Namun di lain pihak, manusia dewasa (utuh), bahkan orang yang sudah tua, akan selalu juga berhasrat untuk kembali lagi meraih bagian-bagian masa kecil dan masa muda-nya yang terlewatkan. Walaupun demikian, tahap-tahap usia ini bagaikan lukisan dalam galeri (di mana setiap lukisan tidak dapat dipisahkan dari yang satu dengan yang lain dalam membentuk sebuah rangkaian cerita atau tema). Maksudnya, setiap tahap usia ikut serta dalam aliran waktu dan mengalirkan dirinya sendiri yang memiliki maknanya dalam jalan progresivitas (maju) yang tidak dapat ”diputar” kembali.

Manusia yang dapat mengatur kehidupannya berarti manusia yang dapat mengintegrasikan masa-masa hidupnya (the seasons of life): ia dapat meletakkan masa kecil-nya ke dalam bagian masa muda-nya, dan masa muda-nya dapat diletakkan pula dalam kedewasaannya. Kepenuhan integrasi dari kehidupan yang fana ini, bagaimanapun juga hanya dapat diharapkan dalam sebuah super-time, di mana arti atau makna abadi dari setiap momen kehidupan dapat ditemukan arahnya dalam sungai-waktu. Harapan ini mengalir dari hasrat impian manusia (the dreaming longing of mankind)—ini terwujud  dalam mitos-mitos yang ingin menjadikan yang fana kekal, bebas dari keterbatasan-keterbatasan yang ada (menjadi tua dan mati). Bagaimana kini hal itu menjadi mungkin ketika mitos-mitos itu tinggal kenangan?

Hal ini berbeda ketika Sabda Tuhan menjadi manusiaSetiap periode hidup manusia itu mencirikan sebuah pewahyuan akan keabadian. Jika Sabda Abadi-Nya menjadi seorang anak kecil, anak kecil ini dalam kerangka kerja pewahyuan ilahi menjadi ekspresi kepenuhan kebenaran abadi dan kehidupan kekal. Hal ini merupakan sebuah jalan baru yang mentransendensikan diri melampaui manusia.

Maria dan Yesus dalam Kristianitas merupakan sesuatu yang unik. Mereka adalah pasangan yang tak ada bandingnya, yang menempatkan relasi setiap ibu dan anaknya dalam sinar Rahmat Abadi, yang menyatakan kejayaan-Nya. Kemanusiaan hadir melalui Maria. Manusia diikutsertakan dalam karya-Nya. Hal ini ingin menunjukkan pula keterlibatan bahwa setiap anak manusia menjadi teman bermain kanak-kanak Yesus (Christ-child), dan seluruh manusia menjadi saudara dari Putra Allah. Bahkan, untuk orang yang bukan Kristen, yang tidak mengetahui keunikan ini, gambaran ini tetap dapat berbicara sesuatu. (1) Kristus yang tersalib akan berbicara sesuatu pada mereka (Kristus tampak nyata di hadapan mereka) meskipun mereka hanya melihatnya sebagai manusia biasa.(2) Kristus yang bangkit, Kristus yang naik ke dalam sebuah surga yang tak kelihatan, tetap berbicara pula pada mereka (Kristus hadir di hadapan mereka). Sedangkan bagi orang yang percaya, pembicaraan ini tidak hanya berdasar analogi antara hidup pada umumnya dengan hidup Sang Sabda yang mewahyukan Allah, tetapi lebih analogi yang melihat bahwa seluruh ciptaan telah dirancang berkaitan dengan kemenangan (penyelamatan) unik ini, dan bahwa setiap anak dipilih menjadi teman bermain Kanak-kanak Yesus dan setiap orang menjadi saudara-Nya.

Kristus dalam setiap tahap kehidupan-Nya merupakan Sabda Tuhan yang benar-benar valid (utuh)—tidak hanya ketika Ia mewahyukan diri secara umum (publik), melainkan juga ketika Ia mewahyukan diri secara personal pada setiap individu; tidak hanya ketika Sabda-Nya ditulis, melainkan juga ketika seringkali Sabda-Nya terlupakan (tidak ditulis); tidak hanya ketika Ia berkata-kata, melainkan juga ketika Ia hening berdoa. Dalam seluruh tahap kehidupan-Nya, Sabda Tuhan tetap utuh (sempurna), tak terbagi.

