Ekaristi : Puncak dan Sumber Kehidupan Gereja

ekaristi

Ekaristi : Puncak dan Sumber Kehidupan (Gereja)[1]

“Ambillah, makanlah, inilah Tubuh-Ku…

Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku,

darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang

untuk pengampunan dosa…”

(Mat 26 : 26-28)

 

I. Mukadimah

Dalam Sacrosanctum Concilium (SC) (Konstitusi Tentang Liturgi Suci), terutama dalam Artikel 10, dikatakan dengan jelas bahwa Liturgi merupakan Puncak dan Sumber Kehidupan Gereja. Artikel ini ingin menjelaskan bahwa seluruh kegiatan Gereja berpuncak pada kegiatan Liturgi, dan dari situlah sumber segala daya-kekuatan dialirkan. Di sanalah Rahmat Ilahi dapat dirasakan dan tercurah dalam diri setiap orang beriman. Manusia dikuduskan dan Allah dimuliakan dalam Kristus. Dan, misteri Ekaristi dalam Konsili Vatikan II dipandang sebagai pusat liturgi (Bdk. SC 6). “Sebab melalui liturgilah, terutama dalam kurban ilahi Ekaristi, ‘terlaksanalah karya penebusan kita’ (Bdk. SC 2). Dan, dalam keikutsertaan penuh dan aktif seluruh umat kudus dalam perayaan liturgi yang sama, terutama dalam Ekaristi, penampilan Gereja yang istimewa ditampakkan (Bdk. SC 41).

Konsili Vatikan II memandang Ekaristi sebagai perwujudan tertinggi liturgi dan di lain pihak memandang aneka perayaan liturgi yang lain dari sudut Ekaristi. Hal ini menunjukkan sentralitas Ekaristi dalam liturgi. Pemahaman semacam ini (Sentralitas Ekaristi) merupakan penegasan Bapa-Bapa Konsili pada ajaran tradisional yang sudah tampak dalam ensiklik Mediator Dei dan Thomas Aquinas. Meskipun begitu, pemahaman dan nafas baru Vatikan II tetap dapat dirasakan dengan tetap member penghargaan tinggi dan tempat istimewa pada perayaan sabda, peran sentral Kitab Suci, perayaan sakramen lain, dan ibadat harian. Penghargaan tinggi seperti ini tidak muncul dalam ensiklik  Mediator Dei.[2]

Selain itu, Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Gereja juga ditegaskan dalam Lumen Gentium 11 (Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja), yang menyatakan sebagai berikut :

“Dengan ikut serta dalam kurban Ekaristi, sumber dan puncak seluruh hidup kristiani, mereka mempersembahkan Anak Domba Ilahi dan diri sendiri bersama dengan-Nya kepada Allah; demikianlah semua menjalankan peranannya sendiri dalam perayaan liturgis, baik dalam persembahan maupun dalam komuni suci, bukan dengan campur baur, melainkan masing-masing dengan caranya sendiri. Kemudian, sesudah memperoleh kekuatan dari tubuh Kristus dalam perjamuan suci, mereka secara konkret menampilkan kesatuan Umat Allah, yang oleh sakramen mahaluhur itu dilambangkan dengan tepat dan diwujudkan secara mengagumkan.”

Di sini Ekaristi tidak pernah dapat dipisahkan dari seluruh bidang kehidupan kristiani dan seluruh kehidupan sehari-hari. Hidup itu sendiri sudah dipandang sebagai ibadah (Bdk. Rm 12: 1; Yak 1: 26-27). Maka, pernyataan “Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh kehidupan Gereja” juga menunjukkan bahwa Vatikan II ingin menghubungkan Ekaristi dengan seluruh spiritualitas hidup Gereja.[3]

II. Rahmat Ekaristi

Pada bagian ini, penulis akan masuk dalam Rahmat Ekaristi. Dari rahmat inilah, kita akan lebih mudah untuk masuk dan memahami arti dari “Ekaristi sebagai Puncak dan Sumber Kehidupan Gereja”.

