Paulus Menyeberang ke Makedonia

macedonia

Teks Kis 16: 4-10

(Penelitian Literer Dasar)

 

Paulus Menyeberang ke Makedonia

Kisah Para Rasul 16:4–10 (”Paulus menyeberang ke Makedonia”) termasuk dalam kisah perjalanan misi Paulus yang Kedua.

 

1. Ada beberapa kata, frase, atau kalimat penting yang dapat didalami.

  • ·  ”…Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem…” (16: 4). Kalimat ini tentunya akan mengundang sebuah pertanyaan. Keputusan-keputusan apa yang sebenarnya disampaikan oleh Paulus dan Silas? Dengan melihat konteks ayat-ayat atau bab sebelumnya (15:1-21), maka dapat diketahui bahwa Paulus dan Silas berusaha menyampaikan keputusan-keputusan Konsili (Pertama) Yerusalem.[1] Konsili ini menyatakan bahwa sunat dan kewajiban mengikuti hukum Musa tidak diwajibkan bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi yang berbalik kepada Allah.[2] Semula hasil konsili ini hanya diperuntukkan untuk kelompok Mesianis yang bukan Yahudi (Gentile Messianists) di Antiokhia, Siria, dan Kilikia (15:23). Kemudian, Paulus menyebarluaskannya ke berbagai daerah, termasuk ke wilayah perjalanan misi pertamanya (mis. Galatia bagian Selatan). Dengan ini semua, pengarang (Lukas) ingin menunjukkan bahwa Paulus begitu antusias mengusahakan kesatuan gereja.[3]
  • ·  ”…jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya…” (16: 5). Ayat ini merupakan sebuah kesimpulan minor (minor summaries)[4] yang ingin (1) menggambarkan perkembangan misi kesatuan gereja[5](2)menunjukkan kesetiaan dan pertumbuhan gereja lokal[6](3) serta memperlihatkan bahwa Rahmat Ilahi menyertai mereka (jemaat)[7].
  • ·  ”…Roh Yesus…” (16:7)

(1) Dalam ay. 7, dapat ditemukan sebuah frase, Roh Yesus…”. Yang dimaksudkan dengan ”Roh Yesus” di sini sama dengan kekuatan Ilahi (divine power)yang disebut dalam ay. 6, yaitu Roh Kudus.[8] Selain itu, penyebutan Roh Yesusmenunjukkan hubungan erat antara Yesus yang bangkit dan Roh Kudus (2:33).[9]

(2) Dari sini, dapat diajukan sebuah pertanyaan teologis yang sangat menarik. ”Roh yang satu dan sama itu, apakah memiliki beberapa arti dalam perubahan fraseologi (cara memakai kata)? ( lih. ay. 6 – Roh Kudus & ay. 7 – Roh Yesus)”  Metode ini digunakan Lukas untuk mengkomunikasikan kehendak roh dalam dua kesempatan yang berbeda. Dalam kesempatan yang kedua (ay.7), komunikasi tersebut mengambil bentuk yang  diasosiasikan secara jelas dengan Kristus yang Mulia. Sejak kenaikan-Nya ke surga, melalui Roh-Nya, Yesus berkomunikasi dengan umat-Nya. Hal ini mengingatkan kembali gambaran Paulus mengenai Yesus sebagai ”Adam yang akhir” yang menjadi ”Roh yang menghidupkan” (1 Kor 15:45).[10]      

(3) Lukas tidak mengatakan bagaimana cara Roh Kudus itu bekerja, melalui doa atau nubuat, misalnya. Namun yang pasti, dua kali (ay. 6 & 7) Lukas mengatakan bahwa Roh Kudus menghalangi Paulus menuju arah tertentu (Asia dan Bitinia), dan mengarahkannya ke jurusan lain (Frigia, Galatia, dan Misia).[11] Hal ini juga menggambarkan bahwa Roh Kudus membimbing Paulus dengan segera dan tergesa-gesa menuju Eropa[12].[13] Selain itu, tampaklah bahwa dalam perjalanan misi Paulus terjadi sebuah kombinasi atau perpaduan yang luar biasa antara rencana strategis (manusia) dan kepekaan yang tajam akan bimbingan Roh Allah.[14]    

