Eksistensi dan “Yang Lain”

Image

Existence and Others[1]

A.     ‘Ada-Bersama-Yang-Lain’

1. Eksistensi tidak mungkin terlepas dari dunia. Dengan kata lain, tidak ada eksistensi tanpa dunia (‘ada-dalam-dunia’). Dunia adalah suatu ‘sistem instrumental’, setiap kenyataan terkait satu dengan lainnya. Tanpa ’yang lain’ aku tidak dapat eksis. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi manusia ’ada-dengan-yang-lain’. Dengan begitu, kondisi eksistensial manusia sebagai ‘ada-dalam-dunia’ dengan sendirinya juga sebagai ‘ada-bersama-yang-lain’. Selain itu, manusia selalu berada dalam sebuah bentuk keterhubungan dalam ruang (spatiality) dan waktu (temporality).

2. Dalam pemikiran Martin Burber, ia meletakkan ”ada-dengan-yang-lain’ mendahului ’ada-dalam-dunia’. Hubungan dengan ‘yang lain’ itu digambarkan sebagai hubungan ‘I-Thou’ dan ‘I-It’. (a) ’I-Thou’ (’Aku-Anda’) merupakan sebuah hubungan langsung dan dialogis (timbal-balik), yang memberi penghargaan terhadap yang lain sebagai subyek Sedangkan,(b)’I-It’ (’Aku-Benda’) lebih merupakan sebuah hubungan yang bersifat searah (subyek-obyek), memberi jarak, kurang manusiawi (karena menjadikan ’yang lain’ sebagai obyek), dan hanya menjadi sebuah instrumen (alat).

3. Manusia memiliki seksualitas dan bahasa yang menyatakan secara tidak langsung bahwa tidak ada individu yang lengkap (complete) tanpa ’yang lain’. (a) Seksualitas dalam diri manusia merupakan fenomena eksistensial yang nyata. Dalam seksualitasnya, manusia dapat merasakan akar-akar metafisik dari ’ada’-nya. Seksualitas menunjuk pada kenyataan bahwa tubuh manusia memiliki sistem reproduksi yang menjadi ’tidak lengkap’ tanpa kehadiran ’yang lain’ (lawan jenis). (b) Bahasa memiliki fungsi sebagai sarana komunikasi, di mana terjadi pertukaran makna antara yang satu dengan ’yang lain’. Bahasa merupakan kekuatan manusia yang fundamental (mendasar). Tanpa bahasa kita tidak dapat menjadi manusia. Tidak ada eksistensi yang lepas dari bahasa. Bahasa merupakan suatu manifestasi manusiawi yang mengejawantahkan secara jelas struktur dialogal dan antarpersonal eksistensi. Secara hakiki bahasa merupakan ’pewahyuan’ persona / pribadi.

B.     Relasi-relasi Interpersonal

1. Martin Heidegger. (a) Relasi antara pribadi dan dunia sehari-hari dideskripsikan sebagai bentuk-bentuk ’keprihatinan’ (concern / besorgen), di mana manusia tenggelam dalam dunia ’benda-benda’. Sedangkan, (b)relasi antara pribadi dan sesamanya lebih ditunjukkan sebagai sebuah bentuk ’kepedulian’ (solicitude / fürsorge) terhadap ’yang lain’.

2. Sedangkan Martin Buber, berusaha membedakan dua macam bentuk relasi dengan ‘I-Thou’ dan ‘I-It’. (a) ‘I-Thou’ hanya dapat dikatakan dengan ’whole being’ (’keseluruhan Ada’). Artinya, kita berhubungan secara total dengan ’yang lain’. Di sana ada keterbukaan, ’yang lain’ tidak dijadikan obyek dan alat. Sedangkan, (b)‘I-It’ tidak pernah dikatakan dengan ’whole being’ (’keseluruhan Ada’) karena ’yang lain’ selalu disempitkan menjadi obyek dan alat. Relasi ’I-Thou’ tragisnya seringkali merosot menjadi ’I-It’. Hal ini dapat tampak dalam eksploitasi, diskriminasi, prasangka, dan memperlakukan individu tidak manusiawi. Namun, bagaimanapun juga sebuah relasi ’I-It’ tetap dapat menjadi ’I-Thou’. Dalam hal ini relasi ’I-It’harus dijadikan lebih bermakna / memiliki arti (’I-It’ for the seek ’I-Thou’). Selain itu, sebuah spekulasi yang dibicarakan dalam pemikiran Buber adalah mengenai hubungan Aku dan Allah. Buber tidak bermaksud berbicara mengenai Allah sebagai ’the eternal Thou’. Namun, jelas bahwa relasi dengan Allah tidak sama dengan relasi dengan ’Thou’ (‘Anda’) yang terbatas.

3. Gabriel Marcel. Dua karakter mendasar dalam relasi menurut Marcel adalah ‘ketersediaan’ (availability) dan ‘kesetiaan’ (fidelity). (a) ‘Ketersediaan’ di sini berarti bahwa seseorang hadir untuk ‘yang lain’. Menurut Marcel, ‘hadir’ itu melebihi hanya sekadar kenyataan bahwa ‘ada disana’ (menjadi obyek) melainkan lebih ingin menunjukkan transendensi diri (‘keluar dari diri’) menuju kepada ‘yang lain’. Dan, di sinilah dibutuhkan (b)‘kesetiaan’. Komunitas dibangun dalam dasar kesetiaan untuk memegang ikatan, janji, atau ikrar. Marcel melihat pribadi, perjanjian, dan kenyataan sebagai suatu rangkaian yang kontinyu / bersambung yang akhirnya membawa kita pada Allah.

