Tanyalah Hati Kecilmu : Wajah-Wajah Islam di Indonesia

al quran

TANYALAH HATI KECILMU :

WAJAH-WAJAH ISLAM DI INDONESIA[1]

 

Nabi Muhammad Saw pernah berkata

kepada seorang Arab Badawi mengenai Islam.

Ia tidak menerangkan panjang lebar,

kecuali berpesan, “Tanyalah hati kecilmu.”

(Bdk. Budhy Munawar-Rachman, Catatan Perkuliahan, 2009)

 

Mukadimah

“Cobalah gambarkan Wajah Islam di Indonesia!”

Saya membayangkan jika Nabi Muhammad Saw saat ini berada di sini (Indonesia), mungkin beliau juga akan mengatakan hal yang sama, seperti yang dikatakannya pada orang Arab Badawi itu, “Tanyalah hati kecilmu.

Tulisan sederhana ini hanya ingin mengungkapkan jawaban-jawaban sederhana yang ditanyakan pada hati kecil setiap orang mengenai Islam, khususnya di Indonesia. Jawaban yang sederhana ini semoga memberi sedikit kesegaran atas dahaga keingintahuan mengenai Islam di Indonesia.

Islam di Indonesia sudah sangat mengakar kuat merasuk dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, baik sebagai agama maupun tradisi. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa Islam bukan hanya kepercayaan tapi merupakan cara hidup. Corak Islam yang sejuk, ramah, dan mampu berdialog dengan tradisi dan budaya lokal adalah salah satu alasan mengapa Islam dapat berkembang terus di bumi Nusantara. Beberapa studi menunjukkan, bahwa Islam sufistik yang mampu menyapa dominasi mistik yang banyak dianut masyarakat dengan strategi dan pola penyampaian yang akrab di kalangan mereka adalah Islam yang datang pertama kali di Nusantara. Sejarawan Merle Ricklefs menyebutnya sebagai agama sintesis mistik (mistic syntetism). Dengan demikian, masyarakat Nusantara dapat menerimanya tanpa suatu resistensi berarti.[2] Islam yang mau terbuka dan ”merasuk” dalam kehidupan lokal masyarakat merupakan ciri utama dan pertama yang menjadikan Islam begitu diterima di Indonesia.

Dalam perjalanannya, Islam di Indonesia terus berproses, membentuk diri, dan berusaha menemukan wajahnya. Kini, dalam kesempatan kali ini, penulis pun akan berusaha berproses dan menemukan kembali wajah Islam di Indonesia yang seringkali disalahpahami dengan menanyakannya kembali dalam hati kecil yang terdalam. Dan, jawaban sederhananya terpaparkan sebagai berikut :

I. Jejak-Jejak Islam di Indonesia[3]

Islam berkembang lewat perantaraan bahasa Arab. Kontak antara Islam dengan kepulauan nusantara sebagian besar berlangsung di wilayah pesisir pantai. Utamanya lewat proses perdagangan antara penduduk lokal dengan para pedagang bangsa Persia, Arab, dan India Gujarat. Kontak-kontak ini, pada perkembangannya, memunculkan proses akulturisasi budaya. Islam kemudian muncul sebagai “competing culture” Hindu-Buddha.

M.C. Ricklefs dari Australian National University menyebutkan 2 proses masuknya Islam ke nusantara. Pertama, penduduk pribumi mengalami kontak dengan agama Islam dan kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang asing (Arab, India, Cina) yang telah memeluk agama Islam tinggal secara tetap di suatu wilayah Indonesia, kawin dengan penduduk asli, dan mengikuti gaya hidup lokal sedemikian rupa sehingga mereka sudah menjadi orang Jawa, Melayu, atau suku lainnya.

Teori lain seputar masuknya Islam dari Timur Tengah ke nusantara diajukan Supartono Widyosiswoyo. Menurutnya, penetrasi tersebut dapat dibagi ke dalam 3 gelombang yaitu : Jalur Utara, Jalur Tengah, dan Jalur Selatan. Ketiga gelombang ini didasarkan pada pangkal wilayah persebaran Islam yang memasuki Indonesia.

Jalur Utara adalah proses masuknya Islam dari Persia dan Mesopotamia. Dari sana, Islam beranjak ke timur lewat jalur darat Afganistan, Pakistan, Gujarat, lalu menempuh jalur laut menuju Indonesia. Lewat Jalur Utara ini, Islam tampil dalam bentuk barunya yaitu aliran Tasawuf. Dalam aliran ini, Islam dikombinasikan dengan penguatan pengalaman personal dalam pendekatan diri terhadap Tuhan. Aliran inilah yang secara cepat masuk dan melakukan penetrasi penganut baru Islam di nusantara. Aceh merupakah salah satu basis persebaran Islam Jalur Utara.

Jalur Tengah adalah proses masuknya Islam dari bagian barat lembah Sungai Yordan dan bagian timur semenanjung Arabia (Hadramaut). Dari sini Islam menyebar dalam bentuknya yang relatif asli, di antaranya adalah aliran Wahabi. Pengaruhnya cukup kuat dirasakan di wilayah Sumatera Barat. Ini dapat terjadi karena perjalanan laut dari Hadramaut dapat langsung sampai ke pantai barat pulau Sumatera.

Jalur Selatan pangkalnya adalah di wilayah Mesir. Saat itu Kairo merupakan pusat penyiaran agama Islam yang modern dan Indonesia memperoleh pengaruh tertama dalam organisasi keagamaan yang disebut Muhammadiyah. Kegiatan lewat jalur ini terutama pendidikan, dakwah, dan penentangan bid’ah.

