Makna (Teologis) Di Balik Nama Allah

allah

MAKNA (TEOLOGIS) DI BALIK NAMA ALLAH

“Aku adalah Aku… Akulah Aku…

(Kel 3: 14)

I. Mukadimah : Konsep Nama[1]

Dalam pemikiran Ibrani, namun juga hampir di semua kebudayaan, ada konsepsi bahwa sebutan seseorang yang dikenal dapat dikomunikasikan dengan beberapa cara sesuai karakter yang ingin disampaikan. Oleh karena itu, dalam mentalitas orang Ibrani, konsep nama itu sangat penting dan memiliki arti yang mendalam.

Dalam sebuah nama, ada sesuatu yang sangat personal, yang mengidentifikasikan kita sebagai individu. Kita bukanlah angka. Bahkan dewasa ini, ketika nama diberikan pada individu tanpa pandang bulu (tanpa merujuk pada karakter yang ingin disampaikan), namun tetap ada kualitas pribadi mengenai mereka yang menggunakan nama itu. Contoh sederhananya, ketika seseorang menyebutkan nama seseorang dengan tidak pas (salah eja), hal itu dapat menjengkelkan orang yang merasa memiliki nama itu.

Dalam Kitab Suci, konsep penamaan juga menyiratkan kekuasaan atau otoritas yang melampaui nama itu sendiri. Oleh karena itu, ketika datang kepada Tuhan, Ia menyatakan nama-Nya kepada umat-Nya.  Maka, ketika orang beriman masuk dalam suatu hubungan (relasi) dengan Tuhan-nya, ia mulai dengan mengucapkan nama-Nya. Tradisi kuno ini terus berlangsung dan dilanjutkan di dalam kehidupan Gereja. Demikian pula, ketika Allah mengambil inisiatif mengungkapkan diri-Nya, Ia mulai dengan mengucapkan nama-Nya. “Nama” di sini melampaui “Nama” itu sendiri, melainkan juga menunjuk pada “Kuasa di balik Ia yang di-Nama­-kan”[2].

II. Nama Yang Ilahi[3]

“Aku adalah Aku… Akulah Aku…” (Kel 3: 14). Inilah firman Tuhan yang disampaikan-Nya kepada Musa di gunung Horeb. Identitas (Nama)-Nya dinyatakan. Dalam bahasa Ibrani, pernyataan pertama “Aku adalah Aku” berbunyi “ehyeh aser ehyeh”. Sedangkan, pernyataan kedua “Akulah Aku” berbunyi “ehyeh”. Dalam bahasa Ibrani, pada umumnya setiap perkataan itu berasal dari akar kata yang terdiri dari 3 konsonan huruf mati. Kata “ehyeh” berasal dari akar kata “hyh”, yang artinya “ada” atau “hidup”. “Ehyeh” merupakan bentuk imperfek, yang bisa menunjuk pada masa lampau, masa kini, dan masa depan. Maka, (1) pernyataan yang berbunyi, “ehyeh aser ehyeh” ini bisa berarti, “I was who I was, I am who I am, I will he who I will be”. Dalam bahasa Indonesia, secara kaku dapat diterjemahkan demikian, “Saya yang dulu ada adalah Saya yang dulu ada, Saya yang sekarang ada adalah Saya yang sekarang ada, Saya yang besok akan ada adalah Saya yang besok akan ada”. Sedangkan, (2)“ehyeh” dalam pernyataan kedua bisa diterjemahkan menjadi, “Saya dulu ada, saya sekarang ada, saya besok akan ada”. Maka, pernyataan “Aku adalah Aku” dan “Akulah Aku” memberi penekanan pada sebuah kenyataan bahwa Yang Ilahi itu tidak mengenal batasan waktu. Yang Ilahi itu kekal sejak dahulu, sekarang, sampai kelak.

