Paul Ricoeur: Identitas Naratif

identitas

Identitas Naratif

(Sebuah Bentuk “Hermeneutika Diri” Paul Ricoeur)

“My reality and my life is the kingdom of words,

of sentences, and of discourse itself.”[1]

(Paul Ricoeur)

I.      Pendahuluan

Ketika saya masih kecil, sebelum tidur biasanya bapak menceritakan sebuah dongeng kepada saya. Dongeng yang ia ceritakan selalu berkisah mengenai “Si Kancil yang Cerdik”. Ada begitu banyak variasi cerita, mulai kisah “Kancil membohongi Gajah”, “Kancil mencuri Ketimun”, “Kancil dan Pak Tani”, dan masih banyak lagi. Kejadian sederhana itu begitu membekas bagi saya. Setelah saya sadari lagi, ternyata hidup ini begitu kaya dengan berbagai macam kisah dan juga dongeng atau cerita-cerita fiksi lainnya. Melalui Paul Ricoeur, saya pun menemukan makna yang sungguh mendalam mengenai “narasi”. Melalui narasi, identitas kita sebagai manusia ditemukan. Bahkan, identitas kita itu sendiri merupakan “Identitas Naratif”.

Seni “story-telling” merupakan sebuah pengimitasian dramatis dan sebuah usaha membuat plot atas tindakan-tindakan manusia, yang diberikan kepada kita sebagai dunia yang dapat “dibagikan”. Di sinilah, hubungan antara “narasi” dan “kehidupan”ditemukan. Hubungan ini direnungkan secara mendalam oleh Ricoeur. Hubungan antara“narasi” dan “kehidupan” juga merupakan hasil sebuah permenungan Ricouer atas pernyataan Aristoteles, “Hidup yang tidak diperiksa (direfleksikan)tidak pantas untuk dihidupi”. Permenungan akan hidup dapat dimulai dari sebuah “narasi kehidupan”.

Melalui “bahasa” dan “tindakan”, ciri kemenduniaan dari “diri” manusia diwujudkan. Salah satu ciri fundamental dari tindakan adalah unsur kesejarahannya. Sebuah tindakan bukanlah kejadian biasa yang terjadi begitu saja, melainkan sebuah peristiwa unik yang saling kait-mengait di mana sang agen dengan inisiatifnya menampilkan sesuatu di dalam dunia.

Jika melalui tindakan, kita dapat mengenal sang pelaku tindakan (agen), maka kita juga bisa mengajukan pertanyaan, “Apakah sisi historis dari tindakan – dalam hal ini kisah/narasi – juga menyumbang sesuatu bagi refleksi akan sang pelaku tindakan?” Secara lebih spesifik, “Bagaimana kisah/narasi ini dapat membantu merefleksikan identitas kita?” Melalui dua pertanyaan dasar ini, saya akan memaparkan sebuah bentuk “Hermeneutika Diri” Paul Ricoeur yang berfokus pada Identitas Naratif-Etis.

II.    Genealogi Cerita (The Genealogy of Story)[2]

Pertama-tama, marilah kita menelisik lebih dahulu genealogi cerita (asal-usul cerita), yang akan dibagi menjadi 6 bagian, yaitu (1) Unsur Pokok Narasi(2) Mitos, (3) Mimesis, (4) Katarsis, (5) Phronesis, dan (6) Ethos, yang mana di dalam setiap bagian dan juga dari satu bagian ke bagian selanjutnya, ada sebuah proses perjalanan “pemahaman diri” di dalamnya.

II.1. Unsur Pokok Narasi[3]

Bagi Ricoeur, ada dua jenis narasi, yaitu (1) narasi dalam karya sastra (fiksi); dan (2)narasi dalam sejarah. Dari kedua jenis narasi ini, Ricoeur menemukan benang merahnya dan tak perlu lagi dipertentangkan, “Mana yang lebih tinggi posisinya dari kedua narasi tersebut?” Baginya, kedua narasi tersebut, baik dalam karya sastra maupun sejarah, kedua-duanya memiliki variasi imaginatif. Tanpa variasi imaginatif, sebuah karya sastra tak ada bedanya dengan essay. Tanpa variasi imaginatif, seorang sejarawan tak lebih sebatas penulis kronik dan tak dapat menggambarkan bagaimana para tokoh sejarah menjalani kisah hidupnya.

