Thomas Aquinas : Membuktikan Allah itu Ada

god
Filsafat Abad Pertengahan
 

“Lima Jalan” Thomas Aquinas

 

God, the Prime MoverGod, the First Cause;

God, the Necessary BeingGod, the Absolute Being;

God, the Grand Designer[1]

 

(Tulisan ini membahas ”Lima Jalan” Menuju Eksistensi Allah yang merupakan salah satu buah pemikiran Thomas Aquinas yang membuktikan bahwa Allah sungguh ada.) 

Biografi Singkat

Thomas Aquinas lahir dari sebuah keluarga bangsawan pada 1225, di Kastil Roccasecca, dekat Naples (Italia). Pada 1244, Aquinas menjadi biarawan ordo Dominikan. Ia belajar di Universitas Naples, Paris, dan kemudian di Cologne di bawah bimbingan Albertus Agung, yang begitu menguasai ajaran Aristoteles dan Neo-Platonis. Setelah menyelesaikan studinya ia kemudian menjadi dosen (1254) dan mulai melahirkan berbagai karya.[2] Dua karya utamanya adalah: Summa contra Gentiles, dan Summa Theologica (memuat lebih dari dua juta kata). Bahasa Latinnya begitu padat dan jernih. Ia begitu memperhatikan setiap pernyataan. Perhatian seperti itu merupakan ciri Abad Pertengahan.[3]  

Aquinas merupakan seorang imam, teolog, sekaligus seorang filsuf. [4] Pada 1256, ia menjadi profesor.[5] Ia menjadi teolog ”resmi” Gereja Katolik Roma melalui pernyataan Paus Leo pada tahun 1879.[6] Ia disebut sebagai Doctor Angelicus dan dianggap sebagai filsuf Kristen terbesar yang pernah hidup.[7] Selain itu, ia dianggap sebagai tokoh puncak Skolastisisme.[8] Aquinas meninggal di Fossanova Abbey, Lazio, Italia, pada 7 Maret 1274.[9] Dan pada 1323, Thomas Aquinas digelari ”santo” oleh Gereja Katolik.[10]      

Lima Jalan Menuju Eksistensi Allah

Aquinas memberi pembaharuan bagi zamannya dalam memahami Allah. Aquinas tidak percaya bahwa dengan memahami istilah “Allah” cukup untuk menunjukkan bahwa Allah ada. Ia menolak bukti a priori platonik, yang mulai di dalam budi, melainkan memusatkan pada bukti-bukti a posteriori Aristotelian, yang mulai dengan dunia.[11] Thomas Aquinas mengajarkan adanya ”Lima Jalan” untuk membuktikan eksistensi Allah. Jalan pertama, argumen bermula dari pengalaman empiris mengenai adanya gerak atauperubahan[12].[13] Mengikuti gagasan Aristoteles, Aquinas menjelaskan bahwa gerak atau perubahan merupakan transformasi potensialitas menjadi aktualitas. Setiap benda tidak dapat bergerak jika benda tersebut tidak memiliki potensi untuk bergerak.[14]Namun, tidak mungkin juga jika suatu benda bersifat potensial sekaligus aktual secara bersamaan.[15] Maka, nampaklah bahwa ”apa pun yang bergerak, pastilah digerakkan oleh yang lain.[16]Aquinas mencoba menggambarkannya dengan baik: ”Tongkat tidak akan menggerakkan apa pun, bila tangan tidak menggerakkan tongkat.”[17] Namun, Thomas menolak anggapan bahwa rangkaian gerak-menggerakkan ini terjadi tanpa batas. Menurutnya, ada penggerak pertama yang tidak digerakkan. Itulah yang disebut Allah.[18]   

Jalan kedua, berpusat pada hubungan sebab akibat secara umum. Dunia alam bekerja dalam batasan kausalitas yang efisien (causa efficiens). Artinya, segala sesuatu yang ditemui dan diamati dalam tatanan alam ini merupakan sebuah akibat dari sebuah sebab yang telah menghasilkannya.[19] Segala sesuatu tidak dapat menjadi sebab bagi dirinya sendiri karena untuk dapat menghasilkan dirinya sendiri sesuatu itu harus bereksistensi terlebih dahulu.[20]  Selain itu, Thomas menambahkan lagi bahwa tidak mungkin serangkaian sebab-sebab efisien itu tidak terbatas dalam tatanan alam.[21] Ia tidak dapat percaya akan suatu rantai tanpa batas dari sebab-sebab dan akibat-akibat yang merentang kembali ke keabadian.[22] Oleh karena itu, harus ada sebab efisien yang pertama yang dikenal sebagai Allah.[23]