Kehidupan-Nya merupakan sebuah gambaran akan kehidupan abadi: Anak Manusia yang turun ke dunia dalam sebuah relasi yang mendalam (misterius) antara waktu dan kehidupan. Pengalaman-Nya sebagai manusia memang seperti kita (manusia biasa), tapi tetap saja, Ia ”larut namun tidak hanyut” dalam aliran waktu (masuk ke dalam namun Ia tidak terbawa arus begitu saja). Ia tidak meletakkan diri-Nya pada kekosongan, melainkan pada tangan Bapa.

Ia merangkul seluruh bentuk eksistensi manusia di dalam keabadiaan.Seorang Anak Manusia yang menerima kebebasan dan kuasa Allah melampaui bentuk-bentuk temporal (terbatas). Ia dapat mencurahkan kepenuhan hidup abadi-Nya. ”Saat ini” dijadikan-Nya abadi dengan pilihan-pilihan-Nya yang tidak melakukan kekerasan dalam diri-Nya sebagai manusia. Ia datang ke beberapa orang sebagai anak kecil (child), dan kepada yang lainnya sebagai seorang manusia dewasa (man): kedua bentuk ini (child or man) sama benarnya (namun seringkali kedua-duanya hanyalah dilihat sebagai dua bentuk tahap kehidupan yang saling ”merendahkan” [dipertentangkan] dalam kapasitas mental manusia yang terbenam dalam temporalitas).

Yang terpenting di sini adalah ketika ”Seorang Anak” menjadi manusia, Ia telah memilih menjadi manusia, mengambil bentuk rupa manusia (sebuah kodrat temporal) atas diri-Nya, dan dalam diri-Nya, pribadi yang unik, melakukanpenerjemahan ke-Ilahi-an yang masuk ke dalam ciptaan. Ia memilih agar dapat dipahami oleh manusia. Berbagai macam gambaran muncul di sepanjang sejarah Gereja—kadangkala sebagai ”Anak Kecil”, lain waktu menjadi ”Anak Manusia” di Nazareth, atau di Bait Allah, atau di atas Salib, atau bangkit dalam kemuliaan-Nya. Setiap gambaran ini tetaplah utuh pada dirinya sendiri, tak terbagi (Ilahi-insani).

Sang Putra yang berada di tangan kanan Bapa sekarang bukan lagi seorang anak kecil yang memiliki tubuh insani, masuk ke dalam kefanaan, yang berbaring di atas tangan ibu-Nya di dunia. Melainkan kanak-kanak yang telah merangkum dalam keabadiannya seluruh masa kanak-kanak–Nya. Masa kanak-kanak-Nya pada saat itu juga menjadi Sabda pewahyuan yang berfokus pada ke-Ilahi-an-Nya.

Penderitaan-Nya pun nyata. Selama tiga jam penderitaan-Nya di atas salib, Ia menerobos waktu untuk menuju keabadian—waktu tak lagi dapat diukur sebagai waktu kronologis. Dan, dalam kebangkitan, Ia meletakkan diri-Nya dalam sebuahperjalanan dunia menuju pada kejayaan surgawi.

1. Sabda Sebagai Anak Kecil

Sabda Tuhan yang abadi telah menjadi seorang anak kecil. Ia tetap selalu menjadi seorang anak kecil. Ia tak pernah menjadi yang lain, selain seorang Anak Kekal dari Bapa (the eternal child of the Father). Karena Ia pernah menjadi seorang anak manusia, maka Ia dapat menyingkapkan terus-menerus “Kanak-kanak Abadi-Nya” dalam sebuah bentuk yang manusiawi dan dapat dipahami oleh manusia, dalam penampakan Tuhan sebagai seorang anak kecil.