  • ·  ”…malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia…” (16: 9). Penglihatan ini merupakan penglihatan pertama dari lima penglihatan (cf. 18:9-10; 22: 17-21; 23:11; 27: 23-24) yang dialami oleh Paulus.[15]Bimbingan Roh Kudus di sini diberikan pada Paulus dalam bentuk mimpi.[16] Dalam mimpi inilah Paulus mendapatkan instruksi dan peneguhan dari surga.[17] Baik bagi orang Yahudi maupun orang non-Yahudi (gentile), mereka semua menganggap bahwa mimpi merupakan sebuah alat komunikasi Ilahi. Melalui mimpi inilah, Paulus menyimpulkan bahwa Allah memanggilnya untuk mewartakan Kabar Gembira di Makedonia[18](ay.10).[19] Dari peristiwa ini tampaklah bahwa terjadi intervensi misterius dari Allah (Providentia Specialissima) dalam perjalanan misi Paulus.[20] Selain itu, peristiwa ini juga ingin mengatakan bahwa misi kristen pada orang-orang non-Yahudi bukanlah berasal dari dorongan atau keinginan manusia melainkan semata-mata berada dalam ketetapan Ilahi.[21]
  • ·  ”…Allah telah memanggil ’kami’ untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana (Makedonia)…” (16: 10). Ayat ini merupakan sebuah kesimpulan, di mana mereka benar-benar yakin bahwa Allah menuntun mereka mewartakan Injil ke Makedonia.[22] Pada tahap ini, mereka semakin mengerti akan bimbingan Roh Kudus yang digambarkan dalam ayat 6-7. Mereka semakin yakin bahwa Allah benar-benar menuntun mereka. Akhirnya, evangelisasi Paulus di Asia untuk sementara ditunda dan berusaha memusatkan perhatiannya untuk wilayah lainnya (Eropa).[23]      

Selain itu, dalam Kis 16: 10, untuk pertama kalinya didapati ungkapan ”kami”, kata diri pertama jamak, bukannya ”ia” atau ”mereka”, kata diri ketiga. Pengarang (Lukas) bermaksud ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa ia hadir dalam perjalanan laut tersebut.[24] Selain itu, kata ’kami’ (’we’) mengajak para pembaca untuk merefleksikan diri sekaligus secara instingtif membawa pembaca masuk dalam persahabatan kelompok misioner dan diajak untuk mengalami peristiwa tersebut sebagai milik mereka bersama.[25]

 

2. Tokoh-tokoh yang muncul serta hubungannya.

Dalam perikop ini (Kis 16: 4 – 10) dapat dengan jelas kita temukan beberapa tokoh. Ayat 4: Paulus, Silas, Para Rasul, Penatua, dan Jemaat; Ayat 6-7: Roh Kudus (Roh Yesus); Ayat 9: Orang Makedonia; dan Ayat 10: ”Kami”, yang menunjuk pada Paulus, Silas, Timotius (ay.1-3), dan Lukas (pengarang).

Hubungan antartokoh: Latar belakang perjalanan misi kedua Paulus ini adalah konsili (pertama) Yerusalem (15: 1-21). Konsili ini dihadiri oleh Para Rasul dan Penatuadi Yerusalem. Setelah konsili ini menghasilkan keputusan—sunat dan kewajiban mengikuti hukum Musa tidak diwajibkan bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi yang berbalik kepada Allah[26]—Paulus berusaha untuk menyebarluaskannya ke berbagai daerah, terlebih kepada orang-orang (jemaat) bukan Yahudi dan tidak hanya terbatas pada jemaat di Antiokhia, Siria, dan Kilikia (15:23)[27]. Hal ini tentunya membawa sukacita dan peneguhan bagi para jemaat hingga jumlah mereka pun makin bertambah banyak (ay. 5).

Dalam perjalanan misi ini, Paulus memilih Silas untuk menemaninya (15:40) danTimotius ikut serta dengan mereka (16:1-3). Dalam perjalanan, mereka dicegah oleh Roh Kudus (ay. 6-7) untuk memberitakan Injil ke Asia melainkan membimbing mereka ke Eropa. Hal ini semakin diyakinkan dan diperteguh ketika sampai di Troas, di mana Paulus memperoleh penglihatan (mimpi) mengenai seorang Makedonia yang minta tolong agar mereka menyeberang ke Makedonia. Orang Makedonia ini mewakili sebuah kelompok pendengar baru orang Yunani yang ingin mendengarkan pewartaan Paulus.[28] Dalam perjalanan ke Makedonia ini, ternyata Paulus tidak hanya ditemani oleh Silas, danTimotius saja, melainkan pengarang (Lukas) pun ikut bersama mereka (ay.10).[29] Dan,Lukas inilah yang menjadi saksi sekaligus pengarang (eyewitness narrator)[30] semua peristiwa dalam perikop ini (16:4-10).    