Seperti yang kita ketahui, sebuah cerita selalu memiliki beberapa unsur, antara lain:(a) karakter, (b) waktu penceritaan, dan (c) plot. Dari kesemuanya itu, Ricoeur lebih berfokus pada plot. Baginya, plot merupakan suatu gerak yang menyatukan, menyusun, mengorganisasi peristiwa-peristiwa – termasuk setiap elemen-elemen yang bertentangan – dalam suatu sistem. Plot dipahami Ricouer tidak hanya sekadar sebagai “kata benda”, melainkan sebuah kata kerja yang bersifat aktif.

II.2. Mitos[4]

Aristoteles merupakan orang pertama yang menyatakan secara filosofis bahwa pola narasi pun berlaku dalam hidup ini. Manusia pada dasarnya selalu berusaha untuk memahami dunia dan kehidupannya. Kemudian, muncullah mitos. Tujuan dari mitosadalah memberikan tata bahasa bagi kehidupan ini dan mampu mentransposisikannya ke dalam sebuah kisah. Mitos merupakan bentuk awal yang paling umum dari sebuah narasi, memiliki plot atau alur kisah yang sederhana dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Misalnya, kisah-kisah mitologis besar dari Budaya Yunani, Persia, atau Cina. “Plot” atau “mise en intrigue” ini selalu mengacu pada sebuah kisah yang terkonstruksi secara baik, yang dapat diulangi atau diciptakan kembali.

Sejalan dengan perjalanan waktu, narasi mitis ini akhirnya bermutasi menjadi dua cabang besar, yaitu (1) sejarah, dan (2) fiksi.

(1)     Para sejarawan pertama, seperti Herodotus dan Thucydides di Yunani, sudah berusaha keras untuk memberikan deskripsi naratif ‘waktu yang nyata’, sehingga seolah-oleh mereka mengatakan kepada kita hal-hal yang sebenarnya terjadi. Ini akhirnya melahirkan “biografi” dan “kasus sejarah”. Sedangkan, dalam tingkat kolektif, sejarah mulai dipahami sebagai narasi yang “menghitung” kembali peristiwa-peristiwa empiris.

(2)     Sedangkan, fiksi lebih bertujuan untuk menggambarkan kembali sebuah peristiwa dalam beberapa standar ideal, seperti ideal kecantikan, ideal kebaikan, atau bangsawan. Fiksi diceritakan sebagai suatu peristiwa yang seolah-olah itu terjadi.

Ricouer berusaha mencari “pengalaman fundamental” yang dapat mengintegrasikan kedua narasi tersebut. Kemudian, ia menemukan solusinya dalam hipotesis bahwa bentuk “identitas naratif”, baik individu maupun kolektif, merupakan “tempat fusi” paling tepat dari keduanya.  Ia menyatakan bahwa
pribadi manusia menemukan ekspresi diri dan rasa identitas melalui ruang reflektif yang ditawarkan oleh dunia kisah nyata dan fiksi.

Aristoteles awalnya berbicara mengenai mitos khusus untuk “tragedi”, namun konsepmitos yang tetap bertahan adalah sebuah kisah yang disertai dengan plot. DI sini, keterampilan pencerita sangat dibutuhkan agar membuat kisah-kisah yang dapat dipahami. Hal ini membawa kita pada pilar narasi berikutnya, yaitu mimesis.

II.3. Mimesis (re-kreasi)[5]

Selama ini, ada kecenderungan untuk menerjemahkan mimesis sebagai tiruan (imitation) yang ketat atau menyalin kembali (copying) kisah-kisah atau plot-plot yang sudah ada. Bagi Ricoeur, mimesis adalah “metafora realitas”. Hidup hanya dapat dipahami hanya dengan dituturkan kembali secara mimetis melalui cerita[6].