Petunjuk tegas pertama seputar munculnya Islam di nusantara adalah ditemukannya nisan Sultan Sulaiman bin Abdullah bin al-Basir yang wafat tahun 608H atau 1211 M, di pemakaman Lamreh, Sumatera bagian Utara. Nisan ini sekaligus menunjukkan adanya kerajaan Islam pertama di nusantara. Mazhab yang berkembang di wilayah Sumatera bagian Utara awal perkembangan Islam ini, menurut Ibnu Battuta (musafir Maroko) adalah Syafi’i.

Semakin signifikannya pengaruh Islam di nusantara adalah dengan berdirinya sejumlah kerajaan. Jean Gelman-Taylor mencatat di Ternate (Maluku) penguasanya melakukan konversi ke Islam tahun 1460.4 Di Demak, penguasanya mendirikan kota muslim tahun 1470, sementara kota-kota pelabuhan di sekitarnya seperti Tuban, Gresik, dan Cirebon menyusul pada tahun 1500-an. Sekitar tahun 1515 pelabuhan Aceh memiliki penguasa Islam, disusul Madura pada 1528, Gorontalo 1525, Butung 1542. Tahun 1605 penguasa Luwuk, Tallo, dan Gowa (Sulawesi Selatan) masuk Islam dan 1611 semenanjung Sulawesi Selatan telah dikuasai penguasa Islam. Pada perkembangannya, terjadi proses saling pengaruh antara Islam yang sudah berakulturisasi dengan budaya lokal dengan Islam yang masuk dari wilayah Timur Tengah. Ini terutama semakin mengemuka di saat berkuasanya rezim Ibnu Saud yang menggunakan Wahhabi sebagai paham keislamannya.

II. Isu Gender dalam Islam[4]

Setelah melihat sekilas masuknya Islam ke Indonesia, pada bagian ini, penulis akan masuk dalam sebuah isu yang tidak akan pernah habis untuk dibicarakan, yaitu isu gender dalam Islam – sebuah isu yang sangat menarik dan membawa banyak perdebatan dalam dunia Islam. Namun, isu gender ini tidak hanya luas dibicarakan dalam agama Islam saja, melainkan dalam agama-agama Abrahamistik lainnya (Yahudi dan Kristen), isu gender juga selalu menjadi wacana yang menarik dan terus diangkat.

Istilah gender itu sendiri mulai disosialisasikan oleh kelompok feminis di London sebagai konsep sosiologi sejak paruh kedua abad ke-20, tepatnya tahun 1977. Kata ”gender” memiliki arti lebih luas daripada sekadar ”seks” atau ”jenis kelamin” (yang seringkali digunakan dalam penggunaan Bahasa Indonesia), melainkan lebih suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Hal ini seringkali menimbulkan ketidakadilan gender yang terus meluas dan menyelimuti hampir semua kelompok perempuan. Menurut Siti Musdah Mulia, setidaknya ada 3 faktor yang seringkali menjadi penyebab ketidakadilan ini. Pertama, dominasi budaya patriarkal. Kedua, interpretasi ajaran agama yang sangat didominasi pandangan yang bias gender dan bias nilai-nilai patriarkal. Ketiga, hegemoni negara yang begitu dominan. Lalu, sebagai solusinya ada 2 hal yang ditawarkan. Pertama, melakukan counter ideology (ideologi tandingan). Hal ini dilakukan dengan membongkar seluruh akar budaya, termasuk akar-akar teologis yang menjadi alat legitimasi untuk mengesahkan semua bentuk dominasi terhadap perempuan. Kedua, melakukan counter hegemony. Hal ini perlu dilakukan mengingat bahwa pelbagai kebijakan hukum yang ada sangat bias nilai-nilai patriarkal dan bias ideologi gender.

Dalam pembahasan selanjutnya, penulis akan lebih fokus masuk dalam teologi (ajaran) Islam berkaitan dengan isu-isu gender yang berkembang luas saat ini, khususnya mengenai kesetaraan gender dalam perspektif Islam.

Pembahasan gender akan dimulai dengan tauhid. Tauhid adalah inti ajaran Islam yang mengajarkan bagaimana berketuhanan, dan juga menuntun manusia bagaimana berkemanusiaan dengan benar. Dari pandangan ini, maka tampak bahwa ada aspek horizontal dan vertikal yang ditekankan. Namun, sayangnya aspek horizontal (hubungan dengan sesama dan lingkungan sekitar) ini seringkali tidak dapat diwujudkan dengan baik. Jika kembali ke dalam ajaran tauhid, tauhid itu membawa  keharusan bagi manusia untuk menghormati sesama manusia tanpa melihat jenis kelamin, gender, ras, suku bangsa, dan bahkan agama. Semua manusia adalah sama dan berasal dari sumber yang satu, yaitu Allah. Yang membedakan hanyalah prestasi dan kualitas takwanya di hadapan Allah. Dan berbicara mengenai ketakwaan, hanya Allah sematalah yang berhak melakukan penilaian.

Kaum perempuan di masa Rasullulah digambarkan sebagai perempuan yang aktif, sopan, dan terpelihara akhlaknya. Bahkan, dalam Al-Quran, figur ideal seorang muslimah disimbolkan sebagai pribadi yang memiliki kemandirian dalam berbagai bidang kehidupan. Di antaranya, (a) Kemandirian dalam bidang politik, seperti figur Ratu Bulqis yang memimpin kerajaan superpower (’arsyun ’azhim) (QS. al-Naml, 27:23). (b) Kemandirian dalam bidang ekonomi, seperti figur perempuan pengelola peternakan dalam kisah Nabi Musa di Madyan (QS. al-Qashash, 28:23). (c) Kemandirian dalam menentukan pilihan pribadi, al-istiqlal al-syakhshi yang diyakini kebenarannya, sekalipun berhadapan dengan suami bagi perempuan yang sudah menikah (QS. al-Tahrim, 66:11) atau keberanian menentang pendapat orang banyak (QS. al-Tahrim, 66:12).

