Diskursus Kebebasan

LIBERTY

Filsafat Manusia

Kebebasan

(A) Eksistensialis menekankan aksi. Melalui aksi, eksistensi mendapatkan bentuk yang konkret dan penuh. Aksi merupakan sesuatu yang personal dan melibatkan keseluruhan individu. Aksi lebih daripada tindakan yang dapat diobservasi secara empiris. Melalui aksi, manusia memproyeksikan dan merealisasikan gambaran kemanusiaannya. Aksi perlu dipahami dalam konteksmisteri transendensi diri. Manusia lebih baik dideskripsikan sebagai homo viator. Aksi bukanlah abstraksi. Dalam aksi, keseluruhan manusia bertindak, dan konsep aksi merengkuh dalam dirinya sendiri keseluruhan misteri eksistensi manusia.

(B) Aksi mengimplikasikan kebebasan. Bagi para eksistensialis, kebebasan tidak dapat dibuktikan, melainkan lebih merupakan sebuah postulata dari aksi. Hal tersebut tersedia sebagai sebuah kondisi dari eksistensi. (1) Sartre menekankan bahwa kebebasan dan eksistensi itu satu dan sama; tidak dapat dibedakan dengan jelas. Seseorang tidak dapat pertama-tama eksis dan kemudian menjadi bebas; melainkan, dengan menjadi manusia, pada saat itu juga menjadi bebas. Eksistensi manusia terIetak pada being-for-itself ketikaia menjadi subjek dan bebas memperlakukan segala sesuatu bagi dirinya. Ketika manusia berusaha menjadi pribadi yang bebas (for-itself), ketika itu juga manusia memiliki hasrat untuk “menjadi” atau mencapai identitas yang diinginkan (in-itself). Bagi Sartre manusia akan selalu berusaha ’menyangkal’ dirinya. Identitas yang diinginkan tidak akan pernah tercapai sehingga manusia akan selalu mengalami kecemasan dan frustasi.

(2) Dalam bahasa Nikolai Berdyaev, kebebasan itu bersifatmetafisik dan bahkan mistik. (a) Dia melihat kebebasan sebagai sebuah misteri pada dirinya sendiri. Untuk menekankan prioritas dari kebebasan, ia sering berkata bahwa kebebasan memiliki keunggulan melebihi ada (being). Sebuah sistem ontologis yang menyadari keunggulan absolut dari ada adalah sebuah sistem determinisme. Mengasalkan kebebasan dari adakebebasan ditentukan oleh adakebebasan adalah child of necessity. Namun, menurut Berdyaev, kebebasan tidak dapat diasalkan dari adakebebasan didasarkan dalam ketiadaan, dalam non-beingKebebasan tak berdasar. Kebebasan haruslah dipahami baik sebagai titik awal dan jalan, sekaligus sebagai akhir dan tujuan. Selain itu, Berdyaev juga mengatakan bahwa kebebasan mendahului ada. Kebebasan adalah primordial dan irasional (pra-rasional). Kebebasan sungguh-sungguh merupakan meontik, sesuatu yang tidak ada (nothing) daripada something, sebuah kemungkinan daripada sebuah aktualitas. Kebebasan tidak dapat diraih atau dipahami dengan pikiran melainkan hanya diketahui melalui latihan kebebasan (exercise of freedom); dan bahkan dalam pengalaman kecemasan ketika menghadapi kebebasan sebagai suatu ’jurang yang dalam’.

 (b) Rahasia kejahatan adalah rahasia kebebasan.Kebebasan dalam dirinya sendiri telah mengandung benih destruktif. Kebebasan dapat menjadi anarki yang menyebabkan tragedi. Kebebasan juga dapat membawa pada kompulsi (tekanan) terhadap ‘yang benar’ dan ‘yang baik’, memaksakan keutamaan, menuju organisasi tirani hidup manusia. Bahkan Kekristenan, yang seharusnya dapat memungkinkan kebebasan tertinggi, telah terperosok ke dalamnya (‘merusak’ kebebasan). Meskipun kebebasan memiliki resiko dan tragedi tak terelakkan, kebebasan haruslah tetap dipelihara dan ditingkatkan. Alasannya jelas. Jika kebebasan identik dengan eksistensi itu sendiri, tidak ada kemanusiaan tanpa kebebasan. Resiko untuk meningkatkan kebebasan haruslah diambil. (c) Berdyaev menghubungkan kebebasan dengan kreativitas. Pencapaian tertinggi dari kemanusiaan adalah kreativitas; berbagi dalam kekuatan Tuhan Sang Pencipta. Kreativitas merupakan misteri kebebasan. Meskipun berisiko, kreativitas haruslah diberikan tempat, di mana manusia mewujudkan diri (transendensi diri).

(d) Lalu, bagaimana dengan kebebasan politis? Buku Camus “The Rebel” (pemberontakan) menganalisa hal ini dengan sangat sensitif dan cerdik. Berdyaev pun menunjukkan semangat pemberontakan yang sama terhadap segala sesuatu yang menghilangkan kehidupan manusia. Kebebasan memerlukan pergulatan dan perjuangan. Untuk membebaskan diri, manusia haruslah merasa bebas dari ‘dalam’ dan dengan demikian dia dapatberjuang umtuk kebebasan eksternal. Tujuan dari perjuangan ini adalah kreativitas yang sungguh-sungguh manusiawi. Pembebasan manusia bukan hanya ‘dari sesuatu’ namun ‘untuk sesuatu’. ‘Untuk sesuatu’ itulah yang kita sebut kreativitas manusia. Berdyaev membuka simpati aristokratik yang ditemukan dalam eksistensialisme. Massa tidak menghargai kebebasan. Mereka puas dengan pola rutin dari eksistensi. Dalam kenyataan, kebebasan bersifat aristokratik, tidak demokrasi. Demokrasi (1) berkeinginan merusak kebebasan demi persamaan (equality); (2) tidak ada kebenaran ketika berbicara kebebasan, yang mengakui kebebasan hanya untuk kalangan mereka sendiri. Mereka menghadapi bahaya kediktaktoran. Kebebasan ternyata masih jauh dan tidak akan segera dicapai. (e) Untuk para ateis, tragedi dan absurditas memiliki peranan utama, sedangkan eksistensialis kristen percaya bahwa harapan dan kreativitas punya kekuatan lebih besar dalam kebebasan.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s