Tionghoa di Indonesia

chinese eyes

(Antropologi Budaya Indonesia)

1.      Mengapa meskipun sudah berada di Indonesia selama berabad-abad dan sudah menjadi warga negara Indonesia, orang-orang Cina / Tionghoa masih tetap mengalami perlakuan diskriminatif?

(1) Benih-benih pertentangan sudah mulai sejak zaman kolonial Belanda, dengan adanya kebijakan wijkenstelsel(1835)[i] (penggolongan kelas penduduk), yaitu (a) Orang Eropa,(b) Timur Asing (Cina, Arab, India), dan terakhit (c) Penduduk asli (inlanders).[ii] Warga Etnis Cina mendapatkan status yang lebih tinggi daripada penduduk asli (pribumi), selain itu etnis Cina mendapatkan perlakuan khusus dari pemerintah kolonial dalam bidang ekonomi, seperti memberikan hak pada beberapa orang dari etnis Cina untuk menaikkan pajak atas rakyat pribumi. Hal ini mulai memunculkan benih pertentangan antara etnis Cina dan rakyat pribumi.[iii] Muncul pandangan bahwa etnis Cina adalah ‘kaki tangan’ kolonial.

(2) Selain itu, konsep penduduk asli berimplikasi pada pandangan mengenai hak atas tanah yang diskriminatif yang menganggap bahwa etnis Cina tidak memiliki hak atas tanah diIndonesia karena mereka berasal dari Tiongkok, mereka adalah imigran (orang asing). Dengan begitu, orang pribumi merasa memiliki hak atas tanah yang lebih besar dibandingkan mereka (etnis Cina).[iv]

(3) Zaman Kemerdekaan (Era Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin).

Para politikus dan pihak militer  terutama TNI AD yang antikomunis menaruh curiga adanya hubungan masyarakat etnis Cina dengan Partai Komunis Indoneisa (PKI) dan Republik Rakyat Cina (RRC) yang pada masa itu (1950) sudah dikuasai Partai Komunis Cina (PKC). Indikasinya tampak pada kedekatan dan banyaknya masyarakat etnis Cina yang menjadi anggota PKI[v]dan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia(Baperki), yang memperjuangkan kesejajaran etnis Cina dengan etnis pribumi lainnya. Ini terlihat pada peristiwa anti-Cina pada tahun 1959-1960 dan 1963 (Sukma dalam Wibowo, 1999).[vi]

(4) Zaman Orde Baru (!965). Sejak terjadinya peristiwa pemberontakan PKI tahun 1965, etnis Cina semakin terpojok, di mana (a) orang Cina dituduh telah terlibat sebagai agen pemerintah Cina yang telah mendukung pemberontakan PKI tahun 1965.[vii] Selain itu, (b) mulai muncul konsep asimilasiinkorporasi (total) bagi orang Cina dengan menghilangkan atau meninggalkan berbagai atribut identitas budaya nenek moyang mereka (Cina) dan menjadi Indonesia. Sedangkan konsep integrasi (yang masih memungkinkan etnis Cina memiliki kebudayaan dan identitasnya sendiri) secara politis telah dikategorikan sebagai bagian dari ideologi komunis sosialis (Lan, 1998). Selain itu, motivasi pemberlakuan asimilasi inkorporasi nampaknya lebih bernuansa ‘hukuman’ karena sangkaan keterlibatan orang Cina dalam pemberontakan PKI tahun 1965. Proses asimilasi ini menunjukkan proses penghapusan tiga pilar utama kebudayaan Tionghoa, melalui (1) penutupan semua koran Tionghoa (kecuali satu koran harian Tionghoa, yang dikelola pemerintah dan dikuasai militer); (2) Sejak tahun 1966 tidak satu pun sekolah menengah Tionghoa yang diizinkan beroperasi, dan penggunaan bahasa Tionghoa pun tidak didukung; (3) Kebijakan ganti nama[viii] (Keputusan Presidium Kabinet No.127/U/Kep/1966[ix]).

