Tubuh dan Jiwa

body

Tubuh dan Jiwa

(Plato, Aristoteles, Aquinas)

                                                         

1.      Plato

Inti : Didasari atas pemikiran Plato yang dualisme mengenai dunia (dunia idea dan dunia indrawi), pandangannya mengenai tubuh dan jiwa pun bersifat dualisme (keduanya merupakan sebuah realitas yang berbeda – dua substansi). Salah satu argumen yang penting ialah kesamaan yang terdapat antara jiwa dan idea-idea. Dengan itu ia menuruti prinsip yang mempunyai peranan besar dalam filsafat Yunani sejak Empedokles, yaitu “yang sama mengenal yang sama”. Sudah nyata bahwa jiwalah yang mengenal idea-idea bukan badan. Dengan demikian, jika jiwa mengenal idea-idea, maka atas dasar prinsip tadi disimpulkan bahwa jiwa pun mempunyai sifat-sifat yang sama seperti terdapat pada idea-idea. Nah, idea bersifat abadi dan tidak berubah. Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa jiwa – bertentangan dengan badan – merupakan makhluk yang tidak berubah dan tidak akan mati. Tubuh dan jiwa bukan merupakan kesatuan.

 

A. Antropologi Plato, yakni ajarannya tentang manusia, merupakan penjabaran lebih lanjut drai pandangan metafisinya mengenai distingsi antara dunia idea dan dunia indrawi. Manusia sebagai tubuh bukanlah manusia yang sesungguhnya. Manusia yang sesungguhnya adalah jiwa. Tubuh hanyalah semacam bayangan yang tidak memiliki dasar dalam kenyataan. Dalam ajaran Plato hubungan antara badan dan jiwa manusia tidaklah hakiki atau – katakanlah – semacam ‘musibah metafisis’ yang tidak membahagiakan manusia. Dalam tubuh, jiwa terperangkap seperti dalam penjara. Dalam antropologi Platonis yang mengajarkan dualisme jiwa dan badan ini kita menemukan kembali agama misteri atau orphisme yang dianut oleh mazhab Pitagorean. Jiwa itu kekal dan tubuh itu fana atau – seperti kata Pitagoras – ‘kubur bagi jiwa’.     

     

B. Bagaimana terjadinya jiwa itu?

      Dalam pandangan Plato, kosmos ini diciptakan oleh suatu allah yang disebut ‘Demiurgos’ yang bisa dibayangkan sebagai suatu subjek yang merancang segala sesuatu seperti seorang super-tukang. Dia menciptakan ‘jiwa dunia’. Jiwa manusia bukan berasal dari jiwa dunia itu, melainkan dari suatu bahan dasar yang sama seperti bahan dasar jiwa dunia. Dari bahan dasar itulah ‘Demiurgos’ itu menciptakan baik jiwa dunia maupun jiwa manusia. Dari ajaran ini kita tahu bahwa Plato bukanlah seorang panteis ataupun emanasionis. Ajarannya tentang penciptaan jiwa oleh ‘Demiurgos’ memiliki kesejajaran dengan ajaran biblis mengenai penciptaan. Setiap jiwa menurut Plato diciptakan singular, maka terdapat banyak sekali jiwa yang masing-masing unik. Dengan kematian, jiwa yang unik itu terlepas dari tubuh. Yang tak lazim untuk pemikiran kita, Plato memercayai bahwa setiap jiwa manusia memiliki bintangnya sendiri. Ke tempat itulah pada akhirnya jiwa akan kembali. Dengan demikian, Plato meyakini immortalitas atau kebakaan jiwa.

     

C. Jiwa itu abadi dalam dua cara:

1.      Praeksistensi jiwa (dia ada mendahului badan) – Plato menunjukkan bahwa praeksistensi jiwa dapat ditunjukkan dengan pengetahuan apriori yang dimiliki manusia. Ia tahu tanpa mengalaminya lebih dulu, menunjukkan bahwa jiwanya sudah pernah mengetahui itu sebelum ia terperangkap dalam badan dan lahir ke dunia ini.

2.      Posteksistensi jiwa (dia tetap ada juga setelah musnah)

 

D. Struktur jiwa manusia (3)

1. Kekuatan rasional (logisticon) – episteme (pengetahuan) – letaknya di kepala.

2. Kehendak (afektif) – pendapat (doxa), bagian menengah jiwa yang ambil bagian dalam akal (namun tetap berdiri sendiri) – letaknya di dada.

3. Hasrat (apetitif) – nafsu / hasrat (doxa) – letaknya dari perut ke bawah selangkangan.

 

2.      Aristoteles

Bagi Aristoteles, jiwa merupakan prinsip hidup. Itu berarti bahwa segala sesuatu yang hidup memiliki jiwa, baik tumbuhan, hewan, dan manusia (Eudêmos). Selain itu, ia juga berpandangan bahwa jiwa dan badan merupakan dua aspek yang menyangkut satu substansi saja. Dua aspek ini mempunyai hubungan satu sama lain sebagai “materi” dan “bentuk”. Badan adalah “materi”, dan jiwa adalah “bentuk”-nya. Karena materi dan bentuk masing-masing memiliki peranan sebagai ”potensi” dan ”aktus”, maka kita dapat mengatakan bahwa badan adalah ”potensi”, dan jiwa adalah ”aktus” (entelekheia). Aristoteles mendefinisikan jiwa sebagai aktus pertama dari suatu badan organis (the first entelechy of a natural organic body). Ia mengatakan ”aktus pertama” karena jiwa adalah aktus yang paling fundamental. Aktus ini yang mengakibatkan badan menjadi badan yang hidup.

