Agama Sudah Mati (?)

Agama Sudah Mati (?) :

Memandang Agama di Tengah Dunia Modern

“Di mana Tuhan?

Aku akan mengatakannya kepada kalian.

 Kita telah membunuhnya – kalian dan saya.

Kita semua adalah pembunuh-pembunuhnya.”[1]

-Nietzsche-

I.      Mukadimah: Aufklärung [2]

Tiga abad terakhir ini, peradaban manusia modern sangat dipengaruhi oleh Aufklärung(pencerahan). Zaman ini dapat dipandang sebagai kulminasi optimisme pemikiran modern terhadap rasio manusia.  Selain itu, zaman ini dapat dipandang pula sebagai letusan pemberontakan yang paling hebat atas cara berpikir metafisis abad pertengahan yang sudah dirintis sejak Renaisans (kelahiran kembali – kebudayaan Yunani). Keyakinan yang begitu besar atas rasio manusia ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu-ilmu alam dan teknologi.

Semangat dan program pencerahan sangat jelas, yaitu ingin mewujudkan kebahagiaan di dunia ini. Pada zaman ini banyak orang sangat yakin bahwa umat manusia dapat mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan tanpa harus menunggu saat-saat berahmat, yaitu kehidupan akhirat kelak. Melainkan, menurut mereka, kesempurnaan dan kebahagiaan itu dapat diperoleh saat ini dan di sini – di dunia.

Saint Just, seorang revolusioner Perancis pernah berkata, “Le Bonheur est une idée neuve en Europe” (Kebahagiaan adalah sebuah gagasan baru di Eropa). Kalimat ini dimaksudkan bahwa kebahagiaan adalah konsep baru – bukan akan terpenuhi di surga, melainkan di Eropa. Kebahagiaan itu sekarang tidak sekadar dinantikan, melainkan diwujudkan dalam kehidupan material dan untuk itu orang menyandarkan diri pada kekuatan rasionya. Rasio merupakan terang baru (maka disebut “pencerahan”) yang menggantikan iman kepercayaan.

Immanuel Kant menggambarkan pencerahan dengan sangat gamblang dalamBeantwortung der Frage: Was ist Aufklärung? (Menjawab Pertanyaan: Apa itu Pencerahan?) (Desember, 1783)

“Pencerahan adalah jalan keluar manusia dari ketidakdewasaan yang disebabkan oleh kesalahannya sendiri. Ketidakdewasaan merupakan ketidakmampuan untuk mempergunakan akalnya tanpa tuntutan orang lain. Ketidakdewasaan ini adalah akibat kesalahannya sendiri, jika penyebab ketidakdewasaan itu tidak terdapat pada kurangnya akal, melainkan pada ketetapan hati dan keberanian untuk mempergunakan akalnya tanpa tuntutan orang lain. Sapere aude! Milikilah keberanian untuk menggunakan akalmu sendiri! Adalah semboyan pencerahan.”

“Pencerahan”, di satu sisi menunjukkan kemajuan peradaban manusia yang semakin berkembang. Namun, di sisi lain, “pencerahan” juga menjadi sebuah tantangan besar bagi kehidupan beragama umat manusia di pelbagai belahan dunia.

II.     Agama Sudah Mati (?)

Lalu, pertanyaan yang dapat kita ajukan bersama adalah

Apakah agama sudah mati dalam dunia modern sekarang ini?

Banyak para ahli berpendapat bahwa “agama-agama akan mati pada waktunya”. Misalnya, August Comte yakin pada teori “Perkembangan Tiga Fase”-nya (teologis-metafisis-saintifik). Ia sangat yakin bahwa perkembangan manusia pada akhirnya akan mencapai tahap saintifik, di mana agama hanya dipandang sebagai sebuah kepercayaan kuno, yang hanya bersandar pada pemikiran-pemikiran yang “tidak masuk akal” (tidak dapat diobservasi). Hal ini adalah suatu keniscayaan yang akan dilalui manusia sebagai konsekuensi dari kemajuan. Demikian pula Emile Durkheim yang percaya bahwa gerak sejarah akan berdampak pada lahirnya sekularisme modern yang akan menggantikan agama. Max Weber juga yakin bahwa proses rasionalisasi akan memperlemah peran agama dalam masyarakat.[3]

Apakah ramalan-ramalan itu benar terbukti saat ini?

(Untuk menjawab pertanyaan ini, maka marilah kita melihat data yang terhimpun selama ini.)

