Wiji Thukul : Sastra Pembebasan

becak
 
Telaah Sastra
 

PUISI-PUISI WIJI THUKUL : SASTRA PEMBEBASAN

Sebuah Hasil Pembacaan Ulang Puisi-Puisi Wiji Thukul

Dalam Konteks Orde Baru Era 80-an hingga 90-an

 

“Seni sesungguhnya hanya satu bentuk dari banyak tafsir atas realitas.

Seni bukanlah sesuatu yang kosong dan tidak berpihak.

Justru ia memiliki pemihakan yang besar,

yakni atas hati nurani.”[1]

(Indonesia Tera) 

A. Pengantar
 
Tulisan ini berawal dari ketertarikan penulis pada kekhasan puisi-puisi Wiji Thukul (khususnya yang ditulis pada era tahun 80-an hingga 90-an) yang tampak begitu sederhana, lugas, dan tegas dalam pemilihan kata-kata. Dari kesederhanaan, kelugasan, dan ketegasan puisi-puisinya, tampak pula posisi Wiji Thukul yang memiliki keberpihakan pada orang kecil dan tertindas. Sebuah pilihan yang sangat patut dihargai bagi seorang penyair. Akan tetapi, tulisan ini pertama-tama tidak bermaksud untuk melakukan analisis kritis atas setiap puisi Wiji Thukul melainkan lebih ditujukan untuk melihat adanya semangat (baca: cara berpikir) “pembebasan” yang ada dalam puisi-puisi Wiji Thukul.
 
Pertama-tama penulis akan mencoba menggambarkan latar belakang Wiji Thukul secara singkat sebagai sebuah background bagi kelahiran puisi-puisinya (Wiji Thukul: “Pelawan yang Dilawan”). Setelah itu, penulis akan mencoba memperlihatkan konteks politik-sosial-ekonomi masyarakat Orde Baru secara singkat, khususnya pada era tahun 80-an hingga 90-an. Kemudian penulis akan mencoba melihat seni (puisi) dan realitas kekerasan yang terwakili dalam puisi-puisi Wiji Thukul. Setelah itu, penulis akan sedikit membahas beberapa puisi Wiji Thukul dan mencoba memperlihatkan semangat “pembebasan” puisi-puisi Wiji Thukul dalam era tahun 80-an dan 90-an.
 
B. Wiji Thukul: “Pelawan yang Dilawan”
 
“Hanya ada satu kata: Lawan!” itulah yang ingin diungkapkan Wiji Thukul dalam puisi-puisinya (khususnya dalam puisi “Peringatan”, Solo, 1986).
 
Peringatan (setelah direvisi)[2]
 
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
 
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
 
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
 
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
 
Solo, 1986
 
“Lawan” mengandaikan “ada yang melawan” dan “ada yang dilawan”. Di sini (khususnya dalam puisi-puisinya), Wiji Thukul menempatkan diri sebagai “pelawan” sekaligus “yang dilawan” (korban) penguasa Orde Baru yang semena-mena. Posisi penyair menjadi penting di tengah persengkongkolan kreatif dunia cipta puisi. Ada mazhab-mazhab yang mengotakkan para penyair pada kondisi tertentu. Salah satunya adalah warna kerakyatan khas Wiji Thukul.[3]
 
Slogan “hanya ada satu kata: lawan!” hampir bisa kita temui di setiap aksi-aksi mahasiswa maupun aksi-aksi buruh. Slogan ini begitu populer dan juga begitu menakutkan Orde Baru dengan seluruh jajarannya. Slogan ini mempunyai kekuatan yang mampu membakar semangat dan menyatukan kekuatan para aktivis, yang mau menjatuhkan Orde Baru. Slogan “hanya ada satu kata: lawan!” mungkin sama khasiatnya dengan slogan di zaman pra-kemerdekaan: “Merdeka atau Mati!.” Atau slogan Karl Marx yang menjadi “hantu” yang sangat menakutkan bagi para pemilik modal (kapitalis): “workers of the world, unite![4]
 
Wiji Thukul, yang bernama asli Wiji Widodo, lahir pada 26 Agustus 1963 di Sorogenen, Solo, yang mayoritas penduduknya tukang becak dan buruh. Dia sendiri datang dari keluarga tukang becak. Menulis puisi telah dimulai olehnya sejak masih duduk di bangku SD, ketertarikannya pada dunia teater dimulai ketika di SMP. Kemudian, ia mendalami seni tari pada SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) namun tidak tamat (drop out pada 1982). Pada 1988, ia juga sempat menjadi wartawan Masa Kini, meski cuma tiga bulan namun puisi-puisinya telah berhasil diterbitkan di berbagai media cetak baik dalam maupun luar negeri. Setelah itu, ia berusaha mendapatkan upah dari keringatnya sendiri dengan cara menerima pesanan sablonan kaos, tas, dan lain-lain, di samping membantu istrinya (Dyah Sujirah) yang membuka usaha jahitan pakaian. [5]
 
Wiji Thukul, muncul dalam sebuah ruang yang khusus di tengah wacana kekerasan yang menekannya selama puluhan tahun. Ia adalah seorang yang gigih dalam memperjuangkan gagasan-gagasannya maupun dalam memperjuangkan hidup dan kebenaran-kebenaran yang diyakininya.[6] Dan, itu semua bukan ditujukan semata-mata untuk dirinya melainkan juga untuk memperjuangkan “pembebasan” bagi bangsanya. Bebas dari kemiskinan, tekanan, dan penindasan yang telah dilakukan oleh bangsanya sendiri. Dalam perjuangannya ini ia menggunakan caranya sendiri, yaitu dengan menggunakan ‘senjata kata-kata’. Kekerasan tidak dibalasnya dengan kekerasan melainkan dikritisi dengan sebuah kecerdasan yang dirangkai dalam kata-kata sederhana, lugas, dan tegas namun tetap indah dan puitis. Dalam proses kreatifnya itu, puisi menjadi media yang mampu menyampaikan permasalahan dan mewakili suara kaum tertindas pada umumnya.[7] Walaupun pada akhirnya pelaku kebudayaan dan politik praktis Jaringan Kesenian Rakyat (Jaker)[8]ini sengaja diculik dan dilenyapkan oleh kaki tangan penguasa Orde Baru yang merasa gerah akan seluruh aktivitasnya namun puisi-puisi Wiji Thukul akan selalu menggema di sudut-sudut relung hati bangsa ini.
 