Manusia memulai hidupnya dalam sebuah pertapaan hening di dalam rahim ibunya. Dalam tubuh sang ibu, sang anak mengalami perkembangan sedikit demi sedikit, tahap demi tahap. Ia menunjukkan kehadirannya jauh sebelum suara pertamanya terdengar. Ibu tidak menciptakan (produce) anaknya oleh dirinya sendiri. Benih sang anak diberikan pada sang ibu dari luar, dalam cinta yang membuka dirinya dan memanggilnya untuk memberikan diri. Anak dipelihara dari awal oleh kehidupan sang ibu. Tanpa kehangatan dan kenyamanan rahim dan tanpa sistem makanan yang dibangun di sekitar anak, ia dapat mati. Benih yang datang dari luar bersatu dengan ovum ibu—seperti Sabda yang datang dari luar dengan rahmat supernatural yang telah siap dalam diri Maria—agar dari momen itu terbentuk sebuah kesatuan yang menjadi model atau pola dari seluruh kesatuan di dunia.

Individu spiritual dibentuk dalam sabda (kata) dan kenyataan oleh keutuhannya (ketakterbagian-nya). Tak menjadi persoalan apakah dalam dirinya ada sifat-sifat ayah atau ibunya. Ia adalah sebuah refleksi (cerminan), dalam penciptaan, dari cinta Roh Kudus yang datang dari Bapa dan Putra, dalam kebebasan kuasa-Nya, dan kejayaan abadi yang menandai kepenuhan buah ilahi. Namun,siapa, yang dalam jiwanya Sabda Tuhan dapat bersemayam, dapat membedakan mana rahmat yang datang dari luar dan mana rahmat yang datang dari dalam, dapat mengerti apa itu Sabda, apakah kepadanya Sabda berkenan, dan apakah ia dapat memberi makan untuk pertumbuhan Sabda? Sabda mencari untuk menghubungkan diri-Nya pada ketaatan sebagai seorang anak kecil yang menghubungkan diri-Nya dengan ibu-Nya (Mat 12: 50; Mrk 4: 35; Luk 8: 21, ”…siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku). Relasi ini tidak mempengaruhi relasi dengan saudara laki-laki maupun saudara perempuan.

Kedua-duanya, Sabda dan Manusia patuh pada Bapa Abadi yang sama dalam persatuan darah yang sama. Manusia berbuah, mudah menerima, dan menyediakan tanah yang baik bagi Sabda (Mat 13: 23; Mrk 4: 20; Luk 8: 15). Hal ini merupakan buah-buah rohani dari jiwa yang ditumbuhkan oleh benih Sabda sendiri dan juga merupakan tanggapan (persetujuan) manusia secara sadar. Ada sebuah kerjasama antara kedua belah pihak. Ketika Sabda itu diterima, pada saat itu juga Ia bertumbuh.

Bapa memberikan Sabda-Nya dalam Roh Kudus kepada Sang Perawan sebagai benih yang bertubuh. Sabda Putra (The Child-Word) melekat pada kita dan mencari kehangatan dalam kelemahan tubuh manusia. Ini merupakan bahasa kerajaan-Nya. Rahasia kehamilan Sang Perawan tiada bandingnya.Kehamilan yang berasal dari Allah ini sama misteriusnya dengan kebangkitan Sang Putra[2].

Tidur dan Bermain

Tidur dan bermain merupakan dua aktivitas Sabda yang mempesona hati Theresia dari Lisieux. Ibu sangat sibuk mengurusi putranya sepanjang hari, baik ketika ia bermain maupun ketika ia sedang tidur. Sang Anak yang adalah Sabda Tuhan sendiri, juga tidak dapat ditinggalkan sendirian seperti seorang anak kecil kebanyakan. Jadi, Ibu-Nya pun harus selalu menjaga-Nya. Karena sang anak tidur, maka sang ibu berjaga (bangun). Ketika tidur, ia memberikan dirinya dengan bebas, dan sang ibu selalu berhati-hati dan menjaganya. Ketika tidur, ia lepas kontak, dan sang ibu melipatgandakan komunikasi. Dan, ketika sang ibu harus tidur, ia mengubah posisi sang bayi agar tidak terganggu oleh gerakan sang ibu. ”Saya tidur” kata mempelai perempuan dalam Song of Solomon, ”tetapi hatiku berjaga.” Ia memegang Ibu-Nya dalam sebuah relasi terus-menerus dengan diri-Nya.

”Bayi yang tertidur” berarti bahwa ia sedang tidak siap-sedia, tidak dapat diganggu; kita harus diam (tenang), dan menyimpan pertanyaan-pertanyaan dan permintaan kita. Kesalahan terjadi ketika para murid membangunkan Tuhan ketika Ia tertidur di atas perahu, sekalipun mereka berada di tengah-tengah gelombang dan badai.

