Diskresi Ignatian (Pembedaan Roh)

heaven

Teologi Spiritual

Sumber            : Suparno, Paul. 1998. Roh Baik dan Roh Jahat. Jogjakarta: Kanisius.

DISKRESI IGNATIAN

(Praktek Pembedaan Roh dan Pemilihan

Menurut Latihan Rohani St. Ignatius)

”Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah (1 Yoh 4:1a).”

A.   Pengantar

Spiritualitas Ignatian pada dasarnya merupakan spiritualitas keseharian (kontemplasi dalam aksi). Dalam konteks ini maka diskresi(pembedaan roh dan pemilihan) menjadi begitu penting. Diskresiseringkali dianggap sebagai inti spiritualitas Ignatian. Ini berarti bahwa diskresi menjadi sebuah dasar dari tindakan hidup setiap Ignatian. Spiritualitas Ignatian tidak hanya merupakan sebuah kekayaan eksklusif yang hanya dapat dinikmati oleh para Jesuit (Serikat Yesus). Spiritualitas Ignatian tetap tak bisa lepas dari Gereja. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa Spiritualitas Ignatian merupakan milik Gereja. Dengan begitu Spiritualitas Ignatian juga merupakan milik setiap warga Gereja Universal. Setiap orang dapat menjadi seorang Ignatian tanpa harus menjadi seorang Jesuit, dengan berusaha mengenal lebih dalam spiritualitas yang diajarkan oleh St. Ignatius Loyola. ”Roh Baik dan Roh Jahat merupakan sebuah buku sederhana yang dapat menghantar kita masuk dalam spiritualitas keseharian (Ignatian), khususnya dalam berdiskresi. 

Hidup adalah rangkaian keputusan yang dirajut dari hari ke hari.Keputusan dimulai sejak membuka mata di pagi hari. Sebuah hal sederhana yang kadang ”terlewatkan” begitu saja. Dengan mencoba menjelaskan praktek pembedaan roh dan pemilihan secara sederhana, buku ini ingin menunjukkan betapa hal sederhana itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Dibalik setiap peristiwa, bahkan yang sangat sederhana sekalipun memiliki roh yang melatarbelakanginya.

     Keputusan itu berawal dari adanya macam-macam dorongan dalam hati dan pikiran kita; setelah membuka mata di pagi hari apakah kita akan langsung bangun, berdoa, lalu mandi ataukah ingin melanjutkan tidur dengan pulas? [1]  Terserah! Keputusan ada di tangan kita! Di situlah kita mulai bermain dengan macam-macam dorongan. Roh baik dan roh jahat mulai bertarung memperebutkan sebuah mahkota kemenangan di pagi hari.

Buku Roh Baik dan Roh Jahat ini bertujuan membantu setiap pembaca untuk dapat melakukan pembedaan roh dengan tepat. Kemudian setelah itu diharapkan pula dapat mengadakan suatu pemilihan dengan baik. Sehingga akhirnya mahkota kemenangan sejati dapat diraih dan hidup dapat lebih bermakna. Berdasarkan tujuan tersebut (dengan mengikuti langkah-langkah Latihan Rohani), buku ini dibagi menjadi delapan bab, yang terdiri atas: Bab I. Pendahuluan, Bab II. Tiga Kekuatan Dasar, Bab III. Pedoman Pembedaan Roh I, Bab IV. Hiburan dan Kesepian Rohani, Bab V. Sifat Godaan, Bab VI. Patokan Pembedaan Roh II, Bab VII. Pemilihan dan Penegasan Rohani, Bab VIII. Penutup.

B.  Isi Buku

Bab I.   Pendahuluan

1) Dalam hidup kita sehari-hari seakan-akan selalu ada perang antara yang baik dan jahat dalam diri kita, antara pengaruh setan dan pengaruh Allah sendiri. Sehingga seringkali kita mengalami kebingungan untuk memilih dan menentukan mengikuti gerakan yang mana. Maka perlulah kita mengerti gerakan-gerakan tersebut secara jernih sehingga dapat memilih dengan baik dan tidak tertipu oleh gerakan yang menyesatkan.

2) Perang antara yang baik dan jahat juga dapat kita temukan dalam Kitab Suci. Kitab Suci mengungkapkan peperangan itu dengan bermacam-macam gambaran. Misalnya, (1) Paulus menggambarkannya sebagai perang antara kekuatan daging dan kekuatan roh (bdk. Gal 5: 16- 26). (2) Konflik digambarkan sebagai konflik antara gelap dan terang. Kuasa kegelapan adalah kuasa roh jahat yang mengajak orang untuk pelan-pelan menjauh dari Tuhan. Sedangkan, kuasa terang adalah kuasa Tuhan sendiri. Tuhan Yesus sendiri mengatakan, ”Terang telah datang ke dunia, tetapi dunia tidak menerimanya karena dunia hidup dalam kegelapan (bdk. Yoh 3: 19).”(3) Peperangan atau konflik antara terang dan gelap itu terus ada. Dalam Kitab Suci suasana itu digambarkan seperti gandum danrumput (bdk. Mat 13: 24-30). Seakan-akan ditunjukkan di sini bahwa kebaikan dan kejahatan akan selalu ada selama dunia ini masih berlangsung, dan baru pada akhir zaman mereka sungguh dipisahkan secara kekal. Dalam pengertian ini kiranya cukup jelas bahwa kita harus terus-menerus waspada, sehingga kita tidak jatuh dalam kuasa kejahatan selagi di dunia ini.

     3) Dalam Latihan Rohani (LR), Santo Ignatius menggambarkan dengan cara lain. Misalnya dengan Dua Panji, yaitu Panji Kristus dan Panji Lucifer. Dalam permenungan mengenai Dua Panji ini kita diajak untuk merenungkan taktik keduanya dalam mempengaruhi manusia.Panji Kristus dengan jalan perendahan diri dan matiraga agar orang semakin dekat dengan Allah. Sedangkan, Panji Lucifer dengan segala kehormatan, kekayaan, dan kesombongan untuk membujuk jatuh dalam dosa.

Dengan adanya perang tanding antara kedua kekuatan (baikdan jahat) kita diharapkan untuk dapat sungguh-sungguh mengerti ciri-ciri dan cara kerja mereka. Dengna mengerti secara mendalam, kita diharapkan dapat memenangkan Roh Tuhan dalam hidup kita.

Bab II. Tiga Kekuatan Dasar

1) Kodrat Manusia

Sinta orangnya suka minder, merasa tidak berarti dan tidak dapat berbuat banyak hal. Dalam mengambil keputusan ia selalu bergantung kepada orang lain, karena sejak kecil orang tuanya yang selalu memutuskan sesuatu bagi dirinya.

Bila dalam banyak hal Sinta sulit memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri, jelas tidak berarti bahwa ia dipengaruhi roh jahat. Kesulitan Sinta dipengaruhi oleh keadaan dirinya sendiri. Pembawaan, cara berpikir, kebiasaan-kebiasaan, pengalaman seseorang sangat ikut menentukan bagaimana ia akan memilih sesuatu, mengolah suatu masalah, dan mengambil keputusan untuk hidupnya.

2) Roh Baik

Kekuatan kedua yang mempengaruhi pemilihan, pemikiran, dan tindakan seseorang adalah kuasa roh baik. Roh baik adalah Roh Tuhan sendiri yang mempengaruhi hidup orang untuk selalu berbuat baik, mendengarkan sabda Tuhan dan melakukan kehendak Tuhan. Roh ini secara jelas akan mempengaruhi seseorang untuk tetap bersemangat hidup, berani berjuang dalam kesulitan hidup, dan tetap berharap kepada Allah sendiri.

3) Roh Jahat

Selain roh baik adapula roh jahat dalam kehidupan kita. Roh ini selalu mencoba untuk mempengaruhi orang agar tidak maju dalam berbuat kebaikan. Roh ini mendorong orang untuk pelan-pelan menjauh dari Allah; melakukan kejahatan, sombong, menanamkan kebencian, menimbulkan perpecahan, atau tidak maju dalam keutamaan.

Bab III. Pedoman Pembedaan Roh I (LR 314-327)

Pedoman pembedaan roh pertama ini adalah pembedaan roh yang dasar. Sangat cocok bagi semua orang yang sedang dalam tahap awal kehidupan rohani, sedang bertobat ke jalan yang benar.

Situasi Awal

Sebelum kita membedakan gerakan yang ada dalam batin kita, diperlukan pengertian mengenai situasi hati kita terlebih dahulu. St. Ignatius membedakannya menjadi dua tipe, yaitu (1) orang yang menjauh dari Tuhan atau yang jatuh dari dosa besar ke dosa besardan (2) orang yang menuju ke Tuhan, orang yang bergerak dari baik ke lebih baik, orang yang tekun membersihkan dosa-dosanya. Dalam dua keadaan seperti itu roh baik dan roh jahat memiliki pengaruh yang berlainan.    

A. Bagi Tipe I (LR 314)

1. Situasi orangnya

Situasi orang ini adalah orang yang pelan-pelan menjauh dari Tuhan. Misalnya, orang yang egoistis, orang yang dihinggapi rasa kecemasan yang berlebihan terhadap harta kekayaannya sehingga yang dikenal hanya nilai duniawi, nilai non-Kristiani, dan Tuhan akhirnya terlupakan.

2. Cara roh jahat mempengaruhi

Roh jahat datang secara halus pada orang itu tanpa perlawanan. Hal ini dikarenakan situasi orang tersebut sama dengan yang diinginkan oleh roh jahat. Biasanya roh jahat semakin memberikan kenikmatan dan kesenangan-kesenangan semu agar disposisi(keadaan batin) orang tersebut semakin jelek.

3. Bagaimana roh baik mempengaruhi

Roh jahat menggunakan cara yang sebaliknya; menghantam, menyesakkan hati nurani orang tersebut dengan teguran-teguran pada akal budinya. Karena roh baik tidak dapat menggunakandisposisi orang tersebut maka roh baik menimbulkan perlawanana yang kadang sangat keras. Kemudian menggiring orang tersebut untuk menimbulkan rasa dosa yang benar dan sehat.

B. Bagi Tipe II (LR 315)

1. Situasi orangnya

Orang ini adalah orang yang hidup dalam jalan Tuhan, orang yang ingin memperbaiki diri agar bersatu dengan Tuhan. Dalam hidupnya, Tuhan diberi tempat. Misalnya, orang yang sedang berusaha bertobat dan memperbarui diri.

2. Cara roh jahat mempengaruhi

Roh jahat menyerang secara frontal, menyesakkan, dan memakai tipu daya agar orang itu terjebak. Tujuannya agar orang yang baik ini tidak maju dalam kebaikan dan akhirnya menjadi loyo. Taktiknya antara lain: a. Menyerang bagian paling sensitif seseorang;b. Melumpuhkan semangatnya; c. Menyerang melalui kelemahan kodrati.                               Selain itu roh jahat memiliki enam ciri (LR 315), yaitu: (1) Kesedihan, (2) Keraguan yang tidak tepat, (3)Hambatan, (4) Kekacauan, (5) Alasan yang palsu / semu, dan (6)Ketakutan.

3. Bagaimana roh baik mempengaruhi

Roh baik menggunakan cara yang sebaliknya; memberikan dorongan, semangat, dan kekuatan untuk berani melawan hambatan-hambatan yang dialaminya.

Bab IV. Hiburan dan Kesepian Rohani

1) Hiburan Rohani (LR 316)

St. Ignatius dalam LR menggambarkan hiburan rohani sebagai:(1) Keadaan jiwa seseorang yang mengalami gerak batin sehingga berkobar akan cintanya kepada Tuhan. (2) Dapat juga berupa kesedihan seseorang akan dosa dan kelalaiannya, rasa sesal yang mendalam, bahkan dapat berupa rahmat air mata yang dapat mendorong seseorang berbalik kepada Tuhan dan mencintai-Nya lebih baik lagi. (3) Dapat juga berupa bertambahnya iman, harapan, dan kasih kepada Tuhan. Berupa kegembiraan batin yang mendalam yang mendorong seseorang semakin mendekat pada Tuhan.

2) Kesepian Rohani (LR 317)

Kesepian rohani adalah keadaan batin atau hidup seseorang yang tampak dalam kecenderungan menjauh dari Allah, makin menipisnya kasih, iman, dan harapan. Hal ini tampak pada gejala-gejala jiwa seperti: perasaan berat, murung, sedih, lesu, kendor, suram, hidup berat sebagai beban, dlsb.

3) Mengapa orang mengalami kesepian? (LR 322)

St. Ignatius memberikan 3 alasan pokok, yaitu: (1) Karena kesalahan orang itu sendiri yang malas dan kendor dalam melakukan latihan rohani. Misalnya, malas berdoa, dan malas melakukan hal-hal yang baik dan adil. (2) Untuk mencobai kita sejauh mana iman kita kepada Tuhan tetap bertahan bila tidak ada hiburan rohani. (3)Untuk lebih menyadari bahwa hiburan rohani adalah suatu pemberian Tuhan.

4) Apa yang harus dilakukan dalam kesepian rohani?

St. Ignatius menasihatkan bahwa orang yang dalam kesepian, tidak membuat perubahan yang pokok tetapi teguh dalam keputusan sebelumnya (lih. LR 318). St. Ignatius membedakan adanya dua keputusan, yang pertama adalah keputusan yang fundamental yang menyangkut cara hidup yang tidak dapat diubah seperti soal panggilan atau perkawinan. Sedangkan, yang kedua adalah keputusan yang menyangkut praktek hidup sehari-hari seperti mau belanja atau tidak, mau pergi ke suatu tempat atau tidak. Dalam hal pertama, orang diminta untuk tidak merubah apa-apa justru melainkan tetap bertekun dan bertahan. Sedangkan, dalam hal kedua, orang boleh mengubah keputusan karena keputusan itu memang tidak sangat dipengaruhi oleh adanya kesepian.

Yang dianjurkan oleh St. Ignatius dalam kesepian adalah orang diajak untuk berjuang mengubah diri untuk menghadapi kesepian itu (lih. LR 319-321), dengan beberapa bentuk: (1) Agere Contra, yaitu semangat mengerasi diri dan melawan kecenderungan diri yang mulai malas dan berjuang secara tabah dan sabar. (2) Lebih tekun berdoa, bermeditasi, matiraga, laku tapa, dan disiplin diri. (3) Menundukkan rasa dengan pikiran dan akal budi. (4) Merenungkan betapa kita tanpa Tuhan tidak dapat berbuat apa-apa.

5) Nasihat dalam hiburan rohani

(1) Memikirkan bila suatu saat kita dalam kesepian. (2) Tetap rendah hati. (3) Menyadari bahwa hiburan rohani hanyalah sarana dan bukan tujuan.

Bab V. Sifat Godaan (LR 325 – 327)

(1) Lemah bila dilawan dan garang bila didiamkan (seperti wanita). (2) Godaan ingin selalu disembunyikan (LR 326) (seperti buaya darat); tidak terbuka. (3) Godaan itu menyerang seperti komandan (LR 327); menyerang kelemahan musuhnya. (4) Godaan menggoda dengan menyangatkan (menjadikan segala sesuatunya menjadi ”terlalu”). (5) Harta, gengsi, kehormatan, dan kuasa seringkali dijadikan alat untuk menggoda orang.

Sikap yang tepat untuk mengatasi godaan adalah sikap tegas dan tidak tawar-menawar. Sekali kita sadar bahwa itu godaan, kita harus tegas menyatakan TIDAK. Jangan main-main dengan roh jahat.

Bab VI. Patokan Pembedaan Roh II (LR 328 – 336)

Diperuntukkan bagi orang yang sudah maju dalam latihan rohani atau maju dalam hidup bersama Tuhan. Ciri khas roh baik di sinilah adalah semakin membuat orang itu lebih maju dan merasakan sukacita sejati. Sedangkan, roh jahat lebih membuat orang menjadi kacau hati agar gelisah dan mundur.

Hiburan tanpa sebab (LR 330) hanya dapat datang dari Allah. Orang mengalami suatu hiburan dan ia tidak tahu sebabnya apa. Namun, perlu hati-hati karena setelah kita mengalami hiburan itu, godaan dapat datang mengarahkan ke arah yang lain.

Hiburan dengan sebab (LR 331) menurut Ignatius dapat datang dari roh baik dan juga dapat datang dari roh jahat. Yang membedakannya adalah tujuannya; roh baik mendorong orang untuk kemjuan hidup rohaninya sedangkan roh jahat akhirnya menyeret ke kedurhakaan.

Roh jahat dapat menyamar (LR 332) menjadi roh baik. Awalnya mendekati dengan cara yang baik namun kemudian menggiring pada hal-hal yang jahat. Dari sini kita juga perlu belajar dari pengalaman jatuh (LR 334) kemudian merefleksikannya agar semakin peka terhadap gerak-gerak roh jahat yang menggoda. Jika awal, tengah, dan akhir  itu baik maka berasal dari roh baik. Namun, jika awal baik dan akhirnya jahat, itu berasal dari roh jahat.

Roh jahat seringkali menggunakan ungkapan; ”Ikuti saja sebentar, toh tidak apa-apa. Ah itu tidak apa-apa, tidak usah kecewa. Mengapa kamu sok suci, lebih baik seperti orang lain saja.” Roh jahat seringkali menggiring kita jatuh pada sifat terlalu permisif dansemua dapat dibenarkan.

Bab VII. Pemilihan dan Penegasan Rohani (LR 169 – 189)

Unsur yang penting menjadi patokan dalam pemilihan adalah tujuan hidup kita. Berdasarkan tujuan itu, kita memilih mana yang lebih menunjang tujuan hidup tersebut. Bahan yang dapat dijadikan pemilihan adalah yang baik, atau netral.

Ignatius membedakan adanya 3 waktu dalam pemilihan: (1) Dimana kita tidak ragu-ragu digerakkan Allah, (2) waktu kita mengalami hiburan rohani, dan (3) waktu biasa di mana kita dapat mempertimbangkan halnya secara tenang.

Dalam waktu tenang, kita dapat mempertimbangkan semua alasan pro dan kontra serta unsur-unsurnya, mana yang lebih sesuai dengan tujuan hidup kita. Yang paling banyak unsur pronya dijadikan pilihan kita dan dijadikan bahan doa kepada Tuhan.

Bab VIII. Penutup

Seperti sebuah pisau perlu diasah terus-menerus supaya tajam, kemahiran membedakan roh juga perlu untuk dilatih terus-menerus sepanjang hidup. Bahkan, kemahiran itu perlu melalui pengalaman jatuh bangun dan kekeliruan. Selain itu, ketekunan orang dalam berdoa juga semakin membantu dalam kemahiran ini. Dan cara yang tak kalah pentingnya adalah belajar dari orang lain, terlebih dari orang-orang yang suci yang peka terhadap gerakan-gerakan roh. Selain itu, Santo Ignatius memberikan juga suatu alat yang dapat membantu kepekaan kita terhadap gerakan-gerakan roh melaluipemeriksaan batin yang berusaha melihat gerakan-gerakan yang ada dalam hidup kita sehari-hari.

C. Tanggapan Kritis

Buku ini sangat menarik karena membantu para pembaca untuk memahami pembedaan roh dan penegasan rohani dengan sangat jelas dengan diberi contoh-contoh sederhana. Buku ini memiliki efek ganda: pertamamembantu para pembaca untuk berkembang dalam hidup rohaninya secara pribadi (relasi manusia dengan Allah);keduabersifat sosial, dimana para pembaca juga digiring untuk masuk dalam lingkungan sekitarnya (relasi manusia dengan sesama dan juga alam sekitarnya).

Namun, yang patut dikritisi di sini adalah (1) Kodrat dan sifat bawaan (trait) tidak dibedakan secara jelas dalam buku ini[2].(2) Adanya bahaya orang jatuh pada ekstrem tertentu dengan menganggap dirinya mampu membedakan roh dengan baik dan akhirnya mudah menilai setiap pilihan orang lain berdasarkan pertimbangan pribadinya. Pembedaan roh tidak dapat lepas dari konteks kehidupan manusia (kebiasaan, budaya, ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, politik, dlsb.). Jadi, ketika berhadapan dengan orang lain, (3) latar belakang setiap pribadi perlu untukdikenali terlebih dahulu sehingga dapat memahami setiap pilihannya dan tidak berat sebelah[3].

(4) Orang yang merasa sudah mahir dalam pembedaan roh dan penegasan rohani ada bahayanya jatuh dengan menganggap diri mampu dan tidak butuh pembimbing rohani lagi. Padahal dengan kehadiran seorang pembimbing rohani, setiap penegasan yang kita ambil dapat diobjektivasi (diuji), ”Apakah ini benar baik atau tidak?” Jadi, dengan kemahiran pembedaan roh dan penegasan pribadi bukan berarti peran pembimbing rohani dilupakan. (5) Sebaliknya, ada  bahaya juga jika terlalu mengandalkan pembimbing rohani karena dapat membuat orang menjadi (terlalu) tergantung dan kebebasannya (dalam memilih) menjadi terbatas. Sehingga, dalam hal ini sikap yang perlu dipelihara adalah selalu berada di ”tengah” (equilibrium); butuh pembimbing namun tidak (terlalu) tergantung.

(6) Dalam buku ini nilai duniawi berkaitan erat dengan nilai non-Kristiani[4]. Hal ini dapat dimengerti untuk menggambarkan kefanaan dan kesia-siaan dalam kehidupan kita sehari-hari (gambaran ini seringkali digunakan dalam Kitab Suci[5]). Namun di lain pihak, kita tidak dapat begitu saja mengatakan bahwa yang bersifat duniawi atau inderawi itu bersifat non-Kristiani. Jadi, kita harus melihatnya secara keseluruhan dan lebih kritis, dimana Tuhan pun memanggil manusia melalui hidupnya sehari-hari[6] yang selalu bersentuhan dengan dunia dan inderanya guna menuju kesempurnaan (keilahiaan). Nilai-nilai duniawi tidak selalu bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi (spiritualitas ”keseharian”). Justru LR ingin pula menunjukkan ”keilahian” itu dalam ”dunia” (keseharian).

(7) Bagaimana dapat membedakan disposisi batin orang yang cenderung ke jahat dan orang yang semakin dekat kepada Tuhan? Lalu bagaimana dapat mengatakan (menilai) disposisi batin seseorang itu, apakah sudah meningkat (lebih baik) atau malahmenurun? Walaupun tetap ada patokan-patokan yang sudah dijelaskan namun pada prakteknya hal ini tetap bersifat subjektif (tidak selalu sama bagi setiap orang) dan proses objektivasi (peran pembimbing rohani) menjadi penting pula di sini.

(8) Selain itu, pembedaan roh dan penegasan rohani (dalam konteks LR) begitu menghargai keunikan hidup rohani setiap pribadi. Kebebasan manusia tetap dijunjung tinggi sebagai makhluk ciptaan-Nya. Setiap orang berhak memilih apa pun pilihannya. Namun, patut dijelaskan di sini bahwa pembedaan roh dan penegasan rohani dalam LR tetap membantu, menuntun, dan mengarahkan setiap orang menuju kepada Allah.

(9) Tiga waktu pemilihan, yaitu waktu I, II, dan III perlu juga dilihat secara saksama. Saya ingin lebih fokus pada Waktu I, dimana orang tanpa ragu-ragu merasa digerakkan oleh Allah untuk memilih sesuatu hal, contohnya pertobatan Rasul Paulus yang datang dengan tiba-tiba. Dalam hal ini setiap orang yang merasa berada pada disposisi batin Waktu I (dapat merasa seperti apa yang dirasakan oleh Rasul Paulus) perlu untuk mengecek kembali (dengan menggunakan disposisi Waktu II dan III)[7] apakah benar apa yang dirasakannya itu berasal dari Allah atau tidak karena Roh Jahat itu pun dapat berwujud seperti Roh Baik.

(10) Satu lagi yang patut dikritisi dari buku ini[8] (dan juga buku LR itu sendiri) adalah adanya diskriminasi gender (LR 325) dengan mengatakan bahwa musuh (roh jahat) itu seperti ”wanita” yang lemah jika dilawan tetapi kuat jika dibiarkan. Sampai sekarang ini banyak kaum feminis mencoba mengkritisi hal ini dan masih terus menjadi wacana yang hangat[9]. Untuk memahami hal ini kita perlu kembali lagi dalam konteks zaman Ignatius yang masih begitu bersifat patriarki[10]. Bagi kita sekarang ini mungkin hal ini tidak dapat lagi diterima begitu saja namun yang masih perlu diperhatikan adalah isi atau maksud yang ingin disampaikan oleh Ignatius mengenai cara kerja roh jahat itu sendiri.

(11) Dalam pembedaan roh dan penegasan rohani kita tidak bisa menyalahkan begitu saja si roh jahat jika akhirnya kita memilih jalan yang keliru. Jalan yang keliru itu  bukanlah pilihan (putusan) roh jahat bagi kita, melainkan pilihan kita sendiri yang dipengaruhi oleh roh jahat. Roh jahat hanya bisa mengacaukan diri kita namun ia tetap tidak bisa berbuat apa-apa karena pilihan (keputusan) tetap ada di tangan kita.

D. Kesimpulan

Pembedaan roh dan penegasan rohani akan selalu berkaitan dengan dunia eksperiensi atau pengalaman keseharian manusia. Pengalaman ini berkaitan dengan dunia kesadaran manusia. Dengan begitu, setiap orang diajak masuk ke dalam dunia kesadaran dalam kualitas tertentu, yaitu kesadaran yang selalu berkontak dengan Allah, apa pun istilahnya. Dunia kesadaran itulah yang menjadi titik referensi perjalanan rohani manusia. Atas dasar dinamika kesadaran itulah, karya Allah beserta rahmat-Nya dapat semakin efektif di dalam hidup manusia[11]. Pembedaan roh dan penegasan rohani menjadi salah satu alat-Nya yang membantu kita merasakan karya Allah beserta rahmat-Nya.*


[1] Contoh tidak diambil dari buku Roh Baik dan Roh Jahat melainkan sengaja ditulis untuk menghantar masuk dan menjelaskan secara sederhana mengenai dorongan hati dan pikiran (terinspirasi dari prakata yang ditulis oleh pengarang – Paul Suparno, S.J).

[2] Bdk. Paul Suparno, 1998, Roh Baik dan Roh Jahat, Jogjakarta: Kanisius, hal. 19-21.

[3] Ibid.

[4] Bdk. Paul Suparno, 1998, Roh Baik dan Roh Jahat, Jogjakarta: Kanisius, hal. 29.

[5] Contohnya: Kisah Para Rasul  17:29, “Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia.”

[6] Lebih ditegaskan lagi dalam LR Minggu IV melalui kontemplasi untuk mendapatkan cinta, dimana setiap pelaku Latihan Rohani diajak untuk menemukan kembali Tuhan yang ada di dunia dan dunia dalam Tuhan. Buku ini sudah berusaha menunjukkannya dengan memberi contoh-contoh sederhana dalam hidup keseharian.

[7] Rm. Zanhweh, SJ (pembimbing rohani Kolese St. Ignatius – Jogjakarta) pernah menjelaskan (dalam Retret Penegasan Januari 2005) bahwa orang yang berada pada disposisi batin Waktu I ini dapat dikatakan “tidak ada” lagi dan lebih aman pemilihan itu dicek lebih lanjut menggunakan metode pemilihan Waktu II dan Waktu III.

[8] Dalam Paul Suparno, 1998, Roh Baik dan Roh Jahat, Jogjakarta: Kanisius, hal. 64.

[9] Menurut penjelasan P. L.A Sardi, SJ (Magister Novisiat St. Stanislaus – Girisonta).

[10] Walaupun pada saat itu ”pencerahan” atau ”kesadaran” mulai berkembang yang juga ditandai oleh hadirnya protestanisme, namun hal tersebut (patriarki, baik langsung maupun tidak langsung tetap menomorduakan wanita) masih kuat dan berakar pada diri orang banyak, termasuk Ignatius pada saat itu.

[11] Bdk. J. Darminta, “Latihan Rohani dan Pembentukan Kerohanian” dalam  Latihan Rohani St. Ignatius Loyola St. Ignatius Loyola (diterjemahkan, diberi pengantar, dan lampiran-lampiran oleh J. Darminta, SJ), Yogyakarta: Kanisius, 1993, hal.228-229.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s