Nietzsche: “Sang Bayi Yang Bermain”

bayi

Sang Bayi Yang Bermain

“Solusi” atas Modernitas (Sains) menurut Nietzsche

 

“Jangan-jangan yang namanya disiplin roh saintifik itu

memang dimulai dari pelarangan-diri atas segala bentuk keyakinan?”[1]

(Nietzsche, La Gaya Scienza (GS), §344)

I. Mukadimah : Modern(itas)

 

“Modern”

Itulah nama yang menandai zaman kita dewasa ini.

Jika Shakespeare ada saat ini dan di sini, saya membayangkan bahwa ia akan bertanya,

“Apalah arti sebuah nama?[2] Apa artinya ‘modern’? Masihkah memiliki makna?”

Kata “modern” berasal dari kata Latin ‘moderna’, yang berarti ‘sekarang’, ‘baru’, atau ‘saat ini’. Jika kita mendasari pemahaman kita atas dasar pengertian tersebut, maka kita dapat mengatakan bahwa manusia senantiasa hidup dalam zaman “modern”, sejauh “kekinian” menjadi kesadarannya. Menurut para ahli, “kelahiran” zaman modern di Eropa itu sekitar tahun 1500. Lalu, “Apakah sebelum tahun 1500, manusia belum hidup di masa ‘kini’?” Tentunya TIDAK. Hal ini hanya ingin menunjukkan bahwa “kesadaran manusia akan ‘kekinian’ muncul di banyak tempat, khususnya di Eropa pada zaman itu (1500-an)”. Maka, “modern(itas)” itu pertama-tama bukan hanya menunjuk pada periode, melainkan juga ingin menyatakan “kesadaran” manusia, yang terkait juga dengan “kebaruan” dan “kekinian”. Maka, tak heran jika “modernitas” memiliki kata kunci, seperti perubahan, kemajuan, dan pertumbuhan. Maka seringkali, “modernitas” lebih didekatkan pada pemahaman umum mengenai tumbuhnya sains dan teknologi mutakhir-terbaru, di mana peran rasio (akal budi) begitu diagung-agungkan.[3]

Dalam makalah ini, penulis akan lebih berbicara mengenai (1) “modernitas”; dan (2) memfokuskan diri pada “sains”; lalu (3) “membaca”-nya dalam kacamata Nietzsche. Sebelum masuk pada inti pembahasan, saya akan memaparkan secara ringkas “Gaya Filsafat Nietzsche”, yang menjadi pintu masuk pandangannya terhadap “modernitas”.

II. Genealogi : Gaya Filsafat Nietzsche[4]

Nietzsche seringkali disalah mengerti karena ia menolak gaya berpikir sistematis. Ia lebih memilih aforisme[5] sebagai gaya penulisan (pemikiran)-nya. Ia memang memilih untuk tidak dimengerti ketika pemikir-pemikir lain berusaha keras untuk dimengerti. Baginya, “Semua pemikir yang dalam lebih takut dipahami daripada disalahpahami” (Melampaui Baik dan Buruk, paragraph 290).[6]

Meskipun Nietzsche menolak gaya berpikir sistematis, namun sebenarnya ada satu pola (metode) yang selalu berulang dalam tulisan (pemikiran)-nya. Metode itu adalah “Genealogi”. Itulah kata yang dapat merangkum metode filosofis Nietzsche. Genealogi, bagi Nietzsche, bukanlah sebuah teori mengenai “asal-usul” dan juga bukan sebuah ilmu yang berusaha mencari “logika dasar”. Melainkan, ia lebih mendekatkan diri pada “Metode Psikologis”[7] dan menempatkan dirinya sebagai seorang fisio-psikolog[8]. Pertanyaan inti yang ingin diajukannya adalah “Apa yang dikehendaki seseorang ketika ia menghendaki sesuatu?”. Dalam arti itulah Genealogi dipahami, sebuah metode yang digunakan Nietzsche untuk mencari “apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh kehendak”.