Dari perkataan “ehyeh” dengan akar kata “hyh”, kemudian berkembang sebuah pemahaman bahwa itulah nama dari Yang Ilahi (yang kemudian dalam perkembangannya dikenal dengan nama “YAHWEH”). Nama “YAHWEH” dalam bahasa Ibrani terdiri dari empat konsonan, yaitu “YHWH”. Karena nama ini dipandang sebagai sesuatu yang kudus, nama itu tidak diucapkan, melainkan dibaca sebagai “Adonai”. Nama “YAHWEH” (dengan tambahan “a” dan “e”) adalah sebuah kesepakatan yang dimaksud untuk memudahkan pembacaan, karena bahasa-bahasa modern tidak mungkin membaca nama itu sebagai deretan empat konsonan “YHWH”. Selain itu, karena selalu diucapkan sebagai “Adonai”, pengucapan yang benar dan asli dari keempat konsonan “YHWH”itu sendiri tidak diketahui lagi.

Selain nama itu sendiri, yang menjadi perhatian adalah “tindakan” dari Yang Ilahi ini. Dalam konteks perjumpaan antara Musa dan Yang Ilahi, Yang Ilahi itu “mengutus”, “menampakkan diri”, dan “menemui” Musa. Dengan kata lain, tindakan-Nya adalah sebuah tindakan demi kepentingan umat-Nya. Yang Ilahi sebagai Yang Kekal dan Yang Ada itu tidak bertindak di luar hubugan-Nya dengan umat-Nya.

Kesatuan antara “identitas” dan “tindakan” dari Yang Ilahi inilah yang kemudian dipertegas oleh Allah sendiri sebagai nama dan sebutan yang akan dipakai oleh umat Israel terhadap Allah. Ingatan atau pemahaman manusia akan Allah adalah ingatan atau pemahaman tentang seorang Pribadi yang kekal-abadi berpihak pada umat-Nya.

III. “Nama” Allah dan “Pribadi”-Nya[4]

Dalam tradisi Yahudi, “Nama” selalu terkait erat dengan “Pribadi”. Paling tidak ada 3 jenis pemaknaan yang dapat ditemukan :

1.    Nama adalah pribadi itu sendiri;

2.    Nama adalah pribadi yang diungkapkan; dan

3.    Nama adalah pribadi yang hadir secara aktif. 

1] Nama adalah Pribadi itu sendiri

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, tampak jelas bahwa “Nama” seseorang selalu diidentikkan dengan “Pribadi” seseorang. Lenyapnya seseorang sering disebut “namanya hilang”. Misalnya, Doa Israel ketika mereka dikalahkan dalam sebuah peperangan :

“…maka mereka mengepung kami dan melenyapkan nama kami dari bumi ini. Dan apakah yang akan Kaulakukan untuk memulihkan nama-Mu yang besar itu?” (Yosua 7: 9)

                  Sedangkan, dalam hal “Nama” Allah digambarkan lebih dramatis lagi, sebab Ia identik dengan “Sang Nama”.

“Anak perempuan Israel itu menghujat nama TUHAN dengan mengutuk…

Ia dimasukkan dalam tahanan untuk menantikan keputusan sesuai dengan firman Tuhan…”

(Imamat 24: 11-12)

Dari contoh di atas, jelaslah bahwa “Nama” menunjuk kepada “Pribadi” yang di-Nama-kan. Oleh karena itu, nama “ALLAH” (YAHWEH) lebih menunjuk kepadaPribadi Allah itu sendiri. Allah yang Mahakekal, Mahaesa, Mahahidup, dan menyatakan Diri-Nya kepada manusia.

2] Nama adalah Pribadi yang diungkapkan

Dalam Amsal 18:10, Nama TUHAN disebut sebagai menara yang kuat (syem Yahwe). Dengan sebutan itu, tidak lain ingin diungkapkan bahwa Pribadi Allah yang hidup dengan kekuasaan Ilahi-Nya yang menjaga dan melindungi umat-Nya. ”Nama” di sini menunjuk pada apa yang diketahui mengenai ”Pribadi”-Nya.

Contoh yang lebih jelas, Yesaya 30:27 dalam bahasa Ibrani: ”Hinneh, syem Yahwe ba mimerhaq… Secara harfiah terjemahannya: “Perhatikanlah, Nama TUHAN datang dari tempat-Nya yang jauh…” Mengapa dikatakan “Nama TUHAN datang”, dan tidak cukup dikatakan saja “TUHAN datang”? Hal ini (”Nama”) untuk menekankan “pengungkapan Pribadi-Nya“. Maka, tepat sekali bahwa LAI menerjemahkannya menjadi, “TUHAN datang menyatakan Diri-Nya dari tempat yang jauh…” Di sini,syem (Nama) diterjemahkan “menyatakan Diri-Nya”.