(1)   Di Amerika Serikat, pada tahun 1960-an mulai tampak kehausan spiritualisme dengan ditunjukkan hadirnya kelompok hippies, yang memberontak terhadap kemapanan. Ada yang belajar Yoga dan Hinduisme di India, namun ada pula yang negatif (pemimpin kelompok menekankan ketaatan buta pada pengikutnya – sebuah bentuk peng-kultus-an baru). Alvin Toffler, mencatat ada lebih dari 4.000 organisasi macam itu. Hal ini menunjukkan adanya gejala kecenderungan manusia untuk kembali pada spiritualisme.

(2)   Polling majalah TIME di Amerika beberapa tahun yang lalu, mengungkapkan bahwa lebih banyak orang yang berdoa daripada berolahraga, pergi ke bioskop, ataupun berhubungan seks.

(3)   Di Amerika Serikat dan Eropa, karya-karya Jalaludin Rumi (Sufi Persia Abad 13) sangat digemari bahkan pernah menjadi Best Seller, termasuk digital copy-nya. Dan, dalam beberapa festival di Eropa, puisi-puisi Rumi dideklamasikan.

(4)   Steven Waldman, mantan editor di U.S News & World Report, menyatakan bahwa salah satu kata kunci paling popular pada kebanyakan search enginesadalah “God”.

(5)   Laporan CNN (10 Mei 2000) menyatakan bahwa tahun 2000 merupakan tahun para pelancong spiritual (the year of the spritual traveler). Ribuan orang meninggalkan rumah guna mengunjungi tempat–tempat “suci”. Kota Assisi di Italia, tempat lahir St. Fransiskus, dan Gereja Basilica menjadi salah satu tujuan. Walikota Assisi, Georgio Bartolini, memperkirakan akan hadirnya jutaan pengunjung di Assisi dan Basilica. ”Kita memperkirakan sebanyak 13 juta pengunjung antara Desember 1999 hingga Januari 2001, atau 13.000-15.000 pengunjung setiap hari,” kata Bartolini. Tempat lain yang ramai dijadikan tujuan perjalanan suci (pilgrimage) adalah the Dome of the Rock di Yerusalem, Ayer’s Rock atau Uluru di Australia.

Data di atas[4] telah menunjukkan pada kita, bahwa ternyata apa yang terjadi di dunia kita saat ini (dunia modern) adalah sebuah antitesis akan apa yang diramalkan oleh para pemikir selama ini. ”Agama tidak mati, melainkan justru menunjukkan perkembangannya.” Hal ini telah ditunjukkan pula dengan adanya jajak pendapat yang diadakan oleh BBC dan dipublikasikan pada 20 April 1998. Hasil jajak pendapat tersebut menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat Barat masih membutuhkan agama. Terhadap pertanyaan, “Apakah sekarang ini agama telah menghilang maknanya?”47% responden menjawab “ya” dan 53% responden menjawab “tidak”. Meski masih perlu dipertanyakan apa yang dimaksud dengan “agama” dalam jajak pendapat itu, hal itu menunjukan bahwa kebutuhan manusia terhadap nilai–nilai rohani itu tidak pernah hilang sama sekali.[5]

III.   Agama Modern (di Tengah Globalisasi) (?)

Lalu, pertanyaan selanjutnya yang dapat diajukan adalah

Agama macam apa yang sebenarnya sedang diimani manusia modern saat ini?

Salah satu penanda utama era globalisasi menurut Thomas L. Friedman adalah meleburnya batas-batas: sesuatu yang menjadi karakter pokok era Perang Dingin (Thomas L. Friedman: 2000). Francis Fukuyama kemudian mengeluarkan tesis terkenal tentang akhir sejarah (Francis Fukuyama: 1993). Akhir sejarah yang ditandai dengan kemenangan mutlak demokrasi liberal itu mendapat tantangan serius dari banyak orang, satu di antaranya adalah Samuel P. Huntington. Huntington mengemukakan bahwa akhir sejarah bukan berarti munculnya satu kekuatan tunggal, melainkan justru tempat bersemainya pelbagai kekuatan yang mendasarkan diri pada primordialisme (Samuel P. Huntington: 1996). Fareed Zakaria mempertegas tesis Huntington itu dengan menunjukkan gejala munculnya kekuatan-kekuatan baru di luar Amerika Serikat dan Eropa. Kekuatan-kekuatan baru itu muncul terutama dari kawasan Asia seperti Cina dan India (Fareed Zakaria: 2008). Apa yang dikemukakan oleh Ernest Gellner mengenai the clash of civilisations tampak semakin menjadi nyata. Ada perubahan besar dalam arus peradaban. Ironisnya, kultur primordial menjadi bagian penting dalam perubahan besar tata peradaban dunia tersebut.[6]

