Eksistensi (?)

WALK

Arti eksistensi menurut beberapa tokoh[1]:

A.     Kierkegaard

1. Menurutnya eksistensi adalah ‘ada’ sebagai pribadi manusia yang unik (individual)  dan konkret. Manusia pada dasarnya adalah subjek yang bertindak. Manusia adalah seorang pelaku, tak ada yang dapat mengganti tempatku untuk bereksistensi. Dengan kata lain, eksistensi adalah “diri autentik”. Hanya manusia yang ‘bereksistensi’; karena dunia, binatang, dan segala sesuatu yang lain hanya ‘ada’. Baginya eksistensi bukan suatu ide atau suatu essensi yang dapat dimanipulasi secara intelektual. Eksistensi adalah suatu kesatuan, kumpulan fakta-fakta, yang tak dapat begitu saja disamakan dengan sejumlah sistem rekonstruksi pemikiran rasional. Artinya, eksistensi mencakup berbagai macam hal dalam sebuah keberadaan. Pemahaman Kierkegaard tentang eksistensi ini dapat dilihat dari pemikirannya tentang manusia paradoks. Manusia secara paradoksal menggabungkan dalam dirinya: yang fana dan yang abadi; yang terbatas dan tak terbatas; manusia merupakan gerak ke arah Allah, tetapi juga terpisah dari Allah. Manusia merupakan paradoks.

2. Bagi Kierkegaard ada tiga cara untuk bereksistensi[2]:

a) Sikap estetis (Prototipe sikap estetis adalah ‘Don Juan’)
‘Estetis’ berasal dari kata Yunani yang artinya ‘mengindrai’, ‘mencecap’. Pada tingkat ini, individu diombang-ambingkan oleh dorongan-dorongan indrawi dan emosi-emosinya. Mereka menikmati hidup mereka dengan mengejar kesenangan dan kepuasan. Ketakutan pokoknya adalah rasa tidak enak dan kebosanan. Di sini individu ‘bereksistensi’ dengan ditunjukkan dengan selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan bebas yang mengisi kebebasan mereka. Namun akhirnya, keputusasaan menjadi tahap akhir dari eksistensi estetis ini.

b) Sikap etis (Prototipe sikap etis adalah Sokrates)
Pada langkah ini, manusia memilih untuk mengikuti suatu aturan moral (namun, belum memahami dosa). Hal ini dilakukan dengan membuat pilihan bebas, sebuah ‘lompatan eksistensialis’. Jadi, tahap ini bukan tahap yang niscaya atau otomatis. Di sini manusia menentukan alasan untuk mencari suatu norma yang akan menuntun kehidupannya sendiri. Pribadi-pribadi tersebut menjadi sungguh tidak yakin akan diri mereka sendiri. Mereka menjadi lemah. Keyakinan intelektual mereka tidak membawa mereka pada kebahagiaan dan kedamaian. Pada akhirnya, mereka berada dalam kepahitan, kecemasan dan bahkan putus asa..

c) Sikap religius (Prototipe sikap religius adalah Abraham)
Pada tahap ini, terjadi suatu pencarian akan suatu bentuk keberadaan manusia yang paling tinggi yang disebut sikap religius. Untuk mencapai sikap religius, manusia harus tidak tergantung pada alasan-alasan ataupun pada perasaan-perasaan. Di sini terjadi komitmen personal, di mana ia mengakui Allah (terjadi ‘lompatan iman’). Jika mereka mencari dasar-dasar rasional terhadap eksistensi Allah, jika mereka mencari pembuktian-pembuktian metafisis terhadap keberadaan Allah, mereka telah membawa sikap yang keliru. Mereka harus meninggalkan segala sesuatu dan mencari Allah saja. Ketidakpastian harus diatasi oleh iman yang buta.

B.    Heidegger

a) ‘Dasein’ merupakan sebuah istilah ontologis. Manusia sebagai ‘Dasein’, sebagai “Ada-di-sana” (Being-there). Istilah itu menunjuk pada keterbatasan dan sekaligus transendensi manusia. Manusia tidak hanya “ada” begitu saja tetapi “eksis”. Ia hendak mengungkapakan eksistensisebagai sebuah usaha pertanggungjawaban manusia terhadap keberadaannya.

b) ‘Vorhandenheit’ (existentia), dapat diartikan sebagai ‘presence-at-hand’ (hadir saat ini). Kata ini mau mengungkapkan  eksistensi sebagai keadaan berada secara pasif dimana eksistensi itu sudah berada dalam keberadaan itu sendiri.

c) Existenz (existence), merupakan sebuah penanda dari ‘Ada’, yang akan terarah semata-mata pada Dasein. Hakekat ‘Dasein’ terletak dalam eksistensinya, yaitu dalam kemampuan transendensinya atau kebebasannya. Dengan kata lain, ia mau mengungkapkan kaitan antara eksistensi dan esensi, dimana ia menggambarkan eksistensi sebagai tempat terletaknya esensi (esensi terletak pada eksistensinya).