Bermain. Dalam permainan anak-anak bebas menciptakan dunianya. Dan, kreativitas Tuhan yang bijaksana terwujud berdasarkan kata-kata-Nya sendiri, sebagai seorang anak, selama Bapa sedang bekerja dalam ciptaan (Bdk. Ams 8: 27-31).

Seseorang yang ingin benar-benar bermain, ia harus masuk ke dalam dunia Sang Anak. Hanya ada satu hal yang penting, yaitu kesiapsediaan untuk menuruti setiap permintaan. Saat ini menjadi pohon, lalu menjadi burung, atau menjadi sebuah balon merah, lalu bisa tiba-tiba menjadi kuda. Anak-anak dalam bermain seringkali tidak aturan (brutal), namun hal ini tidak berasal dari maksud jahat, melainkan lebih berasal dari rasa bahagia akan petualangan.

Kontemplasi

Namun, seorang anak juga merupakan seorang ahli kontemplasi. Ia berbaring dalam sebuah ayunan atau di padang rumput yang hijau dan di sana ia mengamat-amati sekitarnya. Ia memandang sekitarnya dalam beberapa jam. Dalam kontemplasinya itu, ia mulai mengenali sekitarnya, subyek dan obyek yang berasal dari Tuhan sendiri.

Dalam kerendahan hati-Nya, Sang Sabda menjadi Sabda Kontemplasi. Ia menjadi seorang anak kecil yang tak berdaya walaupun Ia memiliki kuasa yang besar. Ia menjadi the Little King (Raja yang Kecil). Hal ini ingin menunjukkan diri-Nya sendiri. Ia benar-benar menjadi kecil dan miskin. Hal ini menjadi sebuah jalan dan kondisi yang sangat penting akan sebuah kontemplasi yang sesungguhnya. Banyak dari Bapa-Bapa Gereja yang berdevosi pada Kanak-Kanak Yesus, seperti Hieronimus, Krisostomus, Fransiskus, Bonaventura, Antonius, dan Bernardus.

Sabda Abadi adalah Putra Bapa yang Kekal. Ide ini dituangkan dalam terang abadi ke atas anak manusia. Kehidupan setiap anak manusia dimulai pada titik yang sama, dalam sebuah kebaharuan yang absolut dari Ada. Ia memiliki ”permainan” yang sama, membutuhkan keamanan dalam dada ibu, ayah, dan keluarga. Dan, setiap anak mengerti, dan akan mengerti, bahwa perkataannya akan menjadi sebuah jawaban (kata) yang berasal dari cinta, sebagai sebuah ekspresi dari rasa syukur yang nyata.

2. Sabda Sebagai Seorang Remaja

Sabda (eksistensi harian-Nya) berubah dengan sangat halus (tidak kelihatan). Perubahan ini berasal dari munculnya alasan untuk menemukan dunia. Untuk menemukan diri-Nya sendiri. Untuk pengenalan misi-Nya secara bertahap, dengan semangat muda. Pengenalan ini juga diperoleh dalam doa, dalam seluruh bayangan akan proses pendewasaan manusia.

Dalam Injil, tidak ada yang menceritakan mengenai masa remaja Yesus (15- 20 th). Episode terakhir yang ditampilkan di Injil hanya pada waktu Ia berusia 12 tahun di dalam Bait Allah. Mungkin perkembangan hidup Yesus ini menjadi begitu privat bagi Bapa di surga untuk diungkapkan pada manusia, yang seringkali tidak mudah memahaminya dan dapat menimbulkan salah pengertian. Atau, hal ini menunjukkan apakah mungkin bahwa Manusia-Ilahi (God-man) ini memiliki juga kelebihan dan kekurangan, sama seperti pengalaman manusia yang ”terjatuh”, yang dibentuk dan dimurnikan oleh kehidupan sehari-hari yang berat. [Seorang anak muda seringkali hidup dengan tanpa pikir panjang, tidak memperhitungkan akibat, dan hanya mencari sebuah tantangan dalam hidup. Bagi mereka hal itu menyenangkan, termasuk menghadapi kematian. Dan, mereka terbiasa untuk berusaha memenangkannya. Sebuah periode yang penuh dengan fantasi dan penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas banyaknya mengenai impian akan masa depan.]