(5) Selain itu, muncul pula berbagai stereotip negatifterhadap etnis Cina di Indonesia. (a) Mereka dipersepsikan sebagai satu golongan yang berkuasa atas perekonomian Indonesia serta memiliki loyalitas yang tipis terhadap negara Indonesia dan cenderung berafiliasi ke negeri leluhurnya (daratan Cina). (b) Etnis Cina cenderung dianggap sebagai bangsa (ras) yang terpisah. (c) Etnis Cina dilihat sebagai kelompok yang tidak mungkin berubah dan akan selau mempertahankan nilai-nilai budayanya di manapun mereka berada. Dan yang terakhir, (d)etnis Cina dilihat sebagai kelompok yang hanya peduli pada kepentingan mereka sendiri (eksklusif), khususnya dalam berbagai kepentingan ekonomi.[x]

(6) Stigma. Diskriminasi terhadap etnis Cina di Indonesiaterasa begitu menyakitkan (memuncak) ketika mereka dijadikankambing hitam oleh ‘kawan’-nya sendiri, sesama warga negara. Hal ini seringkali muncul ketika terjadi krisis (mis: peristiwa Tjamboek Berdoeri di Malang, dan Tragedi Mei ’98 di Jakarta). Krisis ini seringkali mengharuskan adanya kambing hitam yang harus dinyatakan bersalah sebagai penyebab krisis yang real mereka alami. Kambing hitam ini adalah kelompok yang secara historis ter-stigma-kan menjadi korban. Di Indonesia kelompok tersebut adalah minoritas etnis Cina. Mereka dianggap sebagai monster yang membahayakan (bahkan hingga saat ini).[xi]

Jadi, diskriminasi etnis Cina telah tertanam sangat lama di Indonesia dan diskriminasi tersebut bukanlah ‘warisan nenek moyang’ melainkan lebih merupakan sesuatu yang  ‘disengaja’dan ‘dibangun’ secara sistematis dalam struktur masyarakat Indonesia.*

2.      Pendapat Benedict Anderson bahwa nasionalisme hendaknya dilihat sebagai proyek bersama yang tak pernah selesai.

Pertama-tama, Benedict Anderson mengungkapkan kesalahpahaman banyak orang dalam melihat nasionalisme selama ini.(1) Nasionalisme dilihat sebagai warisan nenek moyang yang hebat, sangat tua, dan bersifat alamiah. (2) Terlalu mengidentikkan negara dan bangsa, bagaikan ‘suami-isteri’ yang hidup bahagia.

Bagi Anderson, nasionalisme itu bukan (1) suatu warisan nenek moyang; (2) dan baginya, dalam kenyataan, negara dan bangsa bukanlah ‘suami-isteri’ yang hidup bahagia. Kemudian ia mengungkapkan bahwa nasionalisme itu merupakan proyek bersama untuk masa kini dan masa yang akan datang. Nasionalisme macam ini dapat muncul ketika segenap masyarakat memiliki tujuan dan masa depan bersama (terikat sebagai teman secara horizontal); memiliki visi dan harapan untuk masa yang akan datang; adanya solidaritas yang mendalam karena merasa memiliki nasib yang sama. Dalam membangun nasionalisme ini, perlu disadari bahwa waktu dan proses sangat dibutuhkan. Maka dapat dikatakan bahwa nasionalisme merupakan ‘on going process’.

Nasionalisme perlu diperjuangkan oleh setiap generasi. Jikanasionalisme merupakan proyek bersama untuk masa kini dan masa yang akan datang, maka hal ini tidak akan pernah selesai. ‘Proyek’ di sini lebih untuk menunjukkan sesuatu yang harus diperjuangkan dan tak ada matinya. Namun, kata ‘proyek’ ini dikaburkan artinya oleh ‘proyek-proyek’ Orde Baru sehingga jatuh menjadi ‘objek’.

