Gereja Abad Pertengahan

ELIJAH_5.3

(Sejarah Agama Kristiani)

1. a. Karakter Gereja Barat pada Abad Pertengahan    

Adanya konflik antara matra yuridis dengan kharismatis. Dua matra, yuridis – kharismatis, tampak dalam diri paus dan para uskupnya. Mereka memiliki kuasa sebagai pemimpin agama Kristen pada waktu itu sekaligus mulai memiliki otoritas dalam bidang politik sekular. Ditandai dengan adanya (1) Donatio Constantinii[1] dan (2)Sacrum Romanum Imperium[2].

b. Karakter itu masih eksis hingga kini (?)

Masih (matra yuridis – kharismatis). Hal ini tampak dalam diri Paus Benedictus XVI. Beliau adalah pemimpin tertinggi agama Katolik sekaligus pemimpin negara Vatican. Namun, yang menjadi perbedaan di sini: Pada abad pertengahan, De Facto, Gereja (para uskup) berperan sebagai Homo Regis (manusia “milik” raja), dimana mereka masuk dalam suatu hubungan ketergantungan personal dan total kepada raja. Hal ini ditunjukkan dengan pelantikan dan penobatan para uskup menjadi seorang “feudal” oleh raja. Sedangkan,  pada saat ini, Gereja telah memisahkan diri secara tegas terhadap bidang politik sekular, dimana para klerus (imam), biarawan, dan biarawati tidak diperkenankan untuk “terjun langsung” dalam politik praktis. Vatican walaupun diakui sebagai negara namun bukan berarti bahwa ia “pemain langsung” dalam bidang perpolitikan dunia melainkan lebih pada “corong” pembela kebenaran, keadilan, dan perdamaian (lebih menekankan perjuangan moral daripada politik praktis).

c. Mengapa karakter tersebut masih eksis?

Karakter tersebut (konflik antara matra yuridis dengan kharismatis) muncul bukan karena seakan-akan karena paksaan situasional pada saat itu saja (Abad Pertengahan). Sehingga tidak hanya berhenti pada masa itu saja melainkan akan terus ada hingga kini. Selain itu, Gereja dapat dikatakan dengan “sengaja” memelihara dan hidup dalam situasi konfliktual tersebut dan berusaha untuk tetap menjaga keseimbangn agar Gereja tetap bisa berdiri[3] dan tidak jatuh dalam ekstrem tertentu.

2. a. Dari ketujuh Konsili Ekumene I, problematik teologis yang paling interesan: Trinitas.

b. Mengapa?

Karena pada saat itu muncul berbagai pandangan yang mempersoalkan mengenai Trinitas, yaitu :

1) Arianisme, yang menolak Keilahian Kristus (Nichea I, 325).

2) Makedonianisme, yang menyatakan bahwa Roh Kudus itu hanya kekuatan bukan pribadi (Konstantinopel I, 381).

3) Nestorianisme, yang mengakui Yesus sebagai manusia saja dan menganggap Maria sebagai Christotokos bukan Theotokos(Efesus, 431 dan Constantinopel II, 553).

4) Monophysitisme, yang hanya menekankan “Keilahian Kristus” (Chalcedon, 451 dan Constantinopel II, 553).

5) Monothelitisme, menyatakan bahwa Yesus itu memiliki 1 pribadi, 2 kodrat, dan 1 kehendak (Constantinopel III, 680).

6) Ikonoklasme, merupakan gerakan dalam Gereja untuk meniadakan semua barang-barang suci dalam tata peribadatan (Nichea II, 787).

Catatan Kaki 

[1] Donatio Constantinii (kekuasan paus adalah ”pemberian” kaisar) ditandai dengan pemberian wilayah kekaisaran Roma sebelah Barat kepada Paus Silvester oleh Kaisar Konstantinus Agung.

[2] Sacrum Romanum Imperium (kekaisaran romawi suci) ditandai dengan Karolus Agung yang menerima mahkota kekaisaran dari paus dan paus sendiri merendahkan diri dengan menundukkan kepala kepada Karolus Agung. Dua pemeran utama saling memberi hormat (Natal tahun 800). Saat inilah dianggap sebagai “perkawinan” lembaga kekuasaan agama dan lembaga kekuasaan sipil.

[3] Sejalan dengan fungsi negara Vatican, yaitu menjamin kebebasan paus sebagai gembala Gereja Katolik yang tersebar di seluruh dunia.Maka, berkat status ini paus dan Kuria Roma tidak tergantung pada pemerintah negara manapun. Dengan begitu, jika Gereja hanya memiliki kuasa kharismatis saja tanpa kekuatan yuridis maka Gereja menjadi “tergantung” dengan negara tertentu (dan akhirnya ada kemungkinan dapat “dibubarkan” kapan saja oleh negara yang bersangkutan). Jadi, kharismatis tetap masih harus diimbangi denganyuridis agar Gereja tetap dapat eksis. Hal ini lebih diperkuat lagi dengan Perjanjian Lateran yang diratifikasi antara Italia dan Vatican pada tahun 1929, dimana kedaulatan paus sebagai kepala negara independen diakui kembali setelah sebelumnya Vatican dijadikan wilayah Kerajaan Italia pada tahun 1870.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s