Ada 2 metode untuk memahami masa remaja Yesus berdasarkan pengalaman kita:

  1. Masa remaja Yesus dapat dipahami seperti pengalaman perkembangan hidup kita menuju Tuhan, di mana ada proses pemahaman mengenaiapa yang Tuhan kehendaki agar kita alami sebagai manusia.
  2. Sebagaimana kehendak Tuhan itu datang dari atas, dari kepenuhan Sabda Tuhan, kita dapat memaknai sikap dan perilaku Yesus yang dewasa(yang banyak dikisahkan dalam Injilsebagai cerminan ”masa remaja-Nya yang abadi”.

Kedua metode pendekatan ini tidak dapat dipisahkan dan kedua-duanya harus diletakkan bersama-sama. Ketika salah satunya gagal, maka yang lainnya masih dapat membantu kita. Pengalaman-Nya yang sulit dipahami oleh kita harus dijadikan sebuah pengalaman yang terpahami (a) melalui rahmat kristologis dan(b) melalui pengalaman kita sendiri (di mana kita dapat menemukan sebuah relasi dengan Kristus melampaui pengalaman itu sendiri).

Kehidupan Yesus pada masa remaja ini dapat digambarkan sebagai sebuah waktu yang tak terhitung dalam dekapan Ibu-Nya atau masa di mana Ia sering bermain dengan teman-Nya, Yohanes. Namun, siapa sahabat akrab-Nya, dan kepada siapa Ia dapat mengungkapkan seluruh perasaan-Nya? Di sini Balthasar mengungkapkan bahwa kesendirian nyaris tak dapat dipisahkan dalam kehidupan masa remaja Yesus. Masa remaja Yesus ini mungkin merupakan masa yang paling sunyi (penuh dengan kesendirian) di dalam hidup-Nya. Ia lebih banyak bercakap-cakap (berkomunikasi) dengan Bapa-nya, mengkomunikasikan perasaan-Nya.

Kini Si kanak-kanak menyelami ketakterbatasanIa menemukan kedalaman Ada-nya, dengan takut-takut sekaligus gembira. Hal ini mengejutkan, menggoda, membebani, tapi juga menarik. Dalam diri Sang Sabda ada pula antusiasme,yang berarti di sini Ia dikuasai oleh Roh, yaitu ”menjadi satu dalam Tuhan”. Perbuatan, kata-kata, dan tindakan-Nya dikagumi dan ditiru hingga sampai pada hal-hal yang detail. Dia-lah model yang sempurna.

Menjadi orang Kristen tidak hanya menjadi seorang anak kecil, melainkan juga menjadi seorang remaja dalam sebuah supratemporal yang menemukan arti manusia secara utuh. Sabda Tuhan menyatakan keabadian-Nya dalam kuasa yang penuh dengan semangat muda (youthful power). Yesus menjadi seorang remaja secara alami. Ia memberikan Roh yang menjadikan segala sesuatunya menjadi baru. Hal itu menunjukkan bahwa Roh Yesus selalu muda. Semangat muda itu juga diberikan pada Gereja dan para pengikutnya. Setiap orang yang hidupnya berpusat pada ”semangat muda” ini dapat ditunjukkan oleh kehidupan Para Kudus, di mana kebenaran Sabda (yang penuh dengan semangat muda itu) dapat ditemukan. Menurut orang Romawi pada saat itu (zaman Yesus), orang dikatakan muda jika berusia antara 20-40 tahun. Jadi,sebenarnya Yesus tidak pernah menjadi tua.

  

3. Sabda Sebagai Seorang Manusia (Dewasa)

Menurut sudut pandang Balthasar, kedewasaan di sini lebih dilihat sebagai kebutuhan akan pilihan. Seseorang akan selalu masuk dalam sebuah pilihan yang serius. Perkataan dan hidup-Nya sejalan. Dalam kedewasaan, keseriusan dari perbuatan perlu dinyatakan. Semua ini direfleksikan dalam panggilan Kristus untuk sebuah pilihan iman. Kristus merancang seluruh hidup-Nya dalam kerangka pewartaan Kerajaan Allah. Jadi, komitmen-Nya menjadi begitu radikal ketika ia menginginkan mati daripada menolak panggilan-Nya.