Lalu, pertanyaannya, ”Mengapa dalam Islam muncul pemahaman yang bias gender?” Paling tidak ada 3 alasan, menurut Siti Musdah Mulia. Pertama, pada umumnya pengetahuan umat Islam mengenai ajaran agamanya sangat terbatas, terutama ajaran agama yang berkaitan dengan posisi dan kedudukan perempuan. Selain itu, mereka lebih memahami agama secara dogmatis, bukan berdasarkan penalaran yang kritis. Kedua, pengetahuan keagamaan masyarakat umumnya diperoleh melalui ceramah yang disampaikan oleh para ulama yang mayoritas laki-laki, bukan berdasarkan kajian yang mendalam terhadap sumber-sumber aslinya. Ketiga, tidak banyak yang memahami mana ajaran Islam yang dasar (absolut, tidak berubah) dan mana yang non-dasar (relatif, tidak abadi, dan bisa berubah seiring perjalanan waktu). Yang pertama, datang dari Allah dan Rasul-Nya seperti terbaca dalam Al-Quran dan Sunnah mutawir. Adapun ajaran yang kedua merupakan interpretasi atau hasil ijtihad atau disebut juga hasil rekayasa pemikiran ulama.

Dalam konteks ini, sebagian besar ajaran Islam yang menyinggung soal relasi gender, seperti perkawinan, pewarisan, busana perempuan, dan kepemimpinan perempuan masuk dalam kategori ajaran yang non-dasar, yakni lebih bersifat ijtihadi. Untuk itu, diperlukan pembacaan ulang dan dekonstruksi atas penafsiran lama yang dinilai bias gender dan bias nilai-nilai patriarki. Penafsiran baru atas teks-teks keagamaan mendesak dilakukan untuk menemukan kembali pesan-pesan ke-Islam-an yang universal, seperti persamaan, persaudaraan, kebebasan, kesetaraan, dan keadilan, termasuk di dalamnya kesetaraan dan keadilan gender.

Akhirnya, Ibn ’Arabi pun pernah berkata bahwa untuk menjadi sufi sejati, seseorang harus menjadi perempuan lebih dulu. Allah memiliki sifat maskulin (jalaliyyah) dan sifat feminin (jamaliyyah). Sifat feminin Allah ternyata lebih banyak lima kali daripada sifat maskulinnya (dalam al-Asma al-Husna). Sifat feminin ini pulalah yang seyogyanya membawa kaum perempuan menjadi lebih manusiawi. Poin terpenting dari ungkapan Ibn ’Arabi bahwa manusia ideal itu adalah manusia yang dalam dirinya unsur maskulinitas dan feminitas bertumbuh, secara seimbang, mengikuti gambaran ilahi yang tak terbatas.

III. Nafas Islami dalam Budaya Indonesia (Tantangan dan Solusi)[5]

Gus Dur mengatakan bahwa “Islam masuk ke Indonesia sebagai budaya dan bergerak sebagai budaya.” Kebudayaan Indonesia banyak terpengaruh oleh hadirnya berbagai macam agama yang datang ke Indonesia, khususnya agama Islam (yang sudah menjadi keyakinan mayoritas masyarakat Indonesia). Dalam aspek-aspek tertentu, budaya dan ajaran agama seringkali tumpang tindih. Ini terlihat dari upacara-upacara keagamaan di pelbagai daerah di Indonesia, dan juga dari bentuk dan corak sastra atau keseniannya, serta dalam pelbagai kearifan lokal.

Misalnya, di Jawa ada lebaran ketupat yang diadakan seminggu sesudah Idul Fitri, diangkat dari tradisi pemujaan Dewi Sri. Di Madura, peringatan Maulid Nabi dirayakan lebih meriah dibanding Idul Adha. Adat menyembelih kerbau, satu hari menjelang Idul Adha, di Aceh lebih meriah disbanding Idul Adha itu sendiri. Memasang dan memukul bedug menjelang salat hanya kebiasaan di kepulauan Nusantara, tetapi tidak berlaku di Iran atau Arab Saudi. Di Jawa Barat, Hikayat Amir Hamzah (Serat Menak) boleh disajikan dalam pertunjukan wayang golek, sedangkan dalam masyarakat Melayu hanya boleh dituturkan oleh beberapa tukang cerita secara bergilir dalam sebuah majlis sastra. Membuat gambar buraq tidak lazim dan tidak diterima di lingkungan masyarakat Muslim Betawi, tetapi lazim dan diterima di lingkungan masyarakat Muslim Madura.

Mengenai masalah agama dan budaya, seringkali kalangan Muslim sendiri belum jelas benar. Ketidakjelasan ini berpengaruh terhadap penilaian mengenai absah tidaknya ungkapan budaya Indonesia dengan nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam. Ada yang dapat membedakan, mana yang budaya dan mana yang agama. Namun, tidak sedikit pula yang mencampuradukkannya. Padahal, sementara agama bernilai mutlak, kebudayaan bersifat nisbi, tergantung pada ruang dan waktu. Maka, di sini penting untuk membicarakan kaitan tradisi dan inovasi. Tradisi tidak mungkin berkembang tanpa inovasi, dan inovasi tidak mungkin dilakukan tanpa ada tradisi yang hendak diperbarui.