“Hidup selalu dalam jalan menuju narasi”, namun hal itu hanya akan terwujud ketika seseorang mendengar dan menceritakan kehidupannya sebagai sebuah kisah. Mimesis di sini terkait dengan mitos dalam hal “tindakan transformatif”-nya, di mana peristiwa-peristiwa yang terserak di-plot (diatur/diskemakan) kembali ke dalam sebuah paradigma baru. Ricoeur menyebut transformasi ini sebagai sebuah sintesis dari yang heterogen. Sintesis ini lebih mengarah pada pendeskripsian ulang secara kreatif dunia kita ini, termasuk segala pola dan makna yang tersembunyi di dalamnya. Narasi mengasumsikan peran mimesis yang menawarkan pada kita untuk membayangkan sebuah cara “berada”yang baru di dunia.

II.4.  Katarsis (pelepasan)[7]

Cerita dapat membawa kita untuk berada di tempat dan waktu yang berbeda, di mana kita dapat juga mengalami dan belajar bagaimana rasanya berada pada posisi orang lain. Itulah katarsis, kita berusaha ke luar dari “diri” dan menuju pada “yang lain”. Di sana ada dua hal yang dibutuhkan, yaitu (1) Imajinasi Naratif, dan (2) Sensitivitas Etis.

(1) Imajinasi naratif menyediakan kita sebuah “jarak estetis” tertentu untuk memandang berbagai macam peristiwa yang ada di hadapan kita. Dengan begitu, kita diharapkan dapat melihat secara cerdas “penyebab tersembunyi” dari setiap hal atau peristiwa yang tersajikan di hadapan kita.

(2) Penyatuan “rasa empati” dan “pengambilan jarak” di dalam diri manusia, akan sangat membantu manusia – para pembaca sejarah dan fiksi – untuk keluar dari “ego tertutup” Cartesian dan terbuka pada kemungkinan lainnya. Inilah sebuah sensitivitas etis.

Descartes yang begitu menekankan “Filsafat Subyek”, yang tertuang dalam bukunyaMeditationes Prima Philosophia menyatakan bahwa untuk mengetahui kepastian, kebenaran, dan pengetahuan, pertama-tama kita perlu menemukan fondasi yang jelas (clara) dan terpisah-pisah (distincta). Agar fondasi itu dapat tercapai, maka kita perlu meragukan segala sesuatu. Bagi Descartes, segala sesuatu yang ada hanyalah tipuan. Selain itu, jika sesuatu itu belum dapat dipahami secara jelas dan terpisah, maka hal itu tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang benar.[8]

Namun, dari meragukan segala sesuatu tersebut, ada satu hal yang sama sekali tidak bias diragukan lagi sehingga harus diterima secara mutlak, yakni kenyataan bahwa “Aku yang sedang meragukan segala sesuatu ini ada!” Orang bisa menyangkal segala sesuatu, namun ia tidak bisa menyangkal keberadaan dirinya sendiri.

“Saat aku mencermati dan berpikir bahwa segala sesuatu adalah salah…, pada saat itu aku menyadari kebenaran ini: ‘Aku berpikir maka aku ada’.” [9]

 (Descartes, 1637)

         Dengan demikian, menurut Descartes, pemikiran atau kesadaran tidak bisa dipisahkan dari diri seseorang. Hakikat manusia adalah “pemikiran”-nya (res cogitans). Maka, bagi Descartes, kesadaran diri harus diterima sebagai kebenaran karena saya memahaminya dengan jelas dan terpisah.

“Benar, aku hanyalah makhluk yang berpikir… Makhluk yang bisa meragukan, mengamati, membenarkan, menolak, menginginkan, tidak menginginkan, berimajinasi, dan merasakan.”[10]

 (Descartes, 1673)

Kesadaran diri (cogito) seperti inilah yang bagi Descartes merupakan dasar yang kuat bagi seluruh bangunan filsafat.[11] Namun, satu hal yang harus dibayar dari filsafat cogitoini adalah melepaskan “diri” (subyek) dari dunianya, tempat ia mengungkapkan dirinya melalui bahasa, tempat di mana historisitasnya dipahami dalam berbagai kisah. Selain itu, dalam posisi seperti ini tampaknya “diri” (subyek) tidak lagi membutuhkan “yang lain”.

