Sekolah Katekese Alexandria

alexandria

SEJARAH GEREJA

Sekolah Katekese Alexandria

  1. Pendahuluan

St. Jerome (345-420) mengklaim bahwa Sekolah Katekese Alexandria didirikan oleh St. Markus sendiri. Menurut referensi Koptik, St. Markus, dalam hari-hari terakhirnya memilih Yostius sebagai kepala sekolah yang baru. Sekolah ini berusaha menemukan di mana saja spiritual sense yang ditekankan dalam kitab suci. Origenes [1] (185-251) mengungkapkan, “Jika kamu ingin menerima baptisan, pertama-tama kamu harus belajar mengenai Sabda Tuhan.”

Trilogi St. Clement (150-215) (Protrepticus, Paidagogos, dan Stromata) dapat memberi gambaran mengenai program sekolah ini pada saat itu. Dapat disimpulkan ada 3 kursus yang disediakan: (1) Spesial kursus bagi non-Kristen, (2) Kursus Moral Kristen, dan (3) Advanced Course mengenai Kebijaksanaan Ilahi dan Pengetahuan Spiritualitas Kristiani.

Sekolah Katekese ini menggambarkan sebuah bentuk tradisi sekitar akhir abad ke-2 dan awal abad ke-3. Alexandria menjadi pusat budaya pada saat itu yang begitu dipengaruhi oleh Kristianitas dan Helenisme. Pengajaran Alexandria bergerak pada spekulasi, diskursus filosofis, dan interpretasi Kitab Suci secara alegoris. Beberapa tokoh dalam Sekolah Katekese ini antara lain Athenagoras, Pantaenus, Clement, Origenes, Herakles, Alexander, Dionisius, Theognostes, Peter, Macarius, Didymus the Blind, Athanasius, Cyrillus dari Alexandria, dan Dioscoruos

          

  1. Karakteristik Teologi Alexandria

Inti ajaran dan keprihatinan: Harus jelas bahwa hanya ada satu tokoh/subjek ialah Firman Allah (Cyrillus[2]; 375-444). Cara pandang utama Alexandria menganut paham alegorisme, filsafat (Yunani), dan menekankan “pengetahuan” (gnosis) yang saling berkaitan satu sama lain. Selain itu masih ada karakteristik yang mengikutinya, yang dapat ditemukan di dalam pembahasan mengenai: (1) Rahmat Pembaharuan (Deification),yang menekankan bahwa “hidup baru” merupakan rahmat Ilahi yang diterima melalui Roh Kudus yang menyatukan kita dengan Bapa dalam Yesus Kristus; (2) Keutuhan Hidupada dalam Yesus Kristus; (3) Soteriologi, di mana penyelamatan hanya dapat dikerjakan oleh seorang yang sehakekat dengan Allah dan yang tanpa menanggalkan keilahiannya menjadi satu dengan manusia. Bahayanya, batas antara keallahan dan kemanusiaan menjadi kabur. (4) Inkarnasi (Kristologi) lebih dipikirkan menurut pola Yoh 1:14 (Logositu ”telah menjadi manusia [harfiah: daging]”) daripada menurut pola Flp 2:7 (Mazhab Anthiokia) (Logos “mengambil rupa seorang hamba”, menjadi “sama dengan manusia”). Dominasi Allah menjadi terlalu besar. Bahaya monophysitisme ini menjadi nyata dalamEutyches (378-454): Kemanusiaan Kristus tenggelam dalam keallahan-Nya, bagaikan setetes air dalam laut.

(5) Penebusan Dosa dan Penyesalan; ada 4 point di sini: a. Adanya perbedaan kelas dari dosa-dosa, b. Penitensi dibutuhkan bagi pengampunan sekurang-kurangnya untuk dosa-dosa besar, c. Absolusi (pengampunan dari imam) sekurang-kurangnya untuk beberapa jenis dosa, d. Kaum awam tidak memiliki kuasa pengampunan sekurang-kurangnya untuk dosa-dosa besar; (6) Theological terms, menggunakan istilah-istilah dalam Filsafat Yunani untuk menjelaskan doktrin-doktrin Kristiani; (7) DefinisiTheological Terminology; Bapa-bapa Alexandria tidak memberikan definisi untuk berbagai terminologi teologi karena mereka hanya tertarik dalam praktek teologi dalam pelayanan dan kehidupan mereka sehari-hari; dan (8) Semangat Ekumenis, terungkap dari: a. Menarik banyak murid dari luar Alexandria (khususnya dalam interpretasi Kitab Suci) yang akhirnya menjadi pemimpin di gereja asal mereka sendiri. Dari sinilah muncul kesatuan dari dalam yang berdasarkan pada Sabda Tuhan,  b. Kepala Sekolah begitu aktif di luar Mesir yang dilatarbelakangi atas cinta kepada Gereja Universal (contohnya perjalanan Origenes ke Roma, Kaisarea, Arab, dan Tirus), c. Para teolog Alexandria menjadi pemimpin dan pionir dari berbagai macam persatuan ekumenis, d. Terjemahan manuskrip (tulisan-tulisan) Koptik yang begitu berpengaruh pada tulisan-tulisan Kristiani pada saat itu.