Menurut Nurcholish Madjid, dalam banyak fase sejarah pemikiran dan kebudayaan Islam di Indonesia, tidak lain adalah kecenderungan memutlakkan sesuatu yang nisbi, walaupun yang nisbi itu memiliki arti penting ditinjau dari sudut pandang budaya dan sejarah. Padahal, tidak sedikit dari bentuk-bentuk dan jelmaan-jelmaan budaya itu sebenarnya tidak lebih dari hasil interaksi dan dialog Islam dengan keadaan-keadaan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu yang tuntutannya berbeda-beda. Jika umat Muslim sadar dan memahami ini dengan baik, maka perubahan dan pembaruan yang bermakna dalam transformasi budaya, nilai-nilai, dan pandangan hidup kaum Muslim di Indonesia dapat berjalan dengan baik, mulus, kreatif, dan tepat sasaran.

IV. Pendidikan Islam di Indonesia (Tradisional – Modern)[6] 

Pendidikan – baik formal maupun non-formal – selalu mengambil peranan penting dalam pembangunan dan pengembangan peradaban manusia. Membicarakan pendidikan berarti membicarakan mengenai diri manusia itu sendiri sebagai makhluk Tuhan yang dipersiapkan untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi dalam rangka mengabdi-Nya.

Pendidikan Islam selalu dikaitkan dengan konsepsi manusia yang dari sejak awal kejadiannya sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna, dibekali oleh potensi hidayah akal dan ilmu. Problematika pendidikan Islam yang muncul selalu serumit persoalan manusia itu sendiri.[7] Problem pendidikan Islam mulai pengertian pendidikan, tujuan, materi dan strategi pendidikan-pengajarannya hingga lembaga penyelenggara pendidikan Islam, yang muncul dari masa ke masa, dikaji dan dicari jawabannya selalu berkembang dan melahirkan pemikiran penting seiring dengan perkembangan zaman, peradaban dan produk-produknya, khususnya hasil ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat berpengaruh bagi eksistensi masyarakatnya.

Pendidikan Islam dan eksistensinya sebagai komponen pembangunan bangsa, khususnya di Indonesia, memainkan peran yang sangat besar dan ini berlangsung sejak jauh sebelum kemerdekaan Bangsa Indonesia. Hal ini dapat dilihat praktik pendidikan Islam yang diselenggarakan oleh umat Islam melalui lembaga-lembaga pendidikan tradisional seperti majelis taklim. Forum pengajian, surau, masjid, dan pesantren-pesantren yang berkembang subur dan eksis hingga sekarang. Bahkan setelah kemerdekaan penyelenggaraan pendidikan Islam semakin memperoleh pengakuan dan payung yuridisnya dengan adanya berbagai produk perundang-undangan tentang pendidikan nasional. Dan, sekarang banyak bentuk pendidikan Islam modern yang bermunculan, yang tampak dari berbagai tingkat pendidikan, dari level dasar hingga jenjang perguruan tinggi, dan tidak jarang juga yang memberi lebel “International”.

Namun meskipun demikian, Pendidikan Islam hingga kini boleh dikatakan masih saja berada dalam posisi problematik antara ‘determinisme historis’ dan ‘realisme praktis’. Di satu sisi pendidikan Islam belum sepenuhnya bisa keluar dari idealisme kejayaan pemikiran dan peradaban Islam masa lampau yang hegemonik; sementara di sisi lain, ia juga ‘dipaksa’ untuk mau menerima tuntutan-tuntutan masa kini, khususnya yang datang dari Barat, dengan orientasi yang sangat praktis. Dalam dataran historis empiris, kenyataan tersebut acap kali menimbulkan dualisme dan polarisasi sistem pendidikan di tengah-tengah masyarakat muslim sehingga agenda transfomasi sosial yang digulirkan seakan berfungsi hanya sekedar ‘tambal sulam’ saja.

Dengan berbagai persoalan dan kesenjangan dalam berbagai aspek yang lebih kompleks, antara lain: berupa persoalan dikotomi pendidikan, kurikulum, tujuan, sumber daya, serta manajemen; Pendidikan Islam di Indonesia hendaknya berupaya melakukan pembaharuan secara mendasar. Sistem pendidikan Islam haruslah senantiasa mengorientasi diri untuk menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul dalam masyarakat sebagai konsekuensi logis dari perubahan[8]. Maka, hal ini perlu diperjuangkan bersama-sama oleh kaum muslim itu sendiri dengan mengadakan pola kerjasama yang sinergis antarkalangan dan golongan masyarakat dalam “dunia Islam” di Indonesia – pendidikan “tradisional” dan “modern” perlu dipertemukan dan mencari bentuk baru yang cocok bagi Indonesia. “Pertemuan” dua tradisi yang berbeda ini bukanlah sebuah bentuk penghilangan “eksistensi” keduanya dan berusaha melebur menjadi satu membentuk suatu substansi yang baru, melainkan lebih mencoba mempertemukan spirit di antara keduanya dan saling melengkapi satu sama lain, sehingga pendidikan Islam yang seimbang (tradisional – modern) dan komprehensif, dapat dinikmati kalangan Muslim di Indonesia. Dengan begitu, transformasi perubahan masyarakat Muslim Indonesia yang lebih maju dan “seimbang” dapat dirasakan dengan nyata.

V. Peranan Islam di Bidang Politik Indonesia[9] 

Umat Islam Indonesia secara garis besar terbagi dalam dua kelompok: Pertama, mereka yang mengaku beragama Islam tetapi dalam berpolitik lebih memilih ideologi lain, seperti pluralisme, liberalisme, nasionalisme, sosialisme, atau komunisme. Kelompok pertama menolak campur tangan agama dalam kehidupan politik. Kedua, mereka yang berpemikiran Islam sebagai ideologi politik, artinya dalam kehidupan politik mereka menjadikan ajaran Islam sebagai dasar dalam perjuangan politik.