C. Konteks Sosial-Politik-Ekonomi Orde Baru Era 80-an hingga 90-an
 
Secara umum watak rezim Orde Baru itu bersifat agak unik. Di dalamnya terdapat kerangka kelembagaan yang secara formal demokratis yakni adanya pemisahan kekuasaan eksekutif dan legislatif, serta ada proses daur suksesi yang teratur, lewat pemilihan umum (pemilu) lima tahunan. Namun, pada hakikatnya, rezim Orde Baru cukup jauh dari sifat demokratis, karena peran serta rakyat dalam pengambilan keputusan negara sangat dibatasi. Di atas segalanya, hanya satu orang, yakni Presiden Soeharto yang memimpin Orde Baru selama lebih dari tiga dekade dengan kekuasaan yang sangat besar.[9]
 
Pada dekade tahun 1980-an, Indonesia ikut merasakan dampak dari turunnya harga minyak dunia. Hari-hari keuntungan telah berlalu. Devisa dan ekspor Indonesia menurun. Tingkat utang luar negeri begitu tinggi (hingga mencapai 64,1 persen dari Pendapatan Domestik Bruto pada tahun 1988). Hal ini sudah cukup menandakan peringatan bahaya dalam berbagai sektor.[10][11] 
Kebijakan pemerintah pada dekade ini (era 80-an) tampak mulai berubah dibandingkan dengan dekade sebelumnya. Pemerintah mulai mengarahkan kebijakannya pada sistem ekonomi global yang bersifat liberalisasi ekonomi berorientasi pasar (pasar bebas).[12]Ekonomi yang kian hari kian terpaut pada sistem ekonomi kapitalis dunia yang menjulurkan tangannya melalui lembaga-lembaga keuangan internasional ternyata juga membawa dampak pada kehidupan masyarakat. Laporan HAM YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) tahun 1981, yang editornya Mulya Lubis, Fauzi Abdullah, dan Mulyana W. Kusuma, patut untuk dicermati untuk melihat sejauh mana dampak itu terjadi. Laporan tersebut memberikan gambaran yang mengejutkan mengenai ketimpangan yang berkembang dalam sektor pendidikan dan kesehatan, termasuk juga kondisi para buruh dan petani. Laporan 33 halaman tersebut juga memuat laporan mengenai kasus-kasus protes buruh dalam hal upah, kondisi kerja, dan pelanggaran terhadap hak mengorganisir diri.[13] Tindakan-tindakan penghematan pun dilakukan oleh pemerintah seperti pengurangan subsidi konsumen untuk beras dan bahan bakar pada Januari 1984. Harga bahan bakar naik mencapai angka antara 6 dan 60 persen. Beraneka macam kredit yang ada pun terpaksa dikurangi.
 
Sekitar tahun 1988 hingga tahun 1992 petani mulai bersuara dan amat mendominasi wacana hidup bernegara. Protes petani yang sangat terkenal sampai tingkat nasional adalah protes yang dilakukan oleh para petani Kedung Ombo yang didukung oleh para aktivis mahasiswa melawan program pembangunan proyek Dam dan Irigasi Multiguna Kedung Ombo di Jawa Tengah. Para petani menolak ganti rugi terutama karena tingkat kompensasinya jauh di bawah nilai pasar harga tanah dan mereka belum sepenuhnya diajak berkonsultasi. Kompensasi yang ditawarkan kepada mereka adalah Rp. 250,00 sampai Rp. 750,00 per meter persegi. Sedangkan, harga tanah di luar area sekitar Rp. 4.000,00 per meter persegi. Dari 5.390 keluarga yang direncanakan akan direlokasi, 3.391 keluarga dengan jelas menolak kompensasi (ganti rugi) ini.[14][15] Dari sini tampak sekali bahwa warga negara tidak sepenuhnya memperoleh hak-hak mereka. Hak untuk hidup pun terusik dengan berbagai proyek yang tidak berpihak pada masyarakat. Petani yang bersuara menunjukkan bahwa mereka pun sudah tidak tahan lagi terhadap perlakuan pemerintah yang tidak ‘merakyat’. Di sini, peran mahasiswa pun mulai tampak dengan memberikan gagasan politik radikal dan memberikan informasi terhadap hak-hak hukum kepada buruh dan petani.
 
Selama periode 1988–1995, pemerintah dapat dikatakan telah melaksanakan politik yang tertutup karena sedikit pun tak memberikan ruang dan peluang bagi refleksi dan koreksi atasnya, politik resmi pun berjalan bagaikan robot.[16] Pada era tahun 90-an investasi modal asing maupun dalam negeri meningkat dibandingkan era-era sebelumnya. Pada era ini pemerintah Indonesia mendapat berbagai pujian dari berbagai lembaga dunia, seperti WB, IMF,OECD, UNCTAD, berbagai institusi & media internasional dan dari banyak negara maju maupun berkembang. Laporan ekonom profesional dari World Bank 19 Juni 1997 mengatakan bahwa awal milenium yang akan datang Indonesia akan menjadi salah satu dari 20 negara yang ekonominya terbesar/terkuat didunia. Pada 8 September 1997 presiden Soeharto kembali mendapat penghargaan, kali ini dari UNDP atas keberhasilannya dalam mengentaskan kemiskinan.[17]
 
Fakta yang kontroversial dengan penghargaan dan pujian di atas adalah bahwa (1) pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak mampu mengatasi masalah pengadaan pangan minimum untuk menghindari terjadinya kelaparan di berbagai daerah, seperti NTT, Irian Jaya (sekarang Papua), dan di berbagai tempat lainnya. (2)Industrialisasi yang menggejala di mana-mana telah menggusur lahan petani kecil hingga mencapai 1 juta hektar. (3) Kebijaksanaan pembangunan hanya terpusat di kota-kota pulau Jawa yang menyebabkan pula ketimpangan dan kesenjangan dengan daerah-daerah lainnya. (4) Dalam bidang pendidikan, 70% penduduk hanya lulusan SD, dan hanya 4% yang lulus universitas atau akademi. (5)Dalam bidang kesehatan, pada awal November 1997 Menteri Negara Urusan Wanita Mien Sgandhi menyatakan bahwa tingkat kematian ibu dan bayi ketika melahirkan mencapai 390 per 100.000 atau tertinggi di Asia. (6) Jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan mencapai 90% (180 juta jiwa) pada tahun 1993 dengan menggunakan ukuran batas Kebutuhan Fisik Minimum yang dikeluarkan Depnaker 1993, yaitu Rp. 80.000,00 / bulan. Termasuk kategori ini adalah nelayan kecil, buruh tani, petani gurem, buruh kasar, pedagang asongan dan para penganggur. Namun, pemerintah melalui Bapenas mengatakan bahwa kemiskinan menurun hingga tersisa 14 % saja (27 juta jiwa) dengan menggunakan ukuran batas minimum yang sangat rendah, yaitu Rp. 20.000,00 / bulan.[18]
 
Krisis moneter yang berawal dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar pada Juli 1997 hingga puncaknya pada bulan Januari 1998, di mana nilai rupiah terjerembab hingga pada level sekitar Rp. 17.000,00 / US$[19][20] semakin memperparah kehidupan masyarakat. Sektor ekonomi hancur lebur dengan ditutupnya berbagai sektor usaha dengan disertai gelombang PHK besar-besaran yang tak terbendungkan lagi. Kesabaran masyarakat mencapai titik puncaknya. Hidup tak lagi nyaman dan aman di bumi pertiwi. Tuntutan reformasi mulai terdengar di seluruh pelosok tanah air. Hingga puncaknya pada 21 Mei 1998, Orde Baru gugur dengan ditandai pengunduran diri Soeharto dari ‘tahta suci’-nya dan mahasiswa menjadi pahlawannya.
 