Sedangkan melalui katarsiskita dihadapkan pada sebuah “imajinasi demi orang lain” (a vicarious imagination). Imajinasi ini terdiri atas sikap “empati” dan “pengambilan jarak” yang bersifat vital untuk kesuksesan rekonfigurasi narasi-narasi yang ada. Dengan kata lain, jika kita memiliki rasa “simpati naratif”, kita dimampukan untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda dan membuka sebuah cara baru untuk “melihat” dan “mengada”. Dari proses narasi yang menghadirkan yang “absent” atau yang terlupakan ini, di sana tujuan katarsis terpenuhi – pelepasan “diri” dan mulai melihat “yang lain”.

II.5. Phronesis (kebijaksanaan)[12]

Pada point ini, pertanyaan yang diajukan, “Apakah kita benar-benar dapat mengetahui dunia, diri kita sendiri, atau orang lain melalui kisah-kisah?” Ricoeur setuju dengan Aristoteles, bahwa kita – Ada yang rasional – memiliki sebuah tipe pemahaman yang spesifik atas narasi (fiksi maupun historis) yang berhubungan dengan pilar yang keempat yaitu phronesis.

Phronesis di sini dapat dipahami sebagai sebuah momen kebijaksanaan praktis, yang mendorong sebuah pengertian yang lebih mendalam – di  mana ada insight yang menghargai singularitas berbagai macam situasi, yang memunculkan asal-mula universalitas nilai-nilai manusiawi. Fungsi Phronetis Narasi sangatlah penting dalam mengungkapkan kebenaran. Dengan kata lain, melalui phronesis, kebenaran-kebenaran esensial dan kebijaksaan hidup dapat terungkap, baik itu di dalam sejarah (sebagai “yang real”) maupun di dalam fiksi (“yang imajiner”).

Kebutuhan untuk saling berbagi “kebijaksanaan” dalam setiap  kisah kehidupanmanusia, juga membawa implikasi positif untuk membawa dunia menjadi lebih baik, terutama di dalam dunia kita yang penuh dengan konflik, perang, kejahatan, dan berbagai macam persoalan lainnya. Melalui jalan ini, kita dapat menemukan suara-suara baru untuk melahirkan saksi-saksi untuk masa lampau, melalui penarasian ulang kisah-kisah hidup manusia. Dinamika ini membawa Ricoeur sampai pada kesimpulan bahwa “Narasi merupakan sebuah ‘penciptaan-dunia’ dan juga sebuah ‘proses penyingkapan-dunia’.” Alasan kita butuh untuk bercerita dan menceritakan ulang kisah-kisah hidup kita adalah karena narasi pada akhirnya membawa kita sampai pada point-point etis kehidupan. Kisah-kisah merupakan sebuah bentuk diskursus mengenai ‘Yang Etis’.

II.6. Ethos (karakter)[13]

Dalam setiap “tindakan pengisahan” (act of storytelling) selalu mengandaikan ada(1) orang yang bercerita mengenai (2) suatu kisah, yang ditujukan pada (3) pendengar, mengenai (4) sesuatu (baik itu real maupun imajiner). Ketika kita terlibat dalam sebuah kisah, secara simultan kita sadar akan hadirnya seorang narrator, karakter-karakter yang dinarasikan, dan seorang interpreter naratif yang menerima kisah tersebut dan menghubungkannya kembali pada dunia-kehidupan. Dari sini jelas bahwa setiap agen yang terlibat – baik itu narrator, karakter yang dikisahkan, maupun seorang interpreter – harus memiliki “identitas diri” yang memisahkan (membedakan) mereka satu dengan yang lain.