Kelompok pertama sebenarnya dapat dipilah lagi dalam beberapa kategori. Pertama, yang menolak sama sekali Islam, bahkan cenderung anti terhadap politik Islam. Kelompok ini berpikiran bahwa agama tidak bisa menyelesaikan urusan dunia, maka sebaiknya tidak dibawa-bawa dalam politik. Kedua, yang mengakui ajaran Islam sebagai etika berperilaku tetapi tidak setuju bila menjadi ideologi politik. Kelompok ini cenderung netral terhadap Islam. Ada juga kelompok yang mengidentikkan Islam dengan ideologi lain, seperti menyamakan Islam dengan ideologi lain, seperti menyamakan Islam dengan ideologi komunisme atau sosialisme.

Kelompok kedua, yang berideologi Islam juga dapat dipilah lagi. Pertama, yang memperjuangkan Islam menjadi ideologi negara secara formal (formal syariah). Kelompok ini berupaya agar ajaran Islam bisa menjadi dasar hukum dan ideologi negara yang ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar. Kedua, yang ingin memperjuangkan nilai-nilai Islam tanpa harus terikat simbol-simbol Islam (silent syariah). Kelompok ini tidak terlalu mempersoalkan apakah negara harus berdasar Islam atau bukan, tetapi yang lebih penting adalah bagaiman praktik kehidupan bernegara dapat diwarnai oleh nilai-nilai Islam.

Memperjuangkan ideologi Islam secara formal di Indonesia bukanlah hal yang sangat mudah. Contoh yang dapat kita lihat bersama, yaitu (a) gagalnya Piagam Jakarta, dan (b) gagalnya memperjuangkan syariat Islam dalam Sidang Konstituante hasil Pemilu 1955, yang diakhiri dengan Dekrit Presiden Soekarno pada tanggal 5 Juli 1959, dan dapat dikatakan bahwa perjuangan melalui konstituante tidak mungkin dilakukan lagi. Dan, satu-satunya cara demokratis yang dapat ditempuh adalah memenangkan pemilu secara mayoritas mutlak, dan itu pun tampaknya tidak mungkin. Oleh karena itu muncullah kelompok baru yang ingin memperjuangkan Islam tidak melalui jalur formal dalam ideologi negara, tetapi bagaimana aturan-aturan dalam praktik kehidupan bernegara diarahkan kepada nilai-nilai yang sejalan dengan Islam.

Gagasan silent syariah justru mendapatkan momentumnya pada saat Rezim Orde Baru memberlakukan asas tunggal Pancasila bagi seluruh organisasi politik dan kemasyarakatan pada tahun 1984. Pemberlakuan asas tunggal Pancasila secara mendasar telah mematikan gerakan perjuangan formal syariah, bahkan lebih jauh dari itu mematikan gerakan Islam dalam arti yang lebih luas. Namun, keadaan ini tidak mematikan semangat memperjuangkan Islam. Gagasan silent syariah memacu umat Islam untuk mengkaji kembali pemikiran-pemikiran Islam dalam berbagai bidang kehidupan, baik politik, hukum, sosial, ekonomi, kesehatan, dan lain sebagainya. Silent syariah ingin menampilkan Islam dalam wajahnya yang lebih universal sehingga bisa menjadi ajaran ’rahmatan lil alamin’ yang bisa diterima oleh siapa saja meskipun bukan seorang muslim. Salah satu keberhasilan strategi gagasan silent syariah adalah mulai diterimanya gagasan-gagasan Islam secara rasional dalam berbagai bidang kehidupan tanpa terjebak dalam sentimen keagamaan. Yang paling menonjol terutama dalam bidang ekonomi, dimana pemikiran tentang ekonomi syariah semakin banyak mendapat pengakuan bahkan oleh mereka yang bukan muslim.

Ketika reformasi bergulir dan berhasil menjatuhkan rezim Orde Baru, kran kebebasan politik semakin terbuka lebar, dan berbagai kelompok Islam dari yang paling kanan sampai yang paling kiri bermunculan dipermukaan. Dengan demikian, bermunculan pulalah gerakan-gerakan penegakan syariat Islam secara formal dengan ditandai dengan munculnya partai-partai berlabel dan berbasis Islam. Namun, lagi-lagi hal ini tidak mudah diterima oleh khayalak luas, khususnya kalangan Islam sendiri. Misalnya, gagalnya memasukkan kembali tujuh kata dalam Piagam Jakarta ke dalam Pasal 29 UUD 1945 pada Sidang Tahunan MPR 2002 yang membahas mengenai amandemen UUD 1945. Sedangkan, gagasan silent syariah relatif lebih mudah diterima dan mendapat dukungan mayoritas umat Islam serta tidak terlalu menimbulkan dampak sentimen keagamaan yang berlebihan. Misalnya, perdebatan RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) khususnya pasal 13 tentang hak mendapatkan pendidikan agama. Nampaknya, RUU ini mendapatkan dukungan kuat dari kalangan Islam, serta mendapat dukungan dari partai-partai plural, seperti PAN dan GOLKAR, walaupun praktis hanya kalangan Kristen dan Katholik yang tidak sepakat dan sebagian kaum sekuler yang memang tidak setuju pendidikan agama masuk dalam kurikulum pendidikan nasional. Namun, keadaan ini menunjukkan bahwa persoalan-persoalan yang lebih bersifat silent syariah, sikap kalangan Islam relatif sama dan saling mendukung, bahkan bisa meluas pada sebagian kalangan non-muslim. Dengan demikian, untuk ke depannya prospek demokrasi Islam di Indonesia akan lebih kondusif dan berkembang jika gagasan silent syariah yang lebih dikedepankan daripada gagasan formal syariah.