Dalam perjamuan Ekaristi, Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang. Inilah daya guna Ekaristi yang tampak dalam SC 47. Dan, dengan itu, hendaknya sambil mempersembahkan Hosti yang tak bernoda bukan saja melalui tangan imam melainkan juga bersama dengannya, mereka belajar mempersembahkan diri dan dari hari ke hari. – berkat pengantaraan Kristus – makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antarmereka sendiri sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya dalam semua (Bdk. SC 48). Maka, dengan menyambut roti dan anggur, kita menyambut Kristus yang menganugerahkan Diri-Nya sendiri kepada umat beriman. Dengan penerimaan Tubuh dan Darah Kristus, umat beriman diikutsertakan dalam kebersamaan dan kesatuan dengan Allah dan juga dengan semua umat beriman. Selain persatuan dan kesatuan orang beriman dengan Allah dan sesama, Ekaristi juga menyampaikan karya dan buah penebusan Kristus (Bdk. SC 2) dan pengudusan manusia (SC 7).[4]

  1. Ekaristi : Rahmat Eskatologis[5]

Dalam Ekaristi kita juga ikut mencicipi liturgi surgawi, yang dirayakan di kota suci “Yerusalem” (Baru), tujuan peziarahan kita (Bdk. SC 8). Inilah karunia (rahmat) eskatologis yang dapat kita rasakan dalam Ekaristi. Ada sebuah jaminan kemuliaan yang akan datang (Bdk. SC 47). Dalam Ekaristi, Allah tetap memberikan Diri-Nya melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus secara konkret dan nyata kepada manusia dan dunia sampai kedatangan Kristus yang kedua kalinya pada akhir zaman nanti. Surat Efesus juga menegaskan itu: “Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya (Ef 1: 14).”

Demikianlah Perayaan Ekaristi kita merupakan liturgi Gereja sebagai antisipasi dan “pencicipan” liturgi surgawi, yaitu liturgy yang akan kita rayakan pada saat karya penyelamatan Allah dalam Kristus ini diselesaikan secara paripurna pada akhir zaman nanti. Gereja Perdana pun memahami Perayaan Ekaristi sebagai perayaan kenangan wafat dan kebangkitan Tuhan dalam perspektif masa depan: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang (1 Kor 11: 26).” Dan, kita pun selalu menyanyikan atau mengucapkan seruan anamneses itu: “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan”. Jadi, dalam persekutuan Ekaristik, umat beriman merindukan kesatuan dan kebersamaan abadi dengan Allah dan seluruh umat manusia (Bdk. LG 1) di saat mereka disebut “berbahagia” karena diundang ke perjamuan Anak Domba (Bdk. Why 19: 9).

  1. Ekaristi : Rahmat Mistik (Persatuan Manusia dengan Allah)[6] 

“Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu daripadamu”

(Yoh 16:22)

Kehidupan kita sehari-hari kadang hanya dilewati dengan melakukan begitu banyak rutinitas yang monoton dan selalu berulang, bahkan tidak jarang telah dilakukan bertahun-tahun dan tanpa pernah lagi dimaknai. “Inilah hidup!” Itu yang seringkali kita dengar dan kita katakan. Bangun di pagi hari, mandi, lalu siap-siap beraktivitas, sarapan, berangkat kerja, pulang larut malam, lelah, tidur, dan begitu seterusnya. Pada suatu saat, kita akan merasa jenuh dan stress menghadapi itu semua. Hati terasa kering. Hidup terasa tak bermakna. Jika kita mulai merasakan hal ini, itu salah satu tanda bahwa kita mulai kehilangan sense pengalaman mistik.

Pengalaman mistik adalah pengalaman kesatuan dengan Allah, yaitu suatu pengalaman yang membawa orang kepada rasa damai tak terhingga karena bersatu dengan Allah dan merasa sungguh dicintai oleh Allah (meskipun hidup terasa tidak mudah). Pengalaman kesatuan dengan Allah ini merupakan 100% usaha manusia, dan 100% rahmat Allah. Di satu pihak, kita patut untuk mengusahakannya. Namun di lain pihak, hanya Allah sendirilah yang mengaruniakannya.

Melalui perayaan Ekaristi, kita senantiasa diajak untuk mengalami kesatuan dengan Allah. Dalam Ekaristi, kita mengalami kasih Tuhan sendiri. Bahkan kesatuan kita dengan Allah sangat istimewa, yakni melalui santapan Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Di sana, sangat konkret tampak bahwa Tubuh dan Darah Kristus masuk ke dalam tubuh kita (manusia). Jadi, secara rohani dan jasmani kesatuan manusia dengan Allah tampak jelas dalam Ekaristi. Dengan begitu, pengalaman mistik menemukan puncak ungkapannya justru dalam misa kudus (Ekaristi). Di sanalah, kegembiraan sejati ditemukan dan tak ada satu orang pun yang dapat merampasnya dari kita.