Orde Baru telah meninggalkan sisa-sisa kenangan yang kelam.(1)(2) Kasus penggusuran tanah di berbagai daerah telah menjadikan tidak kurang dari 3.000.000 jiwa rakyat menjadi korban gusuran dengan motif umum, antara lain untuk mendirikan pabrik, pangkalan militer, dan waduk. (3) Selain itu, yang tak kalah hebatnya adalah mengenai korupsi yang dilakukan Soeharto beserta kroni-kroninya. Uang rakyat yang digelapkan tidak kurang dari 220 Milyar Dolar AS.[21] 
Berbagai kasus pembunuhan atau pembantaian yang dilakukan Orde Baru dengan berbagai motif selama 32 tahun, tidak kurang 4.000.000 jiwa rakyat telah menjadi korban. Bahkan menurut sejarawan Ong Hok Giam, korban Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun itu jauh lebih besar dibandingkan dengan zaman kolonial Belanda yang menjajah Indonesia selama 350 tahun.
 
Dari gambaran di atas kita dapat menemukan bahwa Orde Baru telah banyak menyengsarakan rakyat dan berusaha me-ninabobok-kan bangsa ini. Dari situ kita dapat melihat bahwa Orde Baru telah melakukan ‘kekerasan’ terhadap bangsa ini dalam kurun waktu yang cukup lama (32 tahun). Rakyat menjadi korban dan selalu berada di bawah.
 
D. Seni (Puisi) dan Realitas Kekerasan[22]
 
Jika seni mengungkapkan sebuah realitas dalam bentuk yang lain (baru) maka puisi-puisi Wiji Thukul menggambarkan sebuah realitas kekerasan, di mana rakyat menjadi korban bangsanya sendiri. Mungkin kita dapat mengatakan bahwa kolonialisme telah usai, namun realitas yang terungkap dari puisi-puisi Wiji Thukul menunjukkan kepada kita bahwa kolonialisme (khususnya pada era 80-an hingga 90-an) telah memakai topeng baru, yaitu penguasa yang diktator dan semena-mena (Orde Baru).
 
Kita mungkin akan merasa makin terbelenggu benang kusut dari berbagai tafsir kepentingan atas realitas kekerasan yang terjadi selama ini. Kekerasan menjadi komoditas “penting” yang menjadi satu-satunya pilihan menarik untuk pasar kepentingan. Namun di sini, kekerasan—tidak harus terjadi bahkan tidak perlu terjadi—telah mendorong bagi lahirnya sebuah kesenian yang berasal dari pergulatan hati nurani manusia yang murni. Kekerasan tidak lagi menjadi ‘komoditas kepentingan’ melainkan keperihatinan bagi Wiji Thukul yang memungkinkannya masuk ke dalam jagat rasa atas keindahan—kendati kekerasan tidak membuka banyak kemungkinan untuk itu—melalui puisi-puisinya.
 
Lalu yang menjadi pertanyaan mendasar adalah (1) untuk apa seni (puisi) menciptakan realitas kekerasan? Dan, (2) mengapa realitas kekarasan harus diciptakan ke dalam realitas baru dalam tafsir kesenian (puisi)? Kedua pertanyaan ini mungkin akan mengusik kita, “Tidak perlulah kekerasan tercipta lagi, biarkan seni (puisi) bebas dari kekerasan dan tak perlu terkontaminasi olehnya.” Namun, jika ingin merenungkan lebih dalam lagi, ternyata bukan itulah yang menjadi persoalan mendasar.Yang lebih penting adalah bagaimana ruang-ruang kosong itu ditanami tunas-tunas hati nurani. Seni (puisi) memungkinkan untuk itu. Pada dasarnya kekerasan tidak memiliki hati nurani melainkan ‘kebekuan hati’. Justru di sinilah seni (puisi) memiliki tanggung jawab pula untuk menunjukkan hal tersebut karena seni (puisi) bukanlah sesuatu yang kosong dan tidak berpihak, melainkan memiliki pemihakan yang besar atas hati nurani.
 
Pada dasarnya seni (puisi) dapat lahir dalam berbagai situasi. Dalam wajah puisi-puisi Wiji Thukul situasi kekerasanlah yang melatarbelakangi kelahiran kreativitasnya hingga mengejawantah dalam kata-kata sederhana, lugas, dan tegas yang membawa keindahan tersendiri bagi setiap pemaknaan.
 
E. Puisi-Puisi Wiji Thukul : Sastra Pembebasan
 
Schopenhauer melihat bahwa jalan estetika merupakan sebuah jalan pembebasan. Menurutnya, melalui seni kita dapat mengalami kebahagiaan di seberang dunia yang celaka ini, walaupun untuk sebentar saja. Sejenak kita diangkat ke dunia yang sungguh-sungguh.[23] Untuk sampai ke dunia tersebut, Chairil Anwar menyatakan bahwa manusia perlu memiliki daya rangsang dan antusiasme karena di sanalah letak “vitaliteit” atau “tenaga hidup”. Dalam seni, menurut Chairil, “tenaga hidup” itu selalu muncul sebelum keindahan, berupa “chaotisch voorstadium“, tahap pendahulu yang galau, yang khaotis.[24] “Khaos” itu pun dialami oleh Wiji Thukul ketika melihat realita yang terjadi di sekitarnya, di mana penderitaan terjadi di mana-mana. Tak ada keindahan di sana. Namun, justru di sanalah “tenaga hidup” itu muncul dan mengawali proses kreativitasnya. “Tenaga hidup” yang mendorong untuk tetap hidup di tengah-tengah dunianya yang khaos. Dan, “kehidupan” itu diwujudkan dalam setiap kata yang ada dalam puisi-puisinya. “Kata” menjadi sebuah tenaga yang menghidupkan bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga bagi “yang lain”.
 
Seorang “pujangga” kata Chairil tak gentar akan apa pun. “Pohon-pohon beringin keramat” ia panjat. Bahkan ia akan “memotong cabang-cabang yang merindang-merimbun tak perlu…”. Dengan keberanian “menerobos” itu ia pun mempertanyakan. Kreativitas memang diawali dengan rasa gelisah mencari, kegalauan ingin menemukan, juga niat merombak. Sesuatu yang destruktif tersirat di dalamnya.[25] Wiji Thukul pun mencoba untuk menggali kreativitasnya dengan keberaniannya untuk mencari, menemukan, merombak, bahkan menerobos batas-batas “normal” pada saat itu, di mana semua dikontrol oleh penguasa (Orde Baru). Ia ingin menunjukkan sebuah pembebasan melalui “kata yang tak bertulang” namun memiliki “roh kehidupan” yang bebas berkelana dalam puisi-puisinya. Pada saat itulah puisi menjadi sebuah sarana pembebasan. Hal ini pun sejalan dengan pemikiran Chairil, “Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, mimpi, pengharapan, cinta, dan dendam.” “Kata” tak dibentuk oleh aku-yang-berpikir, tapi aku-yang-ada-di-dunia. Artinya, “Kata” praktis sama dengan “hidup”. Maka ia tak bisa diperbudak; ia bebas-lepas.[26]
 
Secara umum, semangat pembebasan itu dapat terlihat dalam puisi-puisi Wiji Thukul yang menunjukkan proses: (1) mimesis danmethexis, (2) simbolisasi, (3) penyingkapan Alètheia, (4) penyatuan: pengertian dan realita, (5) bebas merasa: betapa mulianya manusia.
 