 

3. Perkembangan atau gerak maju gagasan dalam kisah ini.

Dalam Kisah Paulus menyeberang ke Makedonia ini (Kis 16:4-10), ada suatu jalan mengenai peristiwa dan perkembangan gagasan. Melalui skema, perkembangan gagasan itu dapat digambarkan sebagai berikut:

Penyebarluasan keputusan ”Konsili I” (ay.4) → Jemaat semakin diteguhkan dan jumlah mereka bertambah banyak (ay.5) → Roh Kudus membimbing Paulus ke Eropa dengan mencegahnya pergi ke Asia (ay. 6-7) → Paulus memperoleh penglihatan di Troas (”Orang Makedonia yang minta tolong”) (ay.9) → Melanjutkan perjalanan misi ke Makedonia (ay.10a) → Menyimpulkan bahwa Allah telah memanggil mereka untuk mewartakan Injil di sana (Makedonia) (ay.10b).

 

Gagasan awal perikop ini diawali dengan (1) mengungkapkan usaha Paulus menyebarluaskan hasil konsili (pertama) Yerusalem ke berbagai daerah (ay.4). Kemudian,(2) Lukas menampilkan sebuah gambaran positif keadaan jemaat pada saat itu (ay.5). Dari situ, gagasan selanjutnya berkembang dengan menampilkan peran Roh Kudus dalam perjalanan misi Paulus yang kedua ini. (3) Roh satu sisi ”mencegah” (ay.6) dan ”tidak mengizinkan” (ay.7), namun di sisi lain dengan cara itu, Roh ”menunjukkan” dan ”menuntun” Paulus. (4) Hal ini semakin diperjelas dengan penglihatan (mimpi) yang dialami Paulus (ay.9). Dengan berdasarkan mimpi tersebut, perjalanan misi dilanjutkan ke Makedonia (ay. 10a). Dan akhirnya, (5) gagasan pokok disampaikan dengan menarik kesimpulan bahwa Allah benar-benar memanggil mereka untuk mewartakan Injil di Makedonia (Eropa) (ay. 10b).

 

4. Bentuk sastra teks ini dan sumbangannya dalam mengungkapkan isi.

Dalam perikop ini, sangat jelas tampak bahwa gaya penceritaan yang dipakai adalahnarasi. Karya ini adalah karya naratif (narrative account),[31] yang menceritakan mengenai kisah perjalanan (misi Paulus yang kedua).

Tampaknya, Lukas berusaha mengungkapkan isi cerita dengan menggunakan bentuk penceritaan narasi ini dengan menampilkan suasana dinamika perjalanan. Paling tidak ada dua pesan yang dapat diambil dengan teknik ini. Pertama, perikop ini secara keseluruhan bukan sekadar ingin menampilkan sebuah laporan perjalanan historis belaka, melainkan lebih ingin mengungkapkan sebuah ”perjalanan iman awal mula agama Kristen” [32] . Kedua, perikop ini secara dominan juga ingin menunjukkan peranan Roh Kudus dalam perjalanan misi (kedua) Paulus (ay.5 – jemaat diteguhkan dan semakin bertambah banyak; ay. 6 – ”Roh Kudus mencegah…”; ay.7 – ”Roh Yesus tidak mengizinkan…”; ay. 9 – Paulus memperoleh penglihatan; ay. 10 –mereka merasa yakin bahwa Allah telah memanggil mereka untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di Makedonia). Dengan narasi, Lukas menggabungkan kedua pesan tersebut dalam satu cerita sehingga terasa lebih hidup dan dinamis. Dengan begitu, para pembaca juga diajak oleh Lukas untuk mampu menangkap dan merasakan dinamika perjalanan yang terjadi dalam misi tersebut sebagai ”kisah mereka sendiri”. Akhirnya, kisah ini dapat menjadi permenungan setiap orang Kristiani bahwa ”perjalanannya di dunia akan senantiasa disertai oleh Roh Kudus”, seperti halnya Paulus.

 

Daftar Pustaka

Bergant, Dianne dan Robert J. Karris (peny.). 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.

Yogyakarta: Kanisius.

Brown, Raymond E., dkk. 2000. The New Jerome Biblical Commentary. New Jersey: Prentice

Hall, inc.