Peter Berger pernah bercerita bahwa ia pernah melihat sebuah mobil di Boston yang bertuliskan, “Nietzsche is dead!”. Ini tentunya ingin mengatakan bahwa “doktrin Nietzsche” yang meramalkan “kematian Tuhan” itu telah mati. Memang sejak 1990-an, agama kembali menjadi sorotan publik intelektual setelah sekian lama mati suri “dibunuh” oleh ajaran sekularisasi[7]. Hal ini dipicu oleh munculnya ”Fundamentalisme Islam” di Timur Tengah dan Afganistan, sampai ”Teologi Pembebasan” (Katolik) di Amerika Latin. Gelombang religiously marked social and political movements ini sudah dimulai sejak 1980-an. Sejak era itu, agama-agama di seluruh dunia “keluar dari sarang”: dari ruang privat (private sphere) ke kehidupan publik (public life)—sebuah fenomena yang menyebabkan munculnya “deprivatisasi agama” atau, meminjam istilah Peter Berger (1999), “desekularisasi dunia” dalam kehidupan modern.[8]

Tren beragama yang muncul seperti di atas (dalam era globalisasi sekarang ini) merupakan sesuatu yang lain dari agama sebelumnya. Jonathan Benthall menyebutnya “para-religion”.[9] Agama yang dipinggirkan dan direpresi selalu menemukan cara untuk tampil kembali ke permukaan. Tetapi sesuatu yang telah melalui peminggiran dan represi itu tidak muncul kembali dalam bentuk yang benar-benar sama dengan sebelumnya. Dalam masyarakat sekuler dan modern ini, menurut Benthall, agama tidak pernah benar-benar hilang. Agama saat ini ”diimani” dengan cara yang baru. Yang terjadi adalah masyarakat hanya melakukakan represi terhadap agama. Agama mengendap di bawah permukaan. Teori Sigmund Freud mengenai alam bawah sadar sangat relevan di sini. Dengan kata lain, agama seperti mimpi buruk yang ditekan ke alam bawah sadar sekularisme dan modernisme. Namun, pengalaman-pengalaman yang direpresi itu akhirnya juga mencuat keluar dari alam bawah sadar manusia modern.[10]

Menurut Ulil Abshar-Abdalla, para-religion adalah cara baru presentasi doktrin agama, di mana seolah-olah mengandung karakter agama tradisional tetapi sesungguhnya berbeda. Misalnya di Indonesia kita dapat menemukannya dalam fenomena Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin. Mereka tidak hanya merefleksikan cara beragama tradisional, melainkan di sana ada intervensi yang kuat dari ideologi-ideologi modern: Marxisme, fasisme, green movement, dan lain-lain. Kelompok-kelompok ini bahkan bisa dimasukkan ke dalam bagian dari new-social movements. Wajah yang lebih “lembut” dan lebih inklusif bahkan lintas agama, misalnya, dapat dilihat dalam Gerakan New Ages, dan Gerakan Spiritual India. Ungkapan John Naisbitt mungkin mewakili apa yang sedang terjadi itu: “Sprituality, yes; Organized religion, no”. [11]

IV.   Kebangkitan Agama (?)[12]

Lalu, pertanyaan selanjutnya yang dapat diajukan adalah

Apa yang menyebabkan ‘agama-agama’ ini berkembang seperti sekarang ini?

Menurut Peter L. Berger dalam bukunya The Desecularization of the World (1999), asal-usul kebangkitan agama dapat ditelusuri pada dua ciri ideologi dan pandangan dunia sekular. Ciri ideologi pertama, sekularisme hanya membawa pada ketidakpastian mengenai pertanyaan mendasar tentang kodrat kemanusiaan dan dunia pada umumnya. Mengikuti penalaran ini, sekularisme (yang sejatinya memiliki banyak aliran) bukan hanya tidak berbicara, melainkan juga tidak dapat berbicara, mengenai pertanyaan tentang asal muasal dan tujuan kosmos atau arah hidup manusia. Singkatnya, sekularisme tidak tidak pernah bisa menjawab dua pertanyaan, yaitu (1)Mengapa kita berada di sini?; (2) Apa yang terjadi setelah kita mati?