   

3. Interpretasi Alegoris

Alegorisme didirikan dalam Yudanisme Alexandria. Salah satu tokohnya adalahPhilo (20 SM-50), yang membuat sebuah metode sistematis untuk menghubungkan jurang antara wahyu dalam Perjanjian Lama dan Filsafat Platonis. Kata “alegori” berasal dari bahasa Yunani “alla” yang berarti “lain” (other), dan “agoreuo” yang berarti “menyatakan” (proclaim). Hal ini awalnya menunjuk pada seorang figur ahli pidato,Cicero yang mendefinisikan “alegori” sebagai sebuah “aliran lanjutan dari metafora-metafora (kiasan)”. Menurut St. Agustinus (354-430), alegori adalah sebuah model pidato / khotbah, di mana sesuatu itu dapat dimengerti oleh yang lain. Alegori dibedakan dari “perumpamaan”. Alegori lebih merupakan sebuah penyajian sistematis dari segi-segi (features) ide yang berbeda, yang mengilustrasikan “isi” dengan penjelasan yang terperinci (exposition) dari kebenaran-kebenaran teoritis daripada sebuah nasehat praktis. Dalam eksegese alegoris, teks suci (dalam kitab suci) diperlakukan hanya sebagai simbol atau alegori dari kebenaran-kebenaran spiritual.

 Ada tiga macam metode pendekatan alegoris yang digunakan, (1) Alegori Figuratif, dalam Kitab Suci penggambaran ini dapat  ditemukan dalam 1 Korintus 13: 1-13 (Kasih); (2) Alegori Naratif, penggambaran ini dapat ditemukan dalam perikop mengenai “Orang Samaria yang Baik Hati” (Luk 10: 30-35);  dan (3) Alegori Tipologis, penggambaran ini merupakan sebagian besar bentuk karakteristik biblis; metode eksegese Perjanjian Baru yang memperlakukan peristiwa-peristiwa dan figur-figur Perjanjian Lama sebagai kombinasi realitas historis dengan maksud profetis. Menurut St. Agustinus,alegori yang para penulis Perjanjian Baru temukan dalam Perjanjian Lama tidak hanya figur-figur retoris melainkan kenyataan-kenyataan historis (non in verbis sed in facto).

Alegori Tipologis dikritik oleh Antiochene Criticism (golongan Anthiokia) yang membedakan antara alegori dan tipologi.  Alegori didefinisikan sebagai sebuah metode, di mana realitas keduniawian diinterpretasikan secara simbolik untuk menunjuk pada realitas surgawi. Sedangkan, tipologi, di mana realitas historis diinterpretasikan sebagai “pemberi tanda yang lain”, khususnya pribadi dan karya Kristus. Metode Alegori secara umum membawa kebingungan (bahkan dalam zaman patristik).

 Kemudian baru muncullah Origenes sebagai orang pertama yang membawa kedua macam interpretasi ini (alegori dan tipologi) dalam sebuah sintesis yang kuat. Menurutnya, kata-kata dalam Kitab Suci itu seharusnya diwujudkan dalam jiwa setiap orang melalui tiga jalan: (1) Literal sense, memperhatikan sejarah dan arti secara literal (harafiah), dan hal ini diperuntukkan bagi orang-orang sederhana; (2) Moral sense, memahami arti moral, atau mempelajari teks-teks untuk menemukan kemajuan bagi jiwa, hal ini  diperuntukkan bagi orang-orang yang lebih maju; (3) Spiritual sense, kemajuan jiwa diperjuangkan melalui rasa-perasaan spiritual dalam relasinya dengan Kristus yang mengandung bayang-bayang rahmat, hal ini diperuntukkan bagi orang-orang yang “perfect” (lebih maju lagi). 

Namun, para golongan Anthiokia tetap yakin bahwa level pertama untuk menginterpretasikan (Kitab Suci) adalah melalui level historis. Mereka memberi perhatian untuk revisi teks; sebuah kesetiaan yang murni untuk kejelasan makna yang natural (wajar, alamiah) berdasarkan penggunaan bahasa dan situasi lingkungan penulis pada saat itu, dan memperhatikan faktor-faktor manusiawi di dalamnya.

  1. Sekolah Alexandria dan Gnostisisme

Secara umum, istilah gnostisisme diaplikasikan untuk sebuah gerakan penyebaran religius-filosofis. Gnostisisme sebenarnya merupakan sebuah istilah modern. Dalam tulisan para Bapa Gereja tidak pernah “gnostik digunakan untuk mengindikasikan sebuah gerakan spiritual melainkan lebih untuk menunjuk sebuah sekte tertentu.