VI. Peranan Islam di Bidang Ekonomi Indonesia

Dalam ekonomi Islam etika agama kuat sekali melandasi hukum-hukumnya. Artinya bahwa etika sebagai ajaran baik-buruk, benar-salah, atau ajaran tentang moral, khususnya dalam perilaku dan tindakan-tindakan ekonomi, bersumber terutama dari ajaran agama (Islam). Etika ekonomi Islam termuat dalam lebih dari seperlima ayat-ayat yang dimuat dalam al-Quran.

Jika Kapitalisme menonjolkan sifat individualisme dari manusia, maka Islam menekankan empat sifat sekaligus yaitu : (1) Kesatuan; (2) Keseimbangan; (3) Kebebasan; dan (4) Tanggungjawab. Manusia sebagai wakil (kalifah)Tuhan di dunia tidak mungkin bersifat individualistik karena semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah milik Allah semata, dan manusia adalah kepercayaan-Nya di bumi.

Sistem ekonomi Islam berbeda dari Kapitalisme, Sosialisme, maupun Negara Kesejahteraan (Welfare State).  (a) Berbeda dari Kapitalisme karena Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Kecelakaanlah bagi setiap orang yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Orang miskin dalam Islam tidak dihujat sebagai kelompok yang malas dan yang tidak suka menabung atau berinvestasi. Ajaran Islam yang paling nyata menjunjung tinggi upaya pemerataan untuk mewujudkan keadilan sosial, jangan sampai kekayaan hanya berputar di kalangan orang-orang kaya saja.

(b) Disejajarkan dengan Sosialisme, Islam berbeda dalam hal kekuasaan Negara, yang dalam Sosialisme sangat kuat dan menentukan. Kebebasan perorangan yang dinilai tinggi dalam Islam jelas bertentangan dengan ajaran Sosialisme.

(c) Akhirnya, ajaran Ekonomi Kesejahteraan (Welfare State) yang berada di tengah-tengah antara Kapitalisme dan Sosialisme memang lebih dekat ke ajaran Islam. Bedanya hanyalah bahwa dalam Islam etika benar-benar dijadikan pedoman perilaku ekonomi, sedangkan dalam Welfare State tidak demikian, karena etika Welfare State adalah sekuler yang tidak mengarahkan pada integrasi vertikal antara aspirasi materi dan spiritual. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam Islam pemenuhan kebutuhan materiil dan spiritual benar-benar dijaga keseimbangannya, dan pengaturaan oleh negara, meskipun ada, tidak akan bersifat otoriter.

Selain itu, karena etika dijadikan pedoman dalam kegiatan ekonomi dan bisnis, maka etika bisnis menurut ajaran Islam juga dapat digali langsung dari al-Quran dan Hadist Nabi. Misalnya, karena adanya larangan riba, maka pemilik modal selalu terlibat langsung dan bertanggung jawab terhadap jalannya perusahaan miliknya, bahkan terhadap buruh yang dipekerjakannya. Perusahaan dalam sistem ekonomi Islam adalah perusahaan keluarga bukan Perseroan Terbatas (PT) yang pemegang sahamnya dapat menyerahkan pengelolaan perusahaan begitu saja pada direktur atau manajer yang digaji. Memang dalam sistem yang demikian tidak ada perusahaan yang menjadi sangat besar, seperti di dunia kapitalis Barat, tetapi juga tidak ada perusahaan yang tiba-tiba bangkrut atau dibangkrutkan.

Etika Bisnis Islam menjunjung tinggi semangat saling percaya, kejujuran, dan keadilan, sedangkan antara pemilik perusahaan dan karyawan berkembang semangat kekeluargaan (sisterhood[10]). Misalnya, dalam perusahaan yang Islami gaji karyawan dapat diturunkan jika perusahaan benar-benar merugi dan karyawan juga mendapat bonus jika keuntungan perusahaan meningkat. Buruh muda yang masih tinggal bersama orang tua dapat dibayar lebih rendah, sedangkan yang sudah berkeluarga dan punya anak dapat dibayar lebih tinggi dibanding rekan-rekannya yang muda.

Sistem Ekonomi Islam yang dijiwai ajaran-ajaran agama Islam memang dapat diamati berjalan dalam masyarakat-masyarakat kecil di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, dalam perekonomian yang sudah mengglobal dengan persaingan terbuka, bisnis Islam sering terpaksa menerapkan praktek-praktek bisnis yang non-Islami. Misalnya, perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas yang memisahkan kepemilikan dan pengelolaan, dalam proses meningkatkan modal melalui pasar modal (Bursa Efek), sering terpaksa menerima asas-asas sistem kapitalisme yang tidak Islami.

Di Indonesia, meskipun Islam merupakan agama mayoritas, sistem ekonomi Islam secara penuh sulit diterapkan. Namun, Sistem Ekonomi Pancasila yang dapat mencakup warga non-Islam kiranya dapat dikembangkan. Merujuk sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, Sistem Ekonomi Pancasila menekankan pada moral Pancasila yang menjunjung tinggi asas keadilan ekonomi,  seperti halnya sistem ekonomi Islam. Tujuan Sistem Ekonomi Pancasila maupun sistem ekonomi Islam adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang diwujudkan melalui dasar-dasar kemanusiaan dengan cara-cara yang nasionalistik dan demokratis.[11]

Dalam beberapa hal, munculnya lembaga keuangan syariah di Indonesia semacam perbankan syariah juga mempunyai arti yang penting bagi perkembangan ekonomi Islam di masa mendatang. Munculnya lembaga keuangan syariah di Indonesia saat ini merupakan fase booming-nya ekonomi Islam secara kelembagaan. Banyak sekali perbankan syariah, asuransi syariah dan lembaga keuangan yang mengusung nama syariah bermunculan seperti jamur di musim hujan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah kesadaran kita akan suatu pemahaman bahwa ekonomi Islam bukan hanya dimonopoli oleh dunia perbankan syariah atau lembaga keuangan syariah lainnya. Hal ini dikarenakan paradigma masyarakat sementara ini masih menganggap bahwa kalau bicara tentang ekonomi Islam orientasinya langsung tertuju pada eksistensi lembaga keuangan syariah yang termanifestasikan dalam wujud perbankan syariah ataupun asuransi syariah. Intinya, ekonomi Islam itu adalah perbankan syariah dan asuransi syariah. Paradigma yang tidak seluruhnya salah, tetapi ada yang perlu diluruskan di dalamnya. Bahwa ekonomi Islam itu tidak hanya perbankan syariah dan asuransi syariah. Sebaliknya, perbankan syariah dan asuransi syariah merupakan serpihan kecil dari ekonomi Islam yang terlembagakan dalam institusi keuangan syariah.