Proses untuk ‘menjadi’ Indonesia dengan melibatkan jiwa, komitmen, dan kebudayaan Indonesia memerlukan waktu yang lama dan tidak ada kepastian untuk berhasil. Masa depan suatu bangsa selalu penuh dengan ketidakpastian. Jadi pada dasarnya, kontinuitas suatu bangsa adalah sebuah taruhan yang maha besar. Taruhan ini adalah taruhan bahwa ide masa depan bangsa Indonesia apakah cukup berakar dalam jiwa setiap warga negara Indonesia hingga bersedia mengesampingkan bahkan mengorbankan loyalitas dan ambisi-ambisi lainnya hanya untuk ide (nasionalisme) tersebut.

Dalam membangun nasionalisme, yang perlu diperjuangkan dalam konteks Indonesia saat ini adalah (1) adanya organisasiyang memperjuangkan hak-hak asasi manusia, di mana setiap orang Indonesia memiliki hak untuk tidak diperlakukansesamanya sebagai binatang, budak, atau alien; (2) Otonomi daerah, di mana setiap orang merasa di ‘rumahnya sendiri’ (merasa terlibat dan memiliki visi dan misi dalam proyek bersama – proyek horizontal) dan bukan malah dijadikan korban kerakusan ‘orang-orang pusat’ (proyek vertikal) yang membawa kekayaan daerah ke ‘pusat’ (‘boyongan’) – Aceh dan Papuaadalah contoh konkretnya; (3) Menghapuskan paham bahwaUUD ’45 adalah suatu warisan keramat yang tidak dapat diganggugugat. UUD ’45 lebih merupakan hasil dari sebuah zaman tertentu (bukan warisan keramat) dan tetap dapat diubah mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman. Mental fosilsemacam itu (yang menganggap UUD ’45 sebagai warisan keramat) akan semakin menimbulkan masalah yang lebih berat.

(4) Perombakan pemerintahan ke arah kebudayaan politikyang sehat dan bersifat satria; (5) Segala macam perilakusadisme dan premanisasi dihentikan; (6) Membangun rasacinta sejati terhadap institusi atau lembaga nasional(khususnya dalam bidang pendidikan, khususnya universitas); (7)Di koran dan internet, istilah reformasi dan (kadang-kadang) revolusi sering muncul. Hal ini sangat baik jika di dalamnya ada isi dan tidak hanya sekadar topeng saja. Dari sini diharapkan proyek besar bersama yang telah dicetuskan di awal abad 20 ini dapat hidup kembali. Proyek besar ini juga menghasilkan manusia-manusia yang memiliki jiwa besar, seperti Dr. Soetomo, Natsir, Tan Malaka, Sjahrir, Mohammad Roem, Hasjim Ansjari, Yap Thiam Hing, Armijn Pane, Soekarno, Pramoedya, Haji Dahlan, dan masih banyak lagi tokoh lain yang muncul dalam era itu. Sekarang sulit untuk mencari orang-orang sekaliber mereka. Tentu tidak semua orang bisa menjadi “orang besar” seperti mereka itu. Namun, yang terpenting bahwa setiap orang bisa mengambil keputusan untuk tidak menjadi orang kerdil.

(8) Akhirnya, Benedict Anderson juga menawarkan sebuah slogan baru yang berbunyi, “Long Live Shame!” (Hidup Rasa Malu). Karena baginya, seorang nasionalis bukanlah nasionalis sejati jika ia tidak sempat merasa malu. Malu bahwa sejarah bangsanya dinodai oleh kekejaman, kebohongan, kerakusan, dlsb. Dalam batas tertentu, ia juga harus ikut bertanggungjawab atas perilaku negatif yang telah dilakukan oleh oknum-oknum negaranya sendiri yang telah bertindak ‘brutal’ (bukan berarti merasa bahwa mereka yang membuatnya). Justru karena itulah mereka bangkit. Bukan sebagai orang-orang humanis universal, tetapi sebagai orang Indonesia yang cinta pada proyek bersama mereka. Rasa malu politik ini sangat penting dan sangat baik. Dengan demikian, sikap tidak melihattidak mendengar, dantidak bicara lama-kelamaan akan hilang. Jadi, “Hidup Rasa Malu![xii]