Sebagai seorang “fisio-psikologisi pemikiran filosofis, isi doktrin agama atau anti-agama, metode saintifik, ideologi, dan berbagai macam pola pemikiran lainnya, ia perlakukan sebagai sebuah simtom yang ingin didiagnosis lebih lanjut. Diagnosis itu sendiri akan menunjukkan analisis mengenai vitalitas penghendakan manusia (kuat atau lemah). Lalu dari situ, Nietzsche akan membawa kita untuk sampai pada tipologi subyek–yang–menghendaki: dekaden (lemah, menurun) atauasenden (kuat, menaik). Proyek besar pemikiran Nietzsche, yang “mencari kehendak di balik kehendak” inilah, yang selalu membawanya untuk mempertanyakan dan mengkritisi setiap hal.

Nietzsche selalu berusaha menguraikan segala macam bentuk fixed idea. Baginya, segala bentuk pemikiran yang ingin mencapai yang-akhir, final, dan fix adalah sebuah simtom yang patut didiagnosis (salah satunya adalah sains modern). Sebagai fisio-psikolog, Nietzsche membawa simtom yang didiagnosisnya pada “kebertubuhan”[9]—bagaimana mekanisme penghendakan si pemikir bekerja. Nietzsche, tidak memperdulikan isi atau ajaran pokok suatu pemikiran (rasional), melainkan mencari “Mengapa pemikiran itu dikehendaki dibandingkan pemikiran lainnya?” Pertimbangan ini akan sampai pada yang “amoral” (ekstra-moral), yang lepas dari kategori biner moral klasik (baik-buruk). Bagi Nietzsche, kebaikan atau keburukan ideal itu tidak ada. Yang ada secara real adalah kehidupan apa-adanya (kaotis dan plural). Melalui analisis ini, Nietzsche sampai pada uraian mengenai kebutuhan untuk percaya.

Secara umum, Nietzsche ingin menyatakan bahwa untuk percaya kita membutuhkan sesuatu, yaitu kebutuhan untuk percaya itu sendiri. Kebutuhan inilah yang menjadi dasar kokoh (elemen-penstabil) yang memberi sandaran pada sebuah kepercayaan atau keyakinan yang dipeluk. Secara sederhana, Metode Genealogi Filosofis Nietzsche dapat dipaparkan, sebagai berikut :

Metafisika – Moral – Psikologi

1.   [Metafisika] Pertama-tama, Nietzsche akan melihat apa yang menjadi isi keyakinan (idea fix) seseorang mengenai sesuatu (misalnya: konsep tuhan,being, kebenaran, dlsb.).

2.    [Moral] Kemudian, Nietzsche akan mengkaji sistem penilaian atas nilai-nilai (idea fix) yang diyakini itu, terlepas dari penilaian baik atau burukbenar atausalah. Pertanyaannya, “Mengapa seseorang dapat meyakini suatu Kebenaran atau Kebaikan (sebuah idea fix) sebagai benar-benar Kebenaran dan Kebaikan bagi dirinya?”

3. [Psikologi] Pada akhirnya, Nietzsche akan menelisik lebih dalam pada kondisi-eksistensi si penghendak. Penelitian pada tahap ini berujung pada pertanyaan, Ada apa sebenarnya dengan si penghendak nilai-nilai (idea fix) tersebutIa itu asenden atau dekaden?”

Di balik “Metafisika” (Idea Fix), ada “Moral” tertentu; di balik “Moral” itu, ada “Psikologi” tertentu. 