Lebih luas lagi, pemahaman mengenai ekonomi Islam merupakan penjabaran dari ajaran Islam itu sendiri yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Banyak ayat al-Qur’an dan as-Sunnah yang telah memberikan panduan kepada kita untuk melakukan kegiatan ekonomi. Pada tataran mikro, kegiatan ekonomi Islam juga dapat diterapkan pada kehidupan rumah tangga. Ajaran tentang hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan serta berlaku tidak boros merupakan bagian kecil dari ajaran Islam yang bermuatan ekonomi. Di sisi yang lain, prinsip hidup yang memberikan pedoman tentang ajaran “berpuasa itu lebih baik dari pada berhutang” adalah cerminan dari nilai ekonomi Islam.

Pada gambaran di atas keduanya dapat saling melengkapi. Pertama, implementasi ekonomi Islam dalam tataran makro-kelembagaan dengan model perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya sebagai acuan pelaksanaan. Kedua, pelaksanaan ekonomi Islam dalam tataran mikro-keluarga dengan cara penundukkan pada nilai-nilai ekonomi yang terkandung dalam al-Quran maupun as-Sunnah untuk diimplementasikan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Jika keduanya berjalan bersamaan berarti cakupan pada skala mikro dan makro sudah dapat diwujudkan dalam implementasi secara riil. Keseimbangan pun terjadi, seluruh aspek kehidupan masyarakat pun dapat diresapi oleh nilai-nilai Islami dan kesejahteraan masyarakat pun dapat diwujudkan, khususnya dalam hal ekonomi. Inilah tantangan kita bersama dalam mengembangkan perekonomian Islami di Indonesia.[12]

VII. Wajah Islam Indonesia : Masa Depan Indonesia

Setelah melihat seluruh pemaparan di atas, maka kini kita bersama-sama perlu merumuskan dan menggambarkan wajah Islam Indonesia yang telah kita temukan dan kita inginkan bersama untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. (a) Sejak awal kita telah mengenal Islam yang begitu terbuka dan mampu berinteraksi dan mengakar kuat dalam budaya dan tradisi masyarakat lokal Indonesia. Dengan begitu, umat Islam Indonesia akhirnya tidak menjadi asing di negerinya sendiri.  Ada ”ruang dialog” yang selalu dibuka pada awal kedatangan Islam di Indonesia.  (b) Selain itu, wajah Islam Indonesia, perlu kita gambarkan sebagai Islam yang sangat menghargai setiap individu atau pribadi manusia sesuai dengan ajaran tauhid, bahwa manusia itu sejajar dan sama sebagai makhluk ciptaan Allah. Manusia tidak dilihat atas perbedaan jenis kelamin, gender, ras, suku bangsa, dan bahkan agama.

(c) Sedangkan, dalam hal budaya, Islam Indonesia sudah sangat kaya dengan berbagai bentuk dan corak ekspresi yang sangat inkulturatif dengan kebijaksanaan (kebudayaan) lokal-nya. Namun, yang perlu diperdalam adalah cara pandang kritis, yang mampu membedakan dan memilah, mana yang budaya (nisbi) dan mana yang agama (absolut), sehingga ”pertemuan” keduanya pun tidak saling ”merugikan” satu sama lain. (d) Pengembangan budaya dan peradaban manusia ini, sangat erat pula kaitannya dengan pendidikan. Maka, pendidikan Islam yang menjadi dasar pembangunan dan pengembangan peradaban manusia Indonesia perlu diperjuangkan terus-menerus. Yang menjadi point penting di sini adalah mempertemukan spirit tradisional yang mengakar dan modernitas sebagai tuntutan zaman yang perlu ditanggapi secara kritis dan mendalam. Keduanya, menjadi sebuah kekuatan komprehensif yang saling mengisi dan mengembangkan tanpa harus menghilangkan salah satu di antaranya. Kekuatan ini akan menjadikan kita semakin survive untuk hidup di dunia modern saat ini, tanpa kehilangan dasar yang kuat (agama).

(e) Dalam bidang politik, Islam Indonesia juga perlu memperjuangkan silent syariah sebagai cara pendekatan yang terbuka bagi setiap kalangan. Dengan begitu, Islam pun akan lebih mudah diterima, baik di luar kalangan muslim atau bahkan di kalangan muslim sendiri (yang sangat plural). (f) Sedangkan, dalam ekonomi, nilai-nilai Islami pun perlu merasuk dalam setiap lapisan kehidupan masyarakat, tidak hanya dalam kawasan makro-ekonomi-institusional, melainkan juga masuk dalam ranah mikro – kehidupan ekonomi keluarga yang riil.