Semua hal di atas tidak dapat dicapai dengan sekali jadi, melainkan butuh waktu yang lama, proses yang tidak akan pernah selesai (on going process), dan memerlukan pengorbanan yang besar. “Hidup Indonesia!” *

Daftar Pustaka

Sindhunata. Kambing Hitam: Teori René Girard. Jakarta: Gramedia.

Artikel

Anderson, Benedict 1999. “Indonesian Nationalism Today and in the Future” dalam Indonesia, No.67, Cornell University.

Kustanto, J.B. Hari. “Jakarta dan Etnisitas” dalam Kuliah Antropologi Kebudayaan Indonesia di STF Driyarkara – Jakarta, pada 5 Maret 2008.

Suryadinata, Leo. “Kebijakan Negara Indonesia terhadap Etnik Tionghoa: Dari Asimilasi ke Multikulturalisme?” dalam Antropologi Indonesia (Indonesian Journal of Social and CulturalAnthropology), Th. XXVII, No. 71, Mei – Agustus 2003.

Internet

Meinarno, Eko A. “Sikap Peribumi Terhadap Etnis Cina” dalamhttp://ccm.um.edu.my/umweb/ fsss/images/ persidangan/Kertas%20Kerja/Eko%20A%20Meinarno%20Sikap.doc,                                           diakses pada 23 Mei 2008, pkl. 09.50 WIB.

Susetyo,  DP. Budi. “Krisis Identitas Etnis Cina di Indonesia” dalamhttp://www.unika.ac.id/ fakultas/psikologi/ artikel/bs-1.pdf., diakses pada 23 Mei 2008, pkl. 09.40 WIB.

[i] Bdk. Eko A. Meinarno, “Sikap Peribumi Terhadap Etnis Cina” dalam http://ccm.um.edu.my/umweb/fsss/images/persidangan/                                                                           Kertas%20Kerja/Eko%20A%20Meinarno%20Sikap.doc.

[ii] Bdk.J.B. Hari Kustanto, “Jakarta dan Etnisitas” dalam Kuliah Antropologi Kebudayaan Indonesia di STF Driyarkara – Jakarta, pada 5 Maret 2008, hal 5.

[iii] Loc.cit.

[iv] Bdk.Leo Suryadinata, “Kebijakan Negara Indonesia terhadap Etnik Tionghoa: Dari Asimilasi ke Multikulturalisme?” dalam Antropologi Indonesia (Indonesian Journal of Social and Cultural Anthropology), Th. XXVII, No. 71, Mei – Agustus 2003, hal 3.

[v] PKI kerap membela kepentingan etnis Cina.

[vi] Bdk.DP. Budi Susetyo,  “Krisis Identitas Etnis Cina di Indonesia” dalam          http://www.unika.ac.id/ fakultas/psikologi/artikel/bs-1.pdf.

[vii] Ibid.

[viii] Bdk.Suryadinata, 2003, hal 2.

[ix] Bdk.Eko A. Meinarno, “Sikap Peribumi Terhadap Etnis Cina” dalam http://ccm.um.edu.my/umweb/fsss/images/persidangan/Kertas %20Kerja/Eko%20A%20Meinarno%20Sikap.doc.

[x] Ibid.

[xi] Bdk.Sindhunata, Kambing Hitam: Teori René Girard, Jakarta: Gramedia, hal. 387.

[xii] Bdk.Benedict Anderson, 1999, “Indonesian Nationalism Today and in the Future” dalam Indonesia, No.67, Cornell University, hal 1-11.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s