Jalan ketiga, berangkat dari argumen yang bertolak darikemungkinan dan keniscayaan segala sesuatu di dunia ini (ex possibili et necessario).[24] Di dunia ini terdapat hal-hal yang mungkin ”ada” dan ”tidak ada”. Tidaklah mungkin segala sesuatu itu selalu ”ada” karena segala sesuatu yang bereksistensi itu dapat hancur dan beralih menjadi ”tidak ada”.[25] Maka, ada kemungkinan bahwa segala sesuatu itu menjadi ”tidak ada” pada suatu waktu. Dengan begitu, sekarang juga mungkin tidak akan ada apa-apa yang eksis, karena benda-benda yang bersifat bergantung tidak dapat ber-ada oleh dirinya sendiri. Selain itu, tidak mungkin sebab-sebab segala sesuatu bereksistensi ditarik tanpa batas. Jadi, Thomas menegaskan bahwa harus ada suatu eksistensi yang bersifat tetap dan ultimat, yaitu Allah.[26]

Jalan keempat, adanya tingkatan (gradation) di antara segala yang ada.[27] Ada hal-hal yang lebih dan kurang baik, lebih dan kurang benar, lebih dan kurang indah, dlsb. Istilah ”lebih” dan ”kurang” merupakan sebuah acuan pada seberapa dekatnya hal-hal itu pada sesuatu yang ”maksimum”, ”paling”, atau ”maha”. Misalnya, sesuatu dikatakan kurang baik atau lebih baik karena ada ukuran yang dipakai untuk mendekati sesuatu yang paling baik atau terbaik itu. Selain itu, Thomas menegaskan bahwa apa yang tertinggi, juga tertinggi dalam wujud, dan apa yang tertinggi dalam wujud adalahsebab dari wujud dalam semua benda yang eksis. Maka, dapat disimpulkan bahwa ada sesuatu yang menjadi sebab (sumber) yang tunggal dan ultimat dari segala sesuatu yang baik, benar, indah, dlsb itu. Dan, inilah yang kita sebut Allah.[28]

Jalan kelima, argumen teleologis atau argumen berdasarkan rancangan. Thomas menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini terselenggarakan dengan baik (ex gubernatione rerum). Hal ini bermula dari kenyataan bahwa benda yang tak memiliki pengetahuan / tak berakal (mis. benda-benda alam) bergerak menuju suatu tujuan (telos) dengan menuntut fungsi melalui cara yang teratur dan terpolakan. Dengan demikian, maka tidak mungkin keteraturan itu merupakan sebuah kebetulan. Dengan kata lain, benda-benda tersebut menuju tujuan mereka karena diarahkan. Hal ini hanya mungkin terjadi jika ada suatu realitas atau wujud intelejensi (intelligent being) yang mengarahkan sekaligus menjadi tempat tujuan dari ”semua benda-benda alam”, dan inilah yang biasa kita disebut Allah.[29]

Tanggapan Kritis

(1) Aquinas berjasa besar karena telah berhasil mensistesakan gagasan-gagasan Aristotelian dalam kerangka iman Kristen.[30] (2)Untuk membuktikan eksistensi Allah, Aquinas bergerak dari pengalaman duniawi-inderawi menuju pengalaman / pengetahuan akan Allah (menyajikan sebuah bukti kosmologis[31]). Dengan kata lain, melalui pengalaman empiris manusiawi, Allah didekati dan dibuktikan keberadaannya. Hal ini tentunya lebih membantu banyak orang untuk menemukan makna kehidupan abadi di dunia ini. Maka, Allah bukanlah gambaran absurditas yang memuncak.[32] (3) Dalam hal ini, ruang lingkup akal budi dan wahyu tidak terpisah secara mutlak dalam sistem pemikiran Aquinas.[33] (4) Bukti-bukti yang diajukan Aquinas (”Lima Jalan”) telah memberikan dasar bagi argumen dari desain yang dirumuskan oleh William Paley (1743-1803) yang mengatakan bahwa dunia itu seperti jam yang disusun dengan hati-hati, dan sebuah ”jam” mengandaikan seorang ”pembuat jam”, yaitu Allah.[34] Selain itu, (5) bukti-bukti Aquinas telah menjadi patokan dalam mendemonstrasikan eksistensi Allah. Bahkan sekarang, beberapa pemikir Kristen percaya bahwa mungkinlah untuk membentuk suatu teologi ”kodrati” yang melihat dunia dan mencoba mendeduksikan Allah. 