C.    Sartre

Sartre berpendapat bahwa “existence precedes essence” (eksistensi mendahului esensi). Ia melukiskan eksistensi sebagai sebuah keberadaan manusia yang konkret, sekarang dan di sini. Ia mengetengahkan dua gagasan sehubungan dengan definisinya ini, yakni pour-soi (for-itself)dan en-soi (in-itself). Artinya, ia melihat keberadaan manusia yang konkret sekarang dan di sini, dapat menjadi pour-soi, artinya menjadi subjek dimana ia menjadikan segala sesuatu bagi dirinya atau untuk dirinya (for-itself), dan juga menjadi en-soi, artinya dijadikan objek karena sesuatu di kenakan pada dirinya / identik (in-itself). Eksistensi manusia terIetak pada pour-soiketikaia menjadi subjek dan bebas memperlakukan segala sesuatu bagi dirinya. Namun pada akhirnya, ia pun sadar betapa kebebasan itu serta keberadaanya dapat saling bertentangan secara rasional satu sama lain. Ketika manusia berusaha menjadi pribadi yang bebas (for-itself), ketika itu juga manusia memiliki hasrat untuk “menjadi” / mencapai identitas yang diiinginkan itu (in-itself).

D.    Jasper

1. Menerangkan eksistensi secara lebih sederhana sebagai keberadaan manusia itu sendiri. Ia mengungkapkan eksistensi sebagai sebuah ungkapan tanpa refleksi dari kehidupan kita di dunia.

2. Ia mengungkapkan 3 point berikut:

–   Existenz itu bukanlah bagian dari ada, melainkan potensi berada. Yakni untuk mengatakan bahwa saya “tidak eksis”, tetapi “mungkin eksis”. Saya “tidak memiliki diri saya”, tetapi “menjadi diri saya”. Existenz itu adalah pemenuhan keberadaannya (‘Dasein’).

– Existenz itu adalah kebebasan. Kebebasan yang bukan diciptakan sendiri, tetapi merupakan pemberian yang Transenden. Artinya, tanpa yang Transenden, Existenz itu tidak ada.

–  Existenz adalah selalu diri individu, tak tergantikan, dan tak pernah dapat dipertukarkan.

E.  John Macquarrie[3]

John Macquarrie melihat eksistensi dalam tiga karakteristik:

1. Eksistensi dipahami berdasarkan akar katanya “keluar dari” (standing out). Semua yang ada “berada” (exist) dalam pengertian, “keluar dari”[4] yang “tidak ada” (nothing). Pemahaman ini tepat diterapkan pada manusia karena manusia berada dalam kesadaran dan perubahan. Dalam hal ini terdapat unsur dinamis. Manusia tidak akan pernah selesai, berhenti, atau sempurna. Untuk mencapai eksistensinya manusia perlu untuk melampaui dirinya melalui transendensi diri (ecstasis[5]) dan hal ini dapat dicapai dengan sarana refleksi diri, di mana manusia dapat mengambil jarak dengan dirinya, dan dapat mengobyektivasi dirinya sendiri, dengan begitu ia melampaui dirinya.

2. Eksistensi dipahami sebagai keunikan individu yang Ada. Manusia itu unik. Keunikan ini tidak hanya diukur secara fisik belaka (direduksi). Keunikan di sini lebih ingin menunjukkan eksistensinya yang tak dapat ditukarkan, tak dapat digantikan, dan  ada keinginan yang tak habis-habisnya. Keunikan manusia juga terletak pada kemampuannya mengatakan “Saya” (Saya adalah Saya). Keunikan eksistensi manusia berada pada ‘kepemilikan’ dari eksistensi (mineness) dalam relasi dengan dunia.