4. Kierkegaard: ‘Yang lain’ dapat menjadi rintangan dalam relasi dengan Allah. Di sini ia lebih menekankan subyektivitas (individu) dalam pemikirannya (hal inilah yang dikritik Buber). 5. Sedangkan bagi Sartre,(a) “orang lain adalah neraka” karena baginya jika aku dipandang / dilihat oleh orang lain maka aku menjadi obyek. Selain itu, menurut Sartre,(b) Allah bukanlah sebuah realitas yang berdiri sendiri. Allah hanyalah sebuah nama yang biasanya menunjuk pada kepenuhan pencarian manusia yang dipenuhi dengan rasa frustasi. Hal ini berbeda dengan pandangan Kierkegaard yang tetap melihat manusia sebagai sebuah gerak menuju Allah.

C.     Tubuh dan ‘Yang Lain’, dengan Referensi Khusus pada Seksualitas

1. ‘Ada-bersama-yang-lain’ menyatakan secara tidak langsung eksistensi jasmaniah (bodily existence). “Ada-bersama-yang-lain’ hanya mungkin jika manusia memiliki tubuh. Tubuh menunjukkan eksistensi manusia di tengah dunia. Saya sadar akan ’yang lain’ karena saya menyentuhnya, melihatnya, dan mendengarnya. Saya berkomunikasi dengannya dengan sarana bahasa.

2. Bagi Sartre, tubuh ’yang lain’ bukanlah sebuah benda, melainkan ’pribadi yang lain’. Namun, yang terjadi adalah sebuah dinamika konflik (frustasi), di mana ketika ’yang lain’ menatap (tubuh)ku maka aku akan menjadi obyek; ketika itu juga aku berusaha membebaskan diri darinya, dan ia pun berusaha membebaskan diri dariku. Kemudian muncullah 4 strategi: Cinta, Hubungan Seksual, Masokisme, dan Sadisme. Yang dibicarakan pada bagian ini, khususnya mengenai seksualitas. Bagi Sartre, hubungan seksual merupakan sebuah cara untuk tidak saling mengapresiasi (’yang lain’ tidak menjadi obyek). Namun akhirnya, usaha ini tetap gagal karena individu-individu tersebut tetap menjadikan ’yang lain’ sebagai obyek yang dapat ’dinikmati’.

3. Dalam pemikiran Bubber, tidak diragukan lagi jika di dalamhubungan seksual, ’yang lain’ itu menjadi ’It’ (I-It). Namun, hubungan seksual itu tetap dapat menjadi hubungan ’I-Thou’, jika ada sebuah ke-total-an, di mana keseluruhan manusia terlibat di dalamnya. Dalam istilah Kitab Suci, ’one flesh’, di mana dua pribadi telah menjadi satu daging. Di sanalah kedua eksistensi ’saling-menembus’ (interpenetrate)—terjadi transendensi diri di antara keduanya. Dalam hubungan seksual, individu keluar dari dirinya dan menuju pada ’yang lain’ dalam sebuah kesatuan ’ada-bersama-yang-lain’.

D.     Ketidakotentikan dan Keotentikan Ada-Bersama-Yang Lain

Ada-bersama-yang-lain menunjukkan bahwa ‘no man is an island’. Setiap individu hidup bersama ‘yang lain’. (1) Menurut Kiekegaard, (a)kerumunan (crowd)[2] adalah ketidak-benaran (untruth) karena tanggung jawab individu itu hilang atau sekurang-kurangnya melemah dengan mereduksinya ke dalam sebuah kelompok. Dan, di sinilah letakketidakotentikan individu. (b) Individu itu otentik jika individu itu menjadi ’aktor’ bagi hidupnya sendiri. (2) Sedangkan Heidegger,menggunakan istilah (a) Das Man, yang ingin menunjukkan bahwa ’yang lain’ menjadi impersonal. Semua menjadi sama, perbedaan lenyap, tidak ada tanggung jawab pribadi, dan orang tak peduli akan originalitasnya. Di sinilah, ketidakotentikan muncul. Sedangkan, (b) ’diri’ otentik merupakan diri yang memiliki otonomi. (4) Kesimpulan: Jika memaksakan keseragaman, tidak menghargai perbedaan, maka di sinilah terjadi ketidakotentikan ’ada-bersama-yang-lain’. Sedangkan, yangotentik merupakan sebuah bentuk relasi yang mengusahakan eksistensi secara penuh, membiarkan manusia berdiri secara penuh sebagai dirinya, dalam kebebasan dan tanggung jawab.

Catatan Kaki 

[1] John Maquarrie, Existentialism, New York: Penguin Books, 1972, hal. 75-92.

[2] Nietzsche menggunakan istilah kawanan (herd) yang hanya berusaha mempertahankan ‘satu jenis’ manusia, menolak yang lebih rendah maupun yang lebih tinggi. Sedangkan, Karl Jaspers massayang menunjukkan dominasi hidup dan standard-standard yang ditentukan oleh tawaran-tawaran yang tak terpikirkan (unthinking mulititude), terlebih dalam kondisi kehidupan industri modern.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s