III.  Sains : “Sebuah Agama Baru”[10]

Bagi Nietzsche, manusia selalu membutuhkan “sesuatu untuk dipercaya”. Perwujudan dari kebutuhan akan “sesuatu untuk dipercaya” itu tampak dari pegangan-pegangan hidup manusia; baik itu agama (konsep tuhan), metafisika (konsep esensi), ideologi politik (demokrasi, komunis), dan juga tentunya sains (obyektivitas bukti sebagai kebenaran-akhir). Manusia tidak ingin selalu terombang-ambing oleh ketidakjelasan, maka sesuatu yang dapat diyakini dan dianggap sebagai benar adalah sesuatu yang patut diraih. Pencarian akan yang-akhir (idea fix) itulah yang menjadi pusat perhatian manusia pada setiap zaman. Manifestasi idea fix (yang-akhir) itu tampak jelas dalam sains. Sains dianggap sebagai “penyelamat” peradaban manusia. Sains diagung-agungkan sebagai “puncak” keberhasilan manusia. Sains pada akhirnya dipandang dapat memberi “landasan kokoh” bagi “iman-kepercayaan” manusia dalam memandang hidup ini—“Iman-kepercayaan” yang menyodori kebenaran fix, final, universal, rasional, dan tentunya ilmiah. Pada saat itulah, sains menjadi sebuah agama baru.

Melihat sains yang begitu “kudus”, Nietzsche pun mengajukan sebuah pertanyaan bagi manusia modern yang begitu “percaya” pada sains, “Dalam arti apa kita masih saleh?”. Apakah “kesalehan” kita terletak ketika kita mematuhi prosedur ilmiah yang ketat dan keras? Apakah “kesalehan” kita ditentukan dengan seberapa jauh kita berusaha mencapai obyektivitas, yang menuntut meninggalkan segala praduga psikologis yang subyektif, termasuk keyakinan agama dan ideologi kita? Dan, apakah “kesalehan” kita juga terletak pada klaim netralitas yang menawarkan solusi universal bagi siapa saja dan di mana saja?

Para saintis akan mengafirmasi seluruh pertanyaan di atas dengan mengatakan bahwa “kekudusan” sains terletak di sana. Dan, tepat di sanalah Nietzsche menunjukkan bahwa sains pun disetir oleh sebuah kepercayaan, yaitu kehendak untuk mendominasi. Wujudnya tampak dalam  (1) prosedur ilmiah yang ketat dan keras; (2)obyektivitas; dan juga (3) klaim netralitas yang menawarkan solusi universal. Alih-alih ingin meninggalkan keyakinan agama dan segala bentuk keyakinan psikologis-subyektif lainnya, sains di sisi lain justru membangun sebuah keyakinan (agama) barudengan “dogma”-nya sendiri, yaitu prosedur ilmiah, obyektivitas, netralitas, dan juga universalitas. Di balik roh saintifik ini, sebenarnya tetap ada sebuah moral tertentu yang menjadi perangkat peradilan tersendiri, yang dinamai benar atau salah. Dengan begitu, di atas “meja altar”-nya, sains mengorbankan keyakinan apa pun yang tidak lolos sensornya.

Menurut Nietzsche, di balik ambisi sains ini ada sebuah kehendak absolut akan kebenaran. Kemudian Nietzsche melanjutkan investigasinya dengan bertanya, “Sebenarnya ada apa di balik kehendak mati-matian akan kebenaran ini?”  Bukannya berbicara mengenai sesuatu yang benar atau salah, melainkan kehendak akan kebenaran lebih menunjukkan manifestasi kebutuhan akan pegangan, akan sandaran. Kaum saintifik membutuhkan sesuatu untuk bertopang, dan hal itu terwujud dalam kebenaran yang mereka kehendaki secara mati-matian. “Mengapa mereka seperti itu?” Pisau genealogis Nietzsche akan langsung melihat bahwa ada sesuatu yang salah dalam kehendak mereka. Kehendak mereka lemah, loyo, bahkan cacat, dan untuk itulah mereka membutuhkan sandaran eksternal (sains) agar mereka tetap bisa hidup—tanpa sains, hidup bagi mereka tak bermakna lagi. Dengan kata lain, mereka ini adalah orang-orang yang dekaden. Sedangkan sebaliknya, orang yang memiliki kehendak yang kuat dan utuh, tidak akan takut berhadapan dengan realitas yang campur aduk, chaos, dan tidak menentu. Mereka tidak takut menghadapi realitas yang memuat kebenaran sekaligus ketidakbenaran. Kemampuan mereka itu mengutuhkan dirinya sendiri secara internal berhadapan dengan kekompleksitasan realitas yang ada di hadapannya. Mereka inilah yang bagi Nietzsche dipandang sebagai kaum asenden. Mereka berani hidup apa-adanya. Mereka berani bermain di antara kedalaman danpermukaan. Mereka beranai berkata ya dan tidak sekaligus. Merekalah yang merayakan kehidupan!