Selain itu, ada beberapa keberatan yang diajukan, antara lain ada yang mengatakan bahwa (6) Aquinas belum mampu mengungkapkan hekekat Allah itu sendiri. Ada ketidakjelasan apakah Allah yang merupakan sebab pertama itu tampil sebagai persona atau hakekat tertentu lainnya.[35] Selain itu, (7) prinsip sebab akibat yang dikenakan dalam pengamatan inderawi seharusnya menghasilkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah-inderawi (yang dapat diindera) pula. Maka, kesimpulannya mengenai Allah sebagai sebab akibat segala sesuatu tampak memilikimissing link yang sulit dipertanggungjawabkan secara rasional dalam cara ilmiah-inderawi itu sendiri.[36] (8) David Hume mempertegas dengan mengatakan bahwa sebab akibat di dunia tidak memerlukan penjelasan; ini merupakan suatu kenyataan acak dari pengalaman, atau suatu fungsi dari budi manusia sewaktu membentuk pengalaman.[37] Dan, (9) Hume mempertanyakan, ”Mengapa Allahharus menjadi Sebab Pertama yang lain?”[38] (10) Immanuel Kant menambahi dengan percaya bahwa sebab dan akibat berlaku benar untuk dunia pengalaman indrawi, tetapi hanya bagi pengalaman indrawi. Karena Allah ada (kalau pun memang Dia ada) mengatasi dunia pengalaman, maka tidaklah mungkin ”meloncat” dari penalaran mengenai dunia ini ke penalaran mengenai Allah. Maka penalaran mengenai Allah merupakan penalaran yang mengatasi kemampuan manusia, dan ini sia-sia dan pasti gagal.[39]

Tentunya keberatan-keberatan ini pun dapat ditanggapi.Namun, penulis tidak akan membahasnya lebih lanjut, melainkan hanya ingin sekadar memaparkan atau menunjukkan bahwa ternyata masih ada para pemikir yang meragukan pemikiran Aquinas, tokoh puncak Skolastisisme ini. Kiranya, walaupun keberatan-keberatan muncul atas pemikirannya, namun pemikiran Aquinas tetap saja mengesankan seperti setiap Katedral Abad Pertengahan di dalam kota-kota modern saat ini.[40]

Daftar Pustaka

 

Aspell, Patrick J. . 1999. Medieval Western Philosophy: The European Emergence. Washington: The Council for Research in Values and Philosophy.

Kenny, Anthony. 1969. The Five Ways: St. Thomas Aquinas’ Proofs of God’s Existence. London: Routledge & Kegan Paul.   

Roth, John K.. 2003. Persoalan-Persoalan Filsafat Agama.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Smith, Linda & William Raeper. 2000. Ide-Ide Filsafat dan Agama, Dulu dan Sekarang. Yogyakarta: Kanisius.

Solomon, Robert C. & Kathleen M. H.. 2003. Sejarah Filsafat. Jogjakarta: Bentang Budaya.

Suseno, Franz Magnis. 2006. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Tjahjadi, Simon Petrus L.. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius.

 

Sumber Internet

Gracyk, Theodore. 2004. “St. Thomas Aquinas: The Existence of God can be proved in five ways” dalamhttp://www.mnstate.edu/gracyk/courses/web%20publishing/ aquinasFiveWays_ArgumentAnalysis .htm, diakses pada 04 Mei 2008, pkl. 13.22 WIB.

Tobin, Paul. 2000. “Thomas Aquinas and the Five Ways” dalamhttp://www.geocities.com/paulntobin/    aquinas.html, diakses pada 04 Mei 2008, pkl. 13.28 WIB.

Weiss, P.. (tanpa tahun). “St. Thomas Aquinas’ Five Ways” dalamhttp://members.aol.com/plweiss1/aquinas.htm, diakses pada 04 Mei 2008, pkl. 13.20 WIB.

Catatan Akhir



[1] Bdk. Paul Tobin, 2000, “Thomas Aquinas and the Five Ways” dalam http://www.geocities.com/ paulntobin/aquinas.html

[2] Bdk. Patrick J. Aspell, 1999, Medieval Western Philosophy: The European Emergence, Washington: The Council for Research in Values and Philosophy, hal. 155-156.