Augustinus juga begitu menekan kesatuan manusia dan Kristus dalam memandang Ekaristi dalam gagasannya yang menyatakan bahwa “Karena roti adalah satu, maka kita sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu”. Dengan ini, Augustinus memberi tekanan bahwa Ekaristi bukan sekadar “perjumpaan” dengan Kristus, namun semakin mendalamnya seseorang berada dalam dan bersatu dengan Kristus. Dalam Ekaristi kita tidak sekadar menerima Kristus, melainkan Dia sendiri yang menerima dan “memasukkan” kita semakin dalam ke dalam tubuh-Nya (Gereja). Dengan begitu, Ekaristi juga membuahkan dan menandakan kesatuan Gereja sebagai Tubuh Kristus.[7]

  1. Ekaristi : Rahmat Iman[8]

“Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah,

yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah”

(Yoh 6: 29; Bdk. Yoh 6: 35.40.47.67-69; Yoh 3: 36: 5:24; 11: 25-26)

Kutipan di atas ingin menunjukkan bahwa karunia hidup kekal dan karunia kebersamaan dengan Allah yang diberikan melalui Ekaristi itu akhirnya menuntut iman dari pihak manusia. Ekaristi merupakan tanda iman. Artinya, Ekaristi menjadi tanda bagi pewahyuan diri Yesus seluruhnya dan menjadi tanda tawaran bagi manusia untuk berpartisipasi dalam hidup Yesus.

R. Schnakenburg membuat kesimpulan sebagai berikut :

“Apabila Yesus historis menuntut iman dari umat beriman, yaitu dengan menjaga dan menuruti firman-Nya (Yoh 8: 51), maka firman itu juga meliputi institusi Ekaristi dan mengharuskan umat beriman untuk turut serta dalam perjamuan Ekaristi. Yesus memaksudkan bahwa penerimaan tubuh dan darah-Nya secara sakramental menjadi cara yang khusus bagi kesatuan dan kebersamaan dengan-Nya sendiri, dengan Putra Allah yang menjadi manusia, disalibkan dan dimuliakan.”

Maka, melalui Ekaristi kita menunjukkan iman kita pada Kristus. Percaya pada Ia yang “Datang ke Dunia, Sengsara, dan Bangkit” demi manusia. Kita dituntut untuk beriman, namun pada saat yang sama, kita juga merayakan rahmat iman yang telah diberikan pada kita. Iman adalah salah satu rahmat terpenting dalam hidup orang Kristiani. Dalam Ekaristi, iman itu dinyatakan kembali. Kita berkumpul menjadi satu dalam Perjamuan Tuhan dalam kasih-Nya dan karena iman kepada-Nya.

  1. Ekaristi : Rahmat Pengharapan[9]

“Yesus ini yang terangkat ke surga meninggalkan kamu,

akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.”

 (Kis 1:11) 

Setelah mengerjakan Ujian Akhir Semester (UAS), Darno merasa begitu optimis bahwa ia akan berhasil mendapatkan nilai yang baik dan naik kelas. Ia optimis karena selama ini, ia telah mengikuti berbagai macam bentuk bimbingan belajar dan sudah berusaha dengan rutin belajar setiap hari selama dua jam di rumah. Lain halnya dengan Jarno, ia merasa begitu pesimis. Hal ini tidak mengherankan, karena selama satu semester ini, ia sering bolos sekolah dan tidak pernah belajar di rumah. Akhirnya, tidak ada satu soal pun yang dapat dijawabnya dengan meyakinkan.

Optimisme maupun pesimisme yang tergambar dari ilustrasi di atas memiliki kesamaan, yaitu sama-sama bertolak atas keadaan diri maupun kemampuan diri sendiri. Dapat dikatakan, “kemampuan diri”-lah menjadi titik ukur atau acuan dalam bersikap (optimis atau pesimis). Ini bukan sikap iman. Sikap iman itu tidak pernah mengandalkan diri sendiri. Sikap iman itu tidak pernah berdasarkan kemampuan atau kehebatan diri sendiri. Satu-satunya pegangan yang diandalkan dan yang menjadi kekuatan hanyalah DIRI ALLAH sendiri. Orang beriman itu hanya percaya kepada Allah. Orang beriman itu hanya memperhitungkan Allah. Diri sendiri dengan segala bakat, kemampuan dan kehebatannya sama sekali tidak menjadi kebanggaan bagi orang beriman. Inilah sikap dasar pengharapan. Harapan itu berbeda dari optimisme. Pengharapan itu hanya mengandalkan Allah, sebaliknya optimisme itu pada diri sendiri.

Perayaan Ekaristi adalah perayaan orang yang penuh pengharapan, dan bukan orang yang optimis. Dalam Ekaristi, seluruh perhatian adalah puji-syukur dan permohonan kepada Allah Bapa yang begitu baik dan mengasihi kita, sebagaimana telah menebus kita melalui Kristus. Kesatuan kita dengan Allah yang begitu istimewa dalam Ekaristi menjadi sumber kekuatan pengharapan kita. Karena Allah bersatu dengan kita, kita tidak pernah takut dan khawatir lagi.