1. Mimesis dan Methexis
 
Seni (puisi) dapat dijelaskan dengan mengikuti kerangka berpikir Plato mengenai mimesis (meniru), yang mencoba menjelaskan mengenai hubungan antara dunia dan idea, antara benda konkret yang tampak dan hakikat dari benda-benda itu melalui proses meniru.[27] Dengan mengikuti pemikiran Plato, maka puisi-puisi Wiji Thukul dapat dikatakan sebagai sebuah hasil mimesis.Mimesis dari “idea kekerasan” yang ditangkap oleh sang penulis dan terungkap dalam kata-kata yang terangkai dalam puisi-puisinya. Bagaikan seorang tukang pembuat alat tenun, Wiji Thukul telah memiliki “alat tenun sejati” itu dalam pikirannya, dan ternyata di sini “alat tenun” itu adalah kekerasan yang terjadi dalam bangsa ini (khususnya dalam masa Orde Baru era 80-an hingga 90-an) yang direkamnya dengan jelas. Kemudian, “alat tenun sejati” itu ia wujudkan dalam “kata-kata” di setiap baris puisinya. Dengan kata lain, puisi-puisi Wiji Thukul merupakan hasil tenunan citra dari “idea kekerasan” bangsa ini. Melalui puisi-puisinya, Wiji Thukul ingin memberi ruang pembebasan dengan cara mimesis dan dengan begitu menunjukkan bahwa kekerasan itu benar-benar ada dan terjadi dalam bangsa ini. Contohnya dapat kita temukan dalam
“Kuburan Purwoloyo” (1988) berikut ini:
 
Kuburan Purwoloyo[28]
 
di sini terbaring
mbok Cip
yang mati di rumah
karena ke rumah sakit
tak ada biaya
 
di sini terbaring
pak Pin
yang mati terkejut
karena rumahnya tergusur
 
di tanah ini
terkubur orang-orang yang
sepanjang hidupnya memburuh
terhisap dan menanggung hutang
di sini
gali-gali
tukang becak
orang-orang kampung
yang berjasa dalam setiap Pemilu
terbaring
dan keadilan masih saja hanya janji
 
di sini
kubaca kembali
: sejarah kita belum berubah!
 
jagalan, kalangan solo, 25 oktober 88
 
Wiji Thukul telah me-mimesis-kan “idea kekerasan”, bahwa masih ada rakyat yang menderita karena tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dari pemerintah, terjadi penggusuran di mana-mana, dan juga kehidupan buruh yang tidak manusiawi dengan gaji yang kecil hingga harus berhutang ke sana-sini. Selain itu, yang terpenting bagi Wiji Thukul adalah ingin menyuarakan bahwa keadilan hanyalah janji kosong belaka sepanjang sejarah bangsa Indonesia.
 
Selain proses mimesis terjadi pula proses methexis (partisipasi)—pemikiran Plato, di mana benda di dunia ini berpartisipasi dalam beberapa idea, atau dengan kata lain, idea-idea “hadir” dalam benda-benda di dunia ini. Di sini tampak bahwa seolah-olah idea itu banyak dan benda-benda duniawi itu satu. Yang terjadi justru sebaliknya: “Idea” itu hanya satu, dan benda-benda itu banyak.[29]Ada banyak bentuk kekerasan misalnya, tetapi “idea kekerasan” itu adalah tunggal.
Jadi, jika puisi-puisi Wiji Thukul (khususnya ”Kuburan Purwoloyo”) menunjukkan rakyat
Indonesia yang mengalami “kekerasan” karena tidak mendapatkan hak untuk hidup layak di negaranya sendiri; rakyat Indonesia dalam puisi tersebut telah ikut pula dalam “idea kekerasan”, seperti juga kebanyakan manusia yang hidup berkekurangan di benua Afrika, orang-orang di Irak yang menderita akibat perang, warga sipil di jalur Gaza yang tak pernah tentram akibat pertikaian antara Israel dan Palestina, dan juga penderitaan manusia di belahan dunia lainnnya.
Dengan begitu, puisi-puisi Wiji Thukul pun membawa pesan universal, tak terbatas pada batas-batas geografis belaka karena ia ikut pula berpartisipasi dalam “idea kekerasan dunia”.
Pembebasan terjadi pula di sini, di mana pembaca (khususnya rakyat Indonesia) secara tidak langsung “diajak” untuk berjuang melawan kekerasan tanpa melihat lagi batas-batas goegrafis, ras, agama, dan berbagai sekat-sekat lainnya—pembebasan disuarakan.
 
2. Simbolisasi
 
Menurut Ernst Cassirer, kebudayaan dapat dilihat sebagai rekayasa simbol-simbol. Bagi Cassirer, manusia bukan sekadaranimal rationale seperti diyakini oleh Aristoteles, melainkan jugaanimal symbolicum. Kegiatan simbolik dari manusia jauh lebih luas dan variatif daripada kegiatan rasional.[30] Simbol di sini bukan berarti diciptakan semena-mena. Proses penciptaan simbol itu perlu memperhatikan masyarakat pengguna simbol. Artinya, simbol-simbol harus muncul dari keprihatinan dasar dan pengalaman masyarakat.[31] Di sini, Wiji Thukul dalam puisi-puisinya mencoba menghadirkan berbagai macam simbol, misalnya melalui puisinya yang berjudul “Udara”.
 
Udara[32]
 
dari udara sama
dihirup
 
udara di kampung udara di kuburan
menyambut kematian!
 
begitu miskin
milik kita kalimat berat
selamat datang!
 
”Tanpa udara kita tidak bisa hidup.” ”Udara” di sini ingin menunjukkan suatu unsur penting dalam kehidupan manusia secara umum. Namun, yang cukup khas pada puisi Wiji Thukul yang berjudul ”Udara”, yang lebih ditekankan adalah bukan persoalan ”orang hidup itu harus menghirup udara” melainkan ”kita hidup menghirup udara yang sama”. Unsur ”kesamaan” begitu ditekankan (lih. bait pertama). ”Kesamaan” hadir dengan latar belakang kesenjangan yang terjadi dalam bangsa ini. Kata ”sama” ingin menunjukkan sebuah proses yang menjadi sebuah bentuk perjuangan untuk mencapai ”kesamaan”.
 