Jika St. Thomas berpikir bahwa manusia yang berusia 30 tahun adalah manusia yang sudah bertumbuh secara utuh (dewasa), kita dapat setuju, asalkankeunikan diri pada tahap sebelum dan sesudahnya tetap dijaga. Kristus menyatakan diri-Nya pada dunia pada usia ini (30 tahun): kepenuhan manusia menjadi bahtera bagi kepenuhan Allah. Meskipun demikian, dalam kepenuhan manusia ini, esensi masa kanak-kanak dan masa remaja tetap dapat hilang. Namun, kepenuhan ini tetap membutuhkan suatu proses penggumpalan (completion). Sebagai Putra Allah, kepenuhan terjadi ketika Ia mencurahkan diri-Nya dalam kenosis (pengosongan diri), terlebih menjelang kematian-Nya. Kepenuhan manusia menjadi sepadan dengan Sabda Ilahi di dalam diri-Nya, sebagai sebuah eksistensi yang tak terbagi.

Sebagai manusia dewasa, Ia menerima seluruh tanggungjawab perutusan-Nya. Persiapan-Nya yang panjang membuahkan kematangan yang utuh pada diri-Nya. Ia telah berdoa, memandang sekelilingnya, hening, berpuasa, dan bekerja. Ia telah mencintai misi-Nya di atas segala sesuatu. Pada setiap tahap hidup-Nya, misi itu ditambahkan, diadaptasikan, dan dileburkan secara baru. Ia mulai karya pelayanan-Nya dengan sebuah jaminan pasti akan adanya sebuah sumber kekuatan yang luar biasa, kebenaran, dan pilihan-Nya untuk menjalankan itu semua.

Dalam hidup-Nya, Sabda diaktualisasikan sebagaimana diri-Nya. Dengan kekuatan Sabda-Nya, Ia mendekati manusia. Ia tahu bahwa tanpa itu, Ia tak dapat menawarkan bukti pada manusia mengenai kebenaran Sabda. Dengan begitu, Ia perlu meyakinkan manusia hanya dengan ”hidup untuk mereka”, tidak hanya pada saat tertentu, melainkan mulai dari awal kehidupan-Nya.Keberadaan (eksistensi)-Nya adalah dasar pengajaran-Nya. Hal ini merupakan keseriusan Sabda yang dewasa. Ia melakukannya dengan konsisten karena Ia mencintai manusia, Ia ingin membawa manusia masuk ke dalam kebenaran Hidup-Nya.

Melalui penderitaan-Nya itu tampaklah bahwa Ia tidak menghalang-halangi apa pun yang akan terjadi dalam setiap jalan manusia; di sana ada kepenuhan, kemuliaan Allah tampak, harapan yang murni bahwa umat Allah akan menerima Sabda-Nya, dan Yerusalem akan diubah (dipertobatkan). Dan, pada saat yang sama terjadilah puncak perjuangan antara Sabda dan manusia, di mana kesadaran manusia retak melalui Israel yang tidak akan bertobat. Di sana kita disadarkan bahwa Sabda Allah yang hidup dalam jalan hidup manusia bukanlah untuk mempertobatkan, melainkan menguatkan hati manusia. Hal itu merupakan waktu di mana Ia menangis untuk kota Tuhan, sebuah waktu yang mengerikan(terrible) di mana Ia mengalami kesia-siaan dari usaha manusia yang paling ekstrea membayar kebenaran-Nya tidak hanya dengan hidup-Nya, tetapi juga dengan air mata getir ini. Dari sanalah Gereja dilahirkan[3].

Kristus tidak memiliki dua macam pengajaran. Bagi orang yang terpilih (para sahabat-Nya), Ia mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi dan lebih sulit; sedangkan untuk orang lain, Ia mengajarkan yang lebih mudah; TIDAK…tidak seperti itu. Sabda-Nya untuk semua orang. Ia berbicara mengenai salib danperihal mengikuti-Nya, dengan menggunakan kata-kata yang sama bagi setiap orang. Ia meminta kepada para murid-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu, termasuk orang-orang terdekat (Mat 10: 37); dan hal yang sama dikatakan-Nya pula pada orang banyak (luk 14: 26).