“Identitas-diri” ini terbentuk sepanjang waktu hidup kita – dulu, sekarang, dan yang akan datang, di mana ketiganya tak dapat dipisahkan begitu saja. Dengan kata lain, “kedirian” memanggil kita untuk sebuah “kesatuan naratif sebuah kehidupan”, yang diderivasi dari sebuah pertanyaan, “Siapakah kamu?” Di dalam usaha untuk “mengisahkan” atau “menjawab” pertanyaan tersebut, setiap dari kita merupakan “ada-yang-terbentuk” dari interaksi subyek-subyek yang dapat bertindak dan berjanji pada diri sendiri dan juga orang lain. Bagi Ricoeur, tanpa adanya interaksi, kita tidak dapat memiliki sense “identitas naratif” yang menyediakan kepada kita sebuah pengalaman-pengalaman partikular “diri”, yang dibutuhkan juga untuk merealisasikan setiap bentuk sikap tanggungjawab moral kita.

III.     Idem-Identity dan Ipse-Identity

Dalam menjawab pertanyaan, “Siapakah kamu?” Kita akan menemukan dua bentuk identitas, yaitu (1) Idem-Identity, dan (2) Ipse-Identity. Perbedaan ini lebih didasarkan pada persoalan “permanensi dalam waktu”.

(1)    Idem-Identitybagi Ricoeur dipahami sebagai sesuatu yang sama dalam kurun waktu tertentu. Hal ini merupakan pembacaan Ricouer atas pemikiran para filsuf sebelumnya, antara lain: (a) John Locke, dan (b) David Hume.

(a)    John Locke

Dalam Essay Concerning Human Understanding, Locke menyatakan bahwa:

“Dan ketika kita mengharapkan apakah segala hal itu sama atau tidak, itu mengacu pada sesuatu yang berada dalam suatu tempat dan waktu tertentu, yang mana sudah menjadi yakin pada saat itu juga, bahwa (sesuatu itu) adalah sama dengannya.”[14]

(b)   David Hume

Hume sejalan dengan Locke, di mana identitas dipahami dalam kategori kesamaan. 

“Kita memiliki pemahaman yang jelas tentang obyek yang selalu konstan dan tidak terinterupsi oleh berbagai variasi yang diasumsikan (terjadi) dalam waktu, dan ide ini kita sebut sebagai identitas sebagai kesamaan.”[15]

Bagi Ricoeur, Locke dan Hume di sini memahami identitas sebagai sesuatu yang sama dalam ruang dan waktu tertentu sehingga dapat selalu dikenali. InilahIdem-Identity bagi Ricoeur.

(2)   Selain Idem-Identity, masih ada satu lagi jenis identitas yang lebih banyak memberi porsi bagi “kedirian”, yaitu Ipse-IdentityJika Idem-Identity terjebak dalam permanensi waktu dalam kategori substansialis, atau sesuatu menampakkan diri pada kita sehingga dapat diidentifikasi dan reidentifikasi secara sama[16]; Sedangkan, Ipse-Identity mengandung permanensi waktu yang tidak terjebak dalam skema substansialis, yaitu karakter dan berjanji.

(a)    Karakter

Karakter di sini dapat dipahami sebagai seperangkat disposisi, di mana seseorang dapat dikenali. Ada dua unsur yang membentuk karakter, yaitu (1)kebiasaan, dan (2) identifikasi. Kebiasaan lebih terjadi karena bentukan atau sudah ada sebagai sesuatu yang terberi. Kebiasaan di sini memberi cirrikesejarahan dalam karakter. Sedangkan, identifikasi lebih menempatkan karakter dalam relasinya dengan orang lain. Misalnya, seseorang begitu kagum dengan Bung Karno, maka ia pertama-tama berusaha meneladan Bung Karno dengan menginternalisasi nilai-nilai yang dimiliki Bung Karno untuk menjadi milik dirinya sendiri. Identifikasi di sini lebih menunjukkan dimensievaluatif dalam karakter.

(b)   Berjanji

Misalnya, “Saya berjanji hidup bersamamu dalam situasi apa pun.” Dari kalimat tersebut ada dua hal yang patut diperhatikan. Pertama, berjanji menunjukkan konsistensi diri. Kedua, menjaga janji dapat dipahami sebagai tantangan terhadap sang waktu, sebuah penolakan untuk berubah. Memegang teguh janji, walaupun waktu terus berjalan.