Ciri ideologi kedua, menurut Berger, dalam hampir seluruh bagiannya, sekularisme adalah ideologi yang dianut sebagian besar kaum elit. Dari sini, ia menyimpulkan bahwa gerakan keagamaan adalah salah satu cara wong cilik (rakyat jelata) untuk menunjukkan frustasi politik terhadap elit yang berkuasa. Ini terjadi di Amerika Serikat maupun di bagian manapun di dunia Islam. Fakta bahwa pada tahun 1960-an ada gerakan sipil di Amerika Serikat dan gerakan politik sayap kanan kontemporer, yang kedua-duanya sama-sama berakar pada Kristianitas Protestan Evangelis, telah memperlihatkan bahwa keduanya merupakan contoh penting perlawanan terhadap sekularisme.

Selain itu, arti penting agama dalam isu-isu Internasional yang semakin mengemuka sejak runtuhnya komunisme di awal 1990-an, tidak bisa dianggap sebagai bersifat temporer. Mark R. Woodward (Guru Besar Antropologi di Arizona State University) berpendapat bahwa kemajuan demokrasi justru meningkatkan pentingnya agama secara sosial dan politik, bukan malah melemahkan peranannya.

Dalam kesimpulannya, Berger berargumen bahwa pada tahun-tahun mendatang, agama akan banyak terlibat dan mempengaruhi masalah-masalah dunia, bahkan dalam perdebatan yang secara eksplisit tidak ada kaitannya dengan isu agama. Ia memaparkan empat jenis isu yang sangat penting. Pertama adalah hubungan antarbangsa. Di sini, Berger menggali tingkatan atau intensitas di mana keruntuhan komunisme  mengubah fokus politik dunia dalam soal perbedaan ideologi dan peradaban. Ia mencatat, secara substansial tetap akan ada sejumlah nasionalisme yang didorong oleh ideologi, tetapi beberapa, tidak semuanya, berakar pada agama.

Kedua adalah mengenai perang dan perdamaian. Di sini Berger tiba pada kesimpulan yang, sayangnya, meskipun benar, menegaskan bahwa agama tidak selalu dapat menjadi kekuatan perdamaian. Ada bukti empiris bahwa perbedaan agama menjadi penyebab konflik bersenjata. Secara umum, apa yang tampak sebagai konflik agama adalah konflik antara kelompok-kelompok agama mengenai hal yang tidak ada kaitannya dengan agama (contohnya, Ambon dan Irlandia Utara). Namun, Berger menyatakan harapannya bahwa penyebaran nilai agama tetap dapat meredam perselisihan di dalam masyarakat yang tercabik oleh konflik.

Ketiga adalah mengenai pembangunan ekonomi. Di sini, Berger mendeskripsikan dirinya sebagai seorang unreconstructed Weberian. Ia merujuk pada tesis yang dirumuskan Weber dalam The Protestant Ethics and the Spirit of Capitalism bahwa rasa ketidakpastian religius yang diinspirasikan oleh ajaran Calvinis bahwa nasib semua jiwa telah ditentukan Tuhan sebelum penciptaan dunia, telah memunculkan pertumbuhan modernitas karena hal itu mendorong hidup hemat, menabung, dan kerja keras. Berger mendapati bahwa etika ini ada pada Protestan Amerika Latin, juga pada gerakan Katolik Roma konservatif Opus Dei, dan gerakan Muslim Indonesia yang tidak disebut namanya (mungkin Muhammadiyah).

Keempat adalah mengenai keadilan sosial hak asasi manusia sebagaimana diingatkan Berger. Konsep ini didefinisikan secara berbeda dalam konteks kultural dan agama yang berbeda. Namun, Berger sayangnya tidak merujuk pada salah satu debat paling penting mengenai konsep ini, yaitu antara mereka yang eksklusif mendefinisikannya atas dasar hak hidup individudan mereka yang berpijak pada hak kolektif (komunal).

Berger akhirnya menyimpulkan keseluruhan argumennya dengan mengatakan bahwa, ”mereka yang mengabaikan agama dalam analisis atas masalah-masalah kontemporer masyarakat akan mendapatkan kerugian besar.

V.    Agama Masa Depan : Agama Publik (?)[13]

Melihat perkembangan agama saat ini, seperti yang telah dilihat oleh Jonathan Benthalldan Peter L. Berger di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa agama saat ini tak dapat dilepaskan dari dunia. Dunia (dan bukan di surga ), tempat agama-agama itu bertumbuh dan berkembang. Agama ikut terlibat dan ikut berjerih payah dalam pergulatan dunia. Di sinilah kita temukan sebuah agama yang tidak hanya berdiam diri di dalam ruang privatnya, melainkan terlibat aktif di ruang-ruang publik, di mana seluruh pihak saling berinteraksi. Dengan demikian, lahirlah sebuah ”agama publik”.