3. Karakteristik yang ketiga adalah keterhubungan diri / keterkaitan diri (self-relatedness). Kita telah melihat bahwa manusia itu unik. Dia adalah dirinya sendiri, dia sedang eksis sebagai eksistensi yang unik, berdiri di luar dunia obyek dan pergi dari keberadaan diri bawaannya; ataudia bukanlah dirinya sendiri, dia sedang disedot masuk ke dalam dunia obyek sebagai obyek yang lain, dia tidak memilih apa-apa untuk dirinya sendiri tetapi segala sesuatu dipilih untuk dirinya sebagai faktor eksternal. Di sini tampaklah bahwa manusia selalu dihadapkan pada pilihan. Setiap manusia dapat memilih eksistensinya – “menjadi” atau “tidak menjadi”. Dengan demikian, eksis bukan hanya persoalan untuk ‘to be’ / “menjadi” (‘Ada’), melainkan lebih untuk menghadapi pilihan untuk “menjadi” atau “tidak menjadi”; meraih eksistensi dalam pengertian yang penuh atau untuk melepaskannya.

Dari ketiga karakteristik di atas, John Maquarrie memberikan beberapa point intisari mengenai eksistensi:

1.   Eksistensi itu mengalir, tidak akan pernah sempurna, tidak selesai, dan tidak akan pernah berhenti; unik; dan mungkin untuk merealisasikan eksistensi dirinya sendiri ataumelepaskannya.

2.   Tidak ada kriteria obyektif yang dapat menentukan sebuah eksistensi yang otentik atau tidak otentik. (Kebebasan menurut Sartre; Kemustahilan yang heroik menurut Camus; Supermanmenurut Nietzsche; Kristianitas menurut Kierkegaard; atau Kematian menurut Heidegger).

3.   Fakta bahwa manusia tidak akan pernah selesai bukan berarti ingin menunjukkan bahwa manusia tidak dapat dideskripsikan. Deskripsi mungkin, namun harus diarahkan pada sebuah ‘kemungkinan’ (possibilities) daripada ‘milik’ (properties).

Fakta bahwa setiap individu itu unik bukan berarti bahwa mereka dikonfrontasikan dengan sebuah ‘gambaran tanpa bentuk’ (formless) dan ‘keserbaragaman yang tak dapat dideskripsikan’ (indescribable multiplicity).

5.  Ketika eksistensi memenuhi dirinya sendiri dalam berbagai cara, kita mungkin menemukan dengan baik bahwa ada beberapa norma (internal daripada eksternal) yang menentukan arah dari pemenuhan diri secara otentik.

Kesimpulan

Dari point-point di atas Macquarriae ingin menyatakan bahwa kita harus mengadakan penyelidikan lebih jauh dengan mengambil sebuah bentuk (metodologi) analisis fenomenologi atas bentuk-bentuk ‘Ada’ yang disebut eksistensi.

Daftar Pustaka

Hamersma, Harry. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: Gramedia. 1983.

Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. 2007.

Maquarrie, John. Existentialism. New York: Penguin Books. 1972.

Minkiel, J Stephen. Man in Search of Man. England: New EnglandPublishers. 1988.

Sastrapratedja, M. Diktat “Filsafat Manusia”. Jakarta: STF Driyarkara. 2007.

Tjahjadi, Simon Petrus L..Petualangan Intelektual: Konfrontasi dengan Para Filsuf dari

Zaman Yunani hingga Zaman Modern. Yogyakarta: Kanisius. 2004.


[1] John Maquarrie, Existentialism, New York: Penguin Books, 1972, hal. 45-48.

Ditambah dengan bahan pendukung :

1. F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, 2007.

2. Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, 1983.

3. Simon Petrus L Tjahjadi, Petualangan Intelektual: Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani hingga Zaman Modern, Yogyakarta: Kanisius, 2004.

[2] J Stephen Minkiel, Man in Search of Man, England: New England Publishers, 1988, hlm. 164-165.

[3] John Maquarrie, Existentialism, New York: Penguin Books, 1972, hal. 48-55.

[4] Berasal dari kata eksistensi yang diartikan oleh Heidegger dalam Brief ueber den Humanismus sebagai “ek-stare”, “keluar dari”, transendensi menuju kebenaran Ada. (M. Sastrapratedja, Diktat “Filsafat Manusia”, Jakarta: STF Driyarkara, 2007, hal.23.)

[5] Dalam bahasa Yunani juga berarti eksistensi (existence). (John Maquarrie, Existentialism,New York: Penguin Books, 1972, hal. 48)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s