Dari dua bentuk permanensi waktu, yaitu karakter dan berjanji, terjadidialektika. (a) Di satu sisi, karakter menunjukkan kesamaan dan permanensi menjadi disposisi bagi “kedirian”. Misalnya, kita mengenal Wahyu karena sifat-sifatnya dari waktu ke waktu selalu sama dan tidak berubah. (b) Di sisi lain, berjanji menunjukkan “kedirian” yang dijaga justru lewat perubahan-perubahan tanpa sama sekali memperhitungkan cirri kesamaan.

Dialektia antara karakter dan berjanji akhirnya akan menghasilkan sintesa, yaitu identitas naratif sekaligus menjadi mediasi bagi dua bentuk permanensi waktu tersebut.

IV.     Identitas Naratif: Dialektika Idem-Identity dan Ipse-Identity

Apa itu identitas  naratif? Identitas naratif adalah “the sort of identity to which a human being has access thanks to the mediation of the narrative function”.[17] Ricoeur berasumsi bahwa kehidupan ini makin bisa dipahami ketika dituangkan dalam bentukkisah. Selain itu, kisah dapat menjadi mediasi berbagai pertentangan yang ada dalam identitas. Lalu, ada beberapa point yang dapat kita refleksikan bersama :

(1)   Ketika identitas dipahami sebagai sebuah kesamaan (idem-identity), apakah masih terdapat ruang untuk keberagaman, instabilitas, dan diskontinuitas?

Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita perlu memahami bahwa terjadi transformasi antara dunia tindakan ke dalam dunia cerita. Jembatan antara dua hal tersebut adalah karakter. Karakter adalah seseorang yang melakukan sebuah tindakan dalam sebuah cerita. Bahkan, keseluruhan plot dapat dikatakan sebagai pendeskripsian dari kehidupan karakter tertentu.

Di dalam cerita, karakter tampil dengan penuh inisiatif. Artinya, ia memiliki kekuatan untuk memulai serangkain peristiwa, menentukan awal, tengah, dan akhir, walaupun hasil dari tindakannya tidak selalu seperti yang ia harapkan. Inilah salah satu unsur terpenting dari identitas naratif, yaitu poetic replyPoetic replymerupakan istilah lain dari inisiatif (di sini tentunya dalam konteks sebuah narasi). Dengan “poetic reply”-nya, sebuah karakter menampilkan diri dengan sangat dinamis. Karena inisiatifnya itu, ia selalu berusaha menempatkan berbagai peristiwa dalam hidupnya – bahkan yang tampaknya bertentangan – dalam satuplot tertentu. Dalam plot inilah, pertentangan yang dibawa oleh idem-identity, yaitu masalah diskontinuitas-kontinuitas, stabilitas-instabilitas dapat diatasi.

(2)    Apakah Idem-Identity dan Ipse-Identity saling berhubungan satu sama lain?

         (Ada dua level untuk menjawab pertanyaan ini)

a)      Melalui pengalaman harian.

Plot berperanan di sini, di mana plot berusaha memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai karakter sang tokoh dari titik awal hingga titik akhir di dalam narasi, dalam satu kesatuan. Dengan begitu, kita dapat mengenali karakter tersebut melalui serangkaian peristiwa yang dilalui. Melalui pengenalan ini juga, kita dapat melihat apakah karakter memiliki disposisi tertentu untuk setia terhadap janjinya. Karena ia dapat dipercaya, kita yakin bahwa ia akan setia pada apa yang ia ucapkan atau janjikan walaupun selalu ada tantangan untuk selalu berubah. “Bukankah seseorang bisa berjanji karena ia memiliki karakter yang mendukung pemenuhan janji tersebut?” Maka, Idem-Identity dan Ipse-Identity tak dapat dipisahkan begitu saja.    