Bruce, F.F.. 1972. The Book of the Acts. London: Eerdmans Publishing Co.

Fitzmyer, Joseph A. 1998. The Acts of the Apostles. New York: Doubleday.

Haenchen, Ernst. 1971. The Acts of The Apostles. Oxford: Blackwell.

LBI. 1974. Alkitab Katolik Deuterokanonika: dengan pengantar dan catatan lengkap. Ende:

Percetakan Arnoldus Ende.

LBI. 1981. Kisah Para Rasul. Yogyakarta: Kanisius.

Talbert, Charles H. 1997. Reading Acts: A Literary and Theological Commentary on The Acts

of the Apostles. New York: The Crossroad Publishing Company.

 

Catatan Akhir


[1] Bdk. Lembaga Biblika Indonesia, 1981, Kisah Para Rasul, Yogyakarta: Kanisius, hal. 108.

[2] Bdk. Joseph A. Fitzmyer, 1998, The Acts of the Apostles, New York: Doubleday, hal. 576.

[3] Bdk. Charles H. Talbert, 1997, Reading Acts: A Literary and Theological Commentary on The Acts of the    

   Apostles, New York: The Crossroad Publishing Company, hal. 146.

[4] Bdk. Joseph A. Fitzmyer, 1998, hal. 576.

[5] Bdk. Charles H. Talbert, 1997, hal. 147.

[6] Bdk. Joseph A. Fitzmyer, 1998, hal. 576.

[7] Bdk. Ernst Haenchen, 1971, The Acts of The Apostles, Oxford: Blackwell, hal. 479.

[8] Ibid., hal. 484.

[9] Bdk. William S. Kurz, “Kisah Para Rasul”, dalam Dianne Bergant dan Robert J. Karris (peny.), 2002,Tafsir 

   Alkitab  Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, hal. 237.

[10] Bdk. F.F. Bruce, 1972, The Book of the Acts, London: Eerdmans Publishing Co., hal. 327.

[11] Bdk. William S. Kurz, 2002, hal. 237.

[12] Ay. 9-10 semakin jelas menunjukkan, meyakinkan, dan memperteguh bahwa bimbingan Roh Kudus membawa

misi ini ke Eropa. (Bdk. Joseph A. Fitzmyer, 1998, The Acts of the Apostles, New York: Doubleday, hal. 580.)

[13] Bdk. Raymond E. Brown, dkk., 2000, The New Jerome Biblical Commentary, New Jersey: Prentice Hall, inc.,

hal. 753.

[14] Bdk. F.F. Bruce, 1972, hal. 325.

[15] Bdk. Raymond E. Brown, dkk., 2000, hal. 753.

[16] Bdk. Joseph A. Fitzmyer, 1998, hal. 579.

[17] Bdk. Raymond E. Brown, dkk., 2000, hal. 753.

[18] Makedonia merupakan sebuah kekuatan dominan dalam dunia Yunani di bawah Pilipus dan Alexander Agung

pada abad 4 SM, dan menjadi sebuah provinsi Romawi sejak 146 SM. (Bdk. F.F. Bruce, 1972, The Book of the  

    Acts, London: Eerdmans Publishing Co., hal. 327.)

[19] Bdk. Charles H. Talbert, 1997, hal. 148.

[20] Bdk. Ernst Haenchen, 1971, hal. 485.

[21] Bdk. Ernst Haenchen, 1971, hal. 485.

[22] Bdk. F.F. Bruce, 1972, hal. 328.

[23] Bdk. Joseph A. Fitzmyer, 1998, hal. 580.

[24] Bdk. William S. Kurz, 2002, hal. 237.

[25] Bdk. Ernst Haenchen, 1971, hal. 490.

[26] Bdk. Joseph A. Fitzmyer, 1998, hal. 576.

[27] Bdk. Charles H. Talbert, 1997, hal. 146.

[28] Bdk. Raymond E. Brown, dkk., 2000, hal. 753.

[29] Bdk. F.F. Bruce, 1972, hal. 328.

[30] Bdk. Raymond E. Brown, dkk., 2000, hal. 753.

[31] Bdk. Joseph A. Fitzmyer, 1998, hal. 577.

[32] Bdk. LBI, 1974, Alkitab Katolik Deuterokanonika: dengan pengantar dan catatan lengkap, Ende: Percetakan

Arnoldus Ende, hal. 259.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s