Sebagaimana bentuk dan materi pada semua makhluk fisis adalah korelatif satu sama lain, sehingga yang satu mengandaikan yang lain supaya bersama-sama mengadakan makhluk yang bersangkutan. Demikian pula dengan manusia, jiwa dan tubuh merupakan dua aspek dari substansi yang sama, yakni manusia. Dengan demikian Aristoteles sangat menekankan kesatuan manusia dan karena itu pula ia menolak kebakaan jiwa. Jiwa sebagai bentuk sama sekali terarah kepada tubuh sebagai materi, sudah nyata bahwa jiwa tidak dapat hidup terus tanpa materi. Itu berarti bahwa pada kematian manusia, jiwanya binasa juga (sebagaimana juga jiwa tumbuhan dan hewan).  Dengan demikian, maka dapat disimpulkan dengan jelas bahwa pandangan Aristoteles meninggalkan sama sekali dualisme Plato.   

 

3.      Thomas Aquinas

Pengantar : (1) Aquinas begitu terpengaruh oleh pemikiran Aristoteles namun disesuaikan olehnya dengan alam pikiran Kristen. Pemikiran Aquinas berpusat pada ide tentang kontingensia: segala sesuatu yang ada tidak niscaya ada. Segala sesuatu yang ada bercirikan transcendentaliaens (berada), unum (tunggal), verum (benar), dan baik(bonum). Ciri-ciri transenden itu secara istimewa dapat diungkapkan mengenai Tuhan. (2)Menurut pandangan Aquinas, jiwa manusia merupakan cakrawala segala sesuatu yang ada (merangkul segala-galanya). Namun, cakrawala tersebut bukanlah cakrawala terakhir, karena ada tidaknya sesuatu dapat dipecahkan oleh budi manusia. Di sini manusia dan seluruh alam kenyataan ditandai oleh kontingensi. Berlainan dengan Tuhan, maka hakekat manusia dan semua ciptaan lainnya tidak dengan niscaya mengandaikan eksistensinya (secara total tergantung pada Tuhan).

 

Tubuh dan Jiwa menurut Thomas Aquinas:

1. Jiwa manusia sebagai prinsip kehidupan lebih tinggi kedudukannya dari prinsip kehidupan (jiwa) hewan dan tumbuhan. Sejak jiwa manusia mengambil peranan sebagai bentuk yang substansial, ia memberi keseluruhan individu karakternya yang spesifik.  2.Seorang individu (manusia) sejak semula bukanlah “campuran” antara dua substansi yang berdiri sendiri, melainkan satu substansi. Tubuh dan jiwa merupakan bagian dari manusia dan bersifat substansial. Tubuh dan jiwa itu sendiri masing-masing adalah utuh (complete). Tubuh dan jiwa merupakan esensi dari ada. Kedua-duanya saling “memberikan diri” satu sama lain, dan membentuk satu kesatuan (ekstrinsik). Dan, kematianlah yang mengakhiri kesatuan ini (jiwa dan tubuh); jiwa akan lepas dari tubuh, dan tubuh akan ’berhenti’ dan menjadi sesuatu yang lain. 3. Adanya kesatuan jiwa seluruh manusia walaupun setiap individu itu berbeda-beda dan manusia mengambil tempat dalam harmoni alam semesta. 4. Jiwa memiliki tubuh tertentu. Tuhan menciptakan jiwa yang abadi dan menyatukannya pada embrio. Jiwa yang abadi dan spiritual ini bukanlah sebuah produk yang diturunkan, namun bagaimanapun juga orang tua ikut bertanggungjawab dalam menentukan / menyediakan potensi dari seluruh keberadaan seorang anak. Dan akhirnya, jiwa dapat dibandingkan dengan anggur, yang memiliki berbagai macam kuantitas berdasarkan ukuran cawannya.

***

 

Daftar Pustaka

 

Arrington, Robert L. The World’s Great Philosophers. Oxford: Blackwell Publishing Ltd. 2003.

Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani. Jogjakarta: Kanisius. 1975.

Hardiman, F. Budi. Diktat “Filsafat Yunani Kuno”. Jakarta: STF Driyarkara.

Peursen, C.A. Orientasi Di Alam Filsafat. Jakarta : PT Gramedia. 1980.

Sastrapratedja, M. Diktat ”Filsafat Manusia”. Jakarta: STF Driyarkara. 2007.

 

Sumber Internet

 

Dolhenty, Jonathan. “The Philosophical System of Thomas Aquinas” dalam http://www.radicalacademy.com/philaquinasmdw10.htm, diakses 7 April 2008, pkl. 23.00 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s