b)      Melalui variasi imajinatif

Hal ini dapat dilihat dari begitu banyaknya genre sastra. Misalnya, cerita-cerita kerakyatan atau novel-novel klasik Inggris abad ke-18, di mana karakter ditampilkan secara tradisional, memiliki watak tertentu dan bersikap sama dalam setiap adegan. Ada juga aliran novelapprenticeship, suatu aliran novel yang lebih menekankan pada penggambaran perkembangan karakter dari awal sampai ke suatu tingkat tertentu, di mana sang karakter dinilai telah memenuhi tugasnya. Di sana ada konsistensi karakter, namun tetap ditampilkan pergulatannya melalui pengalaman-pengalaman yang mendalam dan intim. Dalam hal ini, kedirian (ipse) lebih mendapat fokus daripada kesamaan (idem). Maka, karya sastra di sini juga menunjukkan bagaimana ia dapat membentuk sebuah cara pandang baru terhadap relasi antara karakter dan kedirian, suatu hal yang sebenarnya sangat sulit dalam kehidupan.

V.      Narasi dan Etika

Bagi Ricoeur, narasi bukan melulu menggambarkan bagaimana si “aku” direfleksikan, melainkan bagaimana “aku” dalam sebuah dialektika dengan “engkau”. Ricoeur menyatakan,

“Dalam filsafat tentang kedirian seperti yang saya lakukan, kita harus berani mengatakan bahwa kepemilikan (ownership) bukanlah sesuatu yang penting. Apa yang disampaikan oleh kasus-kasus tertentu yang dihasilkan oleh imajinasi naratif adalah sebuah dialektika antara kepemilikan dan keadaan tidak memiliki (dispossession), antara perhatian atas diri dan lepas atas keterkungkungan diri (carefreeness), antara afirmasi diri dan penyangkalan diri.”[18]

Yang menjadi pertanyaan adalah “Kepada siapa diri bertanggungjawab? Apakah melulu terhadap diri-nya sendiri atau kepada ‘yang lain’?” Jika kembali kepada janji, maka setiap janji yang diucapkan sebenarnya ditujukan kepada “yang lain” sebagai rekan bicara. Demikian juga dalam narasi, tanggungjawab dari “diri” bukan pertama-tama tanggungjawab atas kediriannya melainkan tanggungjawab terhadap “yang lain”. Dengan menyatakan janjinya dan berpegang teguh terhadap jajinya, diri seakan berkata kepada “yang lain” bahwa sikapku terhadapmu tidak akan berubah.

VI.     Penutup

Narasi menjadi sebuah jembatan untuk mempertemukan dua jenis identitas (Idem-identity dan Ipse-Identity) yang seringkali dipertentangkan. Maka, dari sanalah kita mengenal adanya “identitas naratif”, di sana kita menemukan keutuhan – bertemunya Idemdan Ipse. Melalui narasi, seorang individu benar-benar menjadi “individu”. Narasi juga menjadi mediasi permasalahan dalam identitas, namun juga menjadi mediasi antara penggambaran realitas (deskripsi) dan apa yang seharusnya ada dalam realitas.

Selain itu, melalui narasi, kita menemukan “yang lain”, di mana “yang lain” menjadi fokus dari setiap tindakan kita dan kita ikut bertanggungjawab atas “yang lain”. Maka, melalui narasi, identitasku sebagai pribadi yang ada di tengah-tengah dunia – bersama “yang lain” – semakin dikukuhkan. Hingga akhirnya, kita dapat berkata, “Aku utuh tak terbagi!” Inilah “Identitas Naratif”.

DAFTAR PUSTAKA

Duffy, Maria. 2009. Paul Ricoeur’s Pedagogy of Pardon: A Narrative Theory of Memory and Forgetting. London: Continuum International Publishing Group.

 Reagan, Charles E.. 1996. Paul Ricoeur: His Life and His Work. Chicago dan London: The University of Chicago Press.

Ricoeur, Paul. 1991. “Life: A Story in Search of a Narrator” dalam Reflection and Imagination: A Ricoeur

Reader (Editor: Mario J. Valdes)Toronto: University of Toronto Press.