Kemudian pada bait kedua, kita bisa menemukan ”udara” di dua tempat, ”kampung” dan ”kuburan”. Dapat diartikan sebagai berikut, ”udara di kampung itu seperti udara di kuburan”. Kemudian, marilah kita mencoba untuk mendalami ”kampung” dan ”kuburan”. ”Kampung” adalah sebuah tempat di mana masyarakat (manusia) hidup, sedangkan ”kuburan” adalah sebuah tempat akhir hidup manusia, yaitu tempat tinggal ”setelah kehidupan (kematian)”. Sedangkan, ”udara” itu sendiri memberi arti ”suasana”. Jadi, bait kedua dapat diartikan atau memuat pesan bahwa ”suasana kehidupan di kampung serasa berada dalam suasana kehidupan di kuburan, yang selalu menyambut kematian”. Kematian di sini pun memiliki latar belakang yang sama seperti dalam bait pertama, yaitu penindasan (kesenjangan) yang terjadi dalam bangsa ini. Dan, lebih jelas terkatakan dalam bait ketiga, yaitu akibat kemiskinan yang menindas ”segenap warga kampung”. Akhirnya, kata-kata sambutan yang berat pun terucapkan, ”Selamat datang di kuburan!” Dengan kata lain, kita dapat merangkum pemikiran Wiji Thukul dalam puisi ”Udara” bahwa kemiskinanlah yang membawa “warga kampung” (rakyat) menuju “kuburan” (kematian atau penderitaan).
 
Wiji Thukul sungguh menggunakan simbol-simbol yang ada dalam masyarakat dengan cukup
cermat dan bukan berarti harus dibuat-buat, melainkan menggunakan simbol yang telah ada dan hidup dalam masyarakatnya (udara, kampung, kuburan). Simbol-simbol tersebut muncul dari keprihatinan dasar dan pengalaman masyarakat.[33] Akhirnya, puisinya tampak begitu sederhana, tegas, dan lugas dan justru di situlah letak kekuatannya. Melalui simbol, Wiji Thukul melakukan pembebasan, ia menyatakan bahwa ”udara” yang kita hirup itu sama, degan itu ia ingin mengatakan bahwa kehidupan kita sebagai manusia memiliki hakikat dan martabat yang sama. Tidak ada perbedaan. Di sisi lain, ia menunjukkan dengan jelas bahwa walaupun hakikat dan martabat manusia itu sama, namun tetap saja ada yang membedakan yaitu ketidakadilan. Ada yang tidak dapat ”hidup”, bagaikan hidup di ”kuburan”. Di lain pihak, ada pula yang hidup seperti di ”menara gading” yang penuh dengan fasilitas (walaupun tak terungkap dalam puisinya tersebut, namun kenyataan itu hadir dengan sendirinya ketika Wiji Thukul mengungkapkan realita yang sebaliknya—realita kemiskinan). Akhirnya, pembebasan terjadi melalui simbol, yang mengungkap makna dan menunjukkan realita yang sesungguhnya, di mana “kampung kini bagaikan kuburan yang siap menyambut setiap orang dengan ucapan ‘selamat datang'”.
 
3. Penyingkapan Alètheia
 
Heidegger begitu yakin bahwa puisi lebih cocok untuk membuka rahasia ‘ada’ daripada filsafat. Usaha filsafat dan puisi memang sama, yaitu mencari alètheia (kebenaran). Alètheia, arti aslinya adalah “ketidaktersembunyian” (menurut Heidegger). “Para pemikir memikirkan ‘ada’, sedangkan para penyair memberi nama kepada Yang Suci.” Filsafat mengantar kita ke arah rahasia ‘ada’, mengantar kita ke alètheia, tetapi para penyair memberi nama-nama kepada rahasia ini. Kita harus ‘mendengarkan’ bahasa mereka, karena melalui bahasa puisi cahaya ‘ada’ memperlihatkan diri.[34]
 
Puisi-puisi Wiji Thukul telah memperlihatkan ‘ada’-nya kekerasan dan penindasan dalam bangsa ini. Selain itu, puisi-puisi itu juga ingin menunjukkan bahwa rakyat kecil-lah yang menjadi korban selama ini—tumbal yang tak pernah ada habisnya. Sang penyair berusaha membuka ‘rahasia umum’ ini dengan membubuhi ‘kata-kata’ pada setiap ‘rahasia’ (kekerasan dan penindasan) sehingga dapat terbaca dan dikenali dengan lebih jelas. Dengan kata lain, puisi-puisi Wiji Thukul berusaha menyingkap selubung alètheia(kebenaran) yang selama ini berusaha untuk disembunyikan oleh penguasa (Orde Baru). Dengan begitu, pembebasan terjadi di sini, di mana alètheia tidak lagi menjadi misteri melainkan telah tersingkap bagi semua orang. Hal ini tampak dalam puisi Wiji Thukul yang berjudul “Aku Lebih Suka Dagelan”.
 
Aku Lebih Suka Dagelan[35]
 
di radio aku mendengar berita
kataya partisipasi politik rakyat kita
sangat menggembirakan
tapi kudengar dari mulut seorang kawanku
dia diinterogasi dipanggil gurunya
karena ikut kampanye PDI
dan di kampungku ibu RT
tak mau menegor sapa warganya
hanya karena ia GOLKAR
ada juga yang saling bertengkar
padahal rumah mereka bersebelahan
penyebabnya hanya karena mereka berbeda
tanda gambar
 
ada juga kontestan yang nyogok
tukang-tukang becak
akibatnya dalam kampanye banyak
yang mencak-mencak
 
di radio aku mendengar berita-berita
tapi aku jadi muak karena isinya
kebohongan yang tak mengatakan kenyataan
untunglah warta berita segera bubar
acara yang kutunggu-tunggu datang: dagelan!
 
solo, 87
 
Dalam puisi “Aku Lebih Suka Dagelan” di atas kita dapat menemukan secara eksplisit alètheia (kebenaran) yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, khususnya yang terjadi di sekitar “kehidupan” Wiji Thukul. Pada bait pertama, Wiji Thukul menyingkap alètheiabahwa berita di media massa (radio) jauh berbeda dengan apa yang terjadi di sekitar kehidupan masyarakat, “…kataya partisipasi politik rakyat kita sangat menggembirakan… tapi kudengar dari mulut seorang kawanku… ada juga yang saling tengkar… hanya karena mereka berbeda tanda gambar…”. Di sini, Wiji Thukul menyingkapalètheia dengan tidak memberi penilaian melainkan lebih memberi gambaran apa yang dia dengar, baik dari “radio” maupun dari “kawan”. Mengungkapkan peristiwa dengan apa adanya menjadi sebuah kekuatan tersendiri bagi Wiji Thukul dalam usahanya menyingkapkan alètheia.
 
Penyingkapan alètheia juga tampak dalam bait kedua, di mana ada juga partai kontestan pemilu yang masih menggunakan “money politics” yang ditunjukkan dengan, “…ada juga kontestan yang nyogok tukang-tukang becak…”.
 