[3] Bdk. Linda Smith & William Raeper, 2000, Ide-Ide Filsafat dan Agama, Dulu dan Sekarang, Yogyakarta: Kanisius, hal. 47.

[4] Bdk. P. Weiss, (tanpa tahun), “St. Thomas Aquinas’ Five Ways” dalam http://members.aol.com/plweiss1/ aquinas.htm

[5] Bdk. Linda Smith & William Raeper, 2000, hal. 47.

[6] Ibid.

[7] Bdk. P. Weiss, “St. Thomas Aquinas’ Five Ways”.

[8] Bdk. Robert C. Solomon & Kathleen M. H., 2003, Sejarah Filsafat,Jogjakarta: Bentang Budaya, hal. 263.

[9] Bdk. Patrick J. Aspell, 1999, hal. 156.

[10] Bdk. Linda Smith & William Raeper, 2000, hal. 47.

[11] Ibid., hal. 48.

[12] Istilah “gerak” atau “perubahan” di sini merupakan terjemahan dari kata “move” (Bahasa Inggris). Namun, Anthony Kenny dalam bukunya yang berjudul The Five Ways: St. Thomas Aquinas’ Proofs of God’s Existence menegaskan bahwa terjemahan “move” di sini kurang tepat jika dibandingkan dengan kata Latin “motus” yang memiliki arti lebih luas. Ia mengungkapkan bahwa kata Inggris “change” memiliki arti yang lebih dekat dengan kata Latin itu. Lih., Anthony Kenny, 1969, The Five Ways: St. Thomas Aquinas’ Proofs of God’s Existence, London: Routledge & Kegan Paul, hlm. 6-10.   

[13] Bdk. John K. Roth, 2003, Persoalan-Persoalan Filsafat Agama,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 125.

[14] Ibid.

[15] Bdk. Theodore Gracyk, 2004, “St. Thomas Aquinas: The Existence of God can be proved in five ways” dalam http://www.mnstate.edu/gracyk/courses/web%20publishing/                          aquinasFiveWays/ArgumentAnalysis.htm.

[16] Bdk. John K. Roth, 2003, hal. 125.

[17] Bdk. Linda Smith & William Raeper, 2000, hal. 49.

[18] Bdk. P. Weiss, “St. Thomas Aquinas’ Five Ways”.

[19] Bdk. John K. Roth, 2003, hal. 125.

[20] Bdk. Theodore Gracyk, 2004.

[21] Op.cit.

[22] Bdk. Linda Smith & William Raeper, 2000, hal. 49.

[23] Bdk. John K. Roth, 2003, hal. 125.

[24] Jalan ketiga, yang berpusat pada kemungkinan ini merupakan hasil adopsi dari pemikiran Avicenna mengenai kemungkinan segala sesuatu yang berada di dunia. Lih. Patrick J. Aspell, 1999, hal. 174.

[25] Bdk. Theodore Gracyk, 2004.

[26] Bdk. John K. Roth, 2003, hal. 128.

[27] Jalan keempat ini merupakan hasil sintesa beberapa observasi dalam Aristoteles dengan ide-ide dari Plato, Agustinus, dan Anselmus.Lih., Patrick J. Aspell, 1999, hal. 175.

[28] Bdk. John K. Roth, 2003, hal. 130.

[29] Ibid., hal. 130-131.

[30] Iman Kristen yang berkembang pada waktu itu lebih menggunakan gagasan Plato-Agustianisme. Bdk. Simon Petrus L. Tjahjadi, 2004, Petualangan Intelektual, Yogyakarta: Kanisius, hal. 151.

[31] Bdk. Robert C. Solomon & Kathleen M. H., 2003, Sejarah Filsafat,Jogjakarta: Bentang Budaya, hal. 265.

[32] Dalam hal ini Thomas mengatasi persoalan agnotisisme (ajaran yang tidak mau tahu tentang ada atau tidaknya Allah). Selain itu, ia juga memberikan suatu jalan alternative dari pendekatan ontologism yang dibuat Anselmus. Bdk. Franz Magnis Suseno, 2006, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 150.

[33] Bdk. Robert C. Solomon dan Kathleen M. H., 2003, hal. 266.

[34] Bdk. Linda Smith dan William Raeper, 2000, hal. 50.

[35] Bdk. Simon Petrus L. Tjahjadi, 2004, hal. 141.

[36] Ibid.

[37] Bdk. Linda Smith dan William Raeper, 2000, hal. 50.

[38] Ibid.

[39] Ibid., hal. 51.

[40] Ibid.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s