  1. Ekaristi : Rahmat Kasih

Ekaristi adalah sebuah bentuk kasih Allah yang nyata dan konkret bagi kita saat ini dan di sini. Dalam Ekaristi, kita mensyukuri karya penyelamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus, yakni terutama dalam peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya. Peristiwa penyelamatan itu tidak hanya terjadi 2000 tahun yang lalu, melainkan saat ini dan di sini, peristiwa penyelamatan itu tetap berlangsung. Dalam Ekaristi, penyelamatan itu terwujud dalam persatuan antara manusia dan Yesus sendiri melalui Tubuh dan Darah-Nya yang diberikan pada kita.

Rahmat Kasih yang begitu besar telah dicurahkan-Nya bagi kita. Melalui Anggur (Darah) yang tercurah dan Roti (Tubuh) yang terbagi, Kristus hadir dan memberikan hidup-Nya bagi kita. Kasih-Nya benar-benar dapat dirasakan dan dapat dibagikan pula. Tugas kitalah membagikan Kasih ini kepada sesama. Melalui “Ekaristi”-lah kita memperolehnya (kasih sejati), dan melalui “Ekaristi” pula kita mempersembahkan kasih itu kepada Allah.

III. Ekaristi : Puncak dan Sumber Kehidupan

Banyak orang yang gila kerja. Orang seperti itu bekerja secara luar biasa. Ia bisa kerja dari jam 6 pagi hingga 10 malam. Ia istirahat sebentar saja. Istirahatnya hanya untuk makan, minum, dan mandi. Sedangkan, ada juga sebagian yang lain yang gila nonton televisi (TV). Orang itu bisa nonton TV dari subuh sampai larut malam. Mungkin siang tidur sebentar dan itu pun karena tertidur di depan TV. Kedua orang ini prinsipnya sama. Yang satu menempatkan kerja sebagai sumber dan puncak hidupnya. Sedangkan, yang satu lagi menempatkan TV sebagai sumber dan puncak hidupnya.

Sebagai orang Katolik, Gereja menawarkan kepada kita untuk menempatkan Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh hidup kita. Sepanjang sejarah Gereja, Ekaristi selalu ditempatkan pada posisi yang spesial. Para Bapa Konsili Vatikan II merumuskan kenyataan ini dalam LG 11 yang menyatakan bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup kristiani (Lih. Mukadimah).

Bila Ekaristi menjadi sumber dan pusat hidup kita, Ekaristi akan menjadi kekuatan, landasan, orientasi, tujuan dan dasar seluruh acara dan kegiatan kita setiap harinya. Singkatnya, Ekaristi menjadi tujuan dan arah dalam kehidupan beriman orang Katolik. Dengan kata lain, rajin mengikuti misa (Ekaristi), orang Katolik mempunyai kekuatan, arah dan inspirasi hidup.

“Lalu, bagaimana hal ini dapat dihayati secara konkret dalam kehidupan kita sehari-hari ?”

Sebagai Puncak dan Sumber Hidup, Ekaristi dapat dihayati sebagai berikut :

Ekaristi menjadi puncak dan sumber hidupku satu hari ini. Lalu, aku bisa merencanakan dan membuat jadwal harianku pertama-tama berdasarkan jadwal Ekaristi Harian lalu dihitung mundur. Misalnya, “Ekaristi Harian (sebagai puncak dan sumber keseharianku) dimulai pukul 06.00 WIB (sampai 06.30 WIB) di Paroki. Berarti aku harus bangun pagi pukul 05.00 WIB. Berangkat ke Gereja pukul 05.30 WIB. Agar dapat tidur tujuh jam pada malam hari, berarti paling lambat pukul 22.00 WIB aku harus sudah tidur. Sampai di rumah setelah pulang kerja kira-kira pukul 19.00 WIB. Jadi, pukul 19.00 – 22.00 WIB (3 jam) adalah waktu untuk keluarga (mulai dari makan malam, nonton TV, bercengkrama dengan keluarga, baca buku, dlsb). Dan, otomatis dari pukul 07.00 – 19.00 WIB bekerja di kantor (termasuk perjalanan pulang-pergi). Dan, begitu seterusnya.” Di sini tampak jelas bahwa prioritas pertama dan menjadi acuan atau patokan aktivitas kegiatan sehari-hari adalah Ekaristi. Ekaristi mendapat prioritas nomor satu, lalu kegiatan lainnya disesuaikan agar dapat menunjang kita mengikuti Ekaristi harian. Hal sederhana ini saja sudah menunjukkan bahwa Ekaristi menjadi prioritas dalam hidup keseharianku. “Melalui Ekaristi hari ini, aku memperoleh sumber kekuatan dari Allah sendiri (mulai dari rahmat “kasih, iman, dan pengharapan”-Nya) untuk menjalankan aktivitasku selama sehari ke depan. Dan, Ekaristi hari ini juga merupakan saat puncak hidupku, di mana kupersembahkan hidupku yang lalu (hari-hari kemarin) kepada Allah, ‘Allah inilah aku dan hidupku, terimalah persembahan ini bagi-Mu’.” 

