Hermeneutika Paul Ricouer

hermeneutik

Hermeneutika Paul Ricouer

I. Kehidupan Sebagai Dialektik

  1.    Dari satu pihak aku adalah tuan atas diriku dan aku memilih dan menghendaki pilihan-pilihanku (voluntary); di lain pihak, aku tunduk pada “keharusan”–necessity– karena ada bagian-bagian tertentu yang tak dapat kukendalikan, karakterku, dan unsur-unsur tidak sadar yang menantang kehendakku (involuntary).
  2.    Kehidupan manusia adalah negosiasi (antara kebebasanku dan keterbatasanku).
  3.    “Yang baik” dan “Yang jahat” muncul dalam dialektika (antara kebebasan kehendak dandorongan-    dorongan di luar kehendakku – necessity / passion).
  4.    Sejauh manusia memiliki kebebesan kehendak, ia dapat jatuh / berbuat salah (fallibility).
  5.    Fallibility ini berasal dari kemungkinan manusia tunduk pada passion-nya.
  6.    Karena passion itu merupakan bagian intrinsik dalam diri manusia, maka kemungkinanberbuat jahat bersifat melekat pada diri manusia (fokus pada “kemungkinan”, jadibukan berarti bahwa manusia secara inheren jahat – ini jelas berbeda).

Ada 2 hipotesis :

  1. Adanya kemungkinan kejahatan pada manusia.
  2. Manusia “tidak identik dengan dirinya sendiri”. Ada ketidakseimbangan (disproportion) antara “diri dengan diri” (“self to self”). Kemungkinan berbuat salah tergantung pada besarnya non-koinsidensi dengan dirinya.

Ada 3 ukuran disproporsi, yang merupakan 3 cara di mana manusia secara moral rapuh :

  1. Imaginasi : aku melihat diriku sebagaimana dilihat yang lain
  2. Karakter : aku membedakan diriku dari semua orang
  3. Perasaan : aku merasakan sifat baik atau buruk orang lain serta pilihanku ttg yang baik.

(Ketiganya harus disintesakan dengan akal budi, sehingga terbentuk pribadi yang utuh dengan status moral)

Kreativitas : konflik antara komponen yang “tidak-intelektual” dan yang “intelektual”. Namun sekaligus, memungkinkan kemungkinan yang jahat, karena melalui imaginasi, karakter, dan perasaan, ada kemungkinan kita berbuat salah.

Symbolism of Evil

Manusia membuat lompatan dari fallible ke fallen (dari kemungkinan berbuat salah menjadi benar-benar berbuat salah). Proses ini digambarkan dalam simbol-simbol penodaan / kekotoran (defilement), kepada dosa (sin), dan rasa bersalah (guilt).

(1) Penodaan / kekotoran mengandung makna etis : kehilangan apa yang esensial bagi eksistensinya. Untuk memurnikan kembali butuh ada hukuman. (2)Pada saat manusia telah memiliki konsep Allah, muncullah simbolisme dosa. Untuk mengembalikan kepada kondisi semula dibutuhkan “penebusan” untuk merestorasi hubungan dengan Allah. (3) Simbol ketiga adalah rasa salah. Perbedaannya dengan “penodaan” dan “dosa” adalah bahwa rasa salah adalahsubyektif dan terinteriorisasi, sementara dua lainnya obyektif. Di sini terjadilah pengakuan akan kesalahan.

Jadi, ada perkembangan revolusioner dalam pengalaman kejahatan :

                  Dari kejatuhan menuju pengakuan akan kesalahan. Di sini ada peralihan dari yang “religius” kepada yang “etis” (dari pertanggungjawaban kepada Allahberalih kepada pertanggungjawaban kepada orang lain).

II. Hermeneutika

Tugas hermeneutika  ada 2 :

1)     Mencari dinamika internal – makna dari teks itu sendiri.

2)     Mencari proyeksi eksternal – maksud yang ingin disampaikan kepada pembaca.

Teks tidak hanya mengatakan mengenai dirinya sendiri, melainkan juga mengenai dunia secara keseluruhan. Tujuan hermeneutik adalah “pemahaman” (understanding). Dalam hermeneutika kita tidak memaksakan pengertian kita pada teks, melainkan membiarkan teks meningkatkan pengertian kita mengenai kehidupan: memahami diri sendiri di depan teks.

(a)    Membaca adalah melakukan penafsiran / hermeneutika; dan

(b)   Melakukan hermenetika adalah memahami diri kita.

(c)    Teks adalah medium bagi pembaca untuk sampai pengertian-diri. Teks adalah jembatan antara subyektivitas diri dan obyektivitas dunia.

POSISI PAUL RICOUER

  1.      Kajian secara rinci pola linguistik dari teks yang merupakan dimensi obyektif dari kegiatan interpretasi.
  2.      Pentingnya kajian yang teliti terhadap perspektif dari penafsir sendiri yang merupakan dimensi subyektif interpretasi.
  3.      Kedua dimensi sama-sama penting dalam setiap interpretasi. Namun ada perbedaan di antara keduanya.  Bagi Ricouer (mengikuti Heidegger), interpretasi teks adalah sebuah kegiatan yang bermakna eksistensiil (teks dapat membuka kemungkinan eksistensiil dunia baru atau “cara-berada-di-dunia” yang baru, yang diperoleh bukan dengan memasuki secara harmonis horizon teks, tetapi kemungkinan-kemungkinan baru tersebut “dibuka” dalam tindakan interpretasi yang kritis dan kritik-diri dalam interpretasi).

Ricouer menolak pemisahan oleh Dilthey antara “pengertian” (konsep kunci ilmu-ilmu kemanusiaan) dan “penjelasan” (konsep kunci ilmu-ilmu alam). Menurutnya, keduanya merupakan langkah yang perlu dalam kegiatan interpretasi. Keduanya secara dialektis terkait.

Pengertian  :  Ricouer mengikuti kritik Habermas terhadap Gadamer (Batas Pengertian: kesadaran hermeneutic tidaklah lengkap sepanjang ia tidak memasukkan ke dalam dirinya refleksi mengenai keterbatasan pengertian hermeneutik. Bagi Habermas dibutuhkan(1) “depth-hermeneutic” untuk mendiagnosis komunikasi yang secara sistematik terdistorsi; dan (2) teori “communicative competence” untuk menganalisis kondisi kegiatan komunikatif yang tidak mengalami represi serta cara manakah untuk mengatasi situasi komunikatif yang mengalami distorsi. Paul Ricouer mengintegrasikannya dalam model teori interpretasi. Dengan begitu, Ricouer mengikuti Heidegger dengan mengatakan bahwa interpretasi teks adalah sebuah kegiatan yang bermakna eksistensiil.)

Penjelasan  : Pada fase ini tidak terbatas pada analisa strukturalis atau linguistik, tetapi juga termasuk metode “kecurigaan” (sebagaimana dikemukakan oleh Freud, Marx, dan Nietzsche).

Ricouer tidak puas dengan dikotomi antara (a) kebenaran dan metode; (b) penjelasan dan pengertian; (c) tradisi dan teralienasi dari tradisi. Maka, ia mengembangkan konsep “lengkung hermeneutic” (hermeneutic arc).

  1.      Titik tolak awal interpretasi : Refleksi Filsafat harus dimulai dari bahasa kehidupan yang paling primer, yaitu bahasa simbol, metafora, narasi, dll, yang memberikan umpan untuk refleksi. Baginya, teks (klasik) menangkap kita lebih dulu, sebelum kita menafsirkannya; atau kita menafsirkannya karena teks itu telah berbicara kepada kita lebih dulu. Dengan terminologi Gadamer, kita telah berada di dalam permainan, sebelum kita berhenti untuk berefleksi.Momen awal penting sebagai “dugaan pertama” mengenai makna teks.
  2.     Tahap Kritisisme : Berlawanan dengan Gadamer, Ricouer menekankan pentingnya kritisisme pada fase hermeneutik kedua. Kita dapat menyelidiki teks lebih dalam dari diri kita. Suatu teks memiliki kehidupannya sendiri, berbeda dari intensi pengarang. Penuangan ke dalam teks berarti bahwa suatu karya yang terstruktur berhadapan tidak hanya dengan pengarang, tetapi juga pembaca, maka menantang pembaca. Kita tak dapat menjadikan teks mempunyai arti apapun sebagaimana kita kehendaki. Dimensi publik dan obyektif ini memberikan perlindungan terhadap subyektivitas ekstrim, dan menggarisbawahi hakekat ilmiah hermenutik.
  3.      Post-Kritisisme : Ada bahaya kita hanya berhenti pada tahap ke-2. Misalnya, hanya berhenti pada pendekatan historis-kritis tapi tidak bergerak lebih dalam ke pengertian post-kritisisme (naivete kedua / second immediacy). Proses hermeneutika tidak menyingkirkan “penerapan” (tahap eksistensiil), dimana kita menafsirkan diri kita dalam terang dunia baru yang dibuka oleh teks. Apa yang ditafsirkan dalam suatu teks adalah “dunia yang ditawarkan” – dimana aku dapat bertempat tinggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s