Selain itu, Ia berbicara dalam pengertian bahwa Ia adalah orang pertama di bumi yang menyatakan kebenaran apa yang Ia lakukan. Seluruh kebenaran yang terdapat dalam diri Bapa terkonsentrasi (terpusat) di dalam diri-Nya; Ia sendiri adalah guru (master) seluruh kekayaan kebijaksanaan dan pengetahuan (Bdk. Kol 2: 3). Kesadaran di sini mengelilingi seluruh sabda-Nya.

Kita tidak akan pernah bisa berbicara mengenai kesucian, kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan tanpa Kristus (atau berbeda dengan Kristus). Ia juga merupakan wajah terakhir Sabda Allah di dunia sebagai manusia (the young man). Selain itu, kita juga dengan tidak sengaja selalu membayangkan Yesus lebih tua dari usia-Nya, karena kata-kata-Nya yang berbobot itu lebih pas diucapkan oleh orang yang berusia 50-an tahun. Namun, bukan ini persoalannya. Mungkin benar kata Origenes bahwa ”dengan kehadiran-Nya yang singkat lalu pergi, Tuhan telah menyelamatkan dunia dari keadaan yang tidak menyenangkan.” Namun, kepergian (kematian)-Nya tidak alami melainkan sebaliknya, dibunuh dengan penuh kekerasan.

Dari sudut pandang manusia, kekerasan yang dilakukan pada-Nya merupakan sebuah dosa yang sangat keji, namun dosa itu diubah oleh Allah dalam sebuah ketakterbatasan, hasrat akan penyesalan yang digerakkan oleh Sabda Allah sendiri. Kita dapat membiarkan diri kita digerakkan oleh kenyataan Sabda sendiri yang mati sebagai orang muda dan kembali kepada Bapa. Bagi orang Kristen, kebijaksanaan tidak diukur oleh usia; Kristus tidak menjadi dewasa karena usia, melainkan Ia menjadi dewasa dengan merangkul seluruh masa hidup-Nya yang abadi. Kekuatan sabda-Nya melampaui waktu. Bahkan, baik jiwa maupun badan-Nya tak pernah binasa (Bdk. Kis 2: 31).

PENUTUP      

Yesus adalah Sang Sabda, Sabda Tuhan yang datang ke dunia. Ia masuk dalam arena waktu manusia. Ia menjadi sama dengan manusia; menjadi anak kecil, remaja, dan dewasa. Dalam setiap tahap kehidupan-Nya, kepenuhan selalu hadir menyertai-Nya. Bagi manusia kepenuhan itu dapat dicapai denganmengintegrasikan masa-masa hidupnya (the seasons of life), di mana ia dapat meletakkan masa kecil-nya ke dalam bagian masa muda-nya, dan masa muda-nya dapat diletakkan pula dalam kedewasaannya. Selain itu, bagi orang Kristen, kedewasaan (kebijaksanaan) tidak diukur oleh usia; Kristus tidak menjadi dewasa karena usia, Ia menjadi dewasa dengan merangkul seluruh masa hidup-Nya yang abadi. Ia merupakan bahasa Tuhan, bahasa cinta, yang menerima seluruh tanggungjawab perutusan-Nya, hingga mati di salib bagi manusia. 

 

Daftar Pustaka

 

von Balthasar, Hans Urs. 1968. Man in History. London: Sheed and Ward Ltd.

O’Donnell, John. 1992. Hans Urs von Balthasar. Collegeville: The Liturgical Press. 


[1] Seperti paradigma the last card dalam permainan kartu. Jika kita mulai tampak kalah dalam seluruh permainan, maka kita menggunakan ”kartu terakhir” kita untuk memenangkan permainan. Begitu juga Tuhan, dalam misi-Nya menyelamatkan manusia, ketika kata-kata-Nya tak lagi dapat ”memenangkan” hati manusia, maka ”Sabda-Nya yang terakhir” (the last word) dicurahkan-Nya pada kita (bagi manusia dan di dalam manusia), dengan harapan memenangkan ”permainan” (misi-Nya tercapai).

[2] Mengandung dan Bangkit sama-sama memiliki unsur suka dan duka, dan sama-sama bertujuan melahirkan kehidupan baru.

[3] Balthasar menggambarkannya dengan saat indah, singkatnya ”Gereja lahir dari air mata (penderitaan) Yesus yang telah terkristalisasi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s