Sedangkan dalam bait ketiga, di sinilah terungkap dengan jelas alètheia  acara yang kutunggu-tunggu datang: dagelan!” Hal ini menunjukkan alètheia bahwa lebih berarti sebuah lelucon (dagelan) daripada sebuah kebohongan yang memuakkan. Pada saat yang bersamaan, Wiji Thukul secara tidak langsung juga membawa pesan bahwa apa yang telah terjadi di negara ini dengan berbagai kebohongannya itu merupakan sebuah dagelan yang patut ditertawakan. Akhirnya, muncullah sebuah pertanyaan, “Apakah negara yang besar ini—dari Sabang sampai Merauke—pantas dipegang oleh sebuah rezim dagelan?”    (perasaan) sang penulis (mewakili pula orang-orang kecil) yang mulai muak mendengar “…kebohongan yang tak mengatakan kenyataan…”. Namun, “…untunglah warta berita segera bubar / acara yang kutunggu-tunggu datang: dagelan!
 
4. Penyatuan: Pengertian dan Realita
 
Menurut Hegel, seni mengungkapkan kesatuan pikiran dan kenyataan, kesatuan bentuk dan materi.[36] Bagi Hegel, yang dimengerti itu real, dan yang real itu dimengerti.[37] Jika melihat perjalanan hidup Wiji Thukul maka kita dapat menemukan bahwa realita yang dimengerti oleh Wiji Thukul selama ini adalah realita kekerasan, di mana rakyat menjadi korban keangkuhan penguasa (Orde Baru). Dari sini, Wiji Thukul ingin mengajak para pembaca (khususnya bangsa ini) untuk dapat melihat dengan jelas bahwa kekerasan itu merupakan suatu kenyataan yang dapat dimengerti dan bukanlah sebuah “hadiah” yang turun dari “surga”. Dengan kata lain, Wiji Thukul ingin mengatakan bahwa kemiskinan, penderitaan, kelaparan, penindasan, dan semua bentuk kekerasan lainnya itu bukanlah nasib atau takdir yang diberikan Tuhan kepada masing-masing individu yang kurang “beriman”, melainkan itu semua lebih akibat dari sebuah sistem yang tidak adil. Dengan puisi “Kepada Ibuku” Wiji Thukul menunjukkannya.
 
Kepada Ibuku[38]
 
I
Ibu
aku tidak punya data komplit tentang ketidakadilan
hanya mataku terpukau di hingar jalan raya aspalan
kendaraan bikinan jepang itali amerika laju
tetapi abang-abang becak disingkirkan oleh kebijaksanaan
pembangunan
Ibu
di dadamu subur aku melihat ladang-ladang tebu
tetapi petani ditipu pabrik gula
dan jakarta seperti paris penuh honda suzuki mercy jimmy
udara kotor jalan macet
tetapi mengapa abang-abang becak disingkirkan
oleh kebijaksanaan pembangunan?
gali-gali dibunuh mati koruptor korupsi hidup aman sentosa
sehat wal afiat seperti sediakala
dan radio kita semakin rajin warta berita:
pembangunan di Indonesia berkembang pesat dan jauh
dibandingkan ketika kami berkunjung kemari tahun lalu,
demikian menurut menteri luar negeri Anu
saksikanlah di layar televisi republik indonesia
petani-petani panen padi palawija wajahnya riang gembira
sementara kampanye sebelum pemilu semakin galak
 
II
siapa boleh di tanah Ibu ini?
tentu saja siapa yang sanggup membayar hukum
dan membeli surat izin dagang anakku.
lalu bagaimana dengan saudara-saudaraku yang tak mampu?
gampang nak, ikutlah kb jangan banyak anak, ini penting
demi hidup masa depan sejahtera
boleh pilih tinggal di tanah negara atau transmigrasi
ke luar jawa atau
silakan jadi kere
jangan takut lapar nak! kota adalah gudang pangan
bebas digenggam siapa pun yang tega hati
 
Dengan mengatakan bahwa “abang-abang becak disingkirkan oleh kebijaksanaan pembangunan / petani ditipu pabrik gula / gali-gali dibunuh mati koruptor korupsi hidup aman sentosa” Wiji Thukul mencoba membuktikan bahwa penderitaan yang terjadi bukanlah sebuah pemberian tiba-tiba dari Allah melainkan lebih sebagai sebuah akibat dari “pekerjaan tangan” manusia yang tidak bertanggung jawab. Di sini, pembebasan terjadi ketika semua disadarkan bahwa Allah bukanlah Allah yang kejam dengan memberikan nasib atau takdir yang memilukan kepada manusia melainkan semua penderitaan itu terjadi akibat sebuah sistem yang tidak adil.
 
5. Bebas Merasa: Betapa Mulianya Manusia
 
Dunia kita saat ini begitu mengagung-agungkan rasionalisme, empirisme, dan perkembangan ilmu-ilmu eksakta, yang semuanya berada di sekitar akal budi. Hal ini pun membawa dampak kurang ditekankannya unsur-unsur lain, seperti perasaan, sentimen, nafsu, kesederhanaan, kemurnian, alam, dan suara hati. Menurut Rousseau, manusia mengalami keterasingan dengan dirinya sendiri oleh kamajuan ilmiah dan kebudayaan pada umumnya yang menekankan rasio belaka. Jika ingin sembuh dari keter-alienasi-an ini, maka menurutnya manusia perlu untuk kembali ke keadaan alamiah, di mana ‘perasaan’ diperhatikan kembali dan menyadari kembali ‘betapa mulianya manusia’.[39] Kemuliaan manusia pun diusung oleh Wiji Thukul dalam puisi-puisinya, misalnya dalam puisi ”Lagu Persetubuhan”.
 
Lagu Persetubuhan[40]
 
kalau angka aku pun angka tak genap
:
tapi satu mana lengkap tanpa yang pecah
maka aku pun rela jadi sepersekian dari keutuhan-Mu
sebab tak lengkap engkau tanpa aku
sebab tak sempurna engkau tanpa manusia
 
kalau angka aku pun angka tak genap
:
maka kulengkapi mata-Mu dengan cahaya
kausempurnakan cahaya dalam api
kau merah aku panas kau panas aku merah
terbakar membakar sepanjang adanya manusia
 
kalau angka aku pun angka tak genap
:
melengkapi-Mu
demikian, kita bersetubuh dalam udara
bukankah begitu Tuhan?
 
“Perasaan” dalam puisi di atas lebih dikaitkan dengan “perasaan religius” (sense of religious), di mana manusia berhadapan dengan Tuhan-nya. Wiji Thukul pertama-tama ingin menunjukkan betapa kecilnya manusia di hadapan Tuhan. Jika Tuhan itu angka, maka “…aku pun angka tak genap /…aku pun rela jadi sepersekian dari keutuhan-Mu”. Dengan begitu, keagungan Tuhan pun terungkap. Namun di sisi lain, Wiji Thukul pun mencoba untuk merombak pikiran mainstream manusia tanpa Tuhan itu tidak lengkap dan tidak sempurna” menjadi “Tuhan tanpa manusia itu tidak lengkap dan tidak sempurna”—”…tak lengkap engkau tanpa aku /… tak sempurna engkau tanpa manusia”. Dengan ini, Wiji Thukul bukan ingin menunjukkan kesombongan manusia melainkan lebih ingin menunjukkan betapa mulianya manusia karena Tuhan sendiri pun begitu “bergantung” pada manusia—kelengkapan dan kesempurnaan-Nya sebagai Tuhan ditentukan oleh kehadiran manusia. Namun, yang terjadi dalam bangsa ini justru sebaliknya, manusia tidak berarti lagi; hak-hak asasinya terampas dan kesengsaraan (kemiskinan) terjadi di mana-mana. Manusia tampaknya tak berharga lagi.
 