Begitu juga jika kita mengikuti Ekaristi Mingguan. “Hidupku selama seminggu harus kuatur sedemikian rupa, di mana Ekaristi hari Minggu menjadi prioritas utama, lalu aktivitasku yang lain selama seminggu harus kuatur dengan jelas agar dapat mendukungku mengikuti Ekaristi hari Minggu dengan baik.” Di sinilah secara konkret dapat terlihat bahwa Ekaristi juga menjadi puncak dan sumber kekuatan hidupku selama seminggu ini.

IV. Penutup[10]

Dengan pemaparan ini, maka jelaslah bagi kita bahwa Ekaristi menjadi “Puncak dan Sumber Kehidupan (Gereja)” karena Ekaristi memiliki tempat yang begitu penting dalam kehidupan orang Katolik dan Gereja pada umumnya. Maka di sini semakin jelas bahwa Ekaristi (Liturgi) tidak dapat hanya dipahami sebagai suatu tata aturan baku yang hanya berbicara mengenai peribadatan dan hanya menunjukkan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Jika begitu, maka kita dapat jatuh pada hal-hal “fisik” belaka (aturan) tanpa melihat kedalamannya. Dengan seluruh pemaparan yang telah disampaikan, maka jelas bahwa Ekaristi begitu kaya dan telah menjadi “Puncak dan Sumber Kehidupan Gereja”. Ekaristi pertama-tama bukan lagi soal aturan atau hukum petunjuk, tetapi peristiwa. Ekaristi itu peristiwa, di mana Allah datang untuk menjumpai kita dan kita menyambut-Nya pula dengan puji-syukur dan permohonan. Di sanalah puncak dan sumber kekuatan dapat kita peroleh. Tuhan datang untuk menawarkan persahabatan, agar kita hidup bersama Allah dalam segala situasi, untung dan malang, suka ataupun duka. Dalam Ekaristi, kita merayakan secara istimewa persahabatan dan hidup bersama dengan Tuhan. Itulah sebabnya, Perayaan Ekaristi merupakan puncak dan pusat segala macam liturgi. Gereja menghidupi, mengajarkan dan mempertahankan sepanjang sejarahnya: bahwa Ekaristi Kudus itu sumber dan puncak seluruh perayaan liturgi dan bahkan seluruh hidup kristiani (bdk. LG 11).

***


[1] Makalah ini akan bersumber langsung pada buku Jacobus Tarigan, 2009, Pemahaman Awal Mengenai Liturgi, Jakarta: Cahaya Pineleng (sebagai penuntun); E. Martasudjita, 2005, Ekaristi : Tinjaun Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius; dan renungan yang dibuat oleh Komisi Liturgi Keuskapan Agung Semarang (KAS) mengenai Ekaristi dalam http://www.Ekaristi.org.

[2] Bdk. E. Martasudjita, 2005, Ekaristi : Tinjaun Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 301.

[3] Bdk. E. Martasudjita, 2005, Ekaristi : Tinjaun Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 302.

[4] Ibid., hlm. 302-303.

[5] Ibid., hlm. 303, 359-361.

[6] Bdk. Komlit KAS, 2004, “Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi” dalam http://www.Ekaristi.org, diakses pada 13 Mei 2010, pkl. 22.54 WIB.

[7] Bdk. Krispurwana, 2010, “Teologi Ekaristi: Augustinus” (paper kuliah Teologi Ekaristi di STF Driyarkara), Jakarta: STF Driyarkara, hlm.2-3.

[8] Bdk. E. Martasudjita, 2005, Ekaristi : Tinjaun Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 246-247.

[9] Bdk. Komlit KAS, 2004, “Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi” dalam http://www.Ekaristi.org, diakses pada 13 Mei 2010, pkl. 22.54 WIB.

[10] Bdk. Komlit KAS, 2004, “Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi” dalam http://www.Ekaristi.org, diakses pada 13 Mei 2010, pkl. 22.54 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s