Seiring derasnya arus globalisasi, perkembangan mutakhir agama menunjukkan bahwa kiprah agama di ruang publik menjadi hal yang tidak terelakkan. Geliat agama yang merambah ruang publik, dengan meninggalkan ruang privatnya, lalu mempertanyakan dan menggugat ketidakadilan yang terjadi di dunia (seperti di Spanyol, Polandia, dan Amerika Serikat), harus dilihat sebagai penolakan agama terhadap usaha pengkerdilan. Apapun yang terjadi, agama tidak akan kembali ke tempat semula.

Namun, di sisi lain, ketika agama mengizinkan dirinya diperalat oleh kekuatan politik, ekonomi, dan sosial tertentu, pada saat itu ia akan kehilangan identitas transendennya. Agama menjadi mandul, tidak lagi kritis dan profetis sehingga ia tidak lagi mampu mengemban misinya dalam menjaga koridor moralitas bangsa (umat manusia). Akibatnya, terjadilah ”politisasi agama”, di mana agama menjadi komoditas, sekadar menjadi alat pemberi legitimasi  belaka.

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa agama (publik) memiliki dua sisi mata uang : satu sisi ia dapat menjadi sangat konstruktif (membangun), namun di sisi lain, ia dapat menjadi sangat destruktif (merusak). Dari sini, kita dapat menemukan sifat ambivalensi dari agama (publik) ini. Untuk menyelamatkan agama (publik) itu sendiri, maka kita pun membutuhkan langkah-langkah konkret yang jelas, yang menentukan sejauhmana agama (publik) ini dapat terlibat aktif dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu caranya adalah harus adanya rambu-rambu aturan main terhadap ”deprivatisasi agama” (agama publik) itu sendiri, guna menghindari efek sampingan yang bersifat kontraproduktif. Di sini, tetap dibutuhkan sebuah diferensiasi yang jelas. Hal ini merupakan inti struktural dunia modern. Konsep diferensiasi mengasumsikan pemisahan elemen kehidupan publik: masing-masing entitas publik seperti agama, negara, ekonomi, sains, dan pendidikan, memiliki otonomi dan kelembagaan sendiri.

Meskipun demikian, diferensiasi tidak sama dengan separasi mutlak. Ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Dalam konsep separasai mutlak, agama dimarginalkan ke ranah privat, menjadi kerdil dan terkungkung, sewaktu-waktu dengan amat mudah dimanfaatkan oleh kekuasaan. Berbeda dengan separasi, dalam konsep diferensiasi, agama diberi ruang menyuarakan nurani moralnya di wilayah publik. Peran agama di ranah publik tidak lantas menjadikan agama solusi tunggal dan final, di mana kenyataan sosial dipaksa tunduk padanya. Ketika politik mengizinkan dirinya dikooptasi oleh agama, seketika itu juga ia kehilangan fungsinya yang paling luhur, mengayomi dan memperlakukan warganya secara adil, tanpa diskriminasi. Maka, segala praktek ”subordinasi agama” maupun ”superiorisasi agama”, dengan tegas ditolak, karena menempatkan agama tidak pada tempatnya.

Jadi, dengan penjelasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pertarungan agama di ruang publik bukan lagi pada wacana state level dengan mengambil bentuk negara agama; bukan lagi pada political society level dengan, misalnya, membentuk partai politik agama; melainkan lebih tepat pada wacana civil society, di mana agama mampu menampilkan wajah rekonsiliasi dan menjadi pendorong demokratisasi. Karena itu, sudah sepatutnyalah jika agama-agama dalam hubungan bersama melakukan objektivikasi agama demi melenyapkan pertentangan akibat keberagaman dari isi kepercayaan agama-agama itu. Kehadiran agama dalam ruang publik seharusnya lebih menekankan pada substansi agama bukan pada simbol agama. Apa yang dipercaya, yang diungkapkan melalui pengakuan iman (yang ”subjektif”), mesti diterjemahkan ke dalam kategori-kategori yang objektif pada perilaku etis serta moral yang dapat diterima agama-agama lain.