Kata Yunani “gnosis” berasal dari kata Indo-European, yaitu “gno” yang berarti “tahu” (know), dan kata Sansekerta “jnana”, yang berarti “pengetahuan” (knowledge). Istilah ini lebih ingin menunjukkan bahwa keselamatan bergantung sepenuhnya padapengetahuan dan pencerahan khusus tentang Allah yang membebaskan orang dari ketidaktahuan serta kejahatan, yang merupakan kodrat ciptaan. Istilah ini disematkan pada suatu gerakan keagamaan yang sangat kompleks yang dalam bentuk Kristennya muncul sangat jelas dalam abad ke-2. Gnostisisme bersifat dualisme (terang-gelap, baik-buruk); ekstremnya, segala sesuatu yang bersifat materi dianggap buruk dan perlu disingkirkan.    

Dalam dunia Kristen, konsep gnosis dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.      Inkarnasi Sabda Allah adalah sumber pengetahuan.

2.      Pengetahuan diterima melalui Gereja, sebagai Tubuh Kristus, khususnya melalui partisipasi dalam Ekaristi.

3.      Pengetahuan dinyatakan dalam “kedalaman” manusia, jika manusia telah dimurnikan dan dikuduskan oleh Roh Kudus.

4.      Pengetahuan akan Allah dan Kemuliaan Kekal-Nya dapat diwujudkan sebagian dalam dunia ini, melalui kesatuan kita dengan Bapa dalam Putra-Nya, melalui karya Roh Kudus, dan disempurnakan dalam dunia yang akan datang.

Pusat terpenting dari gnostisisme adalah Alexandria yang memiliki warisan tradisi Yahudi, pemikiran klasik, dan mistisisme kuno dari agama-agama oriental. Alexandria memiliki ahli-ahli hebat dalam gnostisisme, antara lain: Basilides, Carpocrates,Valentinus, dan St. Clement Alexandria (yang paling dipercaya oleh para penulis awalgnosis kristiani; ia telah memberikan sebuah analisis sistematis).  

  1. Sekolah Alexandria dan Filsafat (Budaya Helenis)

Banyak ahli percaya bahwa filsafat Yunani (budaya helenis), khususnya platonisme, begitu berpengaruh pada Sekolah Alexandria. Athenagoras dianggap sebagai orang Kristen pertama yang dengan imannya, condong ke arah filsafat.

Sekolah Alexandria menggunakan filsafat karena (1) filsafat dianggap dapat menyatukan orang yang beriman dengan kultur zamannya sejauh kultur ini membantu perkembangan mereka dalam semua aspek kehidupan; (2) filsafat digunakan sebagai sebuah jawaban positif melawan para kritikus iman Kristiani; (3) untuk membuktikan bahwa filsafat merupakan tanah yang menguntungkan untuk pengembangan teologi Kristiani dengan berbasis pada pengajaran intelektual; (4) filsafat dapat membebaskan orang dari mitologi dan penyembahan  berhala; dan (5) bahasa filosofis dapat mengekspresikan iman mereka, doktrin dan konsep Kristiani tanpa menyimpang dari kebenaran-kebenaran Kristiani. Interpretasi alegoris pada Kitab Suci yang menjadi ciri Sekolah Alexandria merupakan hasil dari budaya helenis ini (filsafat Yunani).

  1. Penutup

Sekolah Katekese Alexandria telah menunjukkan sebuah kekayaan Gereja yang memberi warna tersendiri dalam perjalanan sejarahnya (dengan berbagai kontro-versinya). Sekolah ini telah menunjukkan sebuah perjuangan ilmiah dalam menghayati Kristianitas. Berbagai terminologi dan rumusan-rumusan teologis telah dihasilkan. Dan dari sini pula berbagai kontroversi (pertentangan) muncul. Pada akhirnya, hal ini menunjukkan bahwa iman menuntut sebuah pertanggungjawaban.

Daftar Pustaka

Borgen, Peder. 1997. Philo of Alexandria: An Exegete for His Time. Leiden: Brill.

Dister, Nico Syukur. 2004. Teologi Sistematika 1. Yogyakarta: Kanisius.

Jedin, Hubert (ed.). 1965. History of the Church: The Early Church (Ebridged Edition –Vol. I). New York: Croosroad. 

Jedin, Hubert dan John Dolan (ed.). 1980. History of the Church: The Imperial Church

from Constantine to the Early Middle Ages (Vol. II). London: Burns & Oates.

Kristiyanto, Eddy. 2002. Gagasan yang Menjadi Peristiwa. Yogyakarta: Kanisius.

———. 2007. Selilit Sang Nabi. Yogyakarta: Kanisius.

Walsh, Michael. 2001. Dictionary of Christian Biography. Minnesota: The Liturgical

Press.


[1] Menjadi Kepala Sekolah di Sekolah Katekese Alexandria dalam usia 18 tahun. Ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya, termasuk tafsiran-tafsiran atas setiap buku dalam Alkitab serta ratusan khotbah.Karyanya Hexapla merupakan prestasi dalam bidang kritik teks.

[2] Menurutnya, pada Kristus hanya ada satu “kodrat”—ilahi (mia physis) dan ia memberi gelar Bunda Maria sebagai Theotokos (Bunda Allah).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s