IV.    Bayi Yang Bermain : Sebuah Solusi atas Modernitas (Sains)[11]

Mengatasi dekadensi manusia modern yang selalu membutuhkan pegangan (khususnya, dalam hal sains), Nietzsche telah menulis sebuah “solusi” yang ditawarkan untuk para pembacanya. “Solusi” ini  digambarkan dengan puitis melalui gambaran “Tiga Metamorfosis”.

“Tiga Metamorfosis” ini dapat menggambarkan diri manusia berkaitan dengan cara berpikir, hadir, tumbuh, berkembang, atau juga sebaliknya, stagnan. Gambaran ini terdapat dalam buku Zarathustra. Gambaran “Tiga Metamorfosis” ini, pada akhirnya dapat menunjukkan sebuah “solusi” bagi kita ketika berhadapan dengan sains dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam teks tersebut, digambarkan ada 3 metamorfosis roh, yaitu (1) Unta; (2) Singa; dan (3) Bayi.

(1)    Unta. Unta merupakan sebuah gambaran yang menunjukkan sikap “iya secara naïf”. Terhadap apa saja yang datang padanya, ia menerimanya. Sakit, sebagai salah satu dari banyak segi kehidupan, diiyai secara naïf oleh roh berwujud Unta. “Iya, datanglah hai rasa sakit, aku menghendakimu, aku justru membutuhkanmu lebih banyak lagi. Aku butuh cobaan, aku butuh dicobai, sebab tanpa cobaan akan jadi apa aku ini nantinya?” Roh Unta di sini selalu membutuhkan beban eksternal agar ia memiliki pegangan hidup. Roh Unta bukanlah roh yang sadis (menyakiti orang lain). Melainkan sebaliknya, ia justru cenderung masokhis (menikmati rasa sakit, memuja rasa sakit sebagai sesuatu yang baik dalam dirinya sendiri). Kesembuhan, kelepasan dari beban rasa sakit justru membuat ia resah, tidak nyaman, dan tidak berguna. Sikapiya naïf ini tampak halus, bagus, suci, namun bila terus dijalankan akan berakibat menghancurkan diri si Unta sendiri. Sikap Roh Unta ini pun dapat kita lihat dalam diri para saintis. Mereka menerima (a) prosedur ilmiah yang ketat dan keras; (b)obyektivitas; dan juga (c) klaim netralitas yang menawarkan solusi universal, dengan sebuah sikap iya-naif. Mereka menerima begitu saja “prasyarat ilmiah” dalam sains, walaupun mereka seringkali merasa terbebani oleh itu semua. Namun, bagi mereka (para saintis), beban itu adalah beban yang membawa rahmat, karena mereka yakin melalui berbagai macam “prasyarat ilmiah” itu, mereka akan digiring pada kebenaran.Kehendak mereka untuk mencapai kebenaran (sandaran hidup), mereka rasakan dapat dipenuhi oleh sains.

(2)    Singa. Singa merupakan sebuah gambaran yang menunjukkan sikap “tidak secara naïf”. Terhadap apa saja yang datang padanya, ia menolaknya. Roh ini berbalikan dari Roh Unta. Sakit tidak lagi diterimanya, melainkan ditantang dengan garang (ditolak). Singa berusaha untuk tidak ditundukkan oleh rasa sakit, melainkan dengan raungannya yang ganas, ia mencoba melawan (menidak). Roh Singa ini tampak pula dalam diri para anti-sains, mereka berpandangan bahwa sains itu tidak berguna, selalu berubah, dan tidak memberi kepastian (ditunjukkan dengan sifat tentatif sains [tidak pernah abadi], sejauh belum ada teori yang dapat menjatuhkan teori sebelumnya, maka teori itu tetap dapat dipegang). Penelitian-penelitian yang ada hanya dipandang sebagai sebuah proyek “rekayasa” demi kepentingan dan tujuan tertentu. Mereka sangat skeptis pada sains. Inilah paranoia Singa di hadapan sains (modern) dewasa ini, yang diwakili oleh mereka yang anti-sains.

(3)    Bayi. Bayi merupakan sebuah gambaran yang menunjukkan sebuah sikap yang “sekaligus iya dan tidak”. Kekhasan seorang Bayi adalah “kepolosan”-nya. Apa saja yang datang (dunia kehidupan, realitas) tidak lagi diiyai secara naïf atau dikuasai, tetapi juga tidak menidak secara naïf atau menolakya begitu saja. Melainkan, Bayi berusaha menerima sekaligus menolak (ya dan tidak sekaligus). Ada sebuah ambiguitas di sana. Namun, tepat di sana pula Bayi dapat menciptakan nilai-nilai (dunia) baru, di mana kepolosannya menggiringnya pada “afirmasi kudus” pada apa saja yang datang—sebuah realitas yang pada dirinya sendiri tidak perlu ditakuti ataupun dipuja. Bayi ini juga mencerminkan sebuah sikap sopan-santun di hadapan kebenaran (sains). Di mana, ia mau menari di bibir jurang; menerima penampakan dan juga kedalaman sekaligus. Kebenaran sains, tidak lagi hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus diterima atau ditolak begitu saja. Bagi Nietzsche, kebenaran – pada tahap Unta dan Singa – masih hanya ingin mengungkapkan kebutuhan subyektif manusia[12]. Kebenaran hanya dianggap sebagai sebuah properti yang dapat dimiliki (diterima atau ditolak). Banyak orang menganggap sesuatu benar karena ingin menganggapnya benar (jika tidak, ditinggalkan). Bahkan, seseorang harus yakin bahwa tindakannya itu benar sekalipun jika keyakinannya itu adalah sebuah kebohongan[13].  Dengan begitu, “kebenaran” itu dirasa dapat memberi kelegaan, keamanan, dan ketenteraman bagi hidupnya. Bagi Nietzsche, kebenaran bukanlah sebuah properti atau harta milik[14]. Kebenaran tidak dapat di-fix-kan, apalagi jika hanya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Jika kebenaran adalah wanita, maka para saintis dogmatis adalah pria-pria bodoh yang tidak tahu bagaimana caranya mengambil hati wanita. Bagi Nietzsche, para saintis ini terlalu percaya diri, dogmatis, dan serius.[15] Mereka seperti anak-anak muda Mesir yang karena rasa ingin tahunya, masuk ke kuil dan menyingkap selubung patung-patung. Mereka ingin mengetahui kebenaran sebenar-benarnya. Bagi Nietzsche, “Itu semua merupakan kejijikan yang sudah kita campakkan; Kita tidak lagi percaya bahwa sebuah kebenaran akan tetap sebuah kebenaran manakala selubungnya disingkap.”[16] Kebenaran itu adalah wanita dengan selubungnya – dua-duanya. Di hadapannya kita perlu menjunjung sopan santun dan hormat. Wanita adalah dunia, hidup, dan realitas apa adanya. Namun, bukan berarti hanya diterima apa adanya atau ditolak begitu saja. Melainkan, kita perlu menanggapinya dengan “ya-tidak” sekaligus. Di sanalah, Sang Bayi mulai bermain, tak ada ketakutan dan kecemasan, dan juga tak ada ambisi untuk meraih kebenaran (sains) secara absolut. Melainkan, menghormati kebenaran (sains) dengan “kepolosan” seorang anak yang mengafirmasi realitas apa adanya. Inilah solusi bagi masyarakat modern di tengah-tengah modernitas (sains). Inilah manusia asenden, di mana ia berani berhadapan dengan kehidupan yang plural dan khaos. Ia tidak lari dan mencari sebuah pendasaran metafisik (idea fix), melainkan mengafirmasi realitas, ya dan tidak sekaligus. Itulah Sang Bayi (Übermensch)[17].*

Daftar Pustaka

 

Buku

Hardiman, F. Budi. 2007. Filsasfat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia.

Sunardi, St. 1996. Nietzsche. Yogyakarta: PT LKiS Printing Cemerlang.

Wibowo, A. Setyo. 2004. Gaya Filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press.

Artikel

Kristianto, Dwi. 2004. “Konsep Friedrich Nietzsche Tentang Kebenaran” dalam Driyarkara (Th.XXVII, No.2), Jakarta: STF Driyarkara.

Tanesini, Alessandra. 1995. “Nietzsche Theory of Truth” dalam Australasian Journal of Philosophy (Vol. 73, No.4, December 1995).

Wilujeng, Sri Rahayu dan P. Hardono Hadi. 2006. Humanika (19 (3), Juli 2006). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. 

Internet

Olson, Nate. 2001. “Perspectivsm and Truth in Nietzsche’s Philosophy: A Critical Look at the Apparent Contradiction” dalam http://www.stolaf.edu/depts/philosophy/reed/2001/ perspectivism.html, yang diakses pada Rabu, 30 September 2009, Pkl. 10.20 WIB.

Shakespeare, William. Romeo and Juliet (Scenes II), dalam http://enotes.com, yang diakses pada Rabu, 31 Maret 2010, pkl.09.12 WIB.

 


[1] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm. 185.

[2] Ungkapan terkenal Shakespeare, Romeo and Juliet (Scenes II), dalam http://enotes.com (diakses Rabu, 31 Maret 2010, pkl.09.12 WIB).

[3] Bdk. F. Budi Hardiman, 2007, Filsasfat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, hlm. 2-3.

[4] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, hlm. 171-181.

[5] Bentuk tulisan yang terdiri dari kalimat-kalimat pendek (bahkan mungkin hanya 1 kalimat saja), yang merupakan satu gagasan utuh yang tidak tergantung dengan kalimat sebelum  dan sesudahnya. (Bdk. St. Sunardi, 1996, Nietzsche, Yogyakarta: PT LKiS Printing  Cemerlang, hlm. 18-19)

[6] Bdk. Dwi Kristianto, 2004, “Konsep Friedrich Nietzsche Tentang Kebenaran” dalam Driyarkara (Th.XXVII, No.2), Jakarta: STF Driyarkara, hlm. 80.

[7] “Metode Psikologis” di sini lebih diartikan sebagai sebuah usaha Nietzsche untuk menelaah simtom-simtom (Idea Fix; misalnya: nilai-nilai agama, sains, metafisika, dlsb.) yang diyakini dan dihidupi oleh seseorang, yang nantinya dilepaskan dari kategori biner moral klasik baik-buruk. (Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, hlm. 115 & 171.)

[8] “Fisio-psikolog” di sini lebih ingin menunjukkan Nietzsche sebagai seorang pengkaji tipologi kebertubuhan—mencermati bagaimana mekanisme penghendakan seseorang akan sesuatu, yang akan membawa Nietzsche pada sesuatu yang “amoral” (ekstra- moral), di mana insting-insting yang dianggap buruk selama ini (kebencian, kecemburuan, dlsb.) juga merupakan bagian esensial dari pelaksanaan kehidupan. (Ibid,  hlm. 115 & 172.)

[9] Bagi Nietzshe, tubuh adalah rasio itu sendiri. (Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm.65.)

[10] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm.181-195.

[11] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm. 60- 64.

[12] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm. 125.

[13] Bdk. Nate Olson, 2001, “Perspectivsm and Truth in Nietzsche’s Philosophy: A Critical Look at the Apparent Contradiction” dalam http://www.stolaf.edu/depts/philosophy/reed/2001/ perspectivism.html  (diakses pada Rabu, 30 September 2009, Pkl. 10.20 WIB).

[14] Bdk. Alessandra Tanesini, 1995, “Nietzsche Theory of Truth” dalam Australasian Journal of Philosophy (Vol. 73, No.4, December 1995), hlm. 552.

[15] Sri Rahayu Wilujeng dan P. Hardono Hadi, 2006, Humanika (19 (3), Juli 2006), Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, hlm. 378.

[16] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm. 140.

[17] Ibid., hlm. 64.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s