Dengan melihat, pentingnya peranan Islam dalam setiap sektor atau segi kehidupan masyarakat Indonesia, maka penelitian, pengembangan, dan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu dipikirkan secara serius dan mendalam agar wajah Islam Indonesia semakin memancarkan sinarnya yang terang bagi siapa saja yang melihatnya. Dan, dari semua penjelasan di atas, kesejukan, keramahan, dan kemampuan untuk berdialog ternyata merupakan corak dasar Islam Indonesia yang sekaligus menjadi wajah Islam Indonesia itu sendiri. Namun sayang, karena beberapa oknum yang tak bertanggungjawab (para teroris), wajah Islam Indonesia telah tercoreng. Maka, tugas berat kita bersama saat ini adalah berusaha untuk kembali menghapus ”corengan” itu dan memperjuangkan serta mempertahankan wajah Islam yang lembut dan ramah bagi setiap insan. Dan, ketika ditanya kembali, ”Seperti apa wajah Islam Indonesia itu?” Kita berani menjawab, ”Nyatakan dalam hati kecilmu bahwa Islam begitu sejuk, lembut, ramah, terbuka, dan bahkan mampu berdialog dengan siapa saja.” *


DAFTAR PUSTAKA 

Arifi, Ahmad. 2009. Politik Pendidikan Islam: Menelusuri Ideologi dan Aktualisasi Pendidikan Islam Di Tengah Arus Globalisasi.Yogyakarta: Teras.

Ghazali, Abd Rohim dkk. 2007. Menembus Batas Tradisi: Menuju Masa Depan yang Membebaskan. Jakarta : JIMM – LESFI.

Halim, Abdul. 2006. Menembus Batas Tradisi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Sanaky, Hujair AH. 2003. Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia. Yogyakarta: Safiria Insania Press.

Makalah

Yunus, M. 2009. “Pemikiran Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia” (Makalah Diskusi Pengantar Pendidikan Islam) Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

Internet 

A’la, Abd. 2008. ”Urgensi Islam Mazhab Indonesia” dalamhttp://islamlib.com/id/artikel/urgensi-islam-mazhab-indonesia/, diakses pada Selasa, 8 Desember 2009, pkl. 21.43 WIB.

Basri, Seta. 2009. “Penyebaran Budaya Islam di Indonesia” dalam http://setabasri01.blogspot.com/ 2009/05/ penyebaran-budaya-islam-di-indonesia.html, diakses pada Selasa, 8 Desember 2009, pkl. 21.29 WIB.

Mubyarto. “Penerapan Ajaran Ekonomi Islam di Indonesia” dalam http://www.indonesiaindonesia. com/f/8809-penerapan-ajaran-ekonomi-islam-indonesia/, diakses pada Sabtu, 19 Desember 2009, pkl. 12.12 WIB.

Ali, AM Hasan. 2008. “Ekonomi Islam bukan hanya Bank Syariah” dalam http://www.pkesinteraktif. com/content/view/377/36/lang,en/, diakses pada Sabtu, 19 Desember 2009, pkl. 12.15 WIB.


[1] Pendalaman dan Pengembangan terhadap Film “Wajah-Wajah Islam di Indonesia”.

[2] Bdk. Abd A’la, 2008, ”Urgensi Islam Mazhab Indonesia” dalamhttp://islamlib.com/id/artikel/urgensi-islam-mazhab-indonesia/, diakses pada Selasa, 8 Desember 2009, pkl. 21.43 WIB.

[3] Bdk. Seta Basri, 2009, “Penyebaran Budaya Islam di Indonesia” dalam http://setabasri01.blogspot.com/2009/05/ penyebaran-budaya-islam-di-indonesia.html, diakses pada Selasa, 8 Desember 2009, pkl. 21.29 WIB.

[4] Bdk. Siti Musdah Mulia, 2006, “Membincang Relasi Jender dalam Islam” dalam Menembus Batas Tradisi: Menuju Masa Depan yang Membebaskan (Jakarta: Penerbit Buku Kompas), hlm. 23- 55.

[5] Bdk. Abdul Hadi W.M, 2006, “Islam di Indonesia dan Transformasi Budaya” dalam Menembus Batas Tradisi: Menuju Masa Depan yang Membebaskan (Jakarta: Penerbit Buku Kompas), hlm. 93- 109.

[6] Bdk. M. Yunus, 2009, “Pemikiran Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia” (Makalah Diskusi Pengantar Pendidikan Islam di Universitas Islam Indonesia – Yogyakarta).

[7] Bdk. Ahmad Arifi, 2009, Politik Pendidikan Islam; Menelusuri Ideologi dan Aktualisasi Pendidikan Islam Di Tengah Arus Globalisasi,Yogyakarta: Teras, hlm. 1.

[8] Bdk. Hujair AH. Sanaky, 2003, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia, Yogyakarta: Safiria Insania Press,hlm. 9.

[9] Bdk. Muhammad Izzul Muslimin, 2007, “Demokrasi Islam dalam Praktik Politik di Indonesia” dalam Muhammadiyah Progressif (Abd. Rohim Ghazali, dkk), Jakarta: JIMM-LESFI, hlm. 318-327.

[10] Selama ini yang digunakan adalah “brotherhood”, maka untuk lebih mengimbangi dan mengurangi adanya bias gender, saya memakai “sisterhood”, yang akhir-akhir ini juga digunakan di kalangan para pegiat atau pejuang gender.

[11] Bdk. Mubyarto, “Penerapan Ajaran Ekonomi Islam di Indonesia” dalam http://www.indonesiaindonesia. com/f/8809-penerapan-ajaran-ekonomi-islam-indonesia/, diakses pada Sabtu, 19 Desember 2009, pkl. 12.12 WIB.

[12] AM Hasan Ali, 2008, “Ekonomi Islam bukan hanya Bank Syariah” dalam http://www.pkesinteraktif.com/ content/view/377/36/lang,en/, diakses pada Sabtu, 19 Desember 2009, pkl. 12.15 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s