Pada bait kedua, Wiji Thukul berusaha untuk menunjukkan kembali, “Betapa mulianya manusia! Betapa berharganya manusia! Betapa berartinya manusia!” dengan menunjukkan kesatuan dengan Tuhan-nya. Kesatuan itu disimbolkan dengan api, “kau merah aku panas kau panas aku merah”. Manusia dan Tuhan-nya tak dapat dipisahkan bagaikan api—panas dan merah-nya menjadi satu dan tak terpisahkan. Itu berarti tak ada lagi kompromi, “Manusia begitu berharga!” Tak seorang pun dapat menghilangkan satu “noktah keberartian” manusia di hadapan Tuhan.
 
Wiji Thukul menapak lebih lanjut lagi. Ia ingin me-radikal-kan kesatuan manusia dan Tuhan-nya pada bait ketiga, di mana kesatuan itu dicapai dengan “bersetubuh”. “Bersetubuh” tidak hanya berarti memasukkan ”satu bagian tubuh” dari yang satu ke yang lainnya, melainkan ”seluruh tubuh” (jiwa dan raga) dipersatukan secara utuh. Dengan kata lain, “bersetubuh” merupakan salah satu cara mempersatukan manusia dengan Tuhan-nya—”tubuhku-tubuhMu”. Dengan begitu, Wiji Thukul pun membawa pesan (meminjam istilah Alkitab) bahwa “Tubuh adalah Bait Allah, di sana Tuhan bersemayam”. Jadi, jika selama ini tubuh telah berceceran di mana-mana dan menjadi tak berarti hanya atas nama “kepentingan negara”[41] itu berarti juga bahwa Tuhan telah direduksi menjadi tak berarti karena “tempat kediaman”-Nya pun telah ”dinodai”.
 
Akhirnya, Wiji Thukul ingin menunjukkan pembebasan dengan “bebas merasa”, di mana perasaan itu membawa kita pada kesatuan dengan Tuhan, dan dari situ memancarkan pemahaman “betapa mulianya manusia”—”bukankah begitu Tuhan?”.
 
F. Penutup: Kontekstualisasi
 
Setelah membaca dan mencoba menemukan proses pembebasan dalam puisi-puisi Wiji Thukul, lalu muncul pertanyaan, “Berbicara apa puisi-puisi Wiji Thukul bagi generasi (muda) saat ini?”Ignas Kleden berpendapat bahwa sebuah karya sastra memiliki pengaruh pada pembaca yang tidak lagi terlalu tergantung ada konteks produksi karya itu, tetapi lebih tergantung dari konteks hidup dan pengalaman pembaca.[42] Artinya, pengaruh karya sastra yang bersifat lintas-tempat dan lintas-waktu selalu dimungkinkan karena pada dasarnya karya itu selalu dapat di-dekontekstualisasi-kan maupun di-rekontekstualisasi-kan.[43] Pembacalah yang menjadi subjek untuk memaknai suatu karya sastra—yang bisa jadi berasal dari waktu dan tempat yang sangat berbeda dengan kondisi realnya—untuk hidupnya saat ini. Di sinilah proses hermeneutika terjadi.
 
Dengan demikian puisi-puisi Wiji Thukul seperti yang telah dijelaskan di atas tentunya memiliki beberapa relevansi bagi bangsa ini dan bagi kontekstualisasi semangat pembebasan untuk generasi saat ini. Dari lima proses pembebasan dari puisi-puisi tersebut, yakni (1) mimesis dan methexis, (2) simbolisasi, (3) penyingkapan Alètheia, (4) penyatuan: pengertian dan realita, (5) bebas merasa: betapa mulianya manusia, dapat diambil dua point pokok sebagai berikut.
 
Pertama, sebagai manusia kiranya kita dapat menjadi “manusia bagi yang lain”. Dengan begitu, dalam konteks sebagai satu bangsa kiranya kita dapat bersama-sama memiliki solidaritas dan rasa “seperasaan”, di mana “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Hal ini tentunya tak dapat terjadi begitu saja melainkan membutuhkan sebuah proses yang juga meminta pengorbanan yang besar dari kita—seperti yang ditunjukkan Wiji Thukul sendiri, yang hingga kini entah di mana rimbanya. Solidaritas dan rasa “seperasaan” itu sesungguhnya telah tertanam dalam hati kita, mengingat secara historis kita “dibesarkan” sebagai satu bangsa—bangsa Indonesia, yang memiliki ingatan kolektif, pengalaman bersama, yang selalu dapat diterima dari waktu ke waktu dan melampaui batas-batas geografis. Wiji Thukul telah mengungkapkannya kepada kita.
 
Kedua, melalui puisi-puisinya Wiji Thukul telah memberikan pesan pada generasi saat ini untuk berani menghadapi tantangan zamannya, khususnya kekerasan yang terjadi di mana-mana. “Berani menghadapi” di sini bukan hanya menjadi sebuah perjuangan pribadi yang disimpan di dalam hati, melainkan perjuangan bersama yang patut untuk terus disuarakan. Konkretnya saat ini adalah bersama-sama melawan dan membrantas KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) hingga ke akar-akarnya. KKN telah merajalela di masyarakat. “Pembebasan” di sini dapat dimulai dari diri sendiri sebagai generasi muda yang peduli akan bangsanya. Dengan begitu, harapan akan bangsa yang lebih baik lagi dapat terwujud secara nyata. Mimpi indah itu terletak di pundak kita semua sebagai generasi muda. Wajah bangsa ditentukan mulai dari sekarang dengan berkata, “Lawan!”.
 
“…kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak…”[44]
(Wiji Thukul, 4 Juli 1997)
 