… Akhir Kata …

”Tuhan belum mati… Agama masih hidup…

agama di tengah-tengah dunia modern kita saat ini adalah

…sebuah agama lama dengan baju baru…”

 

***

DAFTAR PUSTAKA

 

Buku

Hardiman, F. Budi. 2007. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 94-96.

Wibowo, A. Setyo. 2004. Gaya Filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press. hlm. 284.

Majalah

Intan, Benyamin F. 2007. “Wajah ‘Agama Publik’ di Indonesia: Pemetaan Problem dan Peluang Pengembangannya” dalam Reform (Vol. I No. 1, April – Juni 2007), hlm. 6-12.

Woodward, Mark R.. 2007. “Desekularisasi Dunia: Kebangkitan Agama dan Politik Global” dalam Reform (Vol. I No. 1, April – Juni 2007), hlm. 80-82.

Paper Kuliah

Kustanto, J.B. Hari. 2009. “Sekularisasi” (Paper Kuliah Sosiologi Agama). Jakarta: STF Driyarkara. hlm. 1.

Internet

Al Qurtuby, Sumanto. 2009. “Dari Sekularisme ke Politisasi Agama” dalam http://www.nuusacanada.org/, diakses pada Rabu, 25 November 2009, pkl. 10.05 WIB.

Bagir, Haidar. 2009. “Manusia Modern Mendamba Allah” dalam http://www.yasminberbeku.org, diakses pada hari Minggu, 29 November 2009, pkl. 20.47 WIB.

Saidiman. 2009. “Agama Lama dengan Baju Baru” dalam

  http://islamlib.com/id/artikel/agamalama-dengan-baju-baru/,   diakses pada Selasa, 24 November 2009, pkl. 08.39 WIB.


[1] Bdk. A. Setyo Wibowo, 2004, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, hlm. 284.

[2] Bdk. F. Budi Hardiman, 2007, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, hlm. 94-96.

[3] Bdk. J.B. Hari Kustanto, 2009, “Sekularisasi” (Paper Kuliah Sosiologi Agama), Jakarta: STF Driyarkara, hlm. 1.

[4] Bdk. Haidar Bagir, 2009, “Manusia Modern Mendamba Allah” dalam http://www.yasmin-barbeku.org, diakses pada Hari Minggu, 29 November 2009, pkl. 20.47 WIB.

[5] Ibid.

[6] Saidiman, 2009, “Agama Lama dengan Baju Baru” dalamhttp://islamlib.com/id/artikel/agama-lama-dengan-baju-baru/, diakses pada Selasa, 24 November 2009, pkl. 08.39 WIB.

[7] Perdebatan hangat mengenai istilah “sekularisasi” tidak akan pernah selesai. “Sekularisasi” menurut Larry Shiner dibedakan menjadi 6 point: (1) Kemerosotan Agama;(2) Persesuaian dengan “dunia ini”; (3) Pembebasan Masyarakat dari Agama; (4)Perubahan posisi keyakinan-keyakinan dan pranata-pranata keagamaan, yang dilihat sebagai fenomena samata-mata tanggungjawab manusia belaka; (5) Desakralisasi Dunia;(6) Perubahan dari Masyarakat Suci ke Masyarakat Sekular. (Bdk. J.B. Hari Kustanto, 2009, “Sekularisasi” (Paper Kuliah Sosiologi Agama), Jakarta: STF Driyarkara, hlm. 1)

[8] Sumanto Al Qurtuby, 2009, “Dari Sekularisme ke Politisasi Agama” dalamhttp://www.nu-usacanada.org/, diakses pada Rabu, 25 November 2009, pkl. 10.05 WIB.

[9] Saidiman, 2009, “Agama Lama dengan Baju Baru” dalamhttp://islamlib.com/id/artikel/agama-lama-dengan-baju-baru/, diakses pada Selasa, 24 November 2009, pkl. 08.39 WIB.

[10] Saidiman, 2009, “Agama Lama dengan Baju Baru” dalamhttp://islamlib.com/id/artikel/agama-lama-dengan-baju-baru/, diakses pada Selasa, 24 November 2009, pkl. 08.39 WIB.

[11] Ibid.

[12] Mark R. Woodward, 2007, “Desekularisasi Dunia: Kebangkitan Agama dan Politik Global” dalam Reform (Vol. I No. 1, April – Juni 2007), hlm. 80-82.

[13] Bdk. Benyamin F. Intan, “Wajah ‘Agama Publik’ di Indonesia: Pemetaan Problem dan Peluang Pengembangannya” dalam Reform (Vol. I No. 1, April – Juni 2007), hlm. 6-12.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s