Ricoeur, Paul. 1991. “Narrative Identity” dalam Philosophy Today (Spring 1991).

Ricouer, Paul. 1992. Oneself as Another. Chicago: University of Chicago Press.

Tjahjadi, Simon Petrus L.. 2004. “Petualangan Intelektual”. Yogyakarta: Kanisius.


[1] Bdk. Charles E. Reagan, 1996, Paul Ricoeur: His Life and His Work, Chicago dan London: The University of Chicago Press, hlm. 22.

[2] Bdk. Maria Duffy, 2009, Paul Ricoeur’s Pedagogy of Pardon: A Narrative Theory of Memory and Forgetting,London: Continuum International Publishing Group, hlm. 26-31.

[3] Bdk. Paul Ricoeur, 1991, “Life: A Story in Search of a Narrator” dalam Reflection and Imagination: A Ricoeur Reader (Editor: Mario J. Valdes)Toronto: University of Toronto Press, hlm. 426-437.

[4] Bdk. Maria Duffy, Paul Ricoeur’s Pedagogy of Pardon…, hlm. 26-27.

[5] Bdk. Maria Duffy, Paul Ricoeur’s Pedagogy of Pardon…, hlm. 27-28.

[6] Cerita itu sendiri melalui triple proses, yaitu (1) pre-figuring, (2) configuring, dan (3)re-figuring.

[7] Bdk. Maria Duffy, Paul Ricoeur’s Pedagogy of Pardon…, hlm. 28.

[8] Bdk. Simon Petrus L. Tjahjadi, 2004, “Petualangan Intelektual”, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 207.

[9] Bdk. Simon Petrus L. Tjahjadi, “Petualangan Intelektual”, hlm. 207. (dikutip dari Descartes, 1637, Discours de la Méthode pour bien conduire la Raison & chercher la Verite dans les sciences.)

[10] Bdk. Simon Petrus L. Tjahjadi, “Petualangan Intelektual”, hlm. 207.

[11] Bdk. Simon Petrus L. Tjahjadi, “Petualangan Intelektual”, hlm. 208.

[12] Bdk. Maria Duffy, Paul Ricoeur’s Pedagogy of Pardon…, hlm. 29.

[13] Bdk. Maria Duffy, Paul Ricoeur’s Pedagogy of Pardon…, hlm. 30-31.

[14] Bdk. John Locke, 1964, An Essay Concerning Human Understanding, New York: World Publishing, hlm. 207. (Sebagaimana dikutip oleh Paul Ricouer, 1992, Oneself as Another, Chicago: University of Chicago Press, hlm. 125.)

[15] Bdk. David Hume, 1969, A Treatise of Human Nature, New York: Penguin Books, hlm. 301. (Sebagaimana dikutip oleh Paul Ricouer, Oneself as Another, hlm. 127.)

[16] Ada 3 ciri permanensi waktu yang terjebak dalam skema substansialis. (1) Ciri Numerik – menyatakan dua kejadian yang sebenarnya mengacu pada satu hal. Di sini identitas dipahami sebagai kesatuan yang dilawankan dengan keberagaman. (2) Ciri Kualitatif – Misalnya, Adri dan Wanto menggunakan tas yang sama. Kedua tas tersebut sama persis sehingga dapat saling menggantikan. Identitas dalam ketegori ini dipahami sebagai extreme resemblance. (3) Keberlangsungan yang tak henti (uninterrupted continuity) – Misalnya, biji mangga yang saya tanam di taman belakang 10 tahun yang lalu sudah tumbuh menjadi pohon mangga yang besar. Kesamaan di sini dipahami dalam konteks pertumbuhan, kita bisa mengatakan bahwa pohon mangga yang besar itu adalah sama dengan biji mangga yang 10 tahun yang lalu saya tanam di taman belakang.

[17] Bdk. Paul Ricoeur, 1991, “Narrative Identity” dalam Philosophy Today (Spring 1991), hlm. 73.

[18] Bdk. Paul Ricoeur, Oneself as Another, hlm. 168.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s