3] Nama adalah Pribadi yang hadir secara aktif

Nama adalah kehadiran aktif Pribadi itu dalam kepenuhan sifat-Nya yang diungkapkan. Mazmur 76:1 menyebutkan: “…Nama-Nya masyhur di Israel“,dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan Allah yang dasyat yang dialami oleh umat Israel. Begitu pula, di Gunung Karmel, Nabi Elia mengusulkan “peperangan” Nama Tuhan dengan nama ilah-ilah selain-Nya. “Nama” dalam hal ini menunjuk kepada Pribadi yang hadir, yang dibuktikan dengan menjawab doa orang yang menyerukan Nama-Nya.

“Kemudian biarlah kamu memanggil nama ilah-mu (be shem elohekhem) dan akupun akan memanggil Nama Tuhan (beshem Yahwe), maka ilah yang menjawab dengan api, Dialah Allah (we hayah ha-elohim asyer yaeneh be esh hu ha-elohim)” (1 Raja-raja 18: 24). Maksudnya, Allah adalah Allah (sembahan) yang Mahakuasa, dan Dia telah membuktikan kekuasaan-Nya sebagai Allah yang Hidup dengan hadir secara aktif – menjawab dengan api. Ia adalah Pribadi Ilahi yang benar-benar hadir secara aktif.Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata, ”Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah!” (1 Raja-raja 18:39). Dalam bahasa aslinya, seruan itu berbunyi, ”Yahweh, hu ha elohim! Yahweh, hu haelohim”.

IV. (Nama) Allah dan Bait-Nya

Berdasarkan (1) berbagai tradisi  yang telah kita kenal (Jahwis, Elohis, Imam,dan Deuteronomis) dalam penulisan Perjanjian Lama (khususnya Kitab Ulangan); dan dengan (2) kriteria tentang “Apa yang (akan) diperbuat oleh Tuhan”, maka secara garis besar ada beberapa unsur penting yang ingin disampaikan :

1.     Tuhan bertempat tinggal di tengah umat-Nya (Manusia menyaksikan dan mengalami sebuah KEHADIRAN yang ILAHI).

2.      Tuhan bertemu dan berbicara dengan manusia di tempat yang dekat dengan tempat hidup manusia sendiri (Manusia mengalami PERJUMPAANpersonal dengan yang ILAHI).

3.     Tuhan menguduskan manusia (Manusia mengalami peng-ILAHI-an).[5]

Dalam Kisah Sejarah Deuteronomis, Bait Allah dibangun berdasarkan petunjuk TUHAN sendiri, bukan merupakan kehendak dan rencana manusia. 1 Raja-Raja dan 2 Tawarikh 5 mengisahkan bagaimana tabut perjanjian (yang di dalamnya terdapat dua loh batu) dibawa masuk dan ditempatkan ke dalam Bait Allah.[6]

[Pada pemaparan selanjutnya, penulis akan fokus pada 1 Raja-Raja 8]

I Raja-Raja 8 : 1-13; 27-30[7]

                  Salomo membangun Bait Allah di Yerusalem untuk menjadi tempat ibadat nasional yang terpenting bagi seluruh Israel. Di dalam Bait Allah ada Tabut Tuhan. Tabut Tuhan dibawa ke dalam Debir, “ke tempatnya di ru­ang belakang rumah itu (Bait Allah)”, dan ditaruh di bawah sayap-sa­yap dua kèrub yang seolah-olah melindungi tahta Tuhan. Sesungguhnya, pasangan kèrub itu sendiri juga menggam­barkan sebuah tahta yangmelambangkan kehadiran Tuhan. Kedua lambang itu saling menguatkan. Tabut ditinggalkan dalam kegelapan Debir, ruang belakang yang dipisahkan dari ruang besar dengan tabir, dan tidak mempunyai jendela. Tabut Tuhan diliputi misteri kekelaman.

Dalam tabut itu hanya ada kedua loh batu. Pada loh batu itu ditulis hukum perjanjian yang diberikan di Sinai. Karena itu tabut Tuhan juga disebut tabut perjanjian (Ul 10:1-5). Jadi, tabut juga merupakan lambang perjanjian Tuhan dengan umatNya sejak dahulu. Dengan adanya tabut itu di dalam Bait Allah di Yerusalem, dijaminlah kesi­nambungan antara masa lampau dan masa sekarang, antara perjanjian Tuhan yang semula dengan seluruh umat dan perjanjian yang kini telah diadakanNya dengan raja Daud dan wangsanya. Kesinambungan itu menjadi tampak dalam awan yang memenuhi rumah.

Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN…

sehingga imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu,

sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN

 (1 Raj 8 : 10-11)

                  Awan itu mengingatkan akan awan, tanda kemuliaan Tuhan, di atas kemah pertemuan di kaki gunung Sinai (Kel 33:9, 40:34-35). Awan di 1Raj 8 ini agaknya berkaitan dengan asap yang mengepul dari mezbah dupa di depan ruang belakang. Asap harum itu yang memenuhi seluruh ruang besar, melam­bangkan kehadiran Tuhan.Keha­diran-Nya tak dapat dilihat jelas atau dilukiskan dalam bentuk nyata, tetapi hanya dialami secara terselubung di dalam awan.

Pada waktu itu berkatalah Salomo: ‘TUHAN telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman. Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya’.”

(1 Raj 8 : 12-13)

                  Ungkapan puitis ayat 12-13 ini dapat dikatakan memiliki sifat creation-oriented (berorientasi pada penciptaan) dan hal ini memberi kontribusi tersendiri pada tradisi teologis. “Matahari” pada ayat 12,  yang menggambarkan ciptaan Allah yang memberi terang, dipertentangkan dengan janji Allah untuk berdiam diri secara misterius dalam kekelaman (kegelapan). “Kekelaman” di sini ingin menggambarkan secara tidak langsung mengenai “awan” yang menyelimuti-Nya dalam misteri. Maka, gambaran Allah yang ingin disampaikan adalah Allah yang Tersembunyi (Tak-Terselami / Misterius). Manusia fokus pada Kehadiran Allah di dunia ini melalui Bait-Nya, sedangkan Allah sendiri melampaui itu semua dan penuh dengan teka-teki.[8]

 Selain itu, dengan kata-kata itu (ay. 12-13) Salomo sebagai pem­bangun menyerahkan “rumah” kepada pemiliknya, yaitu Tuhan. Dari kata-kata Salomo ini tampak bahwa pandangan Israel kuno tentang Bait Allah halus dan penuh arti, bukan primitif dan mentah. Memang dikatakan bahwa Allah diam atau menetap dalam Bait itu, namun keha­diranNya tak dapat dibayangkan atau digambarkan dengan cara apapun. Tabut atau kerub-kerub bukanlah pa­tung Allah, tetapi ha­nyalah tempat Ia bersemayam. Ia sendiri tetap merupakan misteri, terselubung dalam awan dan kegelapan.

Sepanjang sejarahnya, Bait Allah telah menjadi pokok banyak pemikiran dari refleksi teologis. Pandangan tentang rumah Allah mengalami perkembangan. Sudah dijelaskan di atas bahwa teologi Bait Allah mula-mula halus, dan tidak primitif. Bait itu disebut rumah Allah, tetapi Salomo tidak berpandangan bahwa Allah dimuat dalam rumah itu. Sebaliknya, kehadiran Tuhan di situ tetap suatu rahasia yang melebihi gedungnya.

Tetapi orang cenderung untuk menggantikan misteri dengan sesuatu yang lebih mudah dipahami dan diba­yangkan. Mereka mulai percaya bahwa Tuhan secara harafiah tinggal di rumah itu, sebagaimana juga para Baal tinggal di tempat tertentu. Dan dari situ timbul kepercayaan semu bahwa hadirnya kediaman Tuhan di Yerusalem itu otomatis menjamin keamanan kota, tak peduli bagaimana cara hidup para penduduknya (Yer 7). Ketika pandangan primitif itu meluas, maka timbullah reaksi yang mengusulkan bahasa yang lebih halus dan tepat untuk mengungkapkan kehadiran Tuhan dalam Bait Allah. Bait mulai disebut sebuah rumah untuk “Nama” Tuhan. Begitulah pandangan aliran deu­te­ronimistik yang menyusun Kitab Raja-Raja. Mereka mengungkapkan pandangan itu dalam doa panjang yang mereka tambahkan pada upacara pentahbisan Bait Allah (1Raj 8:14-61).

Seperti yang telah disebutkan di awal tulisan ini, “Nama” seseorang menghadirkan orang itu dengan seluruh pribadinya. “Nama” dan “Pribadi” orang sangat erat hubungannya, namun dibedakan juga. Dalam “doa Salomo” dengan halus dibedakan antara Allah sendiri yang melebihi segala langit dan tak dapat dimuat dalam Bait, dan nama Allah yang tinggal di dalam Bait (1Raj 8:27-30).  Melalui “Nama”-Nya, Allah hadir di dalam Bait dan bisa dijumpai di situ. Melalui namanya Ia dapat dipanggil dan dipuji di tempat itu. Dengan demikian Bait Allah lebih dimaksudkan sebagai tempat berjumpa dengan Tuhan dari pada sebagai tempat tinggalNya.

Dalam doa pentahbisan ini pelbagai makna lain Bait Allah tampil ke depan[9]. Bait ini di atas segala-galanya suatu tempat untuk mencari pengampunan atas dosa di masa kekalahan, kelaparan dan bencana lain (1Raj 8:31-34,35-36,37-40). Bait Allah juga merupakan tempat untuk berdoa kepada Tuhan dengan cara berkiblat apabila orang Israel keluar untuk berperang, atau tempat untuk berbalik dari dosanya dan kembali lepada Tuhan dengan berkiblat biarpun mereka berada jauh di negeri pembuangan (8:44-45,46-51). Bait Allah bahkan merupakan tempat berdoa bagi orang asing yang terkesan dengan nama Tuhan (8:41-43). Hal yang terakhir ini penting dilihat, untuk melengkapi gambaran tentang mazhab deuteronimistik yang lazimnya mau memisahkan Israel dari bangsa-bangsa lain.

V. Menghayati (“Nama”) Tuhan Yang Penuh Misteri

                  Proslogion, sebuah buku karangan St. Anselmus (1033-1109) sangat menarik. Buku ini berusaha menggambarkan “iman yang mencari pemahaman” (fides quaerens intellectum). Anselmus memulai risalahnya dengan doa yang khusyuk agar “Tuhan membantunya menemukan Tuhan”. Demikian doa tersebut :

Saya bukannya mencoba menyelami Keagungan-Mu, ya Tuhan, sebab saya sama sekali tidak membandingkan akalku dengan keagungan-Mu itu, tetapi saya ingin sedikit melihat kebenaran-Mu, yang dipercayai dan dicintai oleh hatiku. Dan saya tidak bermaksud untuk memahami agar percaya, tetapi saya percaya agar bisa memahami. Sebab saya percaya juga bahwa saya tak akan mampu memahami, kecuali jika saya percaya.”[10]

 

                  Ketika membaca doa ini, Caputo (Seorang Filsuf Amerika Kontemporer) lebih tertarik pada koreografi adegan daripada logika argumennya, yaitu dalam konteks seorang beriman mencari pemahaman, yang meminta bantuan Tuhan agar memberi permahaman bagi imannya, sehingga ia lebih memahami apa yang dipercayai dan kemudian lebih mencintai apa yang telah dipahami itu. Tuhan yang dialami Anselmus (seperti yang dialami oleh Salomo) merupakan Tuhan yang tak dapat dipahami, misterius, dan melampaui segalanya, termasuk Tuhan yang melampaui segala konsep manusia. Dalam doanya, Anselmus menemukan Tuhan dalam pengalamannya, danmenemukan dirinya di dalam Tuhan. Jadi, ketika Tuhan yang misterius itu dialami, maka tidak lagi hanya berhenti pada pemahaman (akal budi) mengenai-Nya, melainkanmengalami sendiri Kehadiran Tuhan di dalam setiap peristiwa.

Mengenai peristiwa dan pengalaman, Nicholas Cusa dengan sebuah aksiomanya yang terkenal menegaskan bahwa “karena tidak ada ketidakmungkinan bagi Tuhan, kita seharusnya mencari Tuhan dalam setiap hal yang tidak mungkin di dunia ini”[11]. Hal ini ingin menegaskan kembali bahwa kemisteriusan Tuhan pun dapat ditemukan dalam setiap pengalaman hidup kita. Di mana pun “yang tidak mungkin” terjadi, di situ ada Tuhan. “Yang tidak mungkin”, merupakan salah satu tanda bagi Tuhan. “Yang tidak mungkin” menarik manusia keluar dari lingkungannya, masuk ke dalam lingkungan yang lain, yaitu lingkungan di mana Tuhan berkuasa. Pengalaman hidup kita tak selamanya mulus, ketika kita bahagia dan penuh sukacita, mungkin kita akan mudah menemukan Tuhan yang menyertai, namun tak jarang juga hidup kita penuh dengan derita (seperti Bangsa Israel dalam masa perbudakan), dan di sana kita sulit untuk menemukan Tuhan. Hidup terasa tak memiliki harapan, kosong, dan tak berarti. Justru dalam keadaan seperti itulah kita ditantang untuk menemukan Tuhan (dalam iman dan harapan). Dalam sejarah perjalanan iman umat Israel hal ini telah terbukti – Allah selalu menyertai umat-Nya dalam setiap peristiwa, bahkan pada saat-saat “yang tidak mungkin”, kritis, dan tanpa harapan. Allah yang penuh misteriitu ternyata selalu hadir. Kehadiran-Nya tidak lagi hanya dipahami secara harafiah dalam Bait-Nya yang kudus, melainkan dalam kehidupan setiap manusia, bahkan dalam diri setiap orang yang kini menjadi Bait Kudus-Nya. Di sanalah, “Nama” Allah yang penuhmisteri dimuliakan.*

DAFTAR PUSTAKA

Leahy, Louis. 1993. Filsafat Ketuhanan Kontemporer. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Nelson, Richard. 1987. Interpretation: First and Second Kings. Louisville: John Knox Press.

Noorsena, Bambang. 2005. The History of Allah. Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Ramadhani, Deshi. 2008. Tafsir Taurat (Diktat Kuliah). Jakarta: STF Driyarakara.

Subagyo, Y. 2002. Tafsir Sejarah Deuteronomis (Diktat Kuliah). Jakarta: STF Driyarkara.

Wrathall, Mark A. 2003. Religion after Metaphysics. Cambridge: Cambridge University Press.

Internet

Sawyer, M. James, 2004, “Lecture Notes on The Names of God” dalam http://bible.org, diakses pada Kamis, 3 Juni 2010, 15.17 WIB.


[1] Bdk. M. James Sawyer, 2004, “Lecture Notes on The Names of God” dalam http://bible.org, diakses pada Kamis, 3 Juni 2010, 15.17 WIB.

[2] Bdk. Bambang Noorsena, 2005, The History of Allah, Yogyakarta: Penerbit ANDI, hlm. 17.

[3] Bdk. Deshi Ramadhani, 2008, Tafsir Taurat (Diktat Kuliah), Jakarta: STF Driyarakara, hlm. 29-31.

[4] Bdk. Bambang Noorsena, 2005, The History of Allah, Yogyakarta: Penerbit ANDI, hlm. 19-21.

[5] Bdk. Deshi Ramadhani, 2008, Tafsir Taurat (Diktat Kuliah), Jakarta: STF Driyarakara, hlm. 46.

[6] Ibid.

[7] Bdk. Y. Subagyo, 2002, “Kemegahan Salomo dan Dampaknya” dalam Tafsir Sejarah Deuteronomis(Diktat Kuliah), Jakarta: STF Driyarkara, hlm. 84-85.

[8] Bdk. Richard Nelson, 1987, Interpretation: First and Second Kings, Louisville: John Knox Press, hlm. 51-52.

[9] Untuk struktur  dan tematik doa Salomo dalam 1Raj 8, bandingkan Talstra, E., 1993, Salomon’s Prayer,Kampen: Pharos, 306. (Sebagaimana dikutip oleh Y. Subagyo dalam “Kemegahan Salomo dan Dampaknya” dalam Diktat Kuliah Tafsir Sejarah Deuteronomis, Jakarta: STF Driyarkara, hlm. 85).

[10] Louis Leahy, 1993, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, hlm. 135.

[11] John D. Caputo, 2003, “The experience of God and the Axiology of the Impossible” dalam Religion after Metaphysics [Mark A. Wrathall (ed.)], Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 127.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s