***
 
Daftar Pustaka
 
Hamersma, Hery. 1983. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: Gramedia.
Hardiman, F. Budi. 2005. Filsafat Yunani Kuno. Jakarta: STF Driyarkara.
Ignas Kleden. 2004. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Lane, Max. 2007. Bangsa Yang Belum Selesai: Indonesia, Sebelum dan Sesudah Soeharto. Jakarta: Reform Institute.
Mohamad, Goenawan. “Hoppla” dalam Tempo, Edisi 21-27 April 2008.
Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004. Jakarta: Serambi.
Saidi, Zaim. 1998. Tarik-Ulur Reformasi Ekonomi Orde Baru Pasca-1980. Bandung: Mizan.
Sindhunata. 2000. Sakitnya Melahirkan Demokrasi. Jogjakarta: Kanisius.
Thukul, Wiji. 2004. Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi Wiji Thukul. Magelang: Indonesiatera.
Sumber Internet
NN. “Berbagai Kejahatan Orde Baru” dalam http: //www.geocities.com/frontnasional/ kasusorba htm, diakses pada 16 April 2008, pkl. 21. 15 WIB.
Pabottingi, Mochtar. 1998. ”Orde ’Baru’ dalam Cengkeraman Asali” dalam http://www.tempointeraktif.com/ang/min/02/45/kolom8.htm, diakses pada 08 April 2008, pkl. 20.50 WIB.
Priyanto. “Kontroversi Pembangunan Orde Baru” dalamhttp://www.geocities.com/apii-berlin/ kontro. html, diakses pada 16 April 2008, pkl. 21.10 WIB.
Purba, Dian. “Wiji Thukul dan Puisinya” dalamhttp://indoprogress.blogspot.com/2008/03/ wiji-thukul-dan-puisinya.html, diakses pada 08 April 2008, pkl. 20.46 WIB.
Sambodja, Asep. ” Sekali Berarti, Sudah Itu Mati” dalamhttp://endonesa.net /articles. php? id=6&page=5, diakses pada08 April 2008, pkl. 20.40 WIB.
Taum, Yoseph Yapi. “Wiji Thukul: Setitik Cahaya Kebenaran” dalam http:// endonesa.net /articles. php? id=6&page=5, diakses pada08 April 2008, pkl. 20.45 WIB.
 
________________________________________________________________________
 
Catatan Akhir :
[1] Indonesia Tera, 2004, “Pengantar Penerbit ‘Seni dan Realitas Kekerasan'” dalam Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi Wiji Thukul, Magelang: Indonesiatera, hal. v-vi.
[2] Asep Sambodja, ” Sekali Berarti, Sudah Itu Mati” dalam http://endonesa.net /articles. php? id=6&page=5.
[3] Bdk. Indonesia Tera, 2004, “Wawancara Wiji Thukul: Seniman Harus Memperjuangkan Gagasannya” dalam Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi Wiji Thukul, Magelang: Indonesiatera, hal.215.
[4] Bdk. Dian Purba, “Wiji Thukul dan Puisinya” dalamhttp://indoprogress.blogspot.com/2008/03/wiji-thukul-dan-puisinya.html.
[5] Bdk. Indonesia Tera, 2004, “Tentang Wiji Thukul” dalam Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi Wiji Thukul, Magelang: Indonesiatera, hal. 221.
[6]Bdk. Indonesia Tera, 2004, “Pengantar Penerbit ‘Seni dan Realitas Kekerasan'” dalam Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi Wiji Thukul, Magelang: Indonesiatera, hal. vii.
[7] Bdk. Yoseph Yapi Taum, “Wiji Thukul: Setitik Cahaya Kebenaran” dalam http:// endonesa.net /articles. php? id=6&page=5.
[8] Di bawah ‘asuhan’ Partai Rakyat Demokrat (PRD) yang dipimpin oleh Budiman Sujatmiko. (Asep Sambodja, ” Sekali Berarti, Sudah Itu Mati” dalam http://endonesa.net /articles. php? id=6&page=5).
[9] Bdk. Zaim Saidi, 1998, Tarik-Ulur Reformasi Ekonomi Orde Baru Pasca-1980. Bandung: Mizan, hal.43-44.
[10] Bdk. M.C. Ricklefs, 2005, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004,Jakarta: Serambi, hal.607-608.
[11] Op.cit., hal. 92.
[12] Ibid., hal. 34.
[13] Bdk. Max Lane, 2007, Bangsa Yang Belum Selesai: Indonesia, Sebelum dan Sesudah Soeharto, Jakarta: Reform Institute, hal. 135.
[14] Ibid., hal. 137.
[15] Ibid., 137.
[16] Mochtar Pabottingi, 1998, ”Orde ’Baru’ dalam Cengkeraman Asali” dalamhttp://www.tempointeraktif. com/ang/min/02/45/kolom8.htm.
[17] Priyanto, “Kontroversi Pembangunan Orde Baru” dalamhttp://www.geocities.com/apii-berlin/kontro. html.
[18] Ibid.
[19] Bdk. M.C. Ricklefs, 2005, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004,Jakarta: Serambi, hal. 650.
[20] Ibid., hal. 654.
[21] Bdk. NN. “Berbagai Kejahatan Orde Baru” dalam http: //www.geocities.com/frontnasional/ kasusorba htm.
[22] Bdk. Indonesia Tera, 2004, “Pengantar Penerbit ‘Seni dan Realitas Kekerasan'” dalam Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi Wiji Thukul, Magelang: Indonesiatera, hal. v-vii.
[23] Hery Hamersma, 1983, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, hal. 62.
[24] Bdk. Goenawan Mohamad, “Hoppla” dalam Tempo, Edisi 21-27 April 2008, hal. 130.
[25] Ibid.
[26] Ibid.
[27] Bdk. F. Budi Hardiman, 2005, Filsafat Yunani Kuno, Jakarta: STF Driyarkara, hal. 89.
[28] Wiji Thukul, 2004, Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi Wiji Thukul, Magelang: Indonesiatera, hal. 27.
[29] Bdk. F. Budi Hardiman, 2005, Filsafat Yunani Kuno, Jakarta: STF Driyarkara, hal. 90.
[30] Bdk. Sindhunata, 2000, Sakitnya Melahirkan Demokrasi,Jogjakarta: Kanisius, hal. 76.
[31] Ibid., hal.81.
[32] Wiji Thukul, 2004, Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi Wiji Thukul, Magelang: Indonesiatera, hal. 119.
[33] Bdk. Sindhunata, 2000, Sakitnya Melahirkan Demokrasi,Jogjakarta: Kanisius, hal. 81.
[34] Bdk. Hery Hamersma, 1983, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, hal.127.
[35] Wiji Thukul, 2004, Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi Wiji Thukul, Magelang: Indonesiatera, hal. 33.
[36] Teori ini dilandasi dengan keyakinan dasar bahwa “ide yang dimengerti” dan “kenyataan” itu sama. Maka tidak ada perbedaan antara bidang “rasio” dan bidang “realitas”. (Bdk. Hery Hamersma, 1983, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, hal. 42, 44.)
[37] Ibid., hal. 42.
[38] Wiji Thukul, 2004, Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi Wiji Thukul, Magelang: Indonesiatera, hal. 102.
[39] Bdk. Hery Hamersma, 1983, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, hal. 24-26.
[40] Wiji Thukul, 2004, Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi Wiji Thukul, Magelang: Indonesiatera, hal. 144.
[41] Lihat data korban yang mati sia-sia selama Orde Baru berkuasa, yang disajikan pada bagian C, hal. 7.
[42] Ignas Kleden, 2004, Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, hlm. 14.
[43] Kontekstualisasi, dekontekstualisai dan rekontekstualisasi sebenaranya merupakan istilah yang berasal dari Paul Ricoeur. Ignas Kleden mengutip Paul Ricoeur, 1984, Hermeneutics and the Human Sciences, Cambridge, London, New York: Cambridge University Press, hlm. 90.
[44] Wiji Thukul, 2004, Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi Wiji Thukul, Magelang: